
“Menantang perang habis-habisan, sungguh manusia yang berani.” Ucap seorang Seraphim pria yang duduk santai.
“Kenyataanya dia dan rekan-rekannya mampu memojokkan Kemuel dan Rafael. Aku rasa kekuatannya bukan hanya candaan.” Seraphim lainnya ikut bergabung dalam percakapan.
“Aku rasa dia juga tidak menggertak. Faktanya kepercayaan diri itu sulit ditemukan, kesombongannya setingkat dengan Lucifer.”
“Hahaha, malaikat yang diusir dan memilih balas dendam dengan menjadi iblis, ya. Tak kusangka bahwa pemimpin tentara musuh adalah bekas bagian dari kita sendiri.”
“Ya. Karena dia tahu tentang kita semua dan itu menjadikannya orang berbahaya.”
“Belum lagi dia memiliki sesuatu yang seharusnya tidak dimilikinya ... Tangan Kiri Hades.”
Tangan yang pernah mengendalikan neraka sebelum para Dewa menghilang ketika memulai permainan perang Ragnarok ini, tidak seharusnya Lucifer memiliki kekuatan itu.
“Itu kekuatan yang menakutkan untuk dimiliki sosok sepertinya. Aku tidak pernah mengharapkan ada Gerbang Neraka di dunia manusia.”
“Itu tidaklah mengejutkan karena faktanya ada gerbang kecil yang juga terhubung ke surga, meski ada syarat yang harus dipenuhi untuk melaluinya. Benar kan, Michael?”
Michael segera tersenyum lembut, “Ya. Gerbang itu dibuat oleh manusia bernama Aludra, sama halnya dengan gerbang dunia bawah. Aku sendiri tidak tahu bagaimana dia melakukannya namun untuk membuatnya dia mengorbankan ratusan ribu nyawa.”
Itu hal yang terlalu gila untuk dilakukan manusia, mereka yang hidup pada generasi sama dengannya tidak akan pernah merasakan apa itu kedamaian sesungguhnya. Tindakan kejinya tidak hanya dibenci manusia, tetapi malaikat bahkan iblis sekalipun membenci pria tanpa belas kasih itu.
“Mari kembali ke masalah awal. Apa yang akan kita lakukan dengan deklarasi yang dibuat manusia itu?” Malaikat yang berbeda dari yang lainnya menyela, satu-satunya malaikat yang terlihat jahat terutama dengan sayap hitamnya tersebut.
Dia adalah satu-satunya malaikat dengan sayap hitam seperti gagak, malaikat yang menjadi perwujudan dari kegelapan seperti halnya seorang malaikat yang jatuh. Namun perbedaannya terletak pada dirinya yang masih anggota Seraphim.
“Kamu benar. Menerima tantangannya cukup berbahaya mengingat sesuatu besar terjadi di bagian awal perang. Mungkin ada perangkap atau semacamnya, lebih baik mengabaikannya.”
Meski melukai harga dirinya namun Michael tidak ingin kehilangan lebih banyak pasukan. Sekalipun yang hilang akan kembali dari pohon, dia bukan tipe orang yang dengan sukarelawan mengirim pasukannya menuju kematian.
Mungkin tindakannya disebut naif karena tidak ingin kehilangan nyawa lebih banyak, namun tindakannya memiliki tujuan tertentu. Semakin banyak pohon Yggdrasil menghasilkan buah maka semakin sedikit sumber kekuatan yang akan para Seraphim terima.
Untuk tujuan itu menerima sedikit mungkin kematian adalah jalan terbaik jika mereka tidak ingin sumber kekuatannya terpotong bahkan mungkin dihentikan.
“Aku sependapat. Meski dia tidak bisa menggunakan serangan seperti itu berkali-kali, namun kenyataannya dia memiliki lebih banyak hal dari yang diharapkan.” Malaikat dengan sayap hitam mengangguk puas dan segera berjalan pergi keluar istana.
__ADS_1
“Ke mana kamu pergi?” Malaikat wanita dengan otot bertanya sinis, hubungan diantara mereka memang tidak baik.
“Bukan masalah ke mana aku pergi. Aku bukanlah orang yang akan membuat kekacauan. Jangan pedulikan.”
“Situasi kita sedang berperang, jangan bersikap egois!”
“Sekalipun berperang aku yakin Michael tidak akan menyuruhku turun segera. Mau bagaimanapun aku adalah kartu terkuat yang dia miliki setelah Barakiel.”
Mendengar pernyataan tanpa keraguan tersebut membuatnya jengkel namun tidak bisa berkata-kata. Faktanya malaikat bersayap hitam itu adalah kunci penting untuk meraih kemenangan pihak malaikat.
“Biarkan saja dia, Gabriel. Dia benar bahwa aku tidak ingin mengeluarkannya sekarang sebelum puncak dari peperangan terlihat.”
Michael menghentikan wanita berotot untuk mendebat lebih jauh lagi. Sementara malaikat bersayap hitam itu telah pergi, Michael kembali mengawasi situasi medan perang dan tersenyum senang.
“Kuhuhu, sepertinya Kalkydras dan Sandalphone sudah memulai pertunjukkan perdananya.”
...******...
Kembali ke medan perang, Rigel merasa kesal karena baik Michael ataupun Lucifer tidak menjawab tantangannya. Mereka pastinya berwaspada akan serangan kejutan yang dia mungkin miliki.
“Sepertinya memang masih memerlukan waktu yang lama untuk mengakhiri perang ini.”
