Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 108— Takumi Vs Samael II


__ADS_3

Hitam dan putih mulai berkumpul, Samael tidak menahan kekuatannya sedikitpun. Dia berencana mengakhiri semuanya dalam satu serangan penghabisan tersebut. Dua kekuatan yang berlawanan saling bersatu dan menciptakan warna berbeda yakni abu-abu.


Langit bergemuruh dan tanah tempatnya berpijak memiliki retakan besar. Energi di tangannya kian berubah wujud menjadi sarung tinju kegelapan yang menyelidiki tangannya.


“Gunakan semua yang kamu miliki. Aku juga akan menggunakan semua yang aku miliki. Sekarang bagaimana kamu menghadapinya? Mati setelah bertarung hingga titik darah penghabisan atau mati secara sukarela. Tak masalah kamu memilih yang mana karena akhirnya tetap kematian yang kamu dapat.”


Takumi hanya diam, dia memutar tombaknya dan menancapkan di tanah, Takumi mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, dia kemudian menggumamkan sesuatu dan menjatuhkan cahaya kehijauan dari langit.


“Kalau begitu aku memilih pilihan ketiga ...”


Cahaya dari langit tersebut merasuki tombaknya dan merubah bentuknya. Bila tombak awalnya hanya tunggal namun kini berubah menjadi dua yang bilahnya keluar dari kepala naga.


Rambut Takumi mulai memanjang hingga mencapai punggungnya dan bersinar keemasan. Tubuhnya dibalut dengan selendang emas dan urat-urat di seluruh tubuhnya tampak sangat jelas.


Menarik tombaknya, petir segera menyambar dan memperlihatkan wujud tombak yang dua kali lebih besar dari sebelumnya. Kekuatannya meluap-luap dengan luar biasa. Samael melihatnya, seakan-akan ada bayangan naga ular putih yang mengikuti tombak tersebut.


“Aku memilih—”


Takumi memutar tombaknya, dia memanfaatkan jepitan ketiak dan punggungnya untuk membuat tombak itu tetap lurus di mana bilahnya diacungkan ke Samael. Kehilangan tangan kiri memang sebuah kerugian besar bagi pengguna tombak namun dia tidak bisa menyesal atau mengutuk karenanya.


Kehilangan tidak harus menjadi alasan untuknya menyerah dan dikalahkan oleh situasi tidak menguntit tersebut. Segala sesuatu dapat terjaga dalam hidup dan hal seperti itu bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.


“—pilihan ketiga. Aku akan tetap hidup setelah berhasil membunuhmu.”


Samael mengerutkan alisnya meski bibirnya tersenyum bengis, “Itu jawaban yang bagus namun kamu yakin bisa melakukannya? Aku benci orang sombong dan ini juga bukan kesombonganku. Aku hanya berbicara tentang fakta.”


“Sesukamu. Kita akan menentukan siapa pecundang dan pemenangnya segera,” Takumi menurunkan titik tumpu gravitasinya, dia mengatakan sesuatu sebelumnya menarik napasnya dengan dalam, “Besar mulut tak membuatmu terlihat hebat.”


“Itu bagus, maka matilah di sini!” Samael melompat maju dan mengulurkan tangan kirinya dengan kuat.


Takumi bersama tombaknya juga melesat, dia menusuk lurus ke serangan Samael. Bayangan naga ular raksasa mengikuti jalur tombaknya dan menciptakan benturan besar diantara keduanya. Takumi sengaja membengkokkan serangannya, dia terhempas melewati serangan Samael dan berencana menyerang dari atas kepalanya.


Dia melemparkan tombaknya menuju Samael namun refleks lawannya tidak kalah cepat. Samael mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh dari tempatnya. Takumi segera berpindah ke lokasi tombak dan mengambilnya sebelum mengenai tanah.


“Teruslah menari, Pahlawan!” Samael tertawa riang selagi terbang ke sana-sini dalam kejaran Takumi juga tombaknya.


Keduanya terus berbenturan dan menyisakan tanah hancur karena kekuatan keduanya. Takumi tergores oleh serangan Samael dan kehilangan mata kanannya. Meski tidak ada luka namun untuk beberapa alasan mata kanannya tak lagi berfungsi dan memutih. Darah juga mulai keluar dari setiap lubang di tubuhnya.


