
“Void Tahap Empat — Kehidupan.”
Dengan perkataan singkat yang bergema, Acnologia yang mulai membentuk tubuhnya terhempas beberapa meter ke belakang. Tubuhnya juga mengecil, energi yang terkumpul dari naga lain yang diserapnya, diserap balik oleh Rigel.
“Kamu ... tangan kirimu tumbuh kembali, Rigel?” Yuri terkejut saat melihat Rigel.
Tidak hanya tangannya, melainkan mata kiri yang seharusnya mesin kini menjadi mata sungguhan, seakan tidak pernah terluka sebelumnya. Iris mata kirinya berbeda dengan mata kanannya yang biru, mata kirinya justru berwarna merah tanpa cahaya, namun dari caranya bergerak-gerak jelas Rigel bisa melihat melalui mata itu.
Untuk tangan kirinya, ya itu tumbuh kembali dengan sedikit perbedaan pada warna kulitnya. Tangan kirinya berwarna putih pucat, meskipun tampak kekar seperti tangan kanannya, jelas ada hal lain dari tangannya.
Mengabaikan keterkejutan diantara para rekannya, Rigel memandang sekitar dengan wajah kosong. Dia menemukan Gahdevi tewas sementara Takumi dan yang lainnya terluka parah.
Sylph sendiri baik-baik saja namun dia jelas menghabiskan kekuatan yang tidak sedikit untuk menggunakan Territory sekuat itu, bahkan Rigel akui Territory milik Sylph sekuat miliknya.
Mengapa dia tahu hal itu? Tentunya dia tahu karena selagi dalam bola kekuatan sebelumnya, Rigel juga mendapatkan informasi tentang segala hal yang terjadi disekitarnya.
“Ayah ... apa yang terjadi kepadamu?” tanya Leo dengan penuh kekhawatiran.
Rigel dengan tak acuh berjalan mendekati mereka, lebih tepatnya dia menuju tubuh besar yang tidak lagi bernyawa. Salah satu bawahannya tewas lagi, korban yang diperlukan untuk pertarungan ini tidak sedikit.
Rigel mengeluarkan sebuah bola mata yang diberikan Takumi kepadanya, sesuatu yang tidak berani dia coba.
“Kamu telah berusaha keras untukku, Gahdevi. Sebagai hadiahnya, akan kuubah tubuhmu menjadi kekuatan bagiku.”
Mengulurkan tangan kirinya, Rigel menyerap tubuh Gahdevi selagi tangan kanan menyerap kekuatan mata yang ada di tangannya. Sebelum pertempuran selanjutnya tiba, dia butuh sangat banyak kekuatan dengan harapan bisa menghabisi mereka sekaligus.
“A-apa yang kamu lakukan, ayah?!” Leo berteriak marah saat melihat tubuh Gahdevi terserap menjadi partikel cahaya.
Dia mengabaikannya dan membiarkan rasa dingin merasuki tubuhnya. Segera, rasa sakit menemani dan apa yang dia lihat adalah berbagai kejadian yang tidak dia kenal.
“Ergh!” Rigel mengerang kesakitan saat berbagai kejadian terlintas dalam kepalanya.
‘Apa-apaan ini ... mungkinkah, masa depan?!’ jerit Rigel dalam hatinya.
Ratusan pemandangan mengerikan serta berbagai kesedihan muncul dalam ingatannya seperti kaset yang berputar dalam waktu cepat. Jika saja dia tidak kuasa menahan sakitnya, dapat dipercaya kepalanya akan meledak.
__ADS_1
*Setelah ini berakhir, mari kita berbincang sebagai sahabat perang. Ini adalah kedamaian yang tercipta berkat kamu, Takumi. Perang ini adalah papan catur hiburan bagi para Dewa. Lama tidak berjumpa, mari akhiri semua ini. Sebagai sosok yang diusir dari surga, aku akan membawa kegelapan ke dalamnya. Maaf Rigel, meskipun dirimu dan ibuku menyelamatkanku, ingatanku akan hari itu hilang.
