
“Aku harap Nadia tetap baik saja.” Yuri terlihat gelisah selagi menatap medan perang yang jauh dalam kesunyian.
Pahlawan lain juga tampak sama terkecuali Rigel yang berdiri tegak menyilangkan tangannya, tatapannya terpaku pada sesuatu di medan perang, indra frasa dan kepekaannya terhadap mana ditingkatkan sampai batas tertentu.
Rigel merasa ada keganjilan dari situasi di medan perang saat ini.
“Seperti harapanku bahwa pasukan iblis akan menyerang malaikat saat Seraphim dijebak Priscilla, Diablo dan Pilar Iblis Regulus itu semestinya menunggu di luar Teritory, seharusnya tidak ada yang salah dengannya.”
Rencana Rigel sangat sederhana namun sempurna untuk digunakan pada situasi perang ini, pilihannya tidak mengirim pasukan adalah tepat dan saat ini medan perang berada di bawah kendalinya, entah bagaimanapun caranya momentum ini harus dipertahankan.
Tujuan utama Rigel di tahap awal perang ini adalah mengadu domba dua kekuatan besar tersebut selagi membiarkan pihak manusia menyimpan kekuatannya sebanyak mungkin.
“Aku tidak pernah berpikir peperangan ini akan cepat berlalu, baik Lucifer ataupun Michael akan menikmatinya secara perlahan, bahkan aku menikmati untuk mengganggu kesenangan mereka.” Rigel tersenyum puas, entah mengapa di peperangan ini dirinya lebih banyak tersenyum, tak jarang juga dia merasa ingin tertawa yang mana dia hampir atau mungkin tidak pernah melakukannya.
Dengan tidak mengirimkan manusia dan memberikan pukulan keras dengan serangan skala besar bukanlah hal yang bisa ditertawakan, bahkan Lucifer tidak akan menyukai kesenangan tersebut mengingat pasukannya nyaris dilenyapkan.
“Ada apa Ayah? Wajahmu terlihat sangat berkerut.” Leo menghampirinya dan memajukan kepalanya untuk melihat ekspresi Rigel.
Melihat bocah yang pertumbuhan fisiknya tak masuk akal membuat Rigel kembali membenarkan pikirannya, “Tinggi badanmu sudah hampir melebihiku, seberapa banyak kamu ingin bertambah?” Rigel tak bisa mengelus kepala Leo seperti anak kecil lagi.
“Aku tidak tahu tentang itu, yang lebih penting ada apa denganmu Ayah?” Leo segera mengalihkan topiknya.
Rigel diam sejenak dan memandang bulan serta matahari secara bergantian, dia penasaran akan suatu hal yang menjadi alasan mereka terbit di waktu yang sama.
“Ada beberapa hal yang mengganjal seperti dengan betapa mulusnya rencanaku berjalan dan mengapa dua ras lainnya tidak memikirkan cara curang apapun? Selain itu bergabungnya siang dan malam sangat merepotkan.”
__ADS_1
Malaikat hanya bisa muncul saat matahari bersinar dan Kekuatan mereka akan berada pada puncaknya, sementara iblis mampu hidup di siang dan malam, mereka juga memiliki keuntungan besar ketika malam hari.
“Dengan bergabungnya hal tersebut maka Kekuatan iblis dan malaikat akan berada di puncaknya sementara manusia sangat dirugikan akan hal tersebut.”
Leo mengangguk setuju dan menatap langit sama seperti Rigel, “Ini mungkin aneh namun sejak awal aku berpikir kita tidak perlu ikut perang, Ayah.”
Perkataan Leo jelas tidak bisa diabaikan. Tidak hanya Rigel tetapi Pahlawan lain kini mulai mendengarkan percakapan diantara mereka, bahkan Rigel sendiri tidak memahami maksud Leo.
“Apa kamu ingin mengatakan bahwa sebaiknya kita berlindung di Region tanpa ikut andil dalam perang?” Rigel mengerutkan alisnya saat mengatakan hal tersebut, memang hal itu bisa dilakukan namun ada berbagai alasan yang membuat Rigel tidak melakukannya.
Pembalasan dendam kematian Sylph, janji dan alasan utama Rigel mengarahkan segalanya untuk perang ini karena dia tidak ingin hidup di dunia yang hancur, jika dia tidak menghancurkan dan mengalahkan dua ras lainnya maka sangat dimungkinkan dunia ini tidak akan menjadi tempat yang layak untuk hidup.
Leo menggelengkan kepala dan tangannya, “Tidak tidak, bukan seperti itu maksudku, Ayah.” dia menyadari wajah Pahlawan lain juga ikut berkerut tidak senang, “Pikirkanlah, meski aku tidak tahu kejadian sebenarnya namun di buku cerita menjelaskan bahwa tugas Pahlawan adalah melindungi manusia dari kehancuran dan bukan memenangkan perang.”