“Tampaknya tubuhmu tak sanggup menahan lebih banyak beban, kalau begitu akan kubuat penderitaanmu menjadi ringan!” Samael bermanuver di udara, dia mengayunkan tinju kuatnya.


Takumi melompat menjauh dari serangan tinju raksasa yang datang. Jaraknya sangat tipis namun dia berhasil menghindar tanpa luka. Dia mengangguk tombaknya ke langit dan menembakkan sinar, “Kekuasaan Pemalas — Sloth Territory!”


Penghalang muncul dan memenjarakan keduanya di dalam Territory kosong yang hanya berisi hutan yang layu dan tak memiliki kehidupan. Samael hampir tertawa setelah menyadari Territory-nya tidak sempurna namun dia terkejut karena tak bisa bergerak sama sekali.


Tubuhnya terasa sangat berat seakan tidak berniat mematuhi perintah dari otaknya.


“Apa-apaan ini ... aku mengantuk.” Samael mulai terhuyung-huyung, dia memiliki perasaan di mana tidak ingin melakukan apa-apa sampai rasanya tidak ingin bernapas karena menyusahkan.


Dia memahami bahwa efek dari Territory tersebut adalah membawa keluar semua sifat pemalas dari targetnya. Kekuatannya sangat merepotkan untuk Samael yang menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Untuk menghindari terbawa lebih dalam, Samael memaksanya dirinya sadar dengan mengigit bibirnya sendiri.


“Kergh! Sialan—” Dia ingin mengumpat namun menyadari langit memunculkan cahaya terang seakan sesuatu mulai berjatuhan. Samael melihat Takumi yang menancapkan tombak, mengulurkan tangannya ke langit-langit.


“Im the sharpness of my spear ... Unlimited Spear!”


Entah seberapa banyak namun tombak putih mulai berjatuhan selayaknya hujan dengan satu tujuan yaitu Samael. Melihat pemandangan tersebut membuatnya terdiam dan tak mampu berpikir selama beberapa detik.


“Cih! Bukan waktunya untuk kagum-!” Samael mengangkat tangannya, dia mengubah bentuk sarung tinju energi tersebut dan melebarkannya, “Shield Gray!”

__ADS_1


Cahaya abu-abu terus berputar selayaknya angin topan dan menangkis semua tombak yang datang menghujaninya. Samael sedikit kewalahan saat menahannya, tubuhnya terdorong ke tanah dengan kuat karena terus menerima hantaman tanpa henti tersebut.


Aku harus mencari cara untuk keluar dari sini. Pikirnya.


Diam dan terus bertahan adalah cara yang bodoh jika dia tidak ingin dikalahkan. Tetap membiarkan dirinya seperti itu bukanlah tindakan baik sehingga Samael mulai mencari celah namun ketika dia menyadari Takumi sudah dalam ancang-ancang melemparkan tombaknya.


“THE DRAGON SPEAR-!” Takumi berteriak keras dan melempar tombaknya.


Bayangan naga ular putih mengikuti dengan tombak tersebut sebagai inti serangannya. Tak mau menunggu dan melihat Takumi melompat sangat tinggi, dia membentuk tombak lain dengan mengumpulkan bagian dari tombak yang berjatuhan.


Samael menatap serangan besar yang mendekat. Mustahil mampu mengatasi keduanya secara bersamaan. Tangannya sudah sangat sibuk mengatasi hujan tombak dan kali ini apa? Tombak dengan seekor naga ular.


“GLUTONNY!” Kekuatan gelap segera melahap hujan tombak beserta Territory, mereka keluar dari penghalang dan dengan cepat Samael mengulurkan tangannya untuk menahan tombak Takumi.


Dia takkan mampu melahapnya karena itu Tombak Ilahi sehingga mustahil menghancurkannya. Pilihan Samael sejak awal hanya menghadapinya secara langsung dan saat ini dia melakukannya, rasanya buruk, dia terus terdorong mundur sangat jauh dari lokasi mereka bertempur.


“Diantara surga dan neraka, aku meminta perlindungan dua gerbang!” Samael tidak menahannya selama sesaat dan segera dua gerbang muncul di depannya. Satu gerbang biru dengan ukiran sayap merpati sementara lainnya gerbang hitam dengan ukiran tengkorak manusia.


Gerbang neraka dengan mudah ditembus dan selanjutnya gerbang surga yang juga ditembus namun sebagai gantinya tombak Takumi berhenti bergerak. Samael ingin menghela napas, begitu tadinya namun Takumi sudah menyiapkan hal lain untuk dihadapinya.


