
Meninggalkan Priscilla ke dalam pengawasan Yuri, Natalia tidak ingin merepotkan diri dan segera berpindah ke tempat Rigel berada.
Meski berhasil Spatial ke pertempuran utama, tetapi dia tidak bisa menemukan Rigel segera. Mengitari medan tempur bak neraka tersebut dengan berlari, keringat dingin mulai muncul di kening Natalia.
“Benturan kekuatannya sangat besar. Mana di tempat ini bercampur antara kegelapan, cahaya dan hal lain yang lebih seperti kekosongan.”
Natalia bergidik ngeri akan pertempuran ini. Dia berpikir seberapa hancurnya dunia ketika Ragnarok dimulai? Entahlah, berpikir masih dapat hidup normal setelahnya saja tidak mungkin.
Berlari selama beberapa menit akhirnya dia menemukan Rigel. Namun terdapat kejanggalan, sosok bayangan hitam berdiri tepat di depan Rigel yang terkapar lemah.
Wujudnya tidak begitu jelas, tubuhnya diselimuti bayangan dan hanya menyisakan wajahnya yang samar-samar dapat dilihat. Bola matanya hitam dengan iris merah melambangkan kejahatan.
“Ugh! Bau busuk!” Gumam Natalia selagi menutup hidungnya.
Aroma tersebut berasal dari bayangan hitam di depan Rigel. Entah apa dan siapa, dia jelas bukan sosok di pihak mereka.
Natalia mengambil pisau kecil di sakunya dan melemparkannya, namun pisau itu menembus bayangan hitam seakan dia tidak memiliki tubuh fisik.
Berdecak kesal, Natalia mengambil Gleipnir peninggalan Gahdevi. Dia memutarnya dengan keras agar rantai tersebut dapat melilit sosok bayangan.
Sebagai artifak kuno peninggalan para Dewa, Gleipnir mampu mengikat jiwa seseorang termasuk mahkluk seperti bayangan tersebut.
“Gleipnir ya, tampaknya bocah itu telah mati atau membuangnya.” Gumam bayangan tersebut selagi melompat mundur.
Natalia segera memposisikan diri di depan Rigel dan memasang kuda-kudanya. Dia siap untuk mati melindungi Rigel jika diperlukan.
“Menjauhlah darinya, aku sudah memperingatkan!”
“Pft! Kuhahaha, ada lalat yang datang. Namun tampaknya kamu berada di pihaknya, maka baguslah.” Tawa jahat terdengar dari bayangan tersebut.
Matanya menggeliat, menemukan buku di tangan Natalia yang tentu saja dia kenali.
“Heavenseal Book, jadi begitu. Kamu menggunakan sihir Spatial yang kusegel di buku itu, ya. Cukup baik bahwa buku tersebut jatuh di tangan pihak yang tepat. Namun tampaknya kamu tidak menyadari hal lain yang tersimpan di dalamnya, ya biarlah.”
__ADS_1
Natalia terbelalak dan gemetar. Dia yang menemukan buku tersebut tidak mengetahui namanya sama sekali. Dia tahu bahwa buku tersebut menyimpan satu sihir lain, namun dari perkataan bayangan tersebut, sepertinya ada sihir atau hal lain di dalamnya.
‘Dia yang menyegel sihir Spatial, apa mungkin dia mantan pemilik buku?’ Batinnya dalam diam.
Sekali lihat dia tahu bahwa bayangan tersebut sangatlah kuat, mungkin setara atau bahkan dua kali lebih kuat dari Pahlawan. Jika begitu adanya Natalia tidak yakin dapat membawa Rigel dengan selamat. Maka mencaritahu niatnya lebih dulu adalah pilihan.
Apakah dia berniat jahat? Jika ya, maka Natalia bersedia mengorbankan nyawa. Namun jika tidak, harap saja hal ini selesai tanpa banyak masalah.
“Waktuku tidak banyak, kepingan jiwaku akan menghilang. Dengarkan dan sampaikan kepadanya. Temukan batu ramalan, pecahkan teka-teki untuk menemukan yang tersimpan di dalamnya. Makam akan bersinar, delapan bintang bergabung menjadi satu, potongan puzzle akan lengkap dan gerbang akhir terbuka.”
Bayangan tersebut kian memudar seakan hendak menghilang. Seperti apa yang dia katakan bahwa waktunya tidak banyak.
“Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Natalia, menyadari bahwa dia tidak bisa menanyakan hal lain.
Dia perlu mengetahui identitas bayangan tersebut dan mencari namanya yang barangkali ada di masa lalu.
Mendengar pertanyaan tersebut, bayangan tersebut membentuk senyum. Wajah pria tampan yang tampak putus asa serta sedih mendalam dan lembut terlihat dengan jelas.
Sebelum Natalia sempat bertindak apapun, bayangan hitam yang mulai memudar tersebut mengulurkan tangannya, melemparkan cahaya ungu misterius yang segera menyelimuti Rigel.
“Apa yang kamu lakukan?!” Bentak Natalia yang panik dan bersiap menyerang.
Dia segera menghentikan tindakannya ketika menyadari bahwa energi yang terpancar dari tubuh Rigel perlahan kembali, meski hanya sedikit. Tentunya dia tidak mengerti dan tidak akan pernah bisa mengerti tindakan tersebut.
Mengingat identitasnya masih misterius, tidak baik langsung mempercayainya, apalagi menganggapnya sebagai kawan.
