
Perkenalan megah yang dia lakukan mengejutkan semua orang dengan marga yang dikenal mereka, hanya ada satu orang di sini dengan marga ‘Amatsumi’ dan orang itulah yang paling gemetar akan hal tersebut, wajah Rigel penuh kejutan yang menunjukkan dia tak tahu apa-apa soal ini.
“Kamu jangan coba menipuku.” Rigel berkata dengan dingin dan melepaskan hawa membunuhnya, ada kemungkinan orang di depannya hanya menyamar dan berusaha mengambil kesempatan untuk membunuhnya.
Tidak ada jaminan orang itu adalah Ayahnya dan tidak ada sesuatu yang bisa memastikannya, namun kelemahannya juga Rigel tidak bisa memastikan bahwa orang itu bukan Ayahnya, tidak mengenalnya sama sekali memiliki efek yang fatal.
“Itu wajar karena kamu tak pernah bertemu denganku, dunia keparat ini merenggut segalanya termasuk dirimu.” Wajahnya menjadi marah seketika membahas dunia ini, Aludra menunjukkan kebencian nyata kepada dunia ini.
“Aku ingat, namamu kerap disangkutkan dengan kejadian buruk, White Tiger dan Marionette menyebutkan namamu.” Ray mengambil satu langkah mundur saat mengingat hal tersebut.
“Jika kamu tahu namaku dari kucing putih itu maka kalian sudah bertemu dan mengalahkannya, untuk Marionette aku tidak tahu siapa itu. Namun aku ingat meninggalkan Maria dalam kondisi gila, dia adalah budak pertama dunia ini.” Aludra tersenyum penuh noatalgia selagi menceritakan kisah kejamnya.
Dia adalah orang yang membuat sistem perbudakan di dunia ini, jika Asoka tahu sangat besar kemungkinan dia membenci orang ini, bahkan Rigel sudah memendam rasa ingin membunuh pria tersebut.
“Aku pasti telah membuatmu sangat kerepotan, Rigel. Monster Malapetaka yang seharusnya telah mati di tangan Bellatrix namun dengan campur tanganku membiarkan mereka hidup hingga generasimu. Ini juga kesalahanku membiarkan ritual pemanggilan tetap ada, sepatutnya aku memilih membinasakan kehidupan di dunia ini!” Wajahnya menjadi kejam dengan gigi mengatup rapat.
Aludra menyadari Pahlawan lain termasuk Rigel menatapnya dengan rasa takut, segera dia kembali melunakkan ekspresinya dan tersenyum dengan lembut, perubahan ekspresinya yang berlangsung sebentar tersebut justru lebih mengerikan.
“Mohon lupakan perkataanku sebelumnya.” Aludra tersenyum lembut dan duduk di udara tepat di depan Rigel, dia mengamati dengan seksama wajahnya yang mirip dengannya, “Kamu seperti diriku waktu muda, putraku. Perbedaannya adalah kamu terlihat baik, pasti menurun dari Fortuna.”
Karena dia tahu nama dari Ibunya maka Rigel tidak memiliki alibi untuk menolak pria di depannya adalah Ayahnya, pertanyaan lain timbul di dalam kepala Rigel jika benar Aludra adalah Ayahnya.
“Aku masih tak percaya kamu adalah Ayahku namun memang tidak salah itu Ibuku, hanya saja jika benar kamu Ayahku maka apa yang kamu lakukan di dunia ini? Ini bukan bumi dan sangat tidak masuk akal jiwamu sampai di sini.”
Aludra mulai tertawa terbahak-bahak dengan riangnya sampai air mata keluar, dia lupa menjelaskan situasinya sendiri dan terlalu senang karena bisa bertemu putranya.
Dia menceritakan bahwa dirinya juga seperti Rigel dipanggil ke dunia ini, bedanya di generasi Aludra terdapat 13 orang dan satu dari mereka tidak akan menjadi apa-apa selain pelancong dunia biasa tanpa sistem index namun uniknya dia memahami bahasa dunia ini.
__ADS_1
Saat mencari jalan pulang Aludra dijebak hingga nyaris mati ketika menghadapi monster berbahaya, setelah membunuh monster tersebut dia menyadari bahwa tidak ada jalan untuk kembali ke bumi. Tidak peduli bagaimana atau seberapa keras usahanya dia tidak akan bisa menemukan bumi tempat asalnya di hamparan dunia yang luas.
“Aku menyerah untuk pulang, padahal harapanku hanya ingin bersama Fortuna dan membesarkanmu tetapi dunia ini merenggutnya, bahkan kamu harus merasakan penderitaan setelah dipanggil ke dunia ini!” Aludra mengepalkan tangannya dengan kuat, wajahnya sungguh marah dan bisa meledak kapanpun.
“Aku mengerti mengapa dirimu bisa ada di sini, namun aku tidak paham mengapa namamu disangkut pautkan oleh sesuatu yang jahat? Seperti perbudakan, percobaan terhadap ras Hakurou dan lainnya.” Merial yang sangat tertarik terhadap legenda dengan antusias bertanya-tanya.
Dunia ini memiliki legenda dan cerita di masa lalu yang melenceng dari aslinya, nama Aludra juga dihapuskan dalam sejarah sehingga hal tersebut menjadi teka-teki yang patut diselesaikan.
“Itu karena aku telah sangat putus asa untuk pulang dan tujuanku adalah membalas dendam, baik kepada keparat yang menjebakku atau kepada dunia yang merenggut kebahagiaanku.” Aludra tertunduk saat menceritakan kisahnya.
Dia mencari Artifak Kuno yang mampu mengikat seseorang dan menguraikannya untuk membentuk sistem perbudakan, kekejiannya tak sampai disitu tetapi dia juga menghancurkan peradaban, ras, bahkan membuat legenda menyimpang.
