
Tuk! Tuk! Tuk!
Asoka tak bisa berhenti mengetukkan jarinya di tahta kerajaan Britannia yang dia gunakan sebagai kursi, dan ruangannya sebagai tempat untuk berdiskusi mengenai peperangan yang sedang terjadi.
Kegelisahannya dapat dirasakan dengan jelas karena semua orang merasakan demikian. Para Raja dari negeri lain yang tidak berpartisipasi dalam pemilihan Kaisar, juga dari para bangsawan berpengaruh tak berani angkat bicara kepada Asoka, mereka harus sadar akan tempat mereka.
Hal yang menyebabkan Asoka demikian adalah adanya laporan bahwa Armageddon bergerak teratur dan lebih terorganisir. Legion ataupun tentara iblis cukup kewalahan menghadapi pergerakan tak terduga dari mereka. Pada hakikatnya mereka adalah makhluk yang tak memiliki kehendak, mereka takkan makan atau bergerak jika tidak diperintahkan.
Singkatnya mereka adalah makhluk bodoh yang bisa mati kapan saja saat seseorang kehilangan pengawasan terhadap mereka. Pergerakan kacau mereka dan kemudahan membunuhnya sudah diprediksikan sejak awal dan karena itu tentara Legion hanya perlu mengkhawatirkan iblis ketimbang Armageddon.
Tetapi dengan mereka yang kini bergerak lebih teratur memunculkan kekhawatiran besar. Arus peperangan terus-menerus berubah dan perlahan mereka kehilangan momentum dalam peperangan ini.
“Apa ada sesuatu yang mampu membuat mereka bergerak begitu rapih? Bahkan jika Rigel berkata hal itu dikarenakan Seraphim, tetapi makhluk apa yang mampu mengendalikan jutaan pasukan dan memerintahkannya secara individual? Ditambah kondisi Nona Petra yang begitu memprihatinkan, jalannya peperangan semakin buruk keadaannya.”
Kehilangan Marcel yang telah gugur dan Petra tak mampu bertarung lagi adalah kerugian yang amat besar bagi pihak umat manusia. Entah bagaimana keadaan Nadia, bahkan jika dia sembuh tidak ada jaminan pasti mampu bertarung seperti halnya Hazama.
Tiga orang langsung mendapat luka parah bahkan mati di pembukaan awal peperangan. Mereka bahkan naru mencapai awal pertengahan dari pertempuran ini namun keadaan sudah tak lagi mendukung.
“Haruskah kita kirimkan pasukan lain sebelum mengirim pasukan bersenjata modern?” Asoka memijat keningnya dengan wajah penuh putus asa, ini pengalaman pertama baginya merasa tekanan sebesar ini.
Tak hanya para Pahlawan tetapi masa depan umat manusia ada di pundak mereka juga. Satu kesalahan kecil akan mempengaruhi perubahan di masa depan, ada kepentingan baginya mengambil keputusan ekstra hati-hati dan matang.
Mendengar pernyataan yang dibuat Asoka, beberapa bangsawan dan Raja setuju untuk melakukannya. Namun tak sedikit juga yang menolak mengirimkannya karena situasi medan perang belum benar-benar jelas.
“Namun jika seperti ini keadaannya tidak akan membaik, kita harus mengirimkan bala bantuan lebih!”
“Bahkan jika bala bantuan dikirimkan, apa mereka mampu mengubah arus peperangan? Tentu saja tidak. Peperangan ini bukan manusia melawan manusia yang mana jumlah mampu membalikkan keadaan. Ini Ragnarok! Satu juta pasukan yang kita kirimkan sebagai bantuan tidak akan mempengaruhi banyak hal!”
“Tetapi setidaknya kita tetap menjaga moral dari pasukan yang sudah berada di sana. Di situasi seperti ini, mereka tentunya sudah mulai putus asa karena tak ada bantuan dari kita datang sama sekali.”
“Namun Pahlawan Creator, Tuan Rigel telah mengerahkan pasukan pribadinya, Korps Hitam atau tentara kematian yang berada di bawah kendalinya. Berkat beliau pasukan Sparta mampu menarik diri ke garis belakang secara perlahan.”
“Itu benar. Mengambil keputusan terburu-buru bukanlah pilihan baik. Sebaiknya menunggu persiapan pasukan dengan senjata unik itu, pasukan Berserker siap.”
