
Petra dan Aland melawan pasukan iblis dan malaikat di waktu yang sama, ada banyak dari mereka datang sehingga merepotkan melawannya di satu waktu. Mereka bertarung selagi menghemat tenaga namun entah berapa lama mereka mampu bertahan.
“Tidak ada habisnya!” Petra mengumpat selagi melompat mundur dan memunggungi Aland.
“Mereka memang merepotkan, kita harus melakukan sesuatu.” Aland menebas malaikat dan iblis di depannya.
Dia berniat meminta pertolongan Bellemere dan pasukannya namun keadaan mereka juga tidak baik saja. Dimulai dari bangsawan iblis hingga malaikat dengan empat sayap menghadapi Bellemere dalam pertarungan sengit yang mempertaruhkan nyawa.
Tentu ada banyak tentara Legion yang membantu Aland dan Petra namun jumlah musuh masih ada lebih banyak untuk ditangani.
“Pahlawan Palu, Pahlawan Kipas, mohon tunggu selama satu menit, senjata yang diberikan Pahlawan Creator akan segera siap!” Seorang prajurit datang kepada mereka dan memberikan kabar.
Hal tersebut patut disyukuri namun senjata api sekalipun memiliki batas untuk digunakan. Aland sendiri tak berharap banyak dengan senjata api mengingat perlu waktu untuk melakukan pengisian. Peluru yang mereka miliki terbatas dan jumlahnya takkan cukup membumihanguskan pasukan iblis ataupun malaikat.
“Baiklah! Lakukan yang terbaik mengurangi jumlah musuh!” Aland berkata dengan keras dan tanpa pernah dia sadari bahwa Kalkydras melesat melaluinya.
Aland terbelalak, seolah waktu melambat dia mampu melihat sayap putih indah terbang melaluinya. Dia telat bereaksi dan sebelum sempat memperingati, Kalkydras mengirimkan pukulan kuat kepada Petra.
“PETRA!” Teriak Aland dengan kekhawatiran serta kemarahan dalam intonasinya.
Petra merasakan bahaya dan Aland memperingati namun sangat terlambat. Pukulan Kalkydras tepat mengenai punggungnya. Petra menjerit selagi terhempas beberapa meter, dalam lintasannya dia berbalik karena tahu Kalkydras akan menyerang lagi.
Sesuai dugaan Kalkydras melesat dengan cepat dan mengulurkan tinju lainnya, kali ini Petra tidak terlambat bereaksi dan menggunakan kedua kipasnya untuk mengurangi dampak tinjunya.
“Kyaah!” Petra berteriak selagi dihempaskan ke langit, bila keadaannya tak pernah berubah maka dirinya akan berakhir menjadi samsak tinju. Tentunya dia takkan diam dan hanya ada satu jalan yang bisa diambil.
“Menarilah pada musim gugur berduri!” Petra mengibaskan kedua kipas dan memunculkan kelopak-kelopak bunga merah muda yang segera bertebaran, “Camelia Storm!”
Kelopak bunga merah muda tersebut melesat cepat menuju Kalkydras yang dalam perjalanan ke arahnya. Terhadap serangan yang dianggap remeh tersebut Kalkydras tidak melakukan upaya apapun untuk menghindarinya.
Meski kekuatannya adalah mempengaruhi pendengaran, dia cukup percaya diri dengan kekuatan pertahanannya yang mampu menahan beberapa serangan Barakiel. Dan karena rasa kepercayaan diri yang besar kelopak-kelopak bunga tersebut menghantam tubuhnya.
Yang paling mengejutkan adalah kelopak bunga tersebut mampu memberikan goresan kecil pada luka Kalkydras, sontak dia terkejut karena rasa sakit kecil dan darah mengalir. Membiarkan tubuhnya terluka lagi bukan pilihan baik namun percuma karena dia telat menghindari beberapa kelopak.
Namun sudah ada sekitar sepuluh sayatan kecil di tubuhnya berkat serangan tersebut.
“Ini menyebalkan, kamu sangat menyebalkan!” Kalkydras menatap Petra dengan penuh kebencian.
Seraphim sepertinya paling benci yang namanya terluka. Seharusnya takkan ada orang yang bisa selamat karena menyinggung mereka. Meskipun luka tersebut berasal dari kecerobohannya sendiri, Kalkydras takkan mau menerimanya.
