
Yuri bergegas ke tempat Takumi, dia telah meminum beberapa potion pemulihan tingkat tinggi dan menyembuhkan luka di tangan kanannya. Meski begitu dia tidak memiliki potion yang memulihkan tenaga fisik sehingga kelelahan masih bertumpu padanya.
“Tetaplah baik-baik saja, Takumi!”
Nyawanya belum hilang dan masih redup, bukannya baik-baik saja karena itu tidak ada waktu untuk istirahat. Yuri bergerak secepat mungkin karena ada dua sosok yang mendekatinya. Dia khawatir jika itu musuh dan akan membunuh Takumi.
Dia melalui medan yang hancur parah karena pertempuran besar antara Takumi melawan Samael. Yuri tidak mampu membayangkan seberapa brutalnya konfrontasi keduanya. Jika dibandingkan pertarungannya dengan Seraphiel, kerusakan yang disebabkannya tidaklah seberapa.
Semakin hancur medan pertempurannya maka semakin terlihat seberapa besar kekuatan yang digunakannya. Yuri tidak berharap Takumi akan melawan orang sekuat itu. Masih bisa hidup setelah melawan orang sekuat itu adalah kebajikan terbesar yang dimiliki Takumi.
Yuri menemukan Takumi tergeletak lemah di dasar kawah besar yang terbentuk karena pertarungan keduanya. Dia meluncur ke sana dengan tergesa-gesa.
“Takumi!”
Saat Yuri menuju ke arahnya, dia menemukan dua cahaya emas dan biru saling berbenturan selagi mendekati ke arah mereka. Sekilas Yuri mampu melihat Leo yang berkonfrontasi dengan Seraphim bernama Jahoel.
Pergerakannya sangat cepat sampai Yuri tidak mampu benar-benar mengikutinya namun meski begitu dia menyadari bahwa tujuan Jahoel adalah Takumi.
“Aku harus cepat-!” Yuri berkata dan mulai berlari, dia berhasil mencapai tempat Takumi namun di saat itu juga Jahoel muncul dengan pedang besar yang terangkat.
“Tamatlah kalian!” Jahoel berteriak kencang dan berniat membunuh Yuri juga Takumi bersamaan.
“Selama aku hidup itu takkan terjadi!” Suara lainnya menyela dan Leo muncul dengan dua pedangnya, dia menahan pedang besar Jahoel.
Yuri segera memapah tubuh Takumi dan menjauh dari jangkauan serangannya. Leo dan Jahoel saling menjaga jarak, Jahoel hanya berdecak kesal karena telah gagal dengan tujuannya.
“Terima kasih, Leo.”
__ADS_1
“Nanti saja, untuk sekarang tolong berikan ini kepada Kak Takumi. Aku tidak tahu apa itu namun Ayah memberikannya padaku, mungkin bisa membantu!”
Yuri menangkap benda yang dilemparkan oleh Leo dan terkejut dengan apa yang dia dapatkan. Dia tidak menduga bahwa masih ada bagian tersisa dari Phoenix.
“Phoenix Tear ... kupikir benda ini sudah tidak lagi tersisa.”
Phoenix Tear sangatlah berharga karena memiliki kemampuan memulihkan yang sangat besar, meski tidak sebesar Blood of Phoenix yang mampu menghidupkan orang namun untuk Takumi saat ini Phoenix Tear sudah cukup.
Mungkin tidak sampai pulih sepenuhnya namun setidaknya nyawa Takumi bisa diselamatkan. Yuri mulai menangis dan ingin menggunakannya tetapi kemudian dia terpikirkan akan Leo.
“Kamu yakin ingin memberikan ini, Leo? Phoenix Tear terlalu berharga untuk diserahkan.”
Jika ada situasi di mana Leo terluka parah maka ada kemungkinan dia telah menyesali pilihan memberikan Phoenix Tear. Habisnya potion satu ini sudah mustahil untuk dibuat lagi jika kehadiran Phoenix sudah lenyap dari dunia ini.
Lagi pula Takumi mungkin tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu terjadi kepada Leo. Dia orang yang seperti itu, bahkan ketika Rigel dinyatakan tewas di masa lalu, Takumi merasa bertanggungjawab atas kematiannya dan mula mengembara.
