Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 31 — Mengapa?


__ADS_3

Rigel berhasil menghentikan Priscilla untuk bertindak gegabah meskipun tidak bisa sepenuhnya meredam emosinya. Bertanya tentang keadaan Sylph membuat Priscilla menjadi buruk, menangis dan menggigit bibir dengan pahit.


“Dia ... Ibu sudah—”


“Cukup, aku mengerti.”


Tidak perlu dilanjutkan lagi, Rigel sudah mengetahui faktanya. Seperti apa yang dia lihat, semuanya menjadi nyata seperti ini. Kenyataan sungguh pahit, tidak ingin dia mengakui semua ini adalah kenyataan.


Rasanya cukup menyiksa tetapi tidak ada air mata keluar. Waktu yang dia habiskan dengan Sylph mungkin singkat. Namun satu minggu yang mereka jalani bersama sungguh berarti.


Sadar betul bahwa tidak ada yang bisa dilakukan terhadap hal yang sudah terjadi, untuk saat ini yang perlu Rigel lakukan adalah membuat kejadian ini berakhir.


“Sepertinya kamu menggunakan kartu yang kamu sembunyikan, ya.” Rigel menatap Michael yang hanya tersenyum, menatap merendahkan.


Rigel tidak tahu petir semacam apa yang barusan, tetapi jelas sangatlah kuat karena bahkan tanah keras yang tidak menghantarkan listrik, kini memiliki aliran listrik bertegangan kecil yang mengalir.


“Tidak Seperti aku benar-benar mengandalkan kekuatan semacam ini. Namun untuk melawan tikus rendahan macam kalian, ini senjata yang cocok.”


Michael mengayunkan petir di tangannya, menjatuhkan halilintar besar tepat di tempat Rigel dan Priscilla. Alasannya hanya untuk mengetahui seberapa dalam kedalaman kekuatan Rigel.


Tanpa memperhatikan halilintar yang menuju ke arahnya, Rigel mengangkat tangan kanannya dan menghapus halilintar tersebut. Dia tentu tahu bahwa tujuan Michael hanya mengujinya.


Meski tahu akan hal itu, dia tetap menunjukkan kekuatannya agar Michael bertanya seberapa jauh batas kekuatan yang dimilikinya. Semakin Rigel menunjukkan bahwa dia tidak melemah sama sekali, akan membuat Michael tetap berwaspada dan tidak gegabah.


Meskipun pada kenyataannya, kesadaran Rigel mengabur beberapa kali saat pertarungan dengan Lucifer. Bukan arti dia terkena ilusi atau sihir pelumpuh, tetapi karena tubuhnya hampir mencapai batasnya.


‘Sekalipun kekuatan ini luar biasa, tubuhku tetap manusia biasa.’


Void Tahap Empat memang membantu Rigel regenerasi dan hampir tidak bisa mati, namun bukan artinya tahap empat memperkuat tubuhnya menjadi lebih dari manusia biasa.


Untuk kemungkinan yang terburuk adalah Rigel mencapai batasnya, maka mungkin tidak ada pilihan lain selain menggunakan tahap terakhir dari Void. Tahap yang membuatnya takut meski tidak pernah menggunakannya.


‘Seiring dengan kugunakan tahap-tahap Void, pemahamanku tentang setiap tahap meningkat. Dan di tahap empat ini aku memahaminya sedikit, bahwa tahap lima bukan kekuatan yang pantas dimiliki manusia sepertiku.’


“Bajingan itu, aku pasti akan membunuhmu!” Priscilla masih tidak sabaran dan berniat menyerang, tetapi Rigel dengan cekatan mencengkram tangannya.


“Tahanlah dirimu. Bahkan Sylph yang lebih kuat darimu tidak mampu melawannya, lalu apa yang kamu bisa?”


Faktanya Priscilla saat ini lebih lemah daripada di Labyrinth Neraka. Entah kekuatannya belum pulih atau dikarenakan potongan jiwa miliknya yang hanya sedikit membuat kekuatannya melemah.

__ADS_1


“Tetapi, tetap saja-!”


“Diamlah. Jika kamu mati, pengorbanan Sylph menjadi sia-sia.” Rigel menatap Priscilla dengan dingin.


Sungguh meskipun di wujud dewasanya yang menggoda, tetapi wajah yang masih memberikan kesan anak kecil tidak pernah berubah.


Priscilla melihat mata Rigel yang dingin, penuh kemarahan sama sepertinya. Dia menyadari bahwa Rigel benar-benar berbeda dengan terakhir kali mereka berjumpa. Bukan hanya rambutnya yang tidak hitam seperti sebelumnya, tetapi sekarang mata dan tangannya yang dulu tidak ada, menjadi ada.


“... Baiklah. Namun berjanjilah akan membalas kematian Ibuku, tidak harus sekarang. Namun di masa depan yang akan datang.” Priscilla meneteskan air matanya, berlutut dengan kesedihan.


“Itu pasti.” Rigel berdiri menghadap Michael ketika Priscilla tidak lagi menunjukkan tanda perlawanan.


Di waktu yang tepat Lucifer beserta para Pilar Iblisnya datang. Rigel merasakan tatapan penuh kebencian dari Diablo, tetapi dia tidak begitu peduli dan mengabaikannya, membuat Diablo cukup marah.


Jika bukan karena perintah Lucifer dan tekanan yang diberikan Zenos, sudah sejak awal Diablo menerjang maju.


“Halilintar Dewa, milik Barakiel dan Perisai itu, pastinya milik Kemuel. Kamu memiliki hal menarik, apa mungkin mereka dibunuh dan kamu memulungnya?” Lucifer tersenyum mengejek dan sedikit tertawa.


