
Short Story Sylph & Priscilla.
“Oh wahai Ratu peri yang maha penyayang, mohon dengarkanlah harapanku yang rendah ini. Kondisi antar kerajaan semakin buruk, dunia akan kacau.”
Di depan perbatasan yang menghubungkan dunia dengan hutan roh, seorang pria bersujud, menyatukan kedua tangannya, berdoa selagi menangis.
Di sebuah batu yang berada di depannya terdapat keranjang berisikan bayi perempuan dengan rambut merah. Bayi perempuan yang jelas cantik, rambut merah bagaikan darah tersebut sungguh menawan dimilikinya.
“Dimulai dengan kerajaan Etherbelt berencana menyempurnakan sihir kuno yang memanggil manusia dari dunia lain, gejolak besar pasti akan terjadi. Mohon kabulkan permintaan yang satu ini, bawalah putri kecilku yang baru lahir.”
Sihir kuno yang dimaksud adalah sihir yang peninggalan Dewa yang telah lama hilang. Beberapa tahun silam, Etherbelt menemukannya, tetapi masih ada beberapa potong yang hilang.
Butuh dua tahun bagi mereka menelitinya sampai memahami potongan terakhir sihir tersebut dan tidak lama lagi, pemanggilan akan dimulai. Tujuan mereka memanggil manusia dari dunia lain bukan untuk perang yang ditakdirkan.
Tetapi Etherbelt berambisi besar untuk menjadi penguasa absolute benua ini. Berita akan fakta tersebut diketahui banyak kerajaan, bahkan kini situasi sudah mencapai perang dingin yang bisa pecah kapan saja.
Untuk kemungkinan terburuk Etherbelt akan menjadi murka banyak kerajaan dan karena situasi semacam itu, pria tersebut tidak ingin putri kecilnya terjerat perang.
“Sebagai Ratu dari kehidupan, aku ingin anda menjaga kehidupan kecil yang baru terlahir ini. Jika anda menyelamatkannya, kehidupan kecil ini tidak akan redup. Jika anda meninggalkannya, kehidupan kecil ini tidak akan tahu indahnya dunia.”
Air mata membasahi pipi, lantaran dia tidak kuasa menahan kesedihan menterlantarkan putri kecilnya. Dia ingin merawatnya dan membesarkannya sebagai seorang Ayah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Etherbelt akan hancur suatu hari nanti.
Sebagai seorang Duke dari kerajaan Etherbelt, dia harus memenuhi tanggung jawabnya. Karena itu, tidak akan ada pilihan lain selain meninggalkan putrinya ke sosok agung.
“Mohon jaga putriku, wahai Ratu peri yang agung.” Sampai akhir tidak berhenti menyerukan permohonannya.
Menatap putri kecilnya, dia mencium keningnya untuk terakhir kali. Bayi kecil itu menangis seakan memahami perpisahan, tangisannya bergema di langit malam sampai pria tersebut meninggalkan tempatnya.
“Selamat tinggal putri kecilku. Harapanku adalah bisa bertemu denganmu di masa depan.”
Melihat putrinya untuk terakhir kali, dia menyeka air matanya dan segera pergi dari tempatnya.
Seling beberapa menit setelahnya, bayi kecil itu terus menangis hingga menggema ke hutan roh. Segera cahaya kehijauan muncul dan berputar di sekitar bayi kecil tersebut, menghiburnya dan membuatnya berhenti menangis.
Perlahan cahaya itu semakin banyak dan membentak wujud wanita dewasa yang sangat anggun. Rambut, mata, dan pakaiannya berwarna hijau, sosok Ratu peri muncul di depan gadis kecil itu.
“Mahkluk kecil yang malang, karena keadaan dirimu ditinggalkan.” Gumamnya menatap bayi kecil di depannya dengan sedih.
“Aku bukan seorang Ibu, merawat anak kecil bukan keahlianku. Tetapi tidak sampai tega aku mengabaikanmu.”
Dengan hati-hati Sylph membawa keranjangnya bersama bayi kecil tersebut. Dia yang tidak memiliki pengalaman menggendong seorang bayi merasa takut melakukannya.