Mengabaikan Natalia yang panik, pria yang diselimuti bayangan hitam tersebut tersenyum sedikit terkejut. “Ho? Kamu sudah menghilangkan jiwa yang menguntitmu rupanya. Meski ada satu potongan kecil darinya, namun dia tidak akan dapat berbuat apapun jadi biarlah.”
Menarik kembali kekuatannya, sosok bayangan menatap Natalia untuk terakhir kalinya. Ada banyak hal yang ingin dia ketahui, tetapi waktu tidak.begitu baik hati kepadanya. Lantas dia hanya memiliki waktu untuk menanyakan satu pertanyaan, entah akan dibawa atau tidak itu urusan nanti.
“Entah sudah berapa generasi berlalu tetapi, kamu katakanlah. Bagaimana kabar Arthur dan Hoshin? Apakah mereka berhasil membangun kerajaan seperti yang kuminta? Apa Etherbelt beserta isinya lenyap tanpa sisa??”
Natalia sekali lagi tercengang. Dia tidak memahami konteks pertanyaannya, tidak. Sejak awal pertanyaannya aneh dan bukan hal yang dia pahami segera.
__ADS_1
Nama Arthur saja yang meninggalkan kesan baginya, lantaran beliaulah pendiri Britannia. Namun untuk Hoshin dia tidak tahu apapun, tetapi jika itu Etherbelt dia pernah membacanya disebuah buku sejarah.
‘Etherbelt, kerajaan besar yang lenyap tanpa jejak di masa lalu. Itu generasi yang jauh, apa dia berasal dari sana?’ Pikir Natalia menyelidiki.
Tidak ada kepastian akan hal itu, ada banyak misteri di dunia yang sama sekali tidak terungkap atau diketahui. Banyak bagian sejarah dunia yang menghilang ditelan oleh waktu.
Lantas mungkin saja sosok di depannya sama, sosok kuat yang dilupakan oleh waktu. Mengenai pertanyaan yang diajukan sosok itu, jawabannya—
“Aku tidak tahu siapa dan apa yang kamu maksud, sama sekali tidak ada di dalam ingatanku.”
—adalah bertindak tidak tahu apapun, lagipula faktanya dia memang tidak tahu banyak dengan apa yang dipertanyakan sosok itu.
“Begitu, kamu sengaja bermain bodoh, ya. Karena mau bagaimanapun, si bodoh Arthur pasti akan berhasil membangun kerajaannya. Kamu tidak tahu Etherbelt pastinya, artinya seluruh jejak tersebut telah dibersihkan si bodoh itu. Berbeda dengannya, Hoshin pasti bermain bersih dan berhasil membangun kepercayaan religius di dunia ini yang pada dasarnya menyembahku.”
Tidak bisa berhenti untuk terkejut, perkataan sosok itu diluar pemikiran siapapun. Natalia benar-benar tidak mengerti mengapa sosok itu begitu yakin dengan kesimpulan yang dia buat sendiri.
Meski kesimpulannya mungkin tidaklah salah, tetapi anehnya dia seakan sudah meramalkannya. Belum lagi, hal paling mengejutkannya adalah agama yang dia maksud.
Hanya ada satu kepercayaan di dunia ini yaitu ajaran Ruberios. Lantas dia mengatakan bahwa dirinya yang menyebabkannya dan membuat penganutnya menyembah sosok sepertinya?
“O-omong kosong macam apa itu.” Kejadian langka di mana Natalia kehilangan ketenangan dirinya.
“Hm, Apa pedulimu? Dunia ini sudah sepatutnya terpuruk, karena itu kuciptakan berbagai hal mengerikan seperti perbudakan dan Monster Malapetaka. Namun siapa duga hal ini akan terjadi. Seandainya aku tidak tahu bahwa Rigel, yang kucintai dan rindukan akan mengalami nasib serupa. Mana mungkin kubiarkan sehingga hal itu kulakukan...” Tatapannya tertuju kepada Rigel dengan kesedihan yang sangat dalam.
Lagi dan lagi informasi baru yang sulit dipercaya siapapun muncul darinya. Perbudakan dan Monster Malapetaka? Pemikiran bahwa dia adalah Dewa muncul dalam benak Natalia.
Dikarenakan menurut legenda, Monster Malapetaka adalah sesuatu yang diciptakan para Dewa untuk tujuan tertentu. Entah apa tujuannya, seperti sebelumnya bahwa ada banyak sejarah dunia yang menghilang.
“Sudah waktunya. Jangan lupakan perkataanku dan sampaikan. Seandainya aku masih hidup, wajah cantikmu pasti akan menjadi salah satu koleksiku.” Senyuman sinis muncul dari bibirnya.
Perlahan senyumannya menghilang dan digantikan dengan senyuman kehangatan, penuh kasih sayang. “Sampai nanti, Rigel. Ketika kamu memecahkan apa yang kusimpan di Batu Ramalan, potongan terakhir dari jiwaku akan berkumpul dan kita akan bertemu.” Meninggalkan kata-kata seperti itu, dia menghilang.
Kehadirannya menambah misteri baru tentang siapa dan asal-usul sosok tersebut. Bukan Dewa dan bukan manusia. Bukan pula Iblis, malaikat bahkan Demi-human. Seperti apa yang dia katakan sebelumnya bahwa, eksistensinya penuh ketidakjelasan.
__ADS_1