Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 13 — Gunung Yang Kokoh


__ADS_3

Medan perang yang penuh kehancuran, amisnya darah dan ketakutan tanpa batas dari mayat maupun yang hidup hancur menjadi butiran cahaya biru, sekejap membeku dalam keheningan.


Menyisakan raungan keras dari Raja kera, semua yang melihat takjub dengan mayat naga yang terbaring lemah dipijaknya.


“Apakah ini ... Sudah berakhir?” Evankhell yang kini memiliki luka di dadanya menatap tidak percaya.


Bahkan para naga yang berasal dari pihak berbeda menghentikan pertarungan mereka, menyadari bahwa naga terkuat diantara kaum mereka berhasil dikalahkan.


Hal itu menjadi berita bagus bagi pihak yang ingin membebaskan kaumnya dan mereka yang ingin bebas namun sebuah berita buruk bagi mereka yang mendukung Acnologia untuk mendominasi dunia.


“Huh ... Syukurlah ini berakhir. Meskipun disayangkan kita tidak banyak membantu.” Leo jatuh ke tanah dan saling bersandar dengan Garfiel.


“Yea, setidaknya kita memiliki pencapaian karena berhasil membunuh naga bumi.” Garfiel memaksakan senyuman meskipun menggerakkan wajahnya saja dapat memicu rasa sakit.


Leo tidak bangga ataupun senang, nyatanya mereka tidak benar-benar membunuh naga bumi karena disaat-saat mereka berpikir hampir mengalahkannya, naga bumi bersikap aneh dengan tubuhnya membesar.


Leo berpikir bahwa naga bumi itu pastinya berniat melakukan transformasi atau sejenisnya namun sebelum benar-benar terjadi, naga bumi berubah mejadi partikel cahaya kebiruan dan terbang menuju suatu tempat yang diyakini tempat pertempuran utama.


“Sebuah kebanggaan bahwa kita benar-benar berhasil bertahan di medan perang ini, bahkan kemampuanku meningkat signifikan dari pertarungan nyata.” Leo menatap tangannya yang kini dipenuhi kapalan.


!!!


Getaran besar terjadi, membuat Garfiel dan Leo kembali tersadar bahwa pertempuran belumlah berakhir, masih terdapat cukup banyak musuh kuat yang bertahan hidup.


“Getaran apa ini ... perasaanku tidak enak.” Leo berpikir bahwa getaran tersebut bukanlah alami.


Akan baik jika itu memang gempa murni dari alam. Namun di tengah peperangan yang bisa menghancurkan daratan, nampaknya mustahil gempa tersebut berasal dari alam. Jelasnya bukan gempa biasa, tetapi sesuatu yang disebabkan oleh benturan keras ataupun yang lainnya.


“Ini buruk, Leo ... Instingku menjerit sangat keras dan memintaku untuk kabur!” Garfiel mulai berkeringat dingin.

__ADS_1


Sepanjang hidupnya, dari seluruh pertarungan hidup dan mati di Darkness, tidak sekalipun Garfiel merasakan perasaan yang dia rasakan sekarang ini.


Rasanya sungguh mencekik, tubuhnya benar-benar ingin mengikuti instingnya yang terasah untuk meninggalkan tempat ini sejauh mungkin.


‘Instingku tidak mungkin salah ... tidak akan pernah salah. Sesuatu pasti benar-benar terjadi.’ Garfiel mulai memutar otaknya.


Dia memang tidak pandai soal otak, namun setidaknya lebih baik daripada tidak memikirkan apapun. Jika tebakannya tidaklah salah, getaran tersebut berasal dari kekuatan dahsyat yang sedang mengamuk hebat.


“Aku tidak tahu ini ulah siapa. Namun dari kelihatannya, sosok yang bisa membuat getaran semacam ini bisa dihitung jari.” Leo memiliki pemikiran sama dengan Garfiel.


Seketika wajah Garfiel memburuk, dia dapat memikirkan satu sosok yang menurutnya paling mungkin melakukan sesuatu seperti ini.


Dengan keraguan Garfiel mengungkapkan sosok yang dia pikirkan, “Mungkinkah ... pemimpin para naga, Acnologia yang melakukan ini?”


Leo tidak menolak ataupun setuju. Leo setuju bahwa Acnologia pastinya dapat menimbulkan gempa sekelas itu. Lagipula Acnologia adalah seekor naga yang mampu menundukkan rasnya dan menjadikan budak mereka.


Semua orang tentunya tahu perbuatan naga malapetaka tersebut, karena dialah yang menimbulkan peperangan sehingga ras naga hampir punah dalam peperangan.


