
Jauh dari medan tempur, taman indah di Britannia yang tampak hening. Gadis pirang menikmati secangkir teh seperti biasanya. Berada di lantai paling tinggi istana, dia memandang sunyi tempat yang jauh.
Dia tahu dunia sedang tidak baik-baik saja, penaklukan terakhir yang dilakukan manusia di bawah pimpinan Rigel serta para Pahlawan lain, kekacauan di dunia ini seakan memasuki babak akhir.
“Aku yakin mereka baik-baik saja, Rigel itu kuat dan hampir tidak terkalahkan.” gumamnya selagi menyeruput teh.
Bohong jika dia sama sekali tidak khawatir, kata-katanya tersebut hanya untuk penyemangat bagi dirinya sendiri bahwa mereka akan baik-baik saja. Jika bisa dia ingin ikut andil penaklukan Acnologia namun apa boleh buat karena dia satu-satunya keturunan Pendragon yang tersisa.
“Meskipun Raja Britannia bukanlah Ayah melainkan Rigel, darah leluhurku Raja Arthur tetap harus ada hingga dunia ini berakhir.”
Saat hendak menghisap tehnya, getaran samar dapat dirinya rasakan, meskipun cukup jauh dari Britannia. Tidak perlu diragukan, asalnya pasti dari pertempuran utama.
“Bahkan dari tempat yang sangat jauh ini aku bisa merasakan benturan sihir besar, jika orang biasa berada di dekat pertempuran secara langsung, mereka dipastikan mati meski tidak terkena serangan.”
Mana memang sumber kehidupan di dunia ini namun banyaknya mana berbenturan disatu tempat dapat menjadi racun untuk mereka yang tidak memiliki mana.
Bahkan orang-orang sekelas prajurit pastinya tidak berdaya di pertempuran yang sedang berlangsung itu. Rasa penasaran menghantuinya namun disaat bersamaan perasaan takut juga datang.
“Pertempuran semacam ini jelas bukan berada di nalar manusia lagi.” tatapannya tertunduk, membayangkan seperti apa pertarungan sesungguhnya membuat bulu kuduk berdiri.
Segera, lonjakan mana yang lebih besar meledak dan cahaya kehitaman dapat dia lihat melalui langit. Namun tidak lama setelahnya, cahaya biru yang juga mencapai langit meledak. Dua bentrokan kekuatan asing yang sangat kuat.
Tirith bangkit dari kursinya, keringat membanjiri punggungnya dan wajahnya memucat. Napasnya terlihat terengah-engah meskipun tidak melakukan hal yang membebani tubuhnya.
“Apa-apaan barusan ...” gumamnya dengan takut.
Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi namun lonjakan energi hitam sebelumnya menghilang total sebelum digantikan tiga lonjakan energi super besar lainnya.
Dia tidak dapat mengenali kekuatan apa dan siapa itu, yang jelas pemilik kekuatan bukanlah manusia biasa atau bukan manusia sama sekali. Seberapa buruk keadaan di sana? Berapa banyak nyawa yang berhasil selamat?
“Harap saja ini hanya kesalahan prediksi. Namun jika menyangkut orang yang memiliki kekuatan sebesar ini, bisa dihitung jari.” Tirith segera menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Lebih baik tidak berpikir yang buruk atau sesuatu akan benar-benar terjadi.
......***......
“Gahdevi putra Legia, kematiannya sungguh disayangkan. Namun sekarang bukan waktunya berduka, kita bisa memberikannya pemakaman yang layak nanti, untuk sekarang akhiri bencana ini.” Sylph berkata dengan dingin, tatapannya berangsur-angsur ke mayat Acnologia.
Sylph perlahan menghampirinya, dengan tubuhnya yang terbelah dua seperti itu, sungguh mustahil Acnologia selamat. Lagipula dia sangat yakin sudah menghabiskan seluruh kekuatan Dragon Core miliknya, tidak ada kekhawatiran seharusnya.
‘Apa benar akan semudah ini?’
Pikir Sylph. Dia meragukan kemenangan melawan Acnologia, monster yang dia akui mampu menyainginya. Lagipula kadal menjijikkan itu salah satu anomali terbesar.
“Makhluk ini tidak takut pada kematian, sampai akhir tidak ada permohonan darinya.”
Kematiannya sudah pasti, semestinya begitu. Namun Sylph bukan orang yang lega begitu saja, hatinya gundah dan tidak tenang. Firasat selalu berkata ini belum berakhir, dan yang terburuknya adalah firasat Sylph nyaris tidak pernah meleset.
