
Dunia bergetar hebat, laut bergejolak dan menimbulkan tsunami, tanah gempa dan membuat gua bawah tanah runtuh, beberapa tempat seperti desa di atasnya hancur.
Bencana itu menelan korban jiwa dari banyak tempat, Region yang ada di tengah lautan tidak dikecualikan. Dampak tsunami mencapai mereka, namun berkat dinding besi yang diaktifkan dan dibangun Rigel, tidak ada korban jiwa.
Hanya ada beberapa orang terluka. Meski dikatakan beberapa, jumlahnya mencapai seribu angka.
Alam mengering, dunia yang dengan mudah menghidupkan tumbuhan kini tidak akan seperti semula. Panen yang biasanya bisa dilakukan enam kali dalam setahun akan menurun menjadi dua, tiga kali paling banyak.
Menyadari datangnya gelombang kejut besar ke arahnya, Rigel segera menjauh dari Lucifer dan membangun dinding besi yang cukup besar serta teramat kokoh.
Berlutut, tangannya memegang tanah dan sekuat tenaga siap untuk benturan hebat di depannya.
“Ini dia.”
Gelombang angin besar, ledakan sihir mencapainya dan dengan begitu mudah mengikis dinding besi yang Rigel bangun. Ketebalannya bukanlah candaan, tapi dampak serangan Sylph mampu merusaknya dengan mudah.
Apa jadinya jika Rigel yang menjadi target serangan itu? Entahlah, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.
Menyadari bahwa dinding besi tidak akan bertahan lama, Rigel melompat mundur, memasang kuda-kuda dan menepukkan kedua tangannya yang bersinar berkat Rune.
PAK!
“Mana Hand — Dinding Akra! Void — Kehampaan!”
Menggunakan dua skill dan menggabungkannya, dinding yang melindungi dirinya sendiri tercipta. Segala bentuk benda, sihir atau bahkan kehidupan yang melalui perisai berbentuk tangan itu, akan lenyap tanpa jejak.
“Bahkan dampak di sini sangat besar ...” Rigel merintih selagi merasakan ledakannya mulai menurun.
Lucifer di sisi lain tidak jauh berbeda, menggulung dirinya dengan sayap hitam miliknya. Tentu, hanya dengan dampak serangan tidak akan mampu melukainya, tidak peduli seberapa besar itu.
‘Bahkan ledakan ini dua kali lebih kuat dari nuklir, mungkin juga lebih.’ Pikir Rigel selagi mengamati sekitarnya.
Para Pahlawan yang menghadapi Pilar iblis memiliki luka dibeberapa tempat berkat ledakan tersebut.
“Ugh ... kalian, baik-baik ... saja?” Hazama yang mengambil posisi melindungi semua orang, merintih kesakitan.
Dia sudah benar-benar lemah dan dipaksakan menjadi lebih lemah untuk menahan dampak serangan besar dari sihir Sylph.
Curse of Pride benar-benar bukan pilihan bijak, nyatanya tenaga yang dimiliki Hazama seakan tidak pernah terpulihkan. Entah seberapa banyak dan kuat sihir pemulih yang diberikan Alexei, kekuatannya tak kunjung kembali begitu juga dengan kesehatannya.
__ADS_1
Melihat ke belakang, semua orang terbaring dan sedikit terluka. Namun tidak ada dari mereka yang begitu kritis, patut untuk disyukuri.
Hanya saja dia tidak menemukan Ozaru di manapun meski dengan tubuhnya yang besar. Namun dia menemukan tongkat seukuran manusia tertancap, mungkin saja Ozaru sudah kembali ke bentuk aslinya.
“Heh. Berbanggalah karena Hazama ... yang benar ini, menyelamatkan kalian ...” Mengatakan perkataan yang tidak seperti dirinya, Hazama kehilangan kesadaran.
Sebelum benar-benar jatuh ke tanah, Natalia dengan sigap berdiri dan memapah tubuh Hazama dengan cepat.
“Pahlawan Perisai ... Syukurlah. Dia hanya pingsan.”
Meskipun hanya pingsan, nyatanya tubuh Hazama dipenuhi kutukan. Kutukan yang membuatnya menjadi berbangga diri, menganggap yang lainnya tidak setara dengannya.
“Sial, kita benar-benar terpojok.” Orang kedua yang berhasil bangkit adalah Marcel.
Menyadari bahwa Ozaru, Hazama dan Takumi tak lagi dapat membantu, akan sulit menghadapi Pilar Iblis yang memandang rendah mereka dari langit.
“Aku tidak suka ini, peri ****** itu benar-benar tidak mempedulikan apapun di sekitarnya. Darahku terbuang sia-sia, sepertinya perlu menyerap lebih banyak darah di sini.”
Gadis Vampire dengan mata amethyst keunguan berseru jengkel. Tubuhnya terbilang keinginan semua gadis, pakaiannya terlalu terbuka dan seakan-akan hanya menggunakan pakaian dalam.
“Jangan melakukan hal tidak perlu, Capella. Tuan Lucifer hanya memerintahkan untuk menahan mereka.”
“Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda, tidak perlu seserius itu.” Dengan malas