Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 49 — Mengungkapkan Batu Ramalan VI


__ADS_3

Waktu terus berlalu dan para Pahlawan telah memanggil jiwa tersemayam di Batu Ramalan. Selain Alnilam dan Alnitak, mereka juga berhasil memanggil Meissa, Mintaka, Saiph dan Bellatrix. Diantara mereka semua, perkataan mengejutkan terus diucapkan. Mereka memiliki tindakan sama yaitu menatap Rigel di akhir.


Meissa mengatakan, “Kesedihan adalah hiburan hati tanpa hati.”


Mintaka menyebutkan, “Kebahagiaan tercapai ketika kamu tak bisa mencapai apapun lagi.”


Sapih memberitahukan, “ Kamu akan menyesali tujuan yang kamu kejar.”


Lalu yang terakhir adalah paling mengejutkan. Dari yang lainnya, hanya Bellatrix yang tampak masih memegang kesadarannya. Darinya Rigel mendapatkan banyak hal termasuk orang yang kemungkinan besar membuat ini.


Kilas balik.


“Selain dua yang belum kita capai, ini adalah yang terakhir, ya.” Ujar Takumi begitu menatap Batu Ramalan.


Lokasi mereka saat ini adalah Batu Ramalan yang ada di Britannia. Bukan kali pertama Rigel mengunjunginya, namun tempat ini terasa berbeda dari Batu Ramalan lain.


“Tidak perlu berlama-lama, mari lakukan.” Marcel mendesak Rigel untuk bergerak cepat.


“Aku tahu.” Rigel mengambil langkah ke depan dan mulai menyebutkan nama bintang dari Batu Ramalan di depannya, “Datang, patuhi panggilanku, Bellatrix!”


Mereka siap untuk kejutan, namun anehnya tidak ada apapun yang terjadi. Rigel khawatir bahwa pengucapannya berbeda dari yang lain namun kekhawatirannya tidak diperlukan.


Seisi kuil bergetar dengan kuatnya, Rigel dan para Pahlawan harus berpegang pada sesuatu agar tidak terjatuh.


“Apa yang sebenarnya terjadi?!” Tanya Aland ketika memegang palunya di lantai.


“Kamu bertanya padaku, kepada siapa aju harus bertanya?” Ujar Marcel.


Sosok gadis berpenampilan cantik muncul. Rambut panjang gemulai, mata tajam yang memancarkan kekuatan. Meski seluruh tubuhnya berwarna biru, nyatanya dalam wujud tersebut dia tetap cantik.

__ADS_1


“Namaku Bellatrix Margaret Natasya. Atas kehendak manusia dunia ini, diriku menerima gelar Pahlawan Panah.” Seperti yang lainnya, dia bermula memperkenalkan diri.


Anomali yang membedakan dirinya dengan yang lain terjadi. Dia mulai melirik semua orang di dalam ruangan. Seakan kesadarannya masih dipegang penuh, dirinya mulai berbicara.


“Jadi kalian pahlawan generasi setelah kami.” Dia menatap Yuri yang memegang panah selagi tersenyum lembut, “Dan kamu penerusku.”


Para Pahlawan sedikit terguncang. Bellatrix adalah jiwa pertama yang berbicara tanpa perintah seperti robot. Dia berbicara atas dirinya sendiri dan bukan perintah orang lain.


Selagi yang lain menatap dalam bingung, Rigel mengambil langkah maju. Baginya ini kesempatan terbesar untuk mengorek informasi tentang apa yang dilalui para Pahlawan masa lalu hingga menjadi Batu Ramalan.


“Jawab tiga pertanyaanku. Mengapa bisa kamu berbicara atas kehendak sendiri? Apa yang kalian lakukan sampai menjadi Batu Ramalan?? Dan apa yang terjadi di masa lalu sampai beberapa kisah tentang kalian dilupakan???”


Rigel tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. Dia sungguh geram akan fakta bahwa cerita di masa lalu melenceng dari yang aslinya. Mendengar apa yang dikatakan Rigel, Bellatrix tersenyum masam.


“Maka kamu akan mendapat jawaban di akhir nanti. Bukan hak diriku mengungkapkannya.” Dia tak berniat mengatakannya dan dari gerak-geriknya, akan ada orang lain yang menjelaskannya, “Namun bisa kukatakan bahwa dunia ini tempat yang indah, juga menyesatkan.”


“Alasanku mampu berbicara atas kehendak sendiri, itu karena jiwaku sepenuhnya utuh. Berbeda dari yang lainnya, aku memiliki kehendak kuat yang tak tergoyahkan, karena itu Aludra tak bisa berbuat banyak kepadaku.”


