Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch.6 — Rasa Sebuah Kematian


__ADS_3

Adu antara pedang dengan cakar, pedang dengan taring bergema. Kobaran api yang membakar mayat menciptakan aroma hangus mayat terbakar. Jeritan kematian menggema dalam keabadian kematian. Nyawa yang hanya satu mereka pertaruhkan di pertarungan yang seakan mencapai last bos-nya.


Serangkaian serangan dia lontarkan dengan acuh kemanapun itu mengarah. Tangannya yang awalnya menghilang ditumbuhkan kembali dan serangan yang menolak serangan yang datang dia luncurkan. Cahaya dan kegelapan bersama-sama keluar dari tangan berbeda dan menggetarkan udara.


Sihir cahaya yang unggul dalam kecepatan gila disertai destruktif hebat diluncurkan, namun tidak ada satupun keadaan yang membuatnya menderita ataupun terpojok..., untuk saat ini saja.


"Void, kembalilah menjadi Kehampaan!"


Segala bentuk benda fisik maupun non fisik, hidup ataupun mati, selama mereka memiliki keberadaan, maka keberadaan itu bisa dihapuskan seolah tidak pernah ada, tidak pernah diluncurkan.


Dengan cepat Rigel membentuk serangkaian sihir elemen acak dan melontarkan seluruhnya hingga menimbulkan bentrokan lima elemen dengan skala yang tidaklah kecil. Lima elemen berbeda yang dilontarkan hanya ditangkis dengan satu elemen kegelapan yang jauh lebih kuat dari gabungan kelimanya.


"Mahkluk jelek, daging yang diberikan kehidupan, makanan yang menentang pemburu, sungguh hina dan patut untuk lenyap."


Perkataan yang benar-benar datang dari lubuk hatinya, isi pemikirannya disertai apa yang benar-benar dia yakini. Tidak ada niat untuk memprovokasi sama sekali, memang sejak awal nilai yang dia tetapkan kepada mahkluk selain dia adalah rendah.


Segala mahkluk yang ada di dunia ini patut menurutinya sebagai Dewa mereka, karena kodratnya makanan harus menuruti tuannya untuk dimakan.


Daging tetaplah daging, bahkan jika itu hidup masihlah daging. Tidak perduli bagaimana orang lain menganggap karena hanya dialah sosok yang patut memimpin kehidupan, membawa dunia menuju arah yang lebih baik. Untuk mencapai dunia yang dimaksud, ada kebutuhan menghabisi sosok jelek yang tengah menentangnya.


"Berdalih bahwa dirimu yang terkuat, heh jangan melawak. Kenyataannya kamu mendapatkan bantuan kekuatan dari pihak lain, pantaskah dirimu yang mengemis kekuatan menyebut dirimu lebih tinggi dari mahkluk yang kau anggap rendah, kadal?"


Tidak perduli bagaimana dia menyanggahnya, faktanya tetap tidak akan berubah bila dia mendapatkan kekuatan dari pihak lain dan identitas pihak tersebut yang coba dia ungkapkan.


Meski begitu, dia sendiri yang mendapatkan bantuan kecil yang berdampak besar lada dirinya dari seorang Dewa juga tidak terelakkan. Dia tidak pada tempat di mana bisa menceramahi Acnologia, namun setidaknya dia akan mencoba memanfaatkannya baik-baik.


"Dia hanya membayar hutang yang dia miliki padaku. Dirimu yang tidak mengetahui sejarah seribu tahun lalu tidak akan memahami dengan betul, betapa menyenangkannya era kekacauan kala itu."


Era kekacauan, zaman yang dikenal paling kontras sejarahnya dan kekacauan yang terjadi. Seluruh peristiwa penting, pembentukan, percobaan dan sejarah yang hilang tertuju pada tahun penuh misteri itu.


Meskipun dia memiliki kenalan yang sudah hidup dari rentan waktu itu, tidak banyak hal yang bisa dia ingat. Bukan berarti melupakannya secara tidak sengaja, tetapi karena ada campur tangan atau sesuatu yang membuat kenangan penting tentang tahun-tahun itu ditarik menghilang.


Dimulai dari kejanggalan ras Hakurou yang merupakan eksperimen dari darah White Tiger, segel Tortoise, batu ramalan dan keganjilan tersebut yang merujuk lada satu sosok yang wajahnya bahkan terlupakan, seakan-akan sengaja dihapuskan untuk menghilangkan jejak tentangnya. Seringkali dia mengharapkannya, jika saja terdapat benda atau apapun yang dapat melihat jauh ke masa lalu, tanpa keraguan dia akan menggunakannya.

__ADS_1


"Karena itulah ajarkan aku tentang sejarah seribu tahun yang lalu, guru... Material Buster!"


Melemparkan cahaya panas yang merusak segala yang dilaluinya, Rigel segera bergegas menyiapkan serangan lainnya.


Menggunakan tangan kirinya yang ditutupi bayangan hitam, dia menahan serangannya seakan menangkap lalat dengan begitu mudahnya. Lantaran jengkel bila harus dipaksakan menerima serangan demi serangan, pada akhirnya dia benar-benar harus mengambil langkah.


Terhadap engkau yang menodai dunia ini dengan keberadaan, terimalah hukuman dari Dewa kematian... Yamikari!"


Pertama kalinya dari pertarungan sejauh ini, akhirnya dia menyaksikan secara langsung kekuatan yang ditakutkan para Naga pemberontak. Kekuatan yang menyatukan dua elemen berlawanan, menciptakan ledakan super masif yang teramat destruktif.


"Jangan biarkan dia menggunakannya!" pemimpin dari Naga pemberontak mengaum kuat dan menerjang langsung menuju Acnologia.