Petra menggunakan kipasnya seperti sayap sehingga mampu mendarat dengan selamat di tanah. Nafasnya mulai terengah-engah dan rasa sakit menusuk dari punggung serta perutnya.
‘Dia membuat armor di punggungku penyok dalam satu pukulan. Tulang punggungku sepertinya retak meski hanya sedikit.’
Walau hanya sedikit rasa sakitnya tetap luar biasa. Entah tubuhnya yang terlalu lemah atau pukulannya memang sangat kuat, tak peduli yang manapun Kalkydras bukan lawan yang mudah ditangani.
‘Kekuatan yang mempengaruhi pendengarannya sangat merepotkan, ditambah Kekuatan fisiknya yang kuat. Aku tidak yakin bisa menang melawannya. Belum lagi, dia masih belum menggunakannya.’ Tatapan Petra teralih ke terompet yang ada di pinggang Kalkydras.
Dia merasakan firasat buruk dari terompet tersebut yang jelas bukan panjang belaka. Terompet seperti cula badak dengan Empat permata besar di sisinya dan ukiran sihir yang tampak kuno. Permata dengan warna merah, hijau, biru, dan hitam sekejap memancarkan sinar yang sulit dipahami.
Mengingat kemampuan utama Kalkydras adalah Pengaruh Pendengaran, maka tidak diragukan terompet itu kartu truf yang mungkin dia miliki sebagai senjata terkuatnya.
‘Memang tidak ada jaminan dia tidak memiliki kartu lainnya. Setidaknya untuk saat ini yang harus aku waspadai adalah terompet dan nyanyiannya.’
__ADS_1
Untuk mencegah hal yang sama terjadi seperti sebelumnya, Petra harus membuat kesempatan di mana tidak membiarkan Kalkydras memiliki waktu untuk bernyanyi dan mengontrol medan perang ini. Tidak hanya buruk untuknya tetapi pengaruhnya sangat mungkin memecah belah pasukan Legion gelombang pertama.
Tubuh Petra sedikit gemetar ketika Kalkydras perlahan turun dari langit, ‘Tidak ada jalan selain bertarung. Maka artinya ... aku harus siap untuk mati.’
Petra membulatkan tekadnya. Pada kehidupan ini dia paling takut yang namanya kematian sekalipun sudah tugas makhluk hidup untuk mati ketika waktunya tiba. Kata-kata Rigel tentang “Kematianlah yang menjadikan manusia sempurna.” sesungguhnya tidak bisa diterima oleh Petra.
Dia selalu meyakini bahwa makhluk abadi seperti Dewa adalah yang paling sempurna karena takkan pernah merasakan kematian. Namun untuk sekarang tidak ada gunanya membahas sesuatu yang takkan ada akhirnya tersebut.
“Sepertinya kamu sangat membenciku, meski baru pertama kali kita bertemu.” Petra tersenyum penuh penderitaan, diam-diam kipasnya mengeluarkan sinar ungu yang samar.
“Dan meskipun kita pertama kali berjumpa, kamu satu-satunya yang menghina keindahan musik.” Kalkydras menunjuk Petra penuh kebencian, “Makhluk yang merendahkan dan membenci musik adalah yang paling pantas menerima kematian ketimbang pendosa!”
“Hah! Aku tidak pernah membenci musik. Sepengetahuanku musik adalah suara-suara indah nan stereo. Namun musik yang kamu maksud lebih seperti decitan tikus bagiku. Sama sekali tidak memiliki nilai apapun, bahkan death metal masih memiliki nilai tersendiri.”
Faktanya ketika Kalkydras bernyanyi suaranya melengking aneh hampir seperti suara derit pintu. Memangnya siapa yang akan tertarik dengan suara cempreng yang aneh dan menyakitkan, mungkin karena hal itu juga yang membuat Kalkydras sebagai lawan super merepotkan.
“Hehehe, kamu mengatakannya lagi, kamu menghina musikku lagi. Tak bisa dimaafkan, tak bisa diampuni dan tentu saja mustahil dimaafkan. Hanya kematian yang bisa menjadi hukuman terbaik bagimu. Kematianmu akan sangat menyakitkan, sampah!” Kalkydras dengan cepat menuju Petra penuh kemarahan.
“Fan Shot!” Dia menyatukan ujung kipasnya dan menembakkan cahaya kuat yang menghancurkan lintasannya.
Kalkydras menahannya dengan tangan kiri, tak luput dia menggunakan cahaya untuk melindungi tangannya. Tak akan pernah dia berniat melakukan kesalahan yang sama dua kali, di pertarungan ini dia akan habis-habisan selama berhasil membunuh manusia di depannya.
