Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 57 — Perang Besar Ragnarok II


__ADS_3

Angin kencang disertai gempa mencapai Britannia, para Pahlawan yang berkumpul sampai harus berpegang untuk menjaga keseimbangan tubuh mereka.


“Sial, kini aku paham mengapa tak perlu mengirim pasukan!” Marcel merasa dibodohi karena sebelumnya dia menentang Rigel untuk tidak mengirim pasukan apapun.


Dia tak pernah mengungkapkan niat aslinya dan hanya meminta untuk tak mengirim siapapun karena dia ingin melakukan sesuatu, hologram adalah langkah pencegahan yang Rigel pribadi buat agar ras lainnya tidak curiga.


“Ya, dia tak pernah bilang bisa menjatuhkan matahari seperti itu.” Bahkan Yuri yang mengenal Rigel lebih lama dari yang lainnya tak tahu akan hal tersebut.


Di lain sisi Merial, Ray dan Takumi pernah merasakan langsung situasi yang sama, waktu ketika Rigel berduel dengan Hydra dan saat mereka keluar dari Teritory laut menjadi panas, dari hal ini mereka dapat memastikan bahwa hal itu adalah matahari kecil yang Rigel buat.


Angin dan gempa perlahan reda namun bencana tak berhenti karena udara panas mencapai mereka meskipun tak sampai membakar namun cukup membuat berkeringat.


“Dengan panah Yuri dan tombakku, serta serangan Rigel kita tak dapat memastikan jumlah musuh. Apa yang terjadi di sana akan sulit diketahui.”


Alat yang di tanamkan di tanah untuk memproyeksikan hologram Rigel pastinya telah hancur tanpa sisa sehingga tidak ada cara untuk mengetahuinya.


Mereka hanya bisa bergantung kepada Rigel dan rencana pribadinya untuk tahap awal peperangan ini, mereka juga perlu menunggu tanda yang akan Rigel sampaikan kepada mereka.


“Hm, itu ...” Aland menatap langit dan menemukan Ozaru, Leo dan Rigel melompat turun dari benda besar yang tetap terbang menuju medan perang.


“Rigel, Ozaru ...” Hazama juga menyadari keberadaan mereka, “Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah kalian berniat datang saat perang memasuki babak baru?”


Rigel tidak berkumpul dengan yang lainnya karena dia ingin memfokuskan diri dengan melemahkan musuh menggunakan senjata modernnya selagi menunggu Leo selesai dengan persiapannya.


“Itu tak lagi dibutuhkan. Mereka tak begitu bodoh untuk menerima serangan yang sama.” Rigel menatap benda yang dia terbangkan ke medan perang sebelumnya, “Dengan senjata terakhir yang kukirimkan mereka pasti akan mengarahkan kemarahan ke sini.”


Tidak mustahil jika Pilar Iblis ataupun Seraphim datang ke Britannia untuk melampiaskan kemarahan mereka, meski kekhawatiran Rigel akan sia-sia berkat pelindung yang ditinggalkan Aludra melalui Batu Ramalan.


Pelindung itu sangat berguna karena tak terhancurkan, berkat keberadaan pelindung tersebut mereka tak perlu melakukan Evakuasi secara penuh.


Skala pelindungnya juga sangat luas meski tidak mencakup semua tempat namun setidaknya wilayah komando dan kerajaan dipastikan keamanannya.

__ADS_1


Dengan pemikiran bahwa Lucifer ataupun Michael tidak akan mengerahkan usaha merepotkan seperti menghancurkan pelindung maka tak perlu ada yang dikhawatirkan.


“Apa kamu kehabisan stok senjata?” Tanya Petra selagi menggaruk pelipisnya.


“Bahkan jika habis aku mampu membuatnya dengan cepat. Alasanku tak meluncurkan terus-menerus adalah untuk membuat mereka berpikir bahwa perlu waktu lama untuk menggunakan serangan yang sama. Kita harus menghindari situasi di mana dua kekuatan besar menyerang pertahanan kita.”


Bukannya mustahil Lucifer dan Michael bekerjasama menghancurkan pelindung karena senjata Rigel mampu mengancam pasukan mereka. Bahkan Lucifer sendirian mustahil melindungi seluruh iblis.


“Begitu, lalu apa yang kamu kirimkan ke sana? Nuklir atau misil?” Tanya Aland selagi menatap benda yang terbang menuju kejauhan.


“Itu hanya pesawat tanpa awak dengan dua orang di atasnya.” Rigel tersenyum berani dan segera menatap Pahlawan lain, “Marcel, Ray dan Hazama. Kalian bersiaplah datang sebagai bala bantuan.”