“Spear of Gigant!” Dengan tombak cahaya besar di tangannya, Takumi melemparkannya dan menembak tepat di dada Samael.


Samael memuntahkan darah, dia terhuyung-huyung dan hampir jatuh, dalam waktu tersebut dia mengulurkan tangan kirinya dan menembakkan segenap kekuatannya, “Matilah bajingan!”


Takumi dengan cepat berteleportasi menuju lokasi tombak pahlawan miliknya dan berhasil menghindar namun hanya sesaat.


Selagi tangannya terus menembakkan energi dan melubangi langit, Samael tak menyerah dan mengayunkannya ke arah Takumi. Energi yang terus di tembakkan benar-benar bergerak dan membelah langit.


Takumi sudah bersedia menghadapinya, dia berteriak keras dan kekuatannya meningkat hingga meluap-luap.


“Bagaimana bisa?!” Untuk pertama kalinya Samael menunjukkan wajah putus asa selama pertempuran tersebut.


“Sudah kubilang bahwa aku akan memenangkan pertempuran dan hidup!” Takumi mengulurkan tombaknya dan membelah serangan Samael.


Sebagian wajahnya mulai terbakar bersama dengan tubuhnya namun rasa sakit tersebut tak membuat Takumi menghentikan langkahnya hingga ke tempat Samael berada.


Takumi melompat, dengan segenap tenaga dia mengerahkan semuanya pada satu serangan terakhir. Dia akan menyerahkan apapun yang terjadi selanjutnya kepada takdir yang tak memihak siapapun.


“ODIN!” Teriak Takumi, dengan kuat menghantamkan tombaknya tepat ke kepala Samael.


Disaat-saat terakhir hidupnya, Samael melemah seluruh tubuhnya dan tersenyum. Dia tidak terlihat sedih, marah atau menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Wajahnya sangat persis dengan orang yang sangat puas sehingga tidak masalah untuk mendapatkan kematian.


‘Akhirnya, keinginanku yang sangat lama terkabul. Ini perjalanannya yang panjang untuk tiba di mana hari kekalahanku ... untuk pertama dan terakhir kalinya. Dengan ini, semua berakhir, aku puas.’


“Kamu hebat, Pahlawan Tombak, Takumi. Imbalan dariku padamu adalah dunia indah setelah peperangan berakhir.” Menyelesaikannya kalimatnya tersebut, Samael memejamkan matanya dan tersenyum sampai akhir.


CLANG!


Takumi tak terganggu dan memancarkan tombaknya tepat di kepala Samael. Cahaya terang berkedip dan menciptakan angin besar, tanah tempat mereka berada berubah menjadi kawah yang cukup dalam, bahkan lebih dalam dari sebuah sungai.


“Hah ... Hah ... Hah ... Hah ...”


Pertarungan sudah berakhir, Takumi menarik kembali kekuatan kutukannya dan menunduk, keringat membasah seluruh tubuhnya yang terbakar dan berdarah. Meski dengan luka sedemikan parah dia masih tetap hidup.


“Hah ... Hah ... Hah ... Ini ... Berakhir.”


Takumi menatap tangan kanannya, dia tidak pernah menyadari bahwa tulang-tulangnya geser bahkan patah, rasa sakit di tubuhnya belum muncul saat ini sehidup masih mungkin untuk menahan kesadarannya. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai dia MERASA semua rasa sakit tersebut.

__ADS_1


“Aku memotong umurku disaat-saat terakhir. Jika tidak begitu mustahil untuk menang. Mungkin saja, aku hanya hidup kurang dari lima tahun lagi.”


Lima tahun adalah waktu yang singkat namun sudah cukup untuk melihat seperti apa dunia ini ke depannya saat perang berakhir. Takumi akan memilih sedikit waktu untuk menikmati kebersamaan bersama teman-temannya setelah peperangan ini berakhir.


Dalam benaknya bayangan momen di mana dirinya dan para Pahlawan melakukan pesta, mabuk, dan makan sampa kenyang muncul. Tempat di mana ada gadis yang dia kasihi, tempat di mana sahabat terbaiknya menunggu dan memintanya untuk tidak mati.


Takumi mengulurkan tangannya dan berjalan lambat, dia seolah berusaha menggapai sesuatu yang sebenarnya tak ada di depannya.