Saat-saat manusia paling rentan adalah ketika menua dan baru terlahir. Salah penanganan sedikit saja bisa melukai bayi kecil tersebut, karena itu tidak asal menggendongnya pilihan bijak.
Begitu memasuki hutan roh yang seakan terpisah dengan dunia luar, Sylph membawa bayi tersebut ke pohon roh dan meminta izin agar bayi itu diberikan kualifikasi ke puncaknya.
__ADS_1
Tentunya tidak ada masalah karena bayi tersebut tidak memiliki dosa, tetapi masalahnya adalah perjalanan ke puncaknya akan merepotkan. Sylph mengurungkan niatnya dan memilih merawatnya di bawah.
“Eak! Eak!” Tangis sang bayi.
Sylph melakukan berbagai cara seperti membuat wajah lucu dan berbagai hal untuk menghiburnya.
“Mengapa dia terus menangis? Bagaimana cara membuatnya diam.”
Ini bermasalah, kali pertama dia merasa direpotkan dan tidak tahu harus melakukan apa. Salah satu cara yang dia ingat adalah memberikannya asi, tetapi Sylph tidak yakin apakah dia mampu mengeluarkannya atau tidak.
Selain itu dia yang seorang peri memiliki kondisi tubuh berbeda dengan manusia. Ada kekhawatiran besar bahwa asi dari peri akan menjadi racun bagi manusia.
“Sepertinya anda mendapatkan tamu mungil yang cantik, Yang Mulia Ratu.”
Air berkumpul dan membentuk gadis dengan gaun biru, mata seindah langit dan rambut biru cerah miliknya.
“Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Karena manusia memulai sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan sekarang, seorang bangsawan meninggalkan si kecil ini di depan hutan. Apa kamu tahu cara agar membuatnya berhenti menangis, Undine?” Tanya Sylph selagi tetap berusaha mengatasi tangis si bayi.
“Mungkin saja dia lapar. Memberikan asi dari kita para peri mungkin berdampak buruk kepada tubuhnya. Tetapi mungkin tidak ada salahnya memberikan susu hewan. Saya akan membantu mendapatkannya.”
Undine segera menjadi pecahan air dan melakukan apa yang ingin dia lakukan, meninggalkan Sylph kerepotan mengurus si bayi.
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Undine mendapatkan susu dari hewan. Mereka segera memberikannya kepada si kecil dan benar saja, tangisnya berhenti.
“Terima kasih, Undine. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan jika dia menangis seperti itu.”
Sylph tidak segera menjawabnya. Lagipula dia tidak tahu dan tidak menanyakan nama bayi itu. Segera melihat ke pakaian yang digunakannya namun tidak ada nama yang biasanya akan tertulis di sana.
“Sepertinya manusia itu lupa meninggalkan namanya, ya. Bagaimana jika anda yang memberikannya nama, Ratuku? Aku yakin si kecil ini akan sangat bahagia mendapatkan nama dari eksistensi agung dan cantik seperti anda.” Undine menyarankan, menyentuh lembut pipi bayi manusia.
Sylph tidak tahu harus memberikannya nama apa, dia bukan ahli persoalan nama. Berpikir selama beberapa menit akhirnya muncul sebuah nama dalam benaknya.
“Karena dia akan menjadi wanita cantik, bagaimana kalau Priscilla?”
“Nama yang bagus, Ratuku.”
Di hari itu, Ratu para peri, Sylph memutuskan membesarkan si kecil— Priscilla sampai dia bisa hidup mandiri.
...***...
Lima tahun semenjak membesarkan Priscilla, kini Sylph memahami perasaan seorang Ibu dalam membesarkan anaknya. Awalnya dia membesar Priscilla sampai dia bisa hidup mandiri, tetapi hal itu berubah seiring waktu.
Manusia memiliki umur pendek, mereka tidak seperti peri yang tidak akan mati karena umur. Lantaran tidak ingin berpisah dengannya, Sylph memberikannya Cinta Ratu Peri dan meminta pohon roh melakukan ritual rahasia agar Priscilla menjadi setengah peri.