“Tetapi tidak ada salahnya mengirim lebih banyak, kan? Misalnya Hetairoi yang sudah panas untuk perang sejak awal. Mereka ada sangat banyak sehingga tidak ada kekhawatiran.”
Mendengar ucapan yang konyol tersebut, Altucray yang sejak tadi diam menyimak menunjukkan tatapan tidak senang kepada yang berbicara. Ucapannya jelas mengganggu karena hal tersebut sesuatu yang tidak pantas untuk diucapkan.
“Kamu anggap apa nyawa manusia? Kita bukanlah Makhluk yang tumbuh secepat kecambah. Manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang.”
Diskusi yang awalnya memanas kini menjadi sunyi karena semua mulut telah dibungkam oleh aura dingin mencekam dari Altucray. Dia mungkin tua namun siapapun yang satu generasi dengannya akan tahu seberapa berbahaya orang tua satu ini.
Alasan mengapa tak ada diantara Regulus dan Alexei meremehkannya karena mereka tahu seberapa berbahaya orang ini. Terutama soal teknik pedangnya yang mengerikan. Bahkan Rigel sengaja tidak menurunkannya di awal karena potensinya.
“Kamu tidak perlu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, Kaisar. Bukan bermaksud menyombongkan diri atau merendahkanmu. Aku memiliki pengalaman lebih banyak soal perang ketimbang dirimu, dan tidak ada yang namanya situasi mulus tanpa kendala. Dalam perjalanannya kamu akan selalu menemani batu yang harus kamu lalui. Namun sebelum melaluinya ada kepentingan untuk memastikan apakah itu benar-benar batu atau sebuah perangkap. Mohon, jangan ambil keputusan apa pun yang merugikan.”
Sabar dan memantau situasi serta menggunakan informasi yang ada dengan baik adalah kunci kemenangan dalam peperangan. Jujur, dia terkejut dengan Tim Investigasi yang dibentuk untuk menyampaikan informasi ke medan perang.
Altucray tidak menduga bahwa para Pahlawan sangat memahami hal yang selalu dilewati orang awam dalam perang. Hal tersebut berhubungan dengan informasi adalah senjata terkuat dalam perang. Dengan informasi mereka takkan membuat keputusan yang menempatkan mereka di posisi merugikan.
__ADS_1
“Huh~. Maafkan aku karena menjadi tidak sabar. Ini menyebalkan karena aku tak mampu berbuat banyak hal. Juga, membayangkan mereka berjuang sementara aku duduk santai di sini sangat menyakitkan rasanya.”
Asoka bukanlah tipikal orang yang akan mampu duduk diam dan menunggu hasilnya, dia lebih suka berada di pertempuran itu sendiri dari pada mengamati dan membuat keputusan dari jauh. Meskipun posisi ini adalah keinginan Rigel untuk Asoka miliki, nyatanya ada keinginan menyerahkannya kepada orang lain.
“Saya paham dengan perasaan itu. Namun Kaisar, peperangan itu seperti sebuah negoisasi, di mana waktu kedatangan yang tepat akan merubah arah menjadi sesuatu yang kita inginkan.” Walther Ainsworth, seorang bangsawan pedagang dari Britannia angkat bicara.
Asoka telah belajar banyak hal darinya bahkan sebelum mengambil alih tanah Yurazania dari cengkraman Hydra. Dia selalu mendapat pengajaran bahwa kesabaran adalah kunci dari segala situasi yang mungkin terjadi.
“Ya, itu sedikit menenangkan. Terima kasih telah memberitahu.” Asoka menarik napas panjang dan menghembusnya dengan lelah, dia segera melanjutkan, “Berapa lama lagi waktu persiapan yang dibutuhkan pasukan Berserker untuk bisa dikirim ke medan perang?”
“Ya! Menurut Tuan Odin, paling lama akan memakan waktu 30 menit lagi untuk semuanya siap.”
Itu waktu yang lumayan banyak namun Asoka tidak bisa membuat keluhan karena memang persiapan yang dibutuhkan tidaklah sedikit.
“Minta mereka bergerak cepat dan siap dikirimkan ke medan tempur saat waktunya tiba.”
“Dilaksanakan!”
Asoka mungkin tidak banyak membantu di medan perang ini namun dia akan mengerahkan yang terbaik untuk memberikan kontribusi walaupun hanya sedikit.
...*****...
Kembali ke pertarungan Aland dan Hazama melawan Capella. Benturan sengit antara pertahanan terkuat melawan kekuatan pengaruh terjadi. Meski keberadaan Territory memberikan Capella keuntungan besar namun nyatanya hal tersebut tidak menjadi penghambat bagi Hazama untuk melawan.