Sebenarnya apa kekuatan di tangan kananmu dan jelaskan pada kami tentang kekurangan serta kelebihan Skill Creator. Beban sebesar ini masih tidak sanggup aku mengembannya, Ayah. Tuan Rigel, seperti halnya Gahdevi berakhir, saat kematianku tiba gunakanlah tubuhku untuk menjadi kekuatanmu.
Kedamaian ini tidak ada artinya. Aku adalah eksistensi ketidakjelasan, Aludra. Hentikanlah Rigel! Kamu sudah berjuang terlalu keras. Maaf, namun kamu harus melupakan Amatsumi Rigel, Tirith. Sebagai Pahlawan, aku akan membalaskan kematian Pahlawan lain. Kematian Ozaru dan yang lainnya mungkin sudah takdir, termasuk perbuatanmu ini Rigel. Yo, lama tidak berjumpa, putraku. Kamu adalah orang yang mengelana ke berbagai tempat dalam kesepian dan penderitaan, sang Pahlawan Terakhir*.
Tidak sesuai urutan, dia tidak tahu mana yang akan segera terjadi atau apa yang terjadi diakhirnya. Cukup meragukan apakah itu benar-benar masa depan atau ingatan palsu seperti halnya yang diperlihatkan pohon roh saat ujian.
Rigel berjalan terhuyung-huyung karena sakit di kepalanya, dia segera kembali fokus ke Acnologia yang berusaha mengumpulkan kekuatan namun Rigel terus menarik kekuatan yang berhasil dikumpulkan Acnologia.
“Void Tahap Empat — Kehidupan ... Seraplah!” Rigel mengulurkan tangan kirinya.
Kekuatan yang jauh lebih besar merasuki tubuhnya, sementara Acnologia semakin kecil hingga akhirnya Rigel melenyapkannya. Dengan tangan kanannya yang seakan menyentil sesuatu, sosok Acnologia lenyap bagaikan tidak pernah ada.
“Ke-kekuatan mengerikan apa itu?” gumam Sylph dengan keringat dingin membasahi tubuh.
Bahkan dalam hidup panjangnya, dia tidak pernah menyaksikan sesuatu seperti ini. Baik itu dirinya ataupun Lucifer, mereka tidak akan pernah bisa melakukan hal yang dilakukan Rigel.
‘Tahap Empat ... Kekuatan ini sangat mengerikan. Aku tidak menduga tahap ini mampu menumbuhkan bagian tubuh yang hilang.’ batin Rigel selagi melihat rune yang bersinar di seluruh tubuhnya.
Kekuatan Void sendiri sungguh misteri, bahkan Rigel tidak begitu paham tentang cara kerjanya. Dia hanya tahu satu hal pasti sekarang—
—kekuatan Void bukan sesuatu yang hanya mampu digunakan oleh tangan kanannya.
“Sebelumnya aku hanya mempunyai satu tangan, tampaknya Void tidak bisa digunakan secara maksimal dengan hanya satu tangan.”
Tangan yang digunakan untum menggunakan kekuatan Void harus tangan asli, bukan mesin. Bahkan kali ini rune tidak hanya melukis tangan kanan, tetapi seluruh tubuhnya.
‘Jika asumsi ini benar maka, tahap ini membuatku bisa meregenerasikan bagian tubuhku yang hilang.’
Tidak bisa dilukai, maka sama artinya dia abadi jika menggunakan Tahap Empat. Entah apakah ini hal baik atau buruk, Rigel bertanya-tanya tentang mengapa Azartooth memberikan kekuatan ini kepadanya.
“Rigel— tidak. Apakah kamu benar-benar Rigel?” tanya Sylph dengan dingin.