“Tunggu aku ... aku berjanji ... akan minum ... bersama ... kalian ...”


Takumi terus berjalan, dia mulai menangis dari satu matanya yang tersisa. Menangis sedu dan terus berusaha menggapainya sesuatu. Pandangannya mengabur dan dia mulai melihat fatamorgana bahwa dirinya berada di sebuah ruangan penuh pesta, di mana Rigel dan Yuri juga Pahlawan menunggunya.


Takumi terus berjalan dan berusaha menghampirinya, dia ingin menggapai tempat itu dan merasakan kebahagiaan. Dia ingin mengalami saat-saat indah di hari damai, hari yang mereka perjuangkan dengan nyawa.


“Tunggu aku ... aku pasti ... akan ke sana ... Jadi, tolong ... tunggu aku!” Pemandangan tersebut terus menjauh darinya, menjauh, menjauh dan memudar.


Umurnya hanya akan bertahan lima tahun namun apakah Takumi percaya diri mampu menahan semua rasa sakit dari tubuhnya saat ini? Bisa saja semua rasa sakit yang akan datang membunuhnya.


Saat pemandangan tersebut menghilang dan memudar dari benaknya, pemandangan lain di mana seorang gadis dewasa berambut merah mengulurkan tangannya muncul, gadis yang sangat dia cintai di tempat pertama.


“... Kakak ...”


“Kemarilah, adikku tersayang. Kamu berjuang dengan sangat keras.”


Dengan suara lembut yang sangat dia rindukan, Takumi menangis semakin jadi dan tersenyum, wajahnya sangat persis seperti anak kecil yang ditinggalkan orang tuanya dalam waktu lama, “... Aku datang ... Kakak!”


Kemudian tenaga meninggalkan tubuhnya. Takumi memejamkan matanya dan dengan dramatis terjatuh.


Di tempat yang semuanya putih, seorang wanita muda dengan rambut dan mata merah berdiri. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya dengan senyuman lembut di wajah yang sangat cantik.


“Kakak sudah menunggumu selagi menyaksikan petualanganmu. Karena semuanya sudah berakhir, maukah kamu ikut denganku?”


Tangan tersebut diulurkan kepada seorang pria dengan warna rambut yang sama. Pemuda dengan wajah malang yang menangis dan melipat bibir seperti anak kecil.


“Ya, aku akan ikut. Sudah sangat lama, sejak sangat lama, aku sudah merindukanmu. Karena itu, berjanjian untuk tidak meninggalkanku lagi!”


“Ya. Mulai dari sini kita akan terus bersama.” Wanita itu mulai menangis dengan senyuman sedih, “Kita takkan terpisah. Meski waktu akan menelan kita dalam keabadian akhirat!”


“Kakak!” Takumi berlari menghampirinya wanita yang adalah kakaknya.


Dia berlari, perlahan tubuhnya menyusut menjadi remaja hingga anak-anak berusia delapan tahun. Menerima uluran tangan tersebut, mereka berdua menuju sebuah gerbang cahaya yang ada jauh di depan mata.


...***...


Jauh di tempat lain, Rigel sedang berjalan menuju lokasi pertempuran Michael dan Lucifer. Dia sudah memikirkan berbagai rencana dan menyiapkan jalan kemenangan untuk dirinya sendiri. Rigel juga sengaja tidak datang cepat karena pertarungan keduanya sangat intens.


Aku akan menunggu sampai setidaknya, keduanya sedikit kelelahan. Pikirnya.


Tidak hanya menunggu namun Rigel juga telah memberikan beberapa bantuan kecil kepada para Pahlawan. Selain Takumi, ada Yuri, Leo dan Ozaru yang bertarung dengan hebat.


Kondisi Leo masih baik hingga saat ini, begitu juga dengan Yuri. Meski lawannya sangat merepotkan namun mereka berada pada tempat sama yaitu petarung jarak jauh. Saat Rigel terus berjalan, mendadak dia berhenti dan matanya terbelalak gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar dan dia menggigit bibirnya.


“Sudah kubilang untuk jangan mati, Takumi!” Teriaknya selagi memukul batu di dekatnya.


Rigel tak mampu meneteskan air matanya, dia tidak tahu apa sebabnya namun jika bisa dia ingin menangis meski hanya sedikit untuk membersihkan kesedihannya.


Note.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi mereka yang menjalankannya.


__ADS_2