Mereka bertiga mengangguk dan mengetahui maksud Rigel, dua orang yang dikirim olehnya adalah orang yang lama tidak muncul karena mempersiapkan suatu hal seperti Leo.


***


Di medan perang yang kacau dan tertutupi debu, mayat Malaikat dan iblis mulai berserakan di tanah berkat serangan luar biasa yang menghancurkan medan perang perang dan mengubahnya menjadi tanah tandus yang tidak bisa ditumbuhi tanaman.


“Untungnya kita tepat waktu membuat pelindung, namun tetap saja setengah dari pasukan telah gugur.” Regulus mulai mencairkan es yang membekukan pasukan iblis, “Berkatnya kekuatan kita menurun drastis.”


Tidak hanya dari pihak iblis tetapi malaikat juga menerima kerusakan yang tidak sedikit, meski Kemuel menciptakan pelindung namun ada seperempat pasukan malaikat yang tumbang karena terlambat memasuki pelindung.


“Apa serangannya telah berhenti? Sangat berbahaya jika terus berlanjut.” Ujar Kemuel selagi membersihkan pakaiannya dari debu.


“Banyak pasukan yang berguguran, apa perlu aku melakukannya sekarang?” Rafael bertanya selagi menatap malaikat yang terbaring di tanah yang kotor.


“Tidak perlu, ini hanya pembukaan perang saja dan kamu jangan menunjukkannya sekarang. Baik itu manusia atau iblis, mereka pasti akan berusaha membunuhmu di posisi pertama ketimbang Michael, Barakiel ataupun Samael.”


Rafael hanya diam dan menuruti Kemuel, faktanya jika dia mengungkapkan kekuatannya maka dirinya akan menjadi Seraphim yang diprioritaskan untuk dibunuh.


Sebuah suara datang dari kejauhan, mereka menatap langit dan menemukan benda yang sangat asing bagi mereka.

__ADS_1


“Apa itu senjata aneh seperti sebelumnya?” Kemuel bersiap menggunakan perisainya namun Rafael menghentikannya karena benda itu terbang melewati medan perang.


”Ada dua mahkluk hidup di benda itu, mereka terjun bebas.” Rafael mengamatinya dengan jeli meski matanya tertutup.


Begitu kedua mahkluk itu turun dan mendekat serangan besar segera menghantam mereka dengan kuat.


***


Di atas pesawat tanpa awak tersebut terdapat dua gadis yang menatap sunyi medan perang, kehancuran akan tempat ini takkan bisa dihindari.


“Apa kamu sudah siap?” Gadis cantik dengan rambut merah dan pakaian tempur berupa gaun warna merah darah yang dibuat dari bulu Phoenix, dialah Priscilla yang telah menjadi Ratu peri.


Sementara gadis yang satunya menyilangkan kedua cakar sejajar dengan wajahnya, “Transformasi selesai.” Matanya berubah dan menjadi mirip dengan predator ganas, bibirnya tersenyum dan menampakkan taringnya.


Dia berdiri dan mengangguk, segera gadis itu mengambil langkah membiarkan dirinya terjun bebas. Dia— Nadia menuju langsung ke arah Rafael karena dari yang terlihat Seraphim tersebut yang paling lemah.


Priscilla mengikuti di belakang, “Teritory — Angryforest!”


Pelindung samar menyelimuti Kemuel dan Rafael lalu menelan mereka ke Teritory Priscilla, alam yang murka di mana tumbuhan dan para peri menunjukkan taring kemarahan.


Kemuel dan Rafael tetap terbang namun seketika wanita lainnya menyerang, “Calamity Claw — Warth of Lion!”


Kemuel segera mengambil posisi bertahan dan melindungi Rafael dengan perisainya, dia terdorong mundur secara perlahan dan tangannya tergores akibat serangan tersebut.


“Pahlawan Cakar dan setengah peri yang menjadi Ratu? Tidak kusangka manusia akan bekerja sama dengan peri.” Rafael menatap geram kedua wanita yang datang menyerang mereka, “Siapa kalian?”


Dia tahu bahwa Sylph telah dibunuh oleh Michael namun penggantinya tidak diketahui, juga pahlawan manusia tersebut berbeda dari manusia berambut putih sebelumnya.


“Cakar yang dimiliki umat manusia, Nadia.”


“Peri yang membenci malaikat, Priscilla Flamesword.”

__ADS_1


Peperangan memasuki babak pertama, awal yang akan menjadi pembukaan besar dari Ragnarok.


__ADS_2