Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 90 — Teknik Tombak Ganda


__ADS_3

Takumi dan Leviathan berlari cepat diantara benturan trisula dan tombak. mereka berbenturan senjata masing-masing dalam kecepatannya yang luar biasa. Diikuti dengan tongkat besar Ozaru dan langkah cepat Sandalphone, mereka benar-benar bertarung habis-habisan.


“Naga Air!” Dari tanah muncul dua naga air besar dan menyerang Takumi.


Dia tak banyak bersusah payah mengambil langkah untuk menghindari. Takumi melompat miring dan menghancurkan kedua naga itu dengan senjatanya. Dia juga dengan cepat melemparkan tombak raksasa menuju Leviathan yang terus mendekat dan berniat memegang kendali pertempuran ini.


Takumi takkan pernah melepaskannya dan membuat dia melakukan apapun yang diinginkan, dia telah bersumpah kepada dirinya bahwa tidak akan kalah apapun yang terjadi nantinya. Di peperangan ini segalanya bisa saja terjadi, yang mustahil menjadi sangat mungkin untuk terjadi. Dia juga harus berhati-hati mengambil langkah dalam pertempuran dengan Leviathan.


“Hahaha, kamu masih memiliki hitungan dalam pertempuran ini? Sepertinya kamu mengkhawatirkan sesuatu, ya!” Leviathan menerobos masuk dan mengulurkan tinjunya ke dada Takumi.


Untungnya dia sempat bereaksi dan menahannya dengan gagang tombaknya namun kekuatan Leviathan tidaklah lemah sehingga Takumi terhempas cukup jauh. Melihat tangannya yang gemetar karena benturan kuat, dia bersyukur bisa menahannya karena jika tidak bukannya mustahil tulang rusuk akan patah.


“Hehe, itu tentu saja karena aku tidak ingin kalah kedua kalinya.” Takumi tersenyum masam dan mengakui pengalaman pahit dikalahkan oleh Leviathan.


Meski tidak benar-benar kalah nyatanya dia terpojok saat melawan Leviathan di Ruberios beberapa tahun lalu. Kenyataan itu meninggalkan bekas tidak enak dan rasa frustasi yang besar.


“Apakah aku harus meminta maaf karena membuat dirimu yang lemah merasakan hal buruk? Atau mungkin aku harus memberimu pengalaman yang lebih dari itu?” Leviathan terbang menjauh dan menembakkan peluru air serta lebih banyak naga.


“Terima kasih tawarannya namun aku akan menolaknya!” Takumi melemparkan tombaknya menuju Leviathan.


Senjata Ilahi tidak akan bisa dihancurkan oleh cara apapun dan karena itu pilihan Leviathan hannyalah menghindarinya saja. Tepat sebelum tombaknya melalui Leviathan, Takumi melakukan teleportasi ke senjatanya, dia mengayunkannya dan melukai lengan kiri Leviathan.


Berdecak kesal, Leviathan mengerahkan lebih banyak kekuatannya, naga air yang dia ciptakan segera menelan Takumi dan membawanya ke dalam arus tanpa akhir dari air.


‘Sesak napas—’ Takumi tenggelam dan terombang-ambing dalam arus, tombaknya mulai mengeluarkan sinar dan menghancurkan naga air yang menelannya.


Takumi mengambil napas berat, paru-paru kembang-kempis dan kepalanya terasa pusing. Dia yakin air biasa takkan membuat dampak seperti ini namun tampaknya air tersebut memiliki tekanan yang kuat seolah berada di dasar laut dalam. Jika begitu keadaannya maka benar-benar bahaya karena kepalanya bisa saja hancur oleh tekanan airnya.

__ADS_1


Leviathan memang berbahaya karena dia salah satu dari Pilar Iblis yang paling kuat, kekuatannya sendiri adalah air yang terkadang selalu diremehkan namun tergantung seberapa kuat kekuatannya, air menjadi sangatlah berbahaya.


Takumi meyakini bahwa Leviathan masih menyembunyikan kekuatan lainnya karena tidak mungkin dia hanya bisa menggunakan air saja. Jika hanya itu maka mustahil dia menjadi salah satu Pilar Iblis yang patut diwaspadai.


“Shesh ... Tidak ada pilihan.” Takumi berdiri dan menghentakkan tombaknya beberapa kali.


Dia terus melakukannya sampai tombak tersebut bersinar terang dan mewujudkan tombak cahaya lainnya, dia mengambilnya dan menghentakkannya bersamaan. Dia berencana menggunakan skill yang belum lama ini dia miliki, sangat berguna karena mampu menggantikan kekuatan dari Kutukan Pemalas.


Dengan tombak cahaya di tangan kiri yang bersinar kehijauan akan mempercepat segala pergerakan dan serangan yang dia miliki. Dengan tombak Ilahi di tangan kanan akan memungkinkannya menggunakan serangan kuat dar tombak yang tak terhancurkan.


