
“Apa kamu yakin? Kondisimu tidak dibilang baik-baik saja.” Rigel sendiri khawatir untuk mengirim orang sakit ke medan perang.
Tindakan gegabah juga ada batasnya, orang terluka tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik. Ada cukup banyak hal yang pantas dikhawatirkan jika Hazama dikirim dengan kondisinya yang seperti itu.
“Sebaiknya kamu beristirahat sedikit lagi, kak Hazama. Serahkan saja ini kepada Ayah dan juga aku, bergerak sembarangan tidak akan membantu. Kamu mungkin akan memberikan beban lainnya.”
Kata-kata Leo terdengar menusuk dan cukup menyakitkan namun faktanya apa yang dia ucapkan benar. Jika Hazama bersikeras untuk memaksakan diri, bukannya membantu mungkin dia akan menjadi beban. Dari semua hal Rigel paling tidak menyukai keberadaan seperti itu.
Keberadaan yang tidak memberikan pertolongan apapun namun memberikan lebih banyak sakit di kepala. Pilihan bijak adalah melarangnya namun apa boleh buat karena ada suatu hal yang membuat Rigel berharap dari Hazama.
“Sungguh menyakitkan rasanya saat yang lebih muda mengatakan itu.” Hazama tersenyum masam kepada Leo, dia tentu tidak merasa marah karena tahu kata-katanya untuk kebaikannya juga, “Namun aku tidak akan pernah bisa berisitirahat dengan tenang saat tau keadaannya seperti ini. Selain itu berbeda dengan Nadia, aku tak mengalami luka dalam yang cukup parah.”
Nadia yang mengabaikan pertahanan dan memfokuskan statistiknya kepada serangan juga kecepatan, pastinya akan menerima luka dalam yang tidak ringan dengan pertarungan melawan Kemuel.
Lawannya tetap buruk sekalipun Nadia adalah musuh alami pengguna pertahanan kuat. Namun tetap saja Kemuel bukan lawan yang mudah, karena nyatanya mereka tidak berhasil membunuhnya. Mungkin jika bukan karena gangguan Rafael, sudah lama sejak Kemuel tiada.
“Aku juga belum menggunakan Kebanggaan, seharusnya tidak ada masalah. Selain itu, Perisaiku yang terbaik melawan semua serangan yang mempengaruhi indra.” Hazama menyentuh perisainya yang segera mengeluarkan kilauan.
“Sekalipun kutukan tidak kamu gunakan dan tidak ada luka dalam mengkhawatirkan, staminamu memiliki batas. Dan aku yakin pemulihannya tidak secepat diriku, bahkan kecepatan pemulihan staminamu tidak mendekati Leo.”
Leo adalah pemuda yang dengan luar biasanya melampaui banyak Pahlawan. Meskipun posisinya sebagai pengganti Takatsumi, meski dia bukan pemegang pertama, kenyataannya Leo dengan mudah beradaptasi. Pahlawan Pedang saat ini mungkin jauh lebih kuat dari generasi sebelumnya.
Tak hanya bakatnya yang besar di ilmu pedang. Leo juga memiliki pengetahuan yang luas, banyak teknik dari banyak guru yang dia miliki, juga faktor bahwa dia seorang Demi-human yang memiliki kemampuan bawaan serta pemulihan cepat menjadikannya aset penting dalam peperangan ini.
“Kamu tidak perlu khawatir. Sejak awal Perisai adalah senjata yang digunakan untuk mendukung, aku memiliki kartu untuk dimainkan sendiri. Kartu ini sangat berguna untuk situasi seperti ini. Selain itu, aku mampu memulihkan stamina dengan potion.” Hazama tersenyum dan tetap bersikeras untuk terjun ke medan perang.
“Potion memang bagus karena mampu memulihkan kekuatan. Namun seberapa percaya diri kamu, bahwa Capella akan memberimu waktu untuk melakukannya? Selain itu, katakan padaku kartu semacam apa yang kamu maksud. Aku takkan mentolerir jika hanya akal bulus mu agar bisa pergi.”
__ADS_1
Rigel membuat raut wajah yang seakan menunjukkan bahwa dia tidak segan melukai Hazama jika tetap memaksakan diri, terutama sampai berbohong memiliki kartu untuk dimainkan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, memaksakan diri hanya akan menimbulkan sakit kepala di tempat lain.
Meski seharusnya tidak diragukan bahwa mungkin Hazama benar-benar memilikinya, tetapi Rigel bukan orang yang akan luluh dengan lisan yang terdengar nikmat untuk didengar.
“Ya, apa boleh buat.” Hazama tak lagi memiliki niat untuk tetap menyembunyikannya, lagi pula cepat atau lambat kekuatannya akan terungkap, “Kartu ini memungkinkan untuk diriku memulihkan stamina untuk keadaan khusus.”
“Dan keadaan khusus seperti apa yang kamu maksud?”
“Keadaan tersebut adalah waktu di mana diriku merasa lelah juga terdesak, akan ada buff yang memungkinkan peningkatan keseluruhan statistik dan pemulihan kekuatan yang lebih cepat. Meski ada batas waktu penggunaan, tetapi aku yakin waktunya lebih dari cukup untuk mengalahkan Capella.”
Itu memang kartu yang bagus jika dipikirkan kembali, terutama bagian peningkatan statistik keseluruhan. Pertahanan Hazama akan sangat kuat bila ditingkatkan sampai batas tertentu dan untuk itu tampaknya tak ada celah bagi Rigel mengatasi orang berkepala batu tersebut.
