
“Kemuel ...” Rafael bergumam ketika menyadari energi milik Kemuel benar-benar menghilang dari muka bumi.
Penghalang yang menyelimuti pertarungan Rigel dan Kemuel mulai menghilang bersamaan dengan lenyapnya Kemuel. Rigel melihat Rafael dengan tajam dan tidak membuang waktu dia melesat ke arahnya.
Clang!
Tinju Rigel yang terulur ditangkis oleh Selafiel dengan sempurna, melihat itu Rigel segera berdecak dan menatap dua mayat Seraphim yang tergeletak. Rigel ingin melakukan sesuatu agar mereka tak bisa dibangkitkan namun Rafael bertindak lebih cepat dari yang diharapkan.
“Ini ... Malapetaka. Aku, akan membangkitkan mereka. Surga adalah rumah kami, cahaya adalah cinta kami, bangkitkan kami atas kehendakmu ... Ressurection!”
“Semuanya, hancurkan jiwa para Seraphim yang tewas atau mereka akan dibangkitkan lagi!” Rigel berteriak keras dan menggerakkan para Pahlawan untuk melakukannya.
Meski dia tidak tahu siapa saja yang mampu menggunakan kekuatan yang mengoyak jiwa namun lebih baik daripada tidak ada tindakan sama sekali.
Selafiel yang mendengar ucapan Rigel sedikit terbelalak, “Bagaimana dia bisa tahu?!”
Kekuatan Rafael seharusnya hanya diketahui diantara para Seraphim dan tak ada celah untuk siapapun membocorkannya. Selafiel berdecak kesal saat melihat para Pahlawan bergegas menuju dua Seraphim yang tewas.
Tentunya Seraphim lain yang masih hidup bergegas mencegah para Pahlawan untuk mendekati dan Selafiel melakukan yang terbaik untuk menahan Rigel tetap bersamanya.
“Aku tak tahu dari mana kamu mengetahuinya namun takkan kubiarkan jadi semudah ini!”
“Kalau begitu matilah!”
Rigel mengayunkan kaki kanannya dengan kuat, dia meletakkannya tepat di pinggang Selafiel dan membuatnya terhempas. Sebelum benar-benar mendarat di tanah Selafiel menghilang dan membalas Rigel dengan tongkatnya.
Rigel terhempas ke tanah dan merasakan pusing di kepalanya, dia tidak menduga bahwa Selafiel mampu bergerak secepat itu. Hampir seperti teleportasi. Memegang kepalanya Rigel segera menjentikkan jari dan berpindah dari tempatnya. Selafiel dengan sigap mengejarnya dan secara mengejutkan Rigel telah memprediksi ke mana dia akan datang.
Dia memberikan pukulannya namun Selafiel menahannya dengan tongkat. Benturan diantara keduanya terjadi dengan cepat dan Rigel merasa geram karenanya. Dia tidak ingin menggunakan Territory lagi karena akan menguras lebih banyak tenaganya. Lagipula dia harus bersiap untuk babak akhir yang sudah ada tepat di depan mata.
Mayat Seraphim mulai bersinar dan melayang, cahaya keemasan jatuh dari langit dengan tujuan masuk ke dalam tubuh yang telah mati tersebut. Spekulasi yang Rigel buat adalah Ressurection tidak hanya membangkitkan tetapi makhluk yang dibangkitkan akan memiliki perbedaan tertentu.
Entah apakah pembangkitannya sama dengan Rigel kala itu. Bukannya tidak mungkin akan ada peningkatan fisik atau kekuatan dari orang yang telah dibangkitkan.
Di tempat lain Ray, Merial, dan Yuri yang berusaha menghancurkan jiwa Zadkiel tengah di hadang oleh Seraphiel sendirian. Meski terlihat berat sebelah namun kekuatan Seraphiel tidak patut diremehkan.
__ADS_1
Dia menggunakan pelindung di sekitarnya dan mengeluarkan lima sihir elemetal sekaligus yang mana seharusnya sulit untuk dilakukan. Bermodalkan itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka kerepotan.
Untuk Pahlawan yang mengatasi Gabriel mereka adalah Aland, Hazama, Leo, dan Ray. Meski hanya Jahoel seorang yang menjadi lawannya namun satu darinya sudah cukup mengatasi empat Pahlawan secara bersamaan. Entah bagaimana caranya dia mampu menumbuhkan dua tangan lainnya dan menggunakan pedang cahaya.
Tubuh yang dihiasi armor tebal tersebut juga sangat sulit ditembus bahkan goresan saja tidak tampak. Situasi keduanya tidak baik dan Rigel tak bisa mengeluh akan hal itu.
‘Aku ingin melakukan sesuatu namun apakah bijak menggunakan lebih banyak kekuatan hanya untuk melawannya?’
Meski mampu mengisi kembali kekuatannya namun Rigel tetap ingin menyimpan lebih banyak dari yang dia bisa. Perang terakhir jelas takkan mudah dan Rigel tidak ingin menggunakan Void hingga tahap terakhir.
Kekuatan Void hanya memiliki lima tahap. Setiap tahapnya memiliki kekuatan luar biasa yang tidak pantas untuk diremehkan. Rigel masih berani untuk tahap empat namun tahap lima adalah sesuatu yang lain dan benar-benar tidak pantas ada di dunia ini.