Mereka terus berbenturan secepat kilat, menyisakan percikan api dari dua benda keras yang saling berbenturan. Hazama menggunakan perisai cahaya yang menutupinya saat Capella menciptakan duri dari lendir.
Dengan perisai Aegis yang memiliki bagian tajam di ujungnya, Hazama mampu memberikan luka kepada Capella. Meski tidak seberapa selama dia mampu melakukannya maka tak ada masalah.
Capella mengaum dan membuat naga dengan lendir tersebut. Naga yang seperti ular melayang tinggi ke udara dan terjun bebas dengan rahang terbuka menuju Hazama. Terkena sedikit saja bagian lendirnya jelas mengakibatkan luka fatal baginya.
Hazama bersembunyi dari balik perisai besarnya dan berhasil selamat tanpa luka namun tak lama kemudian area di sekitarnya menjadi banjir dan tak ada tempat untuknya berpijak. Dia juga tidak menemukan keberadaan Capella di manapun dan merasa khawatir jika dia menuju Aland.
“Di belakangmu!” Capella berkata dingin dan tersenyum bengis, dia muncul dari lendir yang berada di sekitar Hazama.
Mulai panik dan tak sempat bereaksi, cakar tajam menghantam punggungnya dan sedikit menyentuh kulitnya. Jika bukan karena armor Aegist sudah pasti cakar tersebut menembus hingga ke perutnya. Seandainya cakar Capella memiliki kutukan dan racun, takkan ada kekhawatiran karena armor Aegist akan mencegahnya.
“Air Strike Shield!” Hazama menciptakan perisai di udara dan menggunakannya untuk melangkah pergi dari tempat penuh lendir.
“Kamu pikir aku akan membiarkannya? Tentunya tidak!” Capella menurunkan gravitasi dan mengulurkan kedua tangannya. Laser ungu melesat menuju Hazama yang melarikan diri.
Berbalik dengan cepat Hazama melompat dan menahannya dengan perisai. Cahaya yang berkonfrontasi dengan perisai mulai terhisap sepenuhnya sampai Capella menghentikan serangannya.
“Full Counter!” Serangannya kembali berbalik dan lebih kuat dari sebelumnya.
Capella melumerkan dan menjadi lendir, dia berhasil selamat sebelum serangannya sendiri melukainya. Diakhir dia berdecak kesal karena melawannya sangat merepotkan. Dia muncul dari sisi lain dan berlari menuju Aland.
Menyadari niatnya tersebut Hazama melompat dan memblokir jalan yang dilalui oleh Capella. Dia ingat perkataan Aland bahwa selama bukan Capella langsung yang menyerang maka dia akan bisa mengatasinya.
“Kamu cukup pengecut untuk melarikan diri dari lawanmu.” Hazama mencoba mengulur waktu agar dia bisa mengatur napasnya.
__ADS_1
Tubuhnya masih merasakan sakit akibat dampak pertarungan dengan Kemuel. Jika dia berada pada kondisi prima maka melawan Capella akan semudah melawan goblin karena kekuatannya takkan berguna dihadapan perisai.
“Ini bukan pengecut melainkan cerdik. Pria yang sekarat itu pasti menyiapkan sesuatu yang akan mengancam nyawaku. Fakta bahwa kamu berusaha menjauhkanku darinya, pasti ada rencana picik yang kalian jalankan.”
Capella memiliki deduksi yang bagus dan mengabaikan provokasi Hazama, keselamatan serta jaminan kemenangannya sendiri adalah prioritas. Meski dikatakan pengecut dan pecundang, jika lawannya mati maka hal tersebut akan ikut terkubur bersama mereka.
“Begitu, kah? Apa kamu yakin bahwa itu hasil dari pemikiran bodohmu atau hanya karena kamu takut?”
“Kamu sangat pandai dengan lidahmu, ya.” Capella bergetar dan menatap dengki Hazama, “Aku sadar emosiku seperti sumbu yang mudah terbakar dan itu masalah terbesarku. Tetapi aku bukan orang bodoh yang tidak menggunakan kepala dalam emosi yang tinggi.”
Meski dia murka Capella akan mampu berpikir jernih dan takkan hilang akal. Mengetahui hal itu Hazama menghentikan provokasi yang jelas sia-sia karena tidak akan berdampak apapun untuk membutakan pikirannya.