Leo sudah mempertimbangkannya, pergerakan Jahoel sangat berbahaya sehingga dia tidak memiliki waktu lengah untuk menggunakan potion. Jika sesuatu terjadi maka sangat jelas Leo tidak bisa menggunakannya dan lebih baik menyerahkannya untuk digunakan Takumi.
“Selain itu, Kak Takumi memiliki posisi penting. Sebagai teman baik Ayah, sebagai pendamping Nona. Aku tidak ingin Ayah bersedih, atau siapapun bersedih karena kepergiannya. Karena itu tolong gunakan tanpa keraguan.” Leo sedikit berbalik dan tersenyum singkat karena Jahoel bisa saja menyerang tanpa dia sadari, “Aku akan melindungimu darinya!”
Leo menarik Kusanagi yang dia tancapkan di tanah sebelumnya dan menghadap Jahoel yang senang hati menunggu.
“Kamu menyebalkan, bocah. Aku tidak tahu bagaimana kamu dibesarkan namun dengan terus terang aku katakan, bakatmu terlalu besar sehingga banyak yang menginginkan nyawamu.” Jahoel menantap dengki kepada Leo.
Yuri tak ingin berlama-lama dan meminumkan Phoenix Tear kepada Takumi. Tubuhnya perlahan mengeluarkan cahaya dan setiap luka di tubuhnya perlahan tertutup dan pulih. Tidak disangka bahwa Phoenix Tear lebih mujarab dari yang diharapkan. Meski tangan Takumi tidak tumbuh kembali namun nyawanya tidak lagi meredup dan kian menyala.
“Terima kasih ... Leo!” Yuri mulai menangis saat membawa Takumi ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Leo yang menggigit bibir sedikit sedih hanya mengangguk. Melihat pemandangan tersebut membuat Leo iri karena tidak pernah merasakan pelukan dari orang tuanya. Meski begitu, setelah perang ini berakhir Leo memiliki harapan mengenai Rigel akan benar-benar mengakuinya.
Untuk tujuan itu aku tidak akan mati di sini, akan kubuktikan kepada dunia bahwa aku layak menjadi putra angkatnya. Pikirnya.
“Sekarang kita mulai saja ... Teknik Satu — Tebasan-!”
Leo melesat cepat dan saling beradu pedang dengan Jahoel, dia menggunakan Kusanagi untuk beradu dan pedang Pahlawannya digunakan untuk menikam Jahoel. Meski begitu Jahoel tidak bodoh untuk menerimanya dan segera mendorong mundur Leo.
“Seribu Sayap Pedang!” Jahoel mengerahkan satu tebasan besar dan menciptakan ribuan serangan dalam satu waktu.
Leo menunduk hingga wajahnya menempel dengan tanah dan membanting dua pedangnya ke tanah dengan kuat. Debu mengeluh di sekitarnya sehingga Jahoel tidak melihat Leo.
“Susano'o!” Leo muncul dengan pedang Kusanagi yang mengeluarkan cahaya dan membentuk pedang besar.
Jahoel terkejut dan menahannya namun karena tidak benar-benar siap dia terhempas mundur cukup jauh. Dia kemudian merasakan sesuatu mendekat, Jahoel menahannya namun itu hanya batu. Ketika dia menurunkan penjagaannya, pedang Kusanagi dilempar oleh Leo dan menancap tepat di bahu Jahoel.
“Bocah brengsek-!” Dia berniat melepaskannya namun pedang itu mulai mengeluarkan kutukan sehingga Jahoel kesulitan melakukannya.
“Takkan menjadi semudah itu-!” Pedang Kusanagi mengeluarkan aliran listrik kuat sehingga Jahoel merasa lemah dan kesulitan bergerak.
“Matilah, bocah sialan! Sayap Surgawi!” Sayap Jahoel menyelimuti tubuhnya dan segera menembakkan bulu-bulu tajam.
Leo berputar dan mengelus bilah pedang Pahlawannya, “Tsukoyomi ...”
Pedangnya mengeluarkan sinar biru dan tak lama tubuh Leo terbelah menjadi beberapa wujud. Jahoel terkejut karena malaikat tinggi sepertinya bisa terkena ilusi yang seharusnya mustahil.
Leo yang berpecah menjadi delapan mengucapkan kalimat provokasi, “Seraphim tidak sehebat yang dikatakan.”
__ADS_1