“Sepertinya kamu tidak sekuat yang dikatakan, atau mungkin kamu sangat menahan diri?” Selafiel mencoba memprovokasi Rigel, “Aku harap kamu tidak mengeluh jika nantinya mati karena banyak menahan diri.”
“Tak hanya cantik namun lidahmu sangat lihai, ya.” Rigel berputar dan menendang Selafiel hingga terhempas beberapa meter.
Dia menciptakan banyak bola api dan diikuti puluhan peluru yang ditembakkan setelahnya. Selafiel tentu membuat pelindung cahaya namun Rigel segera pergi ke belakangnya dan memberikan serangan yang sama.
“Itu tindakan yang penuh kesia-siaan.” Selafiel tersenyum mengejek saat melihat serangan yang terus berdatangan.
Selafiel terbelalak saat menatap satu batu meteor besar diikuti meteor lain yang lebih kecil mulai berjatuhan. Dengan tergesa-gesa dia menciptakan lebih banyak pelindung dan menahannya.
‘Bukan hal yang sulit menahannya namun pria ini memiliki banyak trik. Jika aku menyepelekannya, siapa tahu apa yang akan terjadi.’
Melihat Selafiel menciptakan pelindung hingga berlapis-lapis membuat Rigel yakin bahwa para Seraphim berpikir jika dia memiliki banyak hal mengejutkan. Setiap serangannya tidak ada yang tanpa arti, karena itu Selafiel tidak akan mengabaikannya.
Rigel memanfaatkan kesempatan ini dan berniat pergi ke tempat Rafael namun tampaknya sedikit terlambat karena persiapannya sudah selesai.
“Kamu takkan sempat menghancurkan jiwa mereka karena pembangkitannya telah selesai.”
“Bahkan jika itu selesai, tak ada akta terlambat untuk membunuhmu!” Rigel melesat dengan kecepatan penuh, dia menggunakan pedang God Sword untuk menikamnya.
Meski dia tahu terlambat namun setidaknya dia akan mampu membunuh Rafael. Bukan sia-sia karena dengan ini dia telah membunuh perisai dan penyembuh dari pihak malaikat.
“Bangkitlah ... Gabriel, Zadkiel!”
__ADS_1
Bola cahaya yang turun dari langit mencapai tubuh kedua tubuh Seraphim yang tak bernyawa. Tubuh mereka mengeluarkan cahaya dan melayang. Rigel mampu merasakan kekuatan yang membara dari keduanya, tak diragukan lagi mereka mendapatkan kekuatan yang lebih besar ketimbang sebelumnya.
“God Sword — Unlimited Slash.”
Cruch!
Bertepatan dengan bangkitnya dua Seraphim, pedang merah kehitaman yang besar menembus dada Rafael dengan sangat dalam. Rafael tak bereaksi meski memuntahkan darah, dia memasang wajah datar seolah tak merasakan sakit.
“Pedangmu ... meleset.”
“Aku tahu.” Rigel setuju bahwa pedangnya sama sekali tidak menyentuh inti pembentukan yang membuat malaikat tetap hidup.
Mereka memiliki struktur tubuh yang serupa dengan manusia namun bedanya jika titik vital hancur mereka takkan mati. Mereka akan mati jika bagian penting seperti kepala hancur atau terpotong, bahkan bisa juga kristal yang ada di jantung mereka dihancurkan.
“Kamu sengaja? Jangan bilang ini cinta.” Rafael tersenyum tipis dan menatap para Seraphim lain yang terbelalak.
Mereka menatapnya dengan kejutan dan ingin membantu namun para Pahlawan takkan membuatnya jadi mudah. Lagi pula Rafael tidak berharap untuk diselamatkan lagi sejak Kemuel telah tiada.
“Kami malaikat tidak mampu menghasilkan keturunan meski mampu bereproduksi dengan beberapa cara. Kematian Kemuel membuat dadaku kosong, apakah ini kehilangan? Apa ini yang disebut membutuhkan cinta ...” Rafael terus berbicara selagi membiarkan sebuah tangan menyelinap dari pinggang ke lehernya.
“Tenang saja. Aku akan mencintaimu jika kamu mati—” Rigel mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinganya, “—karena itu matilah tanpa kedamaian.”
Rigel mencekiknya secara perlahan dengan tujuan membuat Rafael tersiksa. Tak lupa Rigel menyerap semua energi kehidupan termasuk jiwanya. Napas Rafael tersendat dan dia memegang tangan Rigel seraya melepaskan diri. Beberapa menit kemudian lehernya hancur oleh cengkraman Rigel dan tubuhnya perlahan jatuh dengan dramatis.
Rigel menatap ke arah lain dan menemukan wajah-wajah baru juga yang membawa nostalgia. Satu wajah terlihat marah dan ingin menebasnya sementara satunya lagi tersenyum dengan sedikit kekecewaan.
“Kalian terlambat.” ujar Rigel selagi membuang kepala Rafael.
“Sangat disayangkan karena kamu hampir menghabisi mereka, setidaknya sisakanlah sedikit lebih banyak malaikat untukku.” Lucifer menyeringai dan melirik Michael dengan tatapan mengejek.
“Ya, setidaknya kamu masih bisa menghabisi yang di sana.” Rigel melirik ke para Seraphim yang membatu.
“Bajingan keparat ... Kan kujamin kematian kalian menyakitkan!” Michael mengerutkan wajahnya dengan sangat marah.
Akhir dari Ragnarok telah tiba.
__ADS_1