“Aku sendiri tidak tahu. Selain Acnologia, masih ada Ratu Peri, ayah dan Pahlawan lainnya jelas mampu melakukannya.” Leo menarik Kusanagi dari sarungnya dan meletakkan God Sword di punggungnya.


“Untuk sekarang mari kita ke pertempuran utama, firasatku mengatakan untuk ke sana.” Leo membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.


Garfiel beranjak bangkit, “Benar juga, meskipun aku ingin kabur untuk bertahan hidup namun sebagai pria aku tidak ingin menodai harga diriku.”


“Jika kamu tidak mampu bertarung lagi, silahkan kembali ke Region.” Leo tersenyum dan mengejek Garfiel.


“Hah? Kamu menghinaku? Melarikan diri dalam pertempuran sama dengan kematian. Ayahku selalu mengajarkanku tentang itu, selain itu ...” Garfiel menatap langit dan tersenyum, “Bagaimana mungkin aku meninggalkan orang yang menjadi penyelamatku dan kakakku?”


Leo membalasnya dengan senyuman, “Maka baguslah.”

__ADS_1


Dia bersyukur dalam hatinya bahwa memiliki teman seperti Garfiel. Tanpa perlu membuang banyak waktu lagi, mereka bergegas berlari cepat menuju medan tempur utama.


Seringkali mereka menemukan naga di kubu Acnologia bertarung dengan naga kubu Red bertarung hebat. Leo dan Garfiel tidak dapat memberikan banyak bantuan sehingga mereka memilih menghindari pertarungan mereka.


Di tengah jalan, cahaya terang keputihan bersinar terang dari tempat yang mereka tuju. Garfiel dan Leo pernah melihatnya satu kali dan tidak akan bisa melupakannya.


“Itu pastinya perubahan paman Gahdevi! Sesuatu benar-benar terjadi, ayo kita bergegas lebih cepat!” Leo semakin tergesa-gesa.


Dia tahu kekhawatirannya tidak akan berguna. Namun tetap saja dia khawatir dengan keadaan Rigel. Alasannya memilih bergegas lebih cepat karena ingin tahu kondisi Rigel, sosok yang sudah seperti ayah baginya.


‘Aku tahu ayah sangat kuat, bahkan banyak kekuatannya yang belum dia tunjukkan. Aku yakin dia baik-baik saja.’ Leo meyakinkan dirinya sendiri.


Garfiel di sisi lain hanya diam melirik Leo. Garfiel mengetahui dengan jelas bahwa Leo mengkhawatirkan Rigel, terukir jelas dari wajahnya.


Meskipun begitu Garfiel tidak berniat mengatakan perkataan tidak bertanggung jawab. Sekalipun Rigel kuat, bukan berarti dia yang terkuat. Bahkan saat melarikan diri dari Darkness dia terluka berkat serangan hebat. Namun, Garfiel memiliki satu hal yang sudah dapat dipastikan langsung.


“Aku tidak tahu apa saja yang terjadi di sana. Namun, aku yakin bahwa Tuan Rigel masihlah hidup. Beliau bukanlah batu yang rapuh, melainkan gunung yang kokoh.” Garfiel menepuk pundak Leo.


Leo melihat wajah Garfiel yang penuh percaya diri. Rasa percaya diri itu kian menular kepada Leo yang tersadar bahwa tidak pantas mengkhawatirkan orang lain di situasi seperti ini.


“Kamu benar. Ayah bukanlah orang lemah yang akan gugur di tangan seekor cicak, ayah adalah sosok yang akan memusnahkan cicak tanpa sisa.” Leo tersenyum penuh percaya diri.


Meskipun masih tersisa keraguan akan perkataannya sendiri, untuk sekarang dia akan memilih fokus dengan pertempuran yang sudah berada di depannya.


“Terima kasih, Garfiel. Sekarang mari kita kerahkan seluruh kekuatan dan kehidupan ini untuk menghancurkan musuh di depan kita!” Leo melangkah semakin cepat.


Gemuruh dari benturan keras sudah dapat terdengar, Garfiel tidak melakukan apapun selain berdoa dalam hatinya.


‘Andaikan ini kali terakhir aku bernapas, kumohon jaga kakakku, wahai Pahlawan.’ Garfiel tidak berdoa kepada Rigel atau Pahlawan lain.

__ADS_1


Dia berdoa kepada sosok ‘Pahlawan’ yang akan melindungi kakaknya. Entah itu pria yang kelak menjadi suami kakaknya ataupun seekor keledai, selama sosoknya melindungi kakaknya, bagi Garfiel sosok seperti itu adalah Pahlawan.


__ADS_2