Dia mengacungkan bagian tajam dari perisai dan menatap dengan tajam, “Kalau begitu tak ada gunanya lagi, mari akhiri ini sekali untuk selamanya.”
Hazama mendesak untuk melakukannya segera dan memancing Capella menerima tantangan terbuka darinya. Capella sendiri tak ingin berlama-lama karena ada batas penggunaan Territorial bisa digunakan.
Dia menggunakan para Succubus untuk menjaga pelindungnya tetap utuh karena ada beberapa cacar yang tidak bisa diabaikan.
“Kamu memang ingin mati, ya. Akan aku kabulkan.” Lendir di Territory berkumpul dan menyelimuti tubuh Capella.
Raksasa seperti golem dari lendir tercipta, Hazama sampai harus menengadah untuk melihat letak kepala golem tersebut. Di dada golem itu terdapat kristal keunguan yang tampaknya menjadi letak keberadaan Capella.
Capella menggunakan tangan besar dari golem lendir dan mengumpulkan energi dalam jumlah besar di kedua tangannya. Dia sungguh berencana menghabisi Hazama dan Aland di waktu yang sama.
“Ini sungguh menyulitkan.” Hazama tersenyum masam dan memejamkan mata, menarik napas dari mulut dan menghembuskannya menjadi asap putih.
Dia bersembunyi di balik perisai besarnya, energi mulai berkumpul dan perisai mulai mengeluarkan denyut serta membentuk bayangan perisai yang lebih besar lagi. Capella tak menunggu Hazama menyelesaikan apa pun dan mulai melemparkan serangannya.
“Tamatlah riwayat kalian-!” Capella mengaum dan mengerahkan serangannya, tetapi sebelum benar-benar terlempar Hazama melompat masuk dan menahan bola energi tersebut.
“Kamu sudah gila?!!” Capella mengumpat dan mendorong energi tersebut lebih kuat, tetapi Hazama juga sangat kuat.
“Sekarang, Aland!” Hazama memberikan tanda dengan teriakkan keras selagi berusaha menyerap kekuatan Capella.
Dikejauhan Aland mengangguk, dia segera menghilang menyisakan kilatan biru yang bergerak cepat menuju Capella. Mengambil langkah berat dan melompat, Aland mengangkat tinggi palu yang dialiri listrik. Bersamaan dengan tindakannya Territory segera runtuh dan hujan petir berkumpul dengan palu Aland sebagai pusatnya.
“Apa-apaan itu, bukankah kamu seharusnya akan mati?! Bagaimana bisa kamu baru menggunakannya!!” Capella mengumpat keras karena tahu potensi bahaya dari kekuatan Aland.
Dia tidak bisa menggunakannya sejak awal karena waktu persiapannya tidaklah singkat. Selain itu dia perlu keadaan khusus di mana hatinya kosong melompong tanpa ada apa pun yang mengganggunya.
“Jangan ... Meleng bodoh!” Hazama menyerap energi milik Capella, dia berputar dan mengulurkan perisainya yang mengeluarkan cahaya, “Full Counter!”
Energi yang diperkuat menghancurkan armor lendir yang dibuat oleh Capella yang kini menengadah ke langit dalam diam. Hazama yang terjun bebas karena kehabisan kekuatan menyampaikan kata-katanya, “Habisi dia, Aland!”
Gemuruh petir semakin kencang, para Succubus yang mulai berdatangan dan berkumpul di sekitar Capella dalam upaya untuk melindunginya. Beberapa terbang dan membentuk perisai daging sementara sebagian lagi memeluk Capella untuk melindunginya.
“Kalian .... Begitu, mari pergi bersama.” Disaat-saat terakhir Capella membuat senyum yang tidak seperti dirinya dan menerima pelukan dari rasnya.
“Lightning Hammer ...” Aland diselimuti oleh petir biru, matanya bersinar dan seluruh tubuh dialiri oleh listrik seakan tersambar, dia mengulurkan palu listrik yang bertambah besar, “GIGANT!”
__ADS_1
Kilauan besar dan palu raksasa jatuh dari langit. Medan tempur mereka hancur total dengan gunung di dekatnya hancur berkeping-keping dan melemparkan hujan lahar yang menghancurkan seisi tempatnya.
Bumi bergetar dan seolah bergeser dari porosnya, kekuatan dahsyat dari palu yang menghakimi kejahatan membuat dunia terguncang sampai ke akarnya.