Cahaya yang dia tangkis menabrak tanah dengan ledakan yang cukup kuat, namun segera baling-baling kipas datang dalam jumlah ratusan. Ada terlalu banyak untuk ditangani pada satu waktu namun hal tersebut tidak membuatnya risau.
“Strongest Storm!” Kalkydras merentangkan tangannya dan membuat badai di depannya, baling-baling kipas kian meleset dari sasarannya berkat angin kencang yang dia buat.
Meski berhasil menyingkirkannya namun dia tidak bisa senang karena masih ada beberapa yang menuju ke arahnya. Dia mampu menghindarinya dengan mudah dan ketika serangan berakhir, Kalkydras mengambil kesempatan tersebut untuk bernyanyi. Dia mulai mengambil napas, memejamkan mata dan—
“Lullaby ...”
“Hallo! Di sini Petra yang menginjak wajah seorang Seraphim! Hahaha!” Petra tertawa keras dan segera menjauh karena khawatir Kalkydras melakukan hal yang tak dia pikirkan.
“Takkan pernah kubiarkan kamu mati mudah!” Kalkydras menghilang dari tempatnya, sekejap dia berada di belakang Petra.
“Menyerang wanita dari belakang sungguh tidak sopan!” Petra berputar layaknya gasing, tangan Kalkydras yang terulur mendapat irisan yang cukup dalam. Tidak hanya dalam namun serangannya berhasil memotong telunjuk Kalkydras.
“Keurgh!” Kalkydras merintih dan mencoba memulihkan jarinya, tetapi Petra tak sebaik itu untuk membiarkannya.
Berhenti berputar Petra melesat cepat dan berada tepat di atas Kalkydras, terjun bebas mengulurkan kedua kipasnya dan jatuh seperti meteor, “Hyaa!”
SRING!
Kedua kipas tersebut menebas punggung Kalkydras dan menyebabkan darah mengalir keluar. Merasakan sakit tersebut Kalkydras tak tinggal diam, “Suara Kematian Memanggilmu, matilah di depan penyesalan dan mimpi terburukmu!”
Dengan lafal mantra yang lebih cocok digunakan iblis, Kalkydras mulai berteriak keras ke arah Petra. Gelombang suara mematikan terbang ke arahnya dan mengenainya. Sekalipun tidak memberikan luka luar, Petra mulai berhalusinasi. Dia mulai melihat pemandangan yang seharusnya tak pernah lagi dia lihat.
“... —kak ... Kakak!”
Petra terkejut dan melebarkan matanya. Pemandangan perkotaan yang membawa nostalgia dan aroma obat-obatan dari rumah sakit memenuhi ruangan.
Dia menyadari bahwa dirinya tidak memegang kipas atau mengantongi, di tangannya hanya ada tas sekolah dan serangkaian bunga. Petra juga menemukan dirinya menggunakan jas biru tua dan rok abu-abu pendek, seragam sekolahnya.
“Apa kamu kurang sehat, kak?”
__ADS_1
Suara lembut yang sangat dia kenal dan rindukan memanggilnya. Petra menemukan bocah laki-laki berusia 10 tahun. Dengan rambut hitam panjang yang tidak terawat, mata lelah yang lembut serta tubuh kerempeng karena terus menjalani perawatan.
‘Tak salah lagi. Tak mungkin salah.’
“Um, kak?” Sekali lagi bocah itu memanggil dan menyentuh kening Petra dengan tangan kecil yang diinfus.
Sensasi hangat dari tangannya sungguh nyata, saking nyatanya Petra tak percaya jika ini ilusi.Dia meyakini ini kenyataan dan tanpa pernah dia sadari cairan hangat mengalir dari pipinya. Tanpa perlu berlama-lama lagi, Petra memeluk adiknya.
“Mengapa kamu menangis kak?” Bocah itu bertanya penasaran dan mengelus rambut kakak perempuannya yang harum.
“Nacht! Ini benar-benar kamu, kan?! Aku merindukanmu!”
“Eh?! Meski kita bertemu hampir setiap hari, kakak merindukanku sampai menangis? Ayolah kak, ini memalukan.” Bocah yang dipanggil Nacht tersipu malu terutama ketika mengendus aroma kakaknya, “Apa saja yang terjadi sampai membuatmu seperti ini, kak?”