“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya akan aku lenyapkan tubuhnya tanpa sisa.”
Api hijau segera tercipta melalui tangannya yang terulur. Dia melemparkannya ke sisa-sisa tubuh Acnologia. Namun sebelum mencapainya, firasat buruknya benar terjadi.
Sylph mengambil langkah menjauh. Leo, Garfiel, Takumi, dan Pahlawan lain yang baru tiba juga demikian. Pemandangan di depan mereka, lebih menakjubkan dan menakutkan dari keajaiban apapun di dunia ini.
“Bagaimana bisa?” tanya Yuri, terkejutnya bukan main.
Saat semua orang tidak bisa terlepas dari rasa terkejut mereka, hanya Ozaru yang bergerak menyerang. Tongkatnya membesar dan memanjang menuju tubuh Acnologia.
Seharusnya kekuatannya cukup untuk mengakhirinya. Namun yang mengejutkannya adalah tangan raksasa sebesar tongkat Ozaru menahannya.
Bukan gangguan atau bantuan dari luar, melainkan Acnologia itu sendiri yang menahannya. Tubuhnya secara kuat menarik segala kehidupan seperti halnya Rigel namun bedanya, yang ditarik hanya para naga.
Red, yang berusaha memulihkan kekuatannya perlahan menghilang. Energinya secara misterius berkurang drastis tanpa pernah tahu apa penyebabnya.
__ADS_1
“Apa-apaan ini? Energiku, bahkan kehidupanku diserap. Rasanya ... sungguh ... mengantuk.”
Matanya terpejam, tubuhnya tertarik menuju Acnologia. Tidak hanya Red, seluruh naga di tempat ini mengalami hal demikian dan menyebabkan lonjakan energi besar mencapai langit, asalnya dari Acnologia.
“Groargh!” suara besar memekik, wujud naga empat kali lebih besar dari sebelumnya terbentuk.
Rahangnya terbuka lebar, tatapan penuh kebencian dan kekuatan yang mampu meledak kapan saja. Sylph belum pernah melihat sesuatu seperti ini selama hidupnya, karena yang seperti ini memang tidak ada.
“Ada apa ini? Naga itu bukannya sudah mati namun bisa bangkit kembali?!” tanya Aland dengan kesal.
“Aku juga tidak tahu, ini, belum pernah terjadi. Sebenarnya ada apa ini?” Sylph terlihat tertekan dan tidak mampu melakukan apa-apa.
“Kamu bertanya padaku, lalu kepada siapa aku bertanya?!”
Perdebatan diantara mereka mulai terjadi dan tentu saja semua orang memikirkan hal yang sama. Mereka harus menghentikan naga ini bagaimanapun caranya. Solusi yang terpikirkan hanyalah satu ... bertarunglah sampai mati.
“Sial, setidaknya biarkan aku melepas keperjakaan sebelum mati.” Marcel mengumpat dan tersenyum masam.
Kata-katanya hanyalah harapan yang tidak akan terpenuhi jika dia mati di sini. Bahkan meski tahu ini mungkin kali terakhir dirinya bernapas, setidaknya dia harus membuat perlawanan yang berarti.
“Hahaha, di surga nanti, mari kita berkumpul bersama. Membahas obrolan tidak penting dan menikmati anggur paling nikmat di surga.” Ray memasang kuda-kudanya.
Dia adalah kesatria yang mengucapkan sumpah setia kepada Rigel, sampai akhir dirinya akan memberikan penghormatannya dengan memberikan kerusakan sebesar mungkin.
Walau tahu bahwa kemungkinan dia tidak bisa berkumpul di surga seperti ucapannya, setidaknya dia akan membawa naga ini ke neraka bersama.
“Groargh!” Acnologia yang seakan tidak memiliki pikiran membuka lebar-lebar mulutnya.
Kekuatan besar akan dilepaskan dari mulutnya. Para Pahlawan siap akan kemungkinan terburuknya dan saat kekuatan itu dilepaskan ...
BLEGAR!
__ADS_1
Ledakan besar menghadang, mengirim cahaya kebiruan menuju langit. Kedua tangannya terulur, bergariskan rune biru di seluruh tubuhnya. Dengan kedua tangannya yang terulur dan mata bersinar kebiruan, hanya beberapa patah kata yang dia ucapkan.
“Void Tahap Empat — Kehidupan.”