“Aku adalah pria paling keji di dunia ini yang tidak berkedip ketika membunuh seorang bayi, aku pria paling dibenci karena merebut banyak hal dari orang-orang, dan aku pria paling diburu karena membunuh Pahlawan.”
Kisahnya terus membuat Rigel dan yang lainnya terkejut, terutama pada bagian Pahlawan generasi sebelumnya yang berhasil membuat Hydra sekarat hingga tersisa dua kepala namun Aludra campur tangan dan menyelamatkan Hydra.
“Aku tidak merasakan kehadiran monster-monster itu yang berarti kalian berhasil membunuhnya. Jika ingat dengan Tortoise akan ada segel dengan patung Pahlawan, kamu tahu Rigel? Bahwa akulah dalang di balik segel tersebut! Ratu peri dan putrinya sangat bodoh, para Pahlawan itu juga sungguh tollol hahaha!”
Cerita yang tak pernah diceritakan terus muncul dari mulut Aludra, Rigel dan yang lainnya hampir lupa bernapas karena mendengarkan dengan seksama ceritanya.
“Akhir kisah aku terpojok oleh semua musuhku namun itu kepuasan karena aku telah menebar benih kekacauan. Namun di akhir itulah aku menyesali semua tindakanku, ketika dia muncul dan menunjukkan masa depan padaku disitulah aku menemukan putraku terjebak di dunia ini.”
Aludra ingin menghancurkan dunia ini sehingga Rigel tidak pernah sampai namun setiap kali dia merubah niatnya, masa depan yang diperlihatkan berubah.
“Aku putus asa. Aku mencari pengampunan dan jalan terakhir yang bisa kupilih adalah menghancurkan kitab yang susah payah kudapatkan serta menumbalkan Bellatrix dan yang lainnya untuk menciptakan Batu Penentuan.” Aludra menatap batu di belakangnya.
Apa yang dia maksud Batu Penentuan mungkin adalah Batu Ramalan, bukan hal aneh kian bergantinya zaman penyebutan serta namanya akan berubah.
__ADS_1
“Batu ini memiliki kekuatan melihat sedikit ke masa depan, menentukan sebuah strategi matang sebagai bantuan kecil dariku untuk putraku, batu ini juga akan memberikan tanda saat peperangan Ragnarok dimulai.”
Di generasi Aludra perang Ragnarok adalah cerita yang jauh di masa depan, mereka tidak mengkhawatirkan perang tersebut karena tugas Pahlawan di masa lalu adalah membangun jalan agar generasi selanjutnya tidak mengalami banyak kesulitan.
Akan tetapi keberadaan Aludra adalah parasit raksasa yang menghambat bahkan menghentikan perkembangan tersebut dan menjatuhkan dunia dalam kekacauan.
Batu Penentuan atau Batu Ramalan dikatakan akan mengirimkan cahaya terang dan membentuk lingkaran sihir berbasis penyembuhan dan perlindungan yang dibuat Aludra. Cahaya itu akan muncul saat energi sihir yang kuat menutupi langit diseluruh dunia.
Ragnarok memiliki medan perangnya sendiri yang mana sangat menguntungkan Iblis dan Malaikat namun merugikan manusia, sebagai langkah terakhir dan kebaikan pertama yang dibuat Aludra, Batu Ramalan adalah hasilnya.
“Putraku Amatsumi Rigel, selama ini aku selalu mengawasimu, aku merindu melihat putraku, penyesalan terbesar adalah aku tak bersamamu saat kamu tumbuh.” Aludra melangkah tertatih-tatih menuju Rigel, air mata membasahi pipi saat tubuhnya perlahan memudar dan memudar dan menghilang.
“Aku sangat ingin memelukmu. Maafkan Ayahmu ini yang membuatmu kesulitan hidup di dunia ini, aku sungguh minta maaf. Tak banyak yang bisa kulakukan untukmu, masa depanmu tak bisa berubah tak peduli bagaimana caranya aku berbuat sesuatu. Mungkin, mungkin saja kamu mampu melakukannya.”
Tangannya mencapai Rigel dan mengalungi akan tetapi dia juga hanya jiwa. Jiwa tak mampu menyentuh orang yang masih hidup, singkatnya Aludra hanya bisa memeluk udara.
“Sialan, bahkan aku tak diizinkan memelukmu, mungkin ini hukuman untukku. Aku pria paling putus asa, dan akulah yang terus mencari pengampunan. Ayah tak memintamu mengampuniku, yang kuinginkan adalah kamu mengucapkan kalimat itu.”
Tanpa perlu bagi Aludra mengatakan apapun karena Rigel tahu maksudnya. Orang tua yang baru berjumpa dengan anaknya hanya menantikan satu hal.
“Aku tak tahu apa yang membuatmu begitu menyesal, begitu sedih hingga mencari pengampunan. Namun jika kamu memang benar Ayahku ... Apapun perbuatanmu, sebagai anak aku akan mengampuninya, Ayah.”
Seorang Ayah sangat menantikan dipanggil demikian, keinginan terbesar Aludra adalah mendengar putranya memanggilnya Ayah. Dengan Rigel mengatakan hal tersebut, tak hanya keinginan tetapi pengampunan juga dia dapatkan.
Pecahan air mata yang terlihat seperti ilusi, keluar kaku menetes dan menghilang, “Terima kasih, wahai putraku. Pahlawan terakhir dunia ini akan melahirkan Pahlawan bagi alam semesta.”
Meninggalkan perkataan terakhir tersebut sosok Aludra menghilang bagai ilusi, yang tertinggal di tubuh Rigel hanyalah partikel cahaya yang kian memudar. Dia memegang dadanya, hal lain yang tertinggal adalah kesedihan di dada.
__ADS_1