Petra tetap menangis dalam pelukan bocah tersebut, hatinya benar-benar senang karena mampu melihat adik yang dirindukan, “Tidak. Aku hanya merasa baru saja melihat mimpi yang sangat panjang, mimpi mengerikan, juga menyenangkan.”
Perlahan dia melepaskan pelukannya dari adiknya, matanya merah dan lembab karena air mata. Melihat pemandangan langka di mana kakak perempuannya menangis, Nacht tersenyum dan—
“Mengapa kamu meninggalkanku sendirian?”
—pemandangan silih berganti. Tempat yang awalnya rumah sakit damai juga tenang berubah menjadi ruangan neraka yang penuh api. Petra menyadari bahwa dirinya kembali menggunakan perisai baja dan pakaian yang dia gunakan dalam peperangan.
Pemandangan terakhir yang dia lihat sebelum meninggalkan bumi takkan pernah lepas dalam benaknya. Ingatan yang selalu dia simpan dan ingin lupakan, trauma yang tak pernah ingin dia rasakan kembali datang dan muncul, untuk menghantui dirinya.
“Seharusnya kita mati bersama. Sebagai kakak sudah tugasmu melindungiku. Ne, kak, mengapa hanya kamu yang selamat. Mengapa hanya kamu yang bisa tetap hidup, Petra?!” Bola mata Nacht menghilangkan dan meninggalkan lubang mengerikan, kulit dan daging meleleh seolah-olah membusuk selagi berjalan ke arahnya.
“Kakakku yang jahat, kakakku yang bodoh, aku sangat membencimu karena membiarkanku mati!”
Mendengar kata-kata yang tak pernah ingin dia dengar membuat Petra menggila dan menarik rambutnya. Segera seberkas cahaya bersinar dari telapak tangannya, sinar yang membawa kehangatan juga kemarahan.
“Tidak! Nacht tidak akan mengatakan itu, Nacht—”
Seolah semuanya mulai menggelap, Petra kini mampu mendengar sebuah teriakkan yang mengembalikan warna dunia
“TEMBAK!”
Tentara Legion yang sudah menyiapkan senapan api mulai menembaki Kalkydras dalam upaya menyelamatkan Petra yang lehernya tengah dicekik. Kalkydras berhasil memberikan serangannya, suara yang akan membangkitkan kenangan serta trauma terburuk manusia.
“Satu langkah lagi aku akan membunuhnya, namun para keparat ini-!”
Meski awalnya Kalkydras ragu bahwa senjata itu akan berguna, tetapi kenyataannya dia terkena sebuah pelurunya di bahu. Mengejutkannya adalah peluru tersebut mampu melukainya dan memberikan lubang di bahu, tangan tempatnya mencekik Petra. Kalkydras tak bisa memulihkan dirinya karena terdapat sebuah benda di bahunya.
Untuk alasan tersebut dia berusaha tidak terkena serangan lainnya jika tidak ingin mati konyol seperti itu. Tangannya tetap mencekik Petra namun hanya sekedar itu yang bisa dia lakukan dengan banyaknya serangan ke arahnya.
“Takku sangka senjata itu mampu melukai malaikat, apa yang digunakan sebagai bahan pembuatannya?!”
Jika itu hanya logam biasa atau sekalipun mengandung Batu Peledak takkan pernah bisa melukai mahkluk sekelas Seraphim yang memiliki pertahanan tinggi daripada malaikat pada umumnya.
Pada kasus seperti ini di mana malaikat dapat terluka, jika itu bukan logam biasa maka hanya ada satu jawabnya. Kalkydras menusuk bahunya sendiri dan mengambil benda di dalamnya. Segera lukanya pulih namun benda yang dia temukan sangat mengejutkan.
“Begitu, logam mulia yang paling keras, Adamantite! Pantas saja mereka mampu melukaiku!”
Adamantite adalah batu terkuat yang berisikan sihir alam dan menjadikannya spesial. Tidak hanya kuat namun Adamantite adalah bahan yang paling cocok untuk membuat benda-benda sihir hebat. Artifak Kuno yang merupakan ciptaan Dewa memiliki bahan dasar Adamantite.
__ADS_1
Terlalu larut dalam kemarahannya, Kalkydras telat menyadari gadis dalam cengkraman tangannya sudah membuka matanya. Hal yang menjadi perbedaan utama dari sebelumnya adalah Petra mengeluarkan kekuatan yang 3x lebih kuat dari sebelumnya.