Dengan kekuatan petir yang berkumpul pada rahangnya, menciptakan badai besar dan menembakkannya langsung menuju kekuatan yang disiapkan Acnologia.


Percuma saja, kau hanya mengganggu..."


Kata-katanya yang acuh dan sangat tidak tertarik dengannya, Acnologia membuka lebar rahangnya dan menembakan cahaya dari mulutnya dengan kuat.


Melihat rekannya, pemimpin sebenarnya yang harus mewujudkan impian Kaisar Naga terbakar oleh cahaya yang ditembakkan Acnologia. Dia kehilangan separuh tubuhnya dalam satu serangan nafas, sungguh sulit untuk mempercayai apa yang baru saja dia alami.


Darah hangat jelas pergi dari tubuhnya, hawa dingin mulai mengerat tubuhnya dan mengusir kehangatan seakan waktu mereka untuk tinggal telah habis. Pengelihatannya silih menjadi kabur, jangankan kehangatan, tetapi cahaya itu sendiri menjauhinya. Perasaan sedih, hampa, terbebaskan dan menenangkan yang tidak pernah dirasakannya.


"Ergh..., Red, jangan pedulikan aku,—bantulah manusia itu, bebaskan ras naga dari genggamannya..., akan kutunggu kau di Nirwana..."


"Jangan mati, kamu adalah naga badai! Sosok yang harus melanjutkan cita-cita pendahulumu Kaisar Naga!"


Sebagian tubuhnya—apa yang tersisa darinya tidak lagi dapat dirasakan. Dia tidak lagi dapat mendengar suara dunia, perlahan dirinya hendak jatuh dalam ketenangan abadi, dunia tanpa suara, dunia tanpa kehidupan. Disaat-saat terakhir hidupnya, akhirnya naga badai memahami perasaan ini...


"Ahh~, jadi seperti ini, rasa dari sebuah kematian~..."


Menghembuskan nafas terakhirnya, riwayat kehidupan naga badai yang begitu panjang telah berakhir. Hanya satu penyesalan terakhir yang dia miliki, yaitu tidak dapat menyaksikan apa yang terjadi pada rasnya, dan dunia ini.


"Kerrrgh! Acnologia..." Red yang bersedih, marah, membenci menunjukkan taringnya kepada naga yang membunuh naga badai.

__ADS_1


Dia yang membunuh sesama rasnya tanpa masalah dan tidak memiliki penyesalan sedikitpun sudah siap dengan serangan pamungkas yang pernah melenyapkan Kaisar Naga.


Cahaya hitam dan putih saling kejar-mengejar dan membentuk lingkaran tidak stabil yang dapat meledak kapan saja. Taring-taringnya yang tajam terekspos, karena Acnologia menunjukkan senyumannya.


"Tenang saja, kamu akan segera menyusulnya. Bersama dengan keberadaan jelek lainnya!"


Serangan kuat miliknya dilemparkan tanpa banyak masalah. Semakin lama dia melaju, semakin cepat, semakin besar dan semakin kuat ledakan yang terjadi. Red mengumpulkan seluruh kekuatannya dan menghisap banyak energi dari inti naga miliknya. Dia bersumpah demi hidupnya, dia akan menghentikan Acnologia beserta serangannya di sini dan mengakhiri penderitaan berkepanjangan.


"Semua sudah berakh—"


"Masih BELUM!!"


Pertikaian kecil naga badai, Red dengan Acnologia sudah cukup untuk memberikannya banyak waktu menyiapkan serangan yang mungkin mampu menandingi kekuatan Yamikari Acnologia.


Rigel memotong dan menghadang langsung arah di mana lintasan kekuatan itu datang. Red dan Acnologia terkejut dan menilai bahwa tindakannya itu benar-benar ceroboh.


"Apa yang kau lakukan?! Kau akan mati, pergilah dari sana!"


Bagaimana bisa dia yang menyerahkan masa depan para naga membiarkannya mati? Semenjak awal pertarungan ini dimulai, Red sudah mempersiapkan nyawanya untuk digunakan kapanpun, terutama pada saat-saat seperti ini.


Rigel mengabaikan jeritan Red dan Pahlawan lain yang meneriakan sesuatu namun suaranya tidak mencapai telinganya. Entah karena terlalu bising atau dirinya yang sudah terlepas dari dunia ini dan tenggelam ke dalam kekuatannya sendiri..., dia tidak tahu.


Lagipula bukan hal semacam itu yang perlu dia ketahui sekarang ini. Yang perlu dia ketahui sekarang adalah..., menghancurkan lawan yang berada di depannya.


"Void tahap tiga—"


Sensasi hangat yang menusuk kulit perlahan menyebar di tangan kanannya. Waktu yang seakan sengaja melambat membiarkannya merasakan perasaan kosong setiap kali dia menggunakan kekuatannya.


Rigel memejamkan matanya, membiarkan wajah-wajah orang yang harus dia lindungi muncul dalam kepalanya. Dimulai dari wajah gadis berambut pirang, para bocah yang tertawa riang, Asoka, para eksekutif, Priscilla yang coba dia selamatkan..., bahkan Sylph yang dia habiskan satu Minggu harinya untuk merasakan berumah tangga. Tidak perduli seberapa sulit rintangannya, dia harus melaluinya, karena dia tidak ingin kehilangan apapun yang berarti baginya—


"—Kelahiran Para Dewa!!"


Segel menuju tahap tiga dilepaskan, kekuatan besar langsung mengalir ke dalam tubuhnya dan siap digunakan untuk menumbangkan lawannya.

__ADS_1


__ADS_2