Dia tidak ingin bertindak keliru, tidak ada yang lebih mengerikan selain menemukan hal yang tidak dikenal. Rigel memang misteri, namun yang seperti ini tidak pernah terlihat sedikitpun.
__ADS_1
Jika dia memang Rigel maka syukurlah, tetapi jika dia bukan Rigel Melain sosok lain yang mengambang tubuhnya ... meski menyedihkan namun dia akan membunuhnya.
Rigel tahu keterkejutan Sylph dan Pahlawan lain merupakan sesuatu yang wajar. Lagipula Rigel membunuh banyak orang untuk menjadikan mereka kekuatannya, tangisan mereka bisa didengar olehnya.
“ ... ini aku, Amatsumi Rigel, manusia bumi yang terpanggil ke dunia ini.” dia berusaha menyampaikannya senyum, namun senyum itu berisikan kekosongan.
Mendengar kata ‘Bumi’ sudah cukup bagi para Pahlawan untuk menjelaskan bahwa dia benar-benar Rigel sungguhan. Rasa syukur ingin terucap namun Rigel menghentikan mereka.
“Sekarang belum waktunya untuk berbahagia, ada tamu lain yang perlu diberikan perhatian ... Keluarlah! Mau sampai kapan menunggu?” Rigel memberikan tatapan dingin ke langit.
Suara tawa mulai bergema, sosok Lucifer beserta Pilar Iblisnya muncul seakan mereka sudah berada di sana sejak awal. Sylph yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya tertegun, dia kemudian ingat bahwa ada salah satu Pilar Iblis yang memiliki kemampuan pembiasan cahaya.
“Sepertinya diam dan menunggumu lelah memang ide konyol, benar kan, Amatsumi Rigel?” Lucifer tersenyum sinis denhan tatapan merendahkan.
Semua orang segera bersiaga dan berniat menyerang, akan tetapi Rigel mengangkat tangannya untuk menghentikan mereka. Tindakannya membingungkan namun mereka segera tahu maksud Rigel menghentikannya.
“Aku senang kamu datang untuk dibunuh, Lucifer. Namun saat ini urusanku hanya kepada bajingan yang menculik temanku.” Rigel mengirimkan gelombang Void yang cukup kuat ke arah tertentu.
Uniknya, sesuatu menahan serangannya seakan ada dinding tidak terlihat. Segera dinding itu memperlihatkan sosok dengan jubah keemasan yang menutupi seluruh tubuhnya, dengan cermin di tangannya yang menyimpan seorang gadis, dialah penculik Priscilla.
...***...
**Yo, lama tidak berjumpa, bagaimana kabar kalian? Semoga sehat selalu. Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin penting, mungkin tidak.
Dengan adanya perubahan regulasi yang memberikan jaminan level serta pendapatan minimum, saya berniat menyelesaikan karya dengan judul: Jodoh Di Pulau Terpencil!
Sama seperti halnya The Last Hero yang mulai memasuki babak final setelah setahun lebih saya membuatnya, JDPT juga mulai memasuki bagian *******.
Dengan adanya bonus dari 60k untuk level 7 ke bawah, saya memilih JDPT untuk diselesaikan terlebih dahulu, The Last Hero akan konsisten update setelahnya.
Mungkin ini egois karena saya seperti menterlantarkan kalian, namun mohon dimaafkan. Dan mungkin ini sedikit tidak tahu diri, jika kalian berkenan, saat akhir bulan Desember karya saya dengan judul WSP akan terbit dalam buku fisik.
Bagi kalian yang mungkin memiliki rezeki, jika berkenan belilah tanpa paksaan apapun, ya.
Terima kasih, mohon maaf karena harus menggantung kalian. Saya akan semaksimal mungkin membuat The Last Hero ini update secara konsisten setiap harinya di awal tahun depan. Untuk saat ini, mungkin paling lambat setelah 10 hari saya update, paling cepat mungkin dengan jangka 2 atau 3 hari**.
__ADS_1