“Aku sudah mendengar nama itu namun tetap saja tak diketahui siapa dia. Apakah dia seorang dewa? Atau sungguh dia manusia yang juga Pahlawan??”


Dia menatap Bellatrix yang bibirnya kehilangan senyum. Tampak ada ketidaksenangan atas hak tersebut, juga kesedihan mengenai fakta tersebut. Tatapannya terpaku pada Rigel, dia menganggukkan kepalanya segera setelah memahami sesuatu.


“Dia bukan Dewa, Aludra manusia dari bumi yang sama denganku. Dia terpanggil ke dunia ini karena sebuah kecelakaan yang juga melibatkan ku. Hanya saja, aku lebih beruntung menerima senjata ilahi, namun dia tidak sehingga di buang oleh negara.” Tatapannya semakin pahit setiap kaki menceritakannya, “Mungkin itu yang menjadi alasan dirinya berubah.”


“Apa maksudmu?” Takumi yang menyimak penasaran dengan perkataan terakhir Bellatrix.


Dari raut wajahnya tampak jelas ada suatu peristiwa besar yang tak menyenangkan terjadi. Mungkin sebuah peristiwa yang menjadi titik balik dari segala melencengnya sejarah dunia ini.


“Tidak ada. Hanya saja, aku berharap kalian tak melakukan kesalahan yang sama dengan kami. Meski tugas kita berbeda, tujuan kita datang ke sini adalah sama, untuk menyelamatkan manusia. Delapan bintang akan bersinar, kesatuan terlupakan akan lahir.”

__ADS_1


Dia mengatakan perkataan yang sama dengan Alnilam dan yang lain. Perlahan sosoknya terbang menuju seorang Pahlawan yang mencolok dengan rambut putihnya. Bellatrix tersenyum riang, bibir serta wajahnya memancarkan kelembutan.


“Kamu orang yang dimaksudkan untuk menerima pesannya. Kamu sungguh mirip dengannya.” Kedua tangannya terulur selagi dalam perjalanan menuju Rigel. Tentunya tujuan kedua tangan tersebut adalah menyentuh pipi Rigel.


“Perpisahan tanpa air mata, meninggalkan luka berbalut kesedihan.” Menyelesaikan perkataannya Bellatrix menyentuh pipi Rigel, serta mendorong bibirnya untuk bertemu dengan milik Rigel.


Walau ingin mencium namun dirinya saat ini hanya jiwa, kontak fisik dengan yang hidup tak dimungkinkan. Sebelum bibir mereka saling bertemu, Bellatrix memudar dan menghilang dari dunia.


Rigel diam membatu. Kejutan yang dia alami terletak pada kata-katanya, ‘Bellatrix, juga yang lainnya. Mereka menyampaikan pesan yang merujuk pada satu hal.’


Rigel bisa menebak apa yang mereka tuju, akan tetapi dirinya tidak yakin. Masih ada dua Batu Ramalan tersisa. Bila apa yang mereka sampaikan serupa maka itu menuju akhir yang sangat menyedihkan.


“Yuri!” Petra menjerit begitu melihat Yuri melemah dan pingsan.


Berbeda dari yang lainnya, Yuri mengeluarkan darah dari bola mata serta hidungnya. Meski yang lain panik Rigel meyakini Yuri akan baik-baik saja. Dia segera menghubungi Natalia mengenai perkembangan di Pulau Es.


“Bagaimana keadaan di sana?”


“Ya, Tuan Rigel. Semuanya baik, seperti yang saya harapkan bahwa melalui kerjasama dagang yang sangat jelas menguntungkan mereka, saya berhasil memiliki hak masuk dengan bebas. Selain itu, saya dan suami saya berhasil menemukan lokasi Batu Ramalan yang dicari.”


Semuanya menjadi bagus, tidak sia-sia menyerahkan semua di Pulau Es kepada Natalia, “Bagus. Kamu kembali dan jemput kami di Britannia. Aku tak ingin membuang-buang waktu yang berharga pada saat seperti ini.”


“Baik. Saya akan datang kurang dari satu jam. Ada beberapa negosiasi yang harus saya lakukan, tidak masalah, Tuan?”


“Sesukamu saja.”


Dengan mengakhiri panggilan, Rigel meninggalkan kuil dan menuju aula kerajaan yang kosong. Rigel duduk di kursi yang biasanya digunakan Raja. Bagi orang lain tampak lancang namun pada kenyataannya Rigel adalah Raja dari Britannia sesungguhnya. Altucray hanyalah boneka yang dia gunakan dengan peran Raja.


“Tak biasanya kamu berinisiatif menemuiku.” Rigel melirik sedikit pintu yang baru saja terbuka.

__ADS_1


Seorang pria tua dengan janggut dan bau tanah menghampiri Rigel. Dialah si Raja boneka.


__ADS_2