Perang Ragnarok seharusnya hanya ada diantara malaikat dan iblis karena permainan para Dewa dan manusia hanya mahkluk yang tidak sengaja terlibat ke dalamnya.
”Aku berpikir bahwa kita mungkin bisa melakukan negosiasi atau semacamnya, atau juga membiarkan dua ras itu berperang. Saat yang tersisa hanya pemenang tidak peduli dari pihak mana mereka mungkin akan segera kembali ke tempat asal, bahkan jika mereka mulai memporak-porandakan dunia ini, kita memiliki kekuatan penuh untuk mencegah.”
Pemikirannya cukup mengejutkan Rigel, dia tidak salah karena hal itu bisa dilaksanakan. Pahlawan lain yang awalnya geram juga tampak memikirkannya.
“Dia tidak salah, lagipula perang ini bukan milik kita sejak awal.” Bahkan Marcel mengakui pemikiran Leo.
“Aku terkejut kamu bisa memikirkannya.” Petra memberikan pujian tulusnya.
“Dia masih muda namun memiliki pikiran terbuka, mungkin dikarenakan dia telah mengalami banyak hal dan juga polos pemikiran itu muncul.” Ray yang jarang memberikan pujian menunjukkannya.
__ADS_1
“Hahaha! Pohon jatuh tidak jauh dari pohonnya!” Aland mulai tertawa bahagia karena suatu hal.
“Hei, bukankah kata-katamu sedikit atau banyak keliru?” Takumi menatapnya dengan bermasalah sementara Aland tidak lagi terlihat peduli, Rigel juga ingin membantah Aland tentang hubungannya dengan Leo namun sebaiknya dia tetap diam saat ini.
Rigel segera memanggil Leo yang tersipu akan pujian, “Leo, pemikiranmu tidak salah dan memiliki kesempatan berhasil, namun ...” Rigel berhenti sejenak, memejamkan mata dan menarik napas, dia membuka matanya setelahnya.
“Tidak ada jaminan bahwa negosiasi yang kamu maksud akan berhasil. Bahkan jika pemenang perang ditentukan, bukan artinya ras yang kalah akan lenyap dan tidak ada jaminan ras pemenang akan pergi. Sejak awal tidak diketahui apakah begitu Ragnarok berakhir gerbang langit akan tertutup. Bahkan jika keduanya lenyap mereka akan terlahir kembali di masa depan, seandainya kita menjalankan rencana yang kamu pikirkan maka di masa depan yang jauh ketika mereka turun, baik manusia atau demi-human akan sangat diremehkan.”
Iblis tidak hanya berasal dari neraka tetapi mereka lahir dari kehidupan, setiap kehidupan yang lahir kelak akan menghasilkan dosa dan energi jahat yang akan berwujud menjadi mahkluk jahat yaitu iblis.
Sementara malaikat mahkluk tinggi yang mendiami langit terlahir dari buah pohon Yggdrasil dan meski butuh waktu lama, perlahan tapi pasti kekuatan mereka akan pulih di masa yang jauh.
“Saat waktunya tiba mereka mungkin kembali dang mengacaukan dunia ini. Baik kita ikut andil atau tidak hasilnya akan sama namun perbedaannya adalah mereka tidak akan meremehkan manusia jika kita memenangkan perang.”
Pastinya mereka akan berpikir dua kali untuk melawan ras yang memenangkan perang dan karena itulah Rigel dengan sangat menolak rencana yang dipikirkan Leo, meski dia hanya mengungkapkan pikiran namun Rigel ingin menunjukkan kepada Leo untuk memperhatikan masa depan sekalipun itu jauh.
“Aku tidak memikirkannya sejauh itu ... Sudah kuduga Ayah memang hebat!” Leo justru mendengus senang daripada murung, sifatnya yang seperti itulah membuat Rigel tidak ragu membantahnya.
“Kejahatan akan selalu ada selama masih ada kehidupan, kehidupan akan selalu melahirkan kejahatan. Dengan konsep seperti itu sekalipun iblis di neraka habis namun selama masih ada kehidupan mereka juga tidak akan berakhir—” Rigel terhenti saat merasakan energi tidak biasa datang dari medan perang.
“Apa-apaan ini ...” Bahkan Takumi terlihat pucat saat merasakannya.
“Ada tiga kekuatan besar di sana.” Merial menambahkan.
Rigel mengenal salah satu kekuatan besar tersebut yang pastinya milik Priscilla sementara dua lainnya tidak diketahui, dia tidak percaya bahwa Lucifer dan Michael akan membuat gerakan secepat ini.
__ADS_1