“Teknik Tombak Ganda ... Bentuk pertama—” Saat dia menggumamkan skillnya, sosoknya mengabur dan telah menghilang dari tempatnya.


Leviathan terlihat gelisah karena tidak menemukan Takumi sampai bahaya datang dari belakang punggungnya. Di sana ada Takumi yang sudah mengulurkan tombak cahaya di tangan kirinya.


“— Pergerakan Dewa.”


Tombak cahaya menyisakan jalur lintas yang dilalui Takumi, dia bergerak terus-menerus dan melancarkan serangan terus-menerus. Leviathan juga terlihat kesulitan mengatasi gerakan cepat Takumi.


Benturan keduanya tidak terhindarkan dan lagi-lagi keadaan menjadi semakin imbang. Tentunya Takumi tidak ingin membiarkan keadaan stagnan Seperti ini karena hanya akan menunggu waktu sampai salah satu dari mereka menjadi kelelahan.


“Bentuk Dua — Tombak Dewa.”


Dua tombaknya menjadi besar dan satu serangan mampu menghasilkan dua sayatan cepat. Pergerakannya memang cepat namun serangannya yang meningkat menjadikannya semakin sulit dihadapi.


Setiap ayunan tombaknya menghasilkan angin kencang sehingga Leviathan beberapa kali terhempas olehnya namun yang membuat tombak itu mengkhawatirkan bukan hanya serangannya, tetapi dampak yang terjadi ketika bersentuhan dengannya.


“Tombakmu mencuri mana? Sungguh merepotkan.” Jumlah yang diambil cukup banyak dan jika terus berbenturan dengannya maka Leviathan akan kehilangan kekuatan lebih cepat dari seharusnya.

__ADS_1


Pilihan Leviathan terbatas apakah dia akan terus bertarung dan bersentuhan dengan tombaknya lalu kehilangan mana, atau terus menghindarinya selagi menjaga jarak yang pasti. Pilihan pertama memang buruk, dia harus menyelesaikannya pertarungan secepat mungkin. Pilihan kedua juga tidak baik karena melarikan diri dan menghindar juga menghabiskan kekuatan.


Belum lagi Takumi juga tidak memberikan waktu untuk Leviathan berdiam diri dan berpikir dengan tenang, dia terus menyerang dengan kecepatan luar biasa dan rangkaian serangan yang tanpa putus.


Dia berpikir harus mempertahankan momentum ini, jika serangannya putus sedikit saja, momentum pertempuran mereka akan berubah dan sulit mengembalikan keadaannya. Karena itu mempertahankan keadaan ini menjadi prioritas utama.


Namun sayangnya keinginan tersebut tidak akan terwujud karena seseorang melompat masuk di tengah pertarungan mereka. Takumi melihat itu sebagai gangguan dan jika itu musuh dia akan menghajarnya namun sayangnya orang itu adalah kawan. Mau tidak mau dia menghentikan serangannya dan mengumpat keras.


“Apa-apaan kamu ini? Jangan mengganggu pertarunganku dasar monyet!”


Orang yang tiba-tiba datang adalah Ozaru yang dengan wajah bodohnya menatap Takumi dan Leviathan secara bergantian.


“Aku hanya ingin membantumu karena tampaknya kelelawar itu lawan yang sulit.”


Takumi tidak mengerti apa niatnya, seharusnya dia memiliki lawannya sendiri yang seorang Seraphim. Namun fakta bahwa dia bisa dengan santai berada di sini mengundang pertanyaan apakah Ozaru sudah mengalahkannya.


“Kamu ... Telah membunuhnya?” Tanya Takumi dengan kejutan di wajahnya.


Bahkan Leviathan mengerutkan alisnya, tak peduli selemah apapun Sandalphone, seharusnya pertarungan diantara mereka tidak akan selesai secepat ini.


“Tidak, dia masih sekarat. Aku menyegelnya dengan tongkatku.” Ozaru dengan santai berkata selagi mengorek telinganya.'


Takumi tidak memahaminya dan dia berbalik untuk menemukan pemandangan yang sangat luar biasa. Selama ini dia tidak menyadarinya karena terlalu fokus menghadapi Leviathan.


Pemandangan tongkat raksasa yang menembus langit dan dialiri listrik menjadi sesuatu yang sangat memukau serta menakutkan. Diantara tongkat tersebut, penampakan yang paling tidak masuk akal adalah yang membuat Takumi bahkan Leviathan merasakan keringat dingin.


“Apa-apaan itu ...” Leviathan menatap pemandangan itu dengan terkesima sekaligus ngeri.

__ADS_1


“Buddha ...” Ujar Takumi.


Patung Buddha raksasa bertangan enam dan tiga wajah sedang mengulurkan tangan kanannya ke tongkat Ozaru. Tidak hanya satu, tetapi ada tiga patung besar yang serupa namun dengan wajah yang berbeda-beda. Satu dengan wajah menenangkan, satu dengan wajah sedih, dan satu dengan wajah yang terlihat marah.


__ADS_2