Rigel menghela napas lelah dan menyerah menahan Hazama lebih jauh, dia mengambil sesuatu dari dalam penyimpanannya, “Untuk berjaga-jaga bawalah ini. Aku tak ingin membuang sumber daya namun kehilangan aset penting sepertimu lebih merugikan.”
Hazama menangkap dua botol potion kecil yang dilemparkan oleh Rigel. Dia berusaha mengidentifikasi benda tersebut dan segera terkejut karena benda itu amatlah berharga. Hazama cukup penasaran bagaimana bisa dia mendapatkannya mengingat situasi waktu itu tak memungkinkan mengambilnya.
“Aku tak pernah menggunakan hal-hal seperti itu selama bertarung. Terkadang aku selalu lupa bahwa ada banyak benda berguna di penyimpanan dari sistem yang tak kubutuhkan.”
Meskipun di masa lalu Rigel sering melihat peningkatan level setiap kali membunuh monster, Rigel hampir tak pernah mengakses Index, bahkan ada waktu di mana dia lupa akan keberadaannya. Lagi pula dia merasa tidak butuh menggunakannya hanya untuk melihat skill.
Kemampuan satu-satunya dari kekuatan Creator, yaitu Imagination Creator memungkinkan Rigel menggunakan skill tanpa perlu melihat daftar. Meski ada banyak skill yang perlu menggunakan Index karena tak hafal, sebagian besar tidak berguna.
“Maaf aku mengatakan ini, tetapi kamu sungguh melakukan pemborosan pada beberapa kesempatan, kan? Potion ini sangatlah berharga dan mampu membalikkan keadaan disaat tertentu. Kamu yakin memberikannya?” Hazama bertanya untuk mengkonfirmasi sekali lagi.
“Ya. Kamu tahu manfaat dari keduanya tanpa perlu bagiku menjelaskannya, kan? Kamu mungkin lebih membutuhkannya dari pada aku. Lagi pula tidak ada keadaan di mana aku membutuhkan potion tersebut karena mampu memulihkannya dengan kemampuanku.” Rigel mengangkat tangan kanannya dan membuat Hazama memahaminya.
Pengetahuan para Pahlawan adalah Rigel memiliki kekuatan aneh di tangan kanannya, dan Rigel tidak menjelaskan lebih jauh karena merepotkan. Para Pahlawan telah melihat sendiri bahwa kekuatan Rigel terlalu hebat sampai tak membutuhkan potion.
__ADS_1
Pada kenyataannya Void tidak berada di tangan kanan, tetapi langsung mengakar ke dalam jiwa. Sekalipun tangan kanan dan kiri Rigel hilang, Void akan tetap ada meski mungkin tidak dapat digunakan.
“Jadi begitu, dengan kekuatanmu potion ini hanya lelucon. Kalau begitu akan kuterima. Terima kasih, Rigel. Aku akan pergi segera.” Hazama berteleportasi ke titik terdekat dengan medan perang dan menuju tempat Aland.
Dalam diam Rigel mengambil benda lainnya dan menyerahkannya kepada Leo.
“Kamu juga ambil ini, Leo. Gunakan saat situasimu buruk. Kamu akan sangat membutuhkannya ketika pertarungan di mulai.”
Rigel juga memperingatkan untuk tidak menggunakannya kepada orang tidak dibutuhkan dalam perang. Seperti tentara biasa, Raja, bahkan orang sekelas Bellemere tidak wajib untuk diberikan potion tersebut. Namun tentu saja Rigel takkan menentangnya karena penggunaan potion tersebut akan menjadi kebebasan Leo.
“Apa ini sangat berharga?” Tanya Leo menatap benda yang asing tersebut.
“Blood of Phoenix, dan Phoenix Tear. Sumber daya yang hanya bisa didapatkan dari Monster Malapetaka, apa kamu pikir mudah mendapatkannya? Mungkin yang kamu miliki adalah yang terakhir di dunia ini.”
Rigel menjelaskan bahwa Phoenix Tear mampu menyembuhkan segala macam luka parah, bahkan orang yang sekarat sekalipun bisa sembuh sepenuhnya jika menggunakannya. Kemampuannya tentu sehebat kesulitan untuk mendapatkannya. Jika saja Hazama tak datang seperti ini, Rigel akan benar-benar melupakan benda itu.
“Lalu untuk Blood Of Phoenix, apa manfaatnya?”
“Kamu akan tahu saat menggunakannya. Benda itu memiliki syarat untuk digunakan, ketika seseorang tak lagi bisa diselamatkan oleh Phoenix Tear, maka gunakanlah. Untuk Blood Of Phoenix, aku harap digunakan untuk dirimu sendiri.”
Dengan penjelasan kasar tersebut semestinya Leo memahami kemampuan Blood of Phoenix. Dia terus menatapnya selama beberapa waktu. Segera Leo menyimpan Phoenix Tear dan membiarkan Blood of Phoenix di tangannya, lalu dia kembalikan kepada Rigel.
“Apa maksudnya?” Tanya Rigel dengan dingin, dia tidak akan menerima penolakan dari Leo.
Leo sedikit berkeringat dingin karena tidak sengaja memancing kemarahan Rigel, “Tidak, bukan maksudku menolak, Ayah. Namun untuk beberapa alasan aku pikir sebaiknya Ayah yang menyimpan ini sendiri. Aku tidak akan membutuhkannya.”
Leo tersenyum cerah seperti anak-anak berusia lima tahun. Rigel tidak terima karena kebaikannya ditolak namun melihat senyuman tersebut membuat Rigel mengabaikannya dan mengembalikan Blood of Phoenix kembali ke tempat semula.
__ADS_1