“Hahaha, kamu tidak pernah berubah, selalu mengatakan lelucon buruk sejak berada di surga.” Michael tertawa, sengaja memancing kemarahan Lucifer.


Hal tabu yang diketahui para Iblis adalah tidak membahas, menyinggung dan bertanya dengan apa yang terjadi kepada Lucifer sampai diusir dari surga.


Pada seharusnya Lucifer adalah salah satu malaikat Seraphim sebagai pembawa cahaya. Tetapi karena kesombongannya, dia ditendang dari surga, membuatnya kehilangan cahaya dan menjadi kegelapan.


Dia tidak menyesalinya, hanya saja kali ini dia membenci cahaya. Kegelapan tidak lahir setelah cahaya, kegelapan sudah ada sebelum cahaya. Lucifer ingin menekankan itu kepada dunia, karena itulah dia mencoba menghancurkan tempat yang sudah membuangnya.


“Hahaha, tetapi itu cocok denganmu. Faktanya ribuan tahun berlalu, Fallen Angel masihlah lelucon hebat di surga!”


Mengabaikan percakapan mereka yang tidak dapat dimengerti Rigel, dia diam-diam mengumpulkan kekuatan dan bahkan siap meledakan nuklir kapanpun.


“Priscilla mundurlah. Peringatkan para Pahlawan lain untuk mundur, aku yakin kamu bisa menemukan mereka.” Rigel berbisik.


Priscilla mengangguk dan kembali berdiri pergi ke tempat para Pahlawan lain sekaligus menarik mundur pasukan peri. Meskipun dia tidak memiliki wewenang khusus, setidaknya jika hanya menarik mundur dia bisa melakukannya.


Rigel kini harus menghadapi Michael dan Lucifer beserta Pilar Iblisnya. Masih ada beberapa iblis bangsawan tertinggal di belakang, tetapi tampaknya mereka bukan masalah besar karena Rigel tidak lagi merasakan kehadiran mereka.


“Abaikan masa lalu, katakan apa yang ingin kamu lakuin sekarang. Kuyakin kau tidak ingin bertarung habis-habisan sekarang.” Tanya Lucifer ketika menenangkan dirinya.


Rigel bisa saj membantah dan meminta perang habis-habisan. Namun dia tidak cukup tak sadar diri bahwa kondisinya sedang tidak prima. Untuk peperangan yang jelas tidak akan berlangsung singkat, Rigel perlu setidaknya kondisi yang sama ketika pertama kali masuk sarang para naga.

__ADS_1


“Mungkin bagus dengan bertarung habis-habisan. Namun sangat tidak berguna nantinya pasukanku yang sudah siap sepenuhnya untuk perang jika kalian musnah sebelum waktunya.”


Dia menghela napas seakan mengatakan ‘Mau bagaimana lagi’ dan tersenyum merendahkan. Sungguh sifat yang dia miliki tidak mencerminkan sifat seorang malaikat. Bahkan mungkin Lucifer masih jauh lebih baik malaikat.


“Yeah, lagipula seperti yang kubilang bahwa ini adalah tirai awal sebelum akhir. Tidak bagus melenyapkan kalian di sini, karena itu aku akan undur diri. Sampai bertemu di perang terakhir, Ragnarok!”


Lubang kecil di langit terbentuk dan Michael perlahan terbang, memasuki lubang tersebut. Menyisakan Lucifer dan Rigel saling menatap tajam tanpa ada yang berniat menyerang.


“Sampai nanti, Rigel. Di peperangan aku menjamin akan membunuhmu. Ayo kita pergi.”


Segera lubang hitam terbentuk, Lucifer memasukinya dan disusul oleh Pilar Iblis lainnya. Sampai akhir, Diablo menatapnya dengan tajam.


Menyadari bahwa semuanya sudah berakhir, perang yang seakan berlangsung bertahun-tahun namun nyatanya hanya memakan waktu satu siang, kini berakhir.


Pemandangan sekitar sungguh mengerikan, banyak korban jiwa namun mayatnya tidak ditemukan karena diserap oleh Void. Rigel berlutut menghadap langit yang mulai cerah. Rune di tubuhnya, Void ditarik kembali dan memudar secara perlahan.


“Begitu, Sylph benar-benar tewas. Bahkan Gahdevi bernasib sama.”


Tirai akhir sudah di depan mata, entah memakan beberapa waktu namun hanya tinggal menunggu saja. Rigel tentu berduka atas kematian Sylph, tetapi dia tidak begitu sedih karenanya.


Ya, dia tidak begitu sedih. Hanya saja ada sesuatu yang seakan menusuk dadanya, sungguh sakit dan tidak hilang begitu saja. Tidak ada luka, ini adalah luka yang tidak terlihat.


Rigel tentu tidak begitu mempedulikannya dia—


“...”


—menangis. Air mata jatuh, bukan dari sebelah namun keduanya.


“Aku tidak begitu merasa bersedih, tetapi mengapa air mata ini keluar tanpa henti?”


Dia menyekanya, tetapi lagi dan lagi air membasahinya. Entah apa yang harus dilakukan untuk menghentikannya, dia tidak tahu.


Rigel sadar bahwa dia tidak menangisi kematian Sylph, melainkan ada hal lain yang membuatnya demikian. Itu adalah apa yang dia lihat ketika menggunakan mata pemberian Behemoth yang diserahkan kepada Takumi, lalu kepadanya.


“Semua sama persis, neraka seperti itu akan kutemui, kesepian.”


“Lagi dan lagi, lagi dan lagi, lagi dan lagi, mengapa harus demikian, mengapa mengapa mengapa mengapa?”


Air matanya tetap menetes, sampai akhirnya Rigel tumbang dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2