Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 17 — Benturan Tiga Raja IV


__ADS_3

Rantai Gleipnir terbang dan mendarat tepat di tangan Gahdevi. Rasa dingin dari rantai kemustahilan yang sangat kuat menyelimuti tangannya.


Perasaan nostalgia, sudah lama dia tidak menggunakan rantai ini sebagai senjata. Bahkan ketika pertarungan dengan Pilar Iblis Marionette, Gahdevi tidak menggunakannya karena merasa tidak dibutuhkan.


Namun situasi kali ini berbeda, dirinya tidak akan sanggup bertahan tanpa kekuatan penuhnya. Bahkan Rigel yang dipercaya sangatlah kuat sekarat oleh mahkluk itu.


Meskipun tidak dipastikan akankah Rigel menemui ajalnya atau tidak, namun Gahdevi percaya bahwa Rigel baik-baik saja.


“Mari kita menggila!” ujarnya dengan senyuman penuh membara.


Bersamaan dengan ucapannya, Acnologia menerjang maju. Tidak mau menunggu, Ozaru dan Gahdevi melesat dan menerjang dari dua arah yang berbeda.


Ozaru mengibaskan tongkatnya dengan kuat dan menciptakan bilah angin yang sangat destruktif. Acnologia berputar dan membelah angin tersebut tanpa kesulitan, menyisakan debu dan pohon yang beterbangan.


Sedetik kemudian setelah berputar, Gahdevi sudah melompat dan melemparkan rantainya yang bersinar keunguan.


“Sejak kapan?!” kejut Acnologia.


Rantai tersebut melesat cepat menuju arahnya. Acnologia menyilangkan tangannya dan menahannya, namun secara mengejutkan rantainya berbelok dan mengarah langsung ke pahanya.


Acnologia berkerut kesal dan berusaha memotong rantainya, akan tetapi rantai itu justru tetap menancap di pahanya. Bukannya melemah, rantai tersebut semakin kuat seiring waktu.


‘Apa rantai ini selalu bertambah kuat saat mengenai target?!’ jerit batinnya.


Tidak, sepertinya bukan rantainya saja yang semakin kuat. Namun dirinya semakin lemah seiring waktu. Pada kenyataannya, rantai itu bukanlah rantai biasa. Sebuah benda dengan kelas God Tier yang merupakan ciptaan para dewa. Rantai Kemustahilan, Gleipnir.


Rantai itu tidak hanya tak terhancurkan, rantai itu juga memiliki kemampuan menyerap energi mahkluk hidup yang menyentuhnya. Gleipnir juga memiliki kecakapan dalam bertarung dengan menggunakan energi yang dihisap pengguna untuk mengubah laju serangannya.


Gahdevi menggunakannya bukan tanpa alasan, dia menggunakan Gleipnir untuk mempertahankan wujud manusianya. Wujud raksasanya terbentuk karena energi yang terus meresap ke tubuhnya.


Bahkan dengan tubuh manusianya, Gahdevi masih menyerap energi untuk memperbesar tubuhnya. Karena itulah dia tidak akan


‘Dengan ini aku harap dapat mengurangi energinya, meskipun hanya sedikit.’ perangai Gahdevi.

__ADS_1


Sulit untuk Acnologia melepaskan rantai yang menancap di lututnya. Bukannya tidak bisa mengatasinya, namun selain rantai tersebut ada sosok yang jauh lebih menjengkelkan.


“Oaakk!” Ozaru berteriak keras selagi memutar tongkat raksasanya.


Acnologia tidak bisa bergerak dengan bebas. Selain menyerap kekuatannya, rantai Gleipnir juga membatasi gerakannya karena Gahdevi menahan rantainya.


Acnologia hanya bisa mengumpat keras dan mengerahkan lebih banyak kekuatan dari yang dia inginkan. Dia menyilangkan cakar-cakaranya dan menimbulkan kilauan cahaya yang sangat membutakan.


Sekejap sosoknya menghilang dan terbebas dari rantai yang membelenggu kakinya. Ozaru dan Gahdevi tertegun serentak, mereka mencari keberadaan Acnologia namun tidak menemukan di manapun.


Gahdevi merasakan hawa dingin di punggungnya, begitu dia berbalik semua mungkin sudah terlambat. Cakar besar menyayat punggungnya begitu dalam, cukup dalam sampai tulang punggungnya terlihat.


Dagingnya yang terkoyak kian membusuk berkat kutukan kegelapan milik Acnologia. Regenerasi tidak dimungkinkan, belum lagi terdapat afinitas cahaya yang menyerap kemampuan Gahdevi dalam menyembuhkan luka.


Entah seberapa keras Gahdevi mengerahkan kekuatan untuk menyembuhkan lukanya, tidak ada tanda akan pulih. Seketika Gahdevi melihat langit, bayangan hitam yang bergerak cepat dia temukan.