“Membiarkan semuanya bertarung sama dengan tindakan sia-sia. Sebaiknya aku menarik beberapa untuk kembali.” Rigel menggunakan radio kecil di telinganya dan menarik mundur Pahlawan.
“Takumi, Yuri, Leo, Merial, kalian kembalilah ke Britannia, sementara Petra dan Aland akan memimpin gelombang kedua dari pertempuran ini. Aku akan memanggil Ozaru untuk kembali juga—” Saat Rigel hendak mencarinya, suara lantang dari Petra menghentikannya.
“Rigel, Ozaru sudah mulai bertarung dengan Pilar Iblis dan Seraphim!”
Di waktu yang bersamaan Rigel mampu merasakan benturan besar di kejauhan. Pilar Iblis yang Rigel kenal yaitu Leviathan dan seorang Seraphim tanpa sayap namun mampu berlari di langit sedang bertarung sengit dengan Ozaru.
Kondisi Ozaru jelas tidak baik, meski tidak dikeroyok namun pertarungan mereka cukup intens. Pertarungan tersebut seperti 1 vs 1 vs 1, di mana ketiga sosok itu menyerang satu sama lain tanpa dukungan.
“Kera itu! Aku akan pergi ke tempatnya!”
Seolah mendengar perkataan tersebut Ozaru yang berada cukup jauh mulai berteriak, “Jangan ikut campur, Rigel! Ini pertarunganku dan tidak seru jika ada gangguan!”
__ADS_1
“Kuhahaha, kamu cukup percaya diri dengan kemampuanmu, kera!” Leviathan tersenyum dan melemparkan serangannya baik ke Ozaru atau malaikat tersebut.
“Kalian mahkluk yang lebih rendah memiliki mimpi terlalu tinggi untuk bisa mengalahkan Seraphim, Tuan Sandalphone yang hebat ini!” Si malaikat yang memperkenalkan diri sebagai Sandalphone bergerak cepat menuju Leviathan dan memberikan pukulan kuat.
Rigel tentu menolak karena Ozaru adalah kartu yang harus dia simpan, rencananya akan kacau jika Ozaru berbuat ulah di sini juga. Situasi di gelombang kedua ini jelas lebih memprihatinkan dari gelombang sebelumnya, terutama pada malaikat lain yang baru saja menampakkan diri.
“Rigel, kupikir sebaiknya kamu kembali. Ada aku dan Petra di sini, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun.” Aland berkata lewat radio dan membujuk Rigel, “Ketimbang menghentikan Ozaru, di sini Kekuatanmu dan yang lainnya akan menentukan jalannya peperangan ini!”
Faktanya Rigel memang ingin menyimpan kekuatannya dan kondisi tubuhnya secara maksimal, meski dia saat ini masih terus menyerap energi alam tetap saja masih kurang. Dia tidak bisa membuat banyak pilihan, “Baiklah, jangan memaksakan diri atau kamu bernasib seperti Marcel.”
Segera setelahnya Rigel dan Pahlawan lain yang disuruh mundur tiba di Britannia pada waktu yang bersamaan. Takumi terlihat membawa mayat Marcel untuk dimakamkan, dia memang orang seperti itu. Dia juga pamit kepada Rigel untuk membawa mayat Marcel agar segera dikremasi.
Mereka tidak banyak bicara dan segera pergi ke aula istana untuk bertemu Asoka dan yang lainnya tanpa kehadiran Takumi. Asoka mulai menjelaskan situasi terkini.
Kabarnya Regulus dan Alexei dikirim bersamaan menuju medan perang. Hal tersebut akan meningkatkan moral yang dimiliki pasukan yang tengah berperang. Dia juga sudah meminta beberapa orang terpercaya untuk memimpin satu batalion pasukan penembak.
“Tuan Rigel, saya memiliki sesuatu untuk disampaikan.” Natalia segera menghadap Rigel karena suatu hal.
“Katakan.”
“Apa yang anda minta telah selesai.”
Rigel melebarkan matanya, dia tidak menduga benda ‘Itu’ akan selesai di waktu yang tepat. Segera senyuman menghiasi bibirnya, “Bagus, antar aku ke tempatnya.”
Yuri dan Leo memiringkan kepala, sementara Merial tahu apa yang direncanakan Rigel meski hanya garis kasar.
“Apa kamu meminta seseorang untuk membuat sesuatu diam-diam, Rigel?” Tanya Yuri.
“Membuat, bukankah Ayah mampu membuatnya sendiri dengan kekuatan Pahlawan Creator?” Leo bergabung dan bertanya dengan heran.
“Tentu saja Creator Skill sangat berguna. Namun ada beberapa hal yang tidak bisa aku buat dengannya. Salah satunya adalah kehidupan, dan segel untuk hal tertentu.”
Membuat kehidupan dengan Creator Skill sama halnya mencoba membuat manusia dari pasir. Hal tersebut membutuhkan keajaiban lebih dari yang bisa dia buat. Selain itu alasan Rigel tidak memberikan benda ‘Itu’ sendiri karena dia tidak memahami konsep kerja benda tersebut.
Hanya dengan penjelasan sederhana tersebut tidak membuat Yuri dan Leo memahaminya. Cara terbaik membuat mereka mengerti adalah dengan menunjukkannya langsung atau menanyakannya kepada si pembuat.
__ADS_1
“Lalu siapa orang yang akan kamu temui?”
Untuk menjawab pertanyaan Yuri, Merial yang sejak tadi diam segera mengintervensi, “Dia adalah orang yang yang membuat cambukku sebelum menjadi pahlawan. Pengrajin dan Alchemist terhebat, Genius Guren.”