Hal baiknya Priscilla tidak akan mati karena umur, sisi buruknya adalah pertumbuhan Priscilla akan berhenti di usia 20 tahun, yang artinya tidak akan menua lebih jauh. Yah, meski begitu tidak begitu buruk menjadi awet muda.
__ADS_1
“Ibu lihat ini! Aku membuat karangan bunga bersama peri minor!”
“Ara, kamu sangat terampil dengan jarimu, Priscilla. Karangan bunga itu sangatlah cantik.”
Selama lima tahun merawatnya, Sylph entah bagaimana dipanggil dengan Ibu olehnya. Dia tidak masalah dengan hal itu, lantaran setiap kata ‘Ibu’ keluar dari mulutnya, Sylph merasakan kebahagiaan.
“Ehehe, kemarilah dan biarkan aku meletakkannya di kepalamu, Ibu!”
Menurutinya, Sylph menundukkan kepalanya agar Priscilla dapat memakainya karangan bunga tersebut.
“Kamu sangat cantik Ibu!”
“Dan kamu gadis kecil ceria yang cantik sepertiku, Priscilla!” Sylph menggendongnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Wahahaha!”
Selepas bermain-main mereka pergi makan siang. Meskipun peri tidak harus makan, tetapi mereka tetap melakukannya seperti halnya manusia.
“Priscilla, apa yang ingin kamu lakukan ketika besar? Seperti yang aku ceritakan, bahwa aku bukan Ibu kandungmu. Kamu ditinggalkan orang tuamu karena dunia luar sedang kacau dan aku merawatmu. Jika kamu ingin mencari orang tua kandungmu maka—”
Sylph sudah memberitahukan Priscilla semenjak dia mulai memahami perkataan orang lain, tentang fakta bahwa dia bukan putri kandungnya.
Meskipun tidak ingin berpisah dengannya, tetapi Sylph tidak begitu egois sampai mengekang Priscilla. Lagipula selama membesarkannya dia memahami perasaan tidak mau kehilangan tersebut. Lantas bagaimana dengan wanita yang melahirkannya?
Karena itu dia membiarkan Priscilla memilih. Apakah itu pergi mencari orang tuanya, atau mungkin...
“Tidak mau. Bahkan jika Ibu bukan orang yang melahirkanku, aku hanya mau Ibu Sylph yang menjadi Ibuku!” Dengan polosnya tersenyum lebar Priscilla membuat gerakan ‘Piece’ dengan tangannya.
Setiap kali dia bertanya dengan pertanyaan sama, jawaban Priscilla selalu sama. Lantas meski sudah sering mendengarnya Sylph tetap merasakan kehangatan, terharu.
Dia menempelkan wajahnya ke wajah Priscilla dan memeluknya, lalu menciumnya.
“Jika itu maumu maka apa boleh buat. Aku sangat mencintaimu, Priscilla.”
“Tetapi aku tidak begitu mencintaimu, blee!” Priscilla kecil menjulurkan lidahnya dan melompat dari pelukan Sylph.
Segera dia berlari, jelas ingin dikejar oleh Sylph. Melihat keriangannya membuat Sylph tersenyum lembut dan menuruti kemauannya.
“Kamu memang anak nakal ya, Ibu akan menangkap dan menggelitikmu sampai menangis!” Sylph melebarkan sayapnya, membuat Priscilla menggerutu.
“Ibu curang menggunakan sayap indah itu! Tidak adil, tidak adil, aku juga ajan menumbuhkan sayap!”
Priscilla memajukan bokongnya dan mengejan seperti ingin buang air, dia berusaha keras menumbuhkan sayap tetapi tidak berhasil.
“Sepertinya kamu lupa bahwa Ibu berusaha mengejarmu, sekarang tertangkap kamu!”
__ADS_1
“Ahahaha! Ini geli, ampuni aku!”
Suara tawa ceria dari mereka berdua tidak bisa dilupakan. Baik oleh Sylph, Priscilla, bahkan hutan roh yang menjadi saksi kebahagiaan mereka.