Tidak cukup sampai di sana, Acnologia mengayunkan cakar lainnya dengan tujuan memenggal kepala Gahdevi sesegera mungkin. Meskipun Ozaru sangat menyusahkan, dengan dukungan dari Gahdevi, menghadapi mereka jauh lebih merepotkan.


Gahdevi menyadari nyawanya tidak akan selamat, dia tidak akan bisa bereaksi tepat waktu untuk menghadang cakar yang menuju kepalanya.


‘Aku ... akan mati.’ Gahdevi pasrah di dalam hatinya.


Waktu yang berjalan lambat membuatnya teringat akan sebuah kenangan lampau. Wajah seorang pria yang paling putus asa di dunia, wajah pria yang menyelamatkannya dari neraka itu, wajah dari orang yang paling ingin dia bunuh lebih dari apapun.


Perkataan terakhir kali pria itu sebelum meninggalkannya terus berputar di kepala Gahdevi. Perkataan yang terngiang-ngiang tersebut mulai memunculkan kenangannya.


“Jika kamu ingin membalaskan dendam karena aku menghancurkan rasmu maka—”


“—jelajahilah dunia, taklukkan surga dan bungkam neraka. Kehidupan hanyalah ampas dari kehancuran, mereka patut dimusnahkan. Saat dirimu memandang rendah segala bentuk perwujudan dunia, disaat kamu berenang di lautan keputusasaan ... datang dan temui aku.”


Dengan kata-kata tak terlupakan tersebut, Gahdevi terus hidup hingga kini. Menempuh sepuluh generasi kehidupan dan kini dia menemui ajal tanpa pernah memahami makna kata-katanya.


Dia bisa menerima Kematian ini, di sini dan di tempat ini. Jika begini takdir akhirnya maka dia dengan lapang dada akan menerimanya. Tanpa rasa takut, tatapannya melunak dan bibirnya mengendur membentuk senyuman.

__ADS_1


Acnologia sedikit berkedut namun dia tidak terlalu terkejut karena tahu bahwa raksasa tidak pernah takut akan kematian. Para raksasa adalah ras kuat yang mentertawakan kematian saat waktunya tiba.


Bahkan naga sekelas Acnologia cukup menyegani para raksasa dan mengakui bahwa mereka dapat memusnahkan naga jika ingin.


Acnologia berjanji kepada dirinya sendiri akan memberikan kematian singkat bagi raksasa terakhir. Hal itu akan menjadi bentuk penghormatannya kepada ras yang pernah dia takuti.


“Inilah akhirnya!” Acnologia mengirimkan tebasan cepat yang bahkan Ozaru tidak mampu mengikutinya.


Ozaru yang memperhatikan hanya diam membatu, dia sadar tidak akan pernah mencapainya. Lain halnya jika Ozaru bisa menghentikan waktu untuk menolong Gahdevi.


Namun Ozaru tidak merasa frustasi karena tidak memiliki kemampuan semacam itu, lagipula dia tidak dibutuhkan untuk menolongnya.


CLANG!


Sebuah tombak hijau raksasa yang bilah tombaknya mampu membelah dimensi memotong jarak antara Acnologia dan Gahdevi. Jangankan jarak, cakar dan tangan Acnologia terpotong dengan sangatlah rapih.


Gahdevi yang siap menerima kematiannya terkejut bukan main. Dalam satu juta kemungkinan, dia tidak menduga bantuan sekuat ini akan tiba.


“Pahlawan tombak?” gumamnya, melihat ke seorang pria yang berdiri di tombak yang melayang di udara.


Takumi menyadari tatapannya namun tidak segera membalasnya. Berpaling sedikit saja meningkatkan presentasi baginya untuk mati. Meskipun dia bersama orang yang mampu mengimbangi Rigrl, Takumi tidak akan lengah sampai detik-detik terakhir.


“Keparat—” Acnologia tidak menyelesaikan perkataannya.


Akar berduri raksasa melilit tubuhnya dengan sangat kuat. Energi sihir dan kehidupannya diserap oleh akar-akar tersebut hingga warna akar berubah menjadi ungu kehitaman.


Segera setelahnya, cahaya kecil berbentuk manusia berkumpul di sekitarnya. Acnologia bermandikan butiran cahaya yang mengganggu konsentrasi mana dalam tubuhnya.


“Sejak dulu mereka ingin memberimu pelajaran, Acnologia. Tidak hanya merusak hutan, kalian para naga jahat juga memangsa peri. Bahkan manusia dan iblis jauh lebih baik darimu.”


“Peri kecil sialan, Sylph!” Acnologia mengumpat.


Sosok teramat cantik dengan sayap kupu-kupu dan baju tempurnya muncul. Keberadaan yang seharusnya menjadi pihak paling netral dan memilih alam, apakah sekarang bersekutu dengan manusia.

__ADS_1


__ADS_2