Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 95 — Takumi Vs Leviathan


__ADS_3

Takumi dan Ozaru bertarung sengit melawan Leviathan yang berubah wujud menjadi monster air. Tubuhnya seperti raksasa yang badannya sepenuhnya hanya air. Dia menggunakan kemampuannya untuk memeras air dari mineral di sekitar bahkan mendatangkan langsung air dari laut.


Seolah tak cukup hanya membuat sungai, Leviathan coba membuat lautannya sendiri. Dia menggunakan sihir hujan dengan curah yang deras sehingga Takumi dan Ozaru basah kuyup. Namun yang berbahaya bukanlah basah atau dinginnya, tetapi rasa sakit dari tetesan yang menghantam tubuhnya.


“Satu tetes air sama seperti terkena lemparan batu kerikil ...!” Takumi mengumpat saat membiarkan tubuhnya melindungi diri di bawah tombak raksasa.


Ozaru yang terus berpegang pinggang Takumi juga mengangguk, tampaknya dia benar-benar enggan terkena hujan karena sampai kini hanya dia yang tidak basah kuyup.


“Aku benci air karena membuat buluku tidak nyaman.” Ozaru berkata seolah-olah itu sesuatu yang wajar.


Takumi berniat mengumpat namun sekarang bukan waktunya karena serangan Leviathan datang ke arahnya. Ombak besar berwarna hitam yang dialiri petir dan juga racun, terkena olehnya akan berbahaya.


Mereka berdua melompat menaiki Kinton dan membiarkan diri terkena hujan yang terasa sakit dan dingin, Takumi mulai bertanya-tanya tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan tongkat Ozaru untuk membunuh Sandalphone. Untuk mengatasi situasi ini ada keperluan menghancurkan hujan buatan dan tongkat tersebut sangat cocok untuk pekerjaan itu.


“Merpati itu sangat kuat. Akan butuh waktu setidak 15 menit lagi untuk menyerapnya sampai kering.”


“Itu tak tertolong namun biarlah. Setidaknya hanya ada satu gangguan yang tersisa.”


Leviathan tidaklah lemah namun juga tidak kuat jika dihadapkan dengan Takumi dan Ozaru. Dua kekuatan besar yang dimiliki oleh pihak manusia jelas lawan yang merepotkan dan tak sepadan dengan Leviathan. Namun dia tidak lemah juga sehingga mengalahkannya sangatlah merepotkan.


Belum lagi dengan kenyataan bahwa Takumi harus menyimpan setidaknya setengah dari kekuatannya untuk melakukan pertarungan yang sudah menantinya. Takumi merasa geram dan bimbang apakah harus menggunakan kekuatan penuh atau tidak.


‘Meski nantinya kelelahanku luar biasa, ada banyak cara memulihkannya.’


Saat dia mulai berpikir untuk menggunakan teknik ketiga dari Teknik Tombak Ganda, Takumi merasakan seseorang menepuk-nepuk punggungnya dan menoleh, di sana ada Ozaru dengan wajah serius.

__ADS_1


“Ada apa?” Takumi merasa penasaran dengannya karena di situasi seperti ini Ozaru tidak akan membuat lelucon bodoh yang bahkan tidak bisa ditertawakan. Pastinya dengan otak setengah cerdas tersebut ada pemikiran tertentu yang bisa dicoba untuk mengatasi kekuatan Leviathan.


“Aku tidak ingin basah lebih lama, mari selesaikan ini secepatnya.”


“Tanpa diberitahu, aku sudah tahu itu! Namun tak mudah mengatasinya begitu saja.”


Takumi segera memberikan balasan cepat.


“Namun tetap diam juga tidak akan menghasilkan apa-apa.” Ozaru kembali berkata dan mengangkat tinjunya, “Belilah waktu selama yang kamu bisa. Aku akan melakukan sesuatu yang pasti akan membunuhnya.”


Takumi mengangkat alisnya sekejap dan seakan menebak apa yang coba Ozaru lakukan.


“Jangan bodoh, Rigel sudah melarangmu untuk tidak berubah menjadi kera raksasa, kan? Ditolak dengan sangat jika itu rencananya.”


Kemenangan mereka akan sangat besar jika Ozaru menunjukkan kekuatannya dengan berubah menjadi kera raksasa namun itu tidak akan membuat situasi lebih baik. Selain mampu melukai tentara Legion, situasi terburuk adalah Ozaru mengamuk tidak karuan.


“Aku takkan berubah karena itu menyakitkan. Ada hal lain yang bisa kulakukan jika kamu mampu membeli waktu dan seandainya bisa, hentikan hujan ini. Dengan itu, aku menjamin mampu membunuhnya dalam sekali serang.”


Ozaru tampaknya tidak main-main. Takumi tidak tahu harus menanggapinya seperti apa karena dia tidak tahu niat Ozaru yang sesungguhnya. Sesuatu bergetar dan itu adalah radio kecil di telinganya. Suaranya terdengar kabur karena air namun setidaknya Takumi mampu mendengar suaranya.


"Semuanya ... Malaikat dan Iblis ... —kuatan penuh ... Tiba!" Begitulah yang terdengar di radio, jika harus mengumpulkannya maka hasilnya adalah berita buruk.


Kesimpulannya adalah bahwa Pasukan Malaikat, Armageddon. Dan pasukan dari pihak iblis telah bergerak dengan kekuatan penuh menuju medan perang. Dan juga tambahan informasi lainnya bahwa delapan Seraphim sedang mengepung Rigel namun untungnya Pahlawan lain juga sudah tiba di sana.


Tak perlu dipikirkan lagi karena peperangan ini sudah jelas mulai memasuki tahap akhir. Takumi tak bisa membuang waktu lebih lama lagi dalam menghadapi Leviathan karena kemungkinan terburuk Pilar Iblis lainnya akan datang memberikan bantuan.

__ADS_1


Takumi melihat Ozaru dengan penuh makna, dia merasa sedikit ragu tentang ini.


“Kamu benar-benar bisa mengalahkannya dalam satu serangan?”


“Ya. Kamu pikir aku ini apa? Aku adalah Raja Kera Agung yang perkasa. Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan di dunia ini.” Ozaru berkata dengan penuh keyakinan.


Takumi tersenyum dan mengangguk, dia berjanji kepada Ozaru akan membeli waktu sebanyak yang dia bisa dan karena itu serangan Ozaru harus berhasil. Ini pertaruhan yang dibuat Takumi. Jika Rigel saja mampu memberi kepercayaan kepadanya, maka Takumi harus bisa melakukannya.


“Kalau begitu kita mulai!-!” Takumi melompat dari Kinton dan menggunakan Langkah Dewa, dia mulai menyerang Leviathan yang menyatu dengan air dan menyayat tubuh air miliknya.


Leviathan mengamuk dan menciptakan pusaran air di sekitar Takumi dan dirinya. Tak lama serangan peluru air muncul dari segala arah dan tak memberikan celah bagi Takumi untuk menghindar. Meski tak ada celah bukan berarti tak ada cara menghindarinya.


Takumi menancapkan kedua tombaknya dan menumbuhkan banyak tombak raksasa di sekelilingnya untuk menjadi perisai dari serangan air tersebut. Saat tombak dan serangan air mulai menghilang, Takumi sudah tidak ada di tempat.


Leviathan mencari sana-sini tanpa hasil dan menyadari bahwa Takumi berada tepat di atas kepalanya. Dia sudah siap menyerang dengan kedua tombak yang bilahnya diarahkan kepadanya.


“Tombak Bintang!”


Kilatan terang dan Takumi membelah dua tubuh air raksasa yang menyelimuti Leviathan. Sesuatu di tengah raksasa tersebut, lebih tepatnya Leviathan yang berada di tengahnya terlihat dengan jelas ketika raksasa airnya terbelah.


“Kamu takkan menang!” Leviathan meninggalkan perkataan tersebut sebelum hanyut bersama air dan tak lagi menggunakan tubuh raksasa.


Takumi berdiri di tengah pusaran air yang menjulang ke langit, petir hitam segera menyambar dari langit dan kabut hitam menyelimuti tengah pusaran. Takumi menutup hidung dan mencegah menghirupnya karena khawatir a


kabut tersebut mengandung racun. Dan ketika itu juga petir menyambar.

__ADS_1


Tubuh Takumi mengeluarkan asap, meski dia mengangkat tombak Ilahi untuk menahan petir namun tubuhnya tetap terkena dampaknya meski tak seberapa. Jalannya buntu, meski dia mencoba teleportasi namun Leviathan pasti akan mencegahnya sebelum sempat aktif. Adakah jalan lain untuk keluar? Takumi berpikir akan menggunakan kekuatan kutukan namun sebelum benar-benar melakukannya dia menemukan sesuatu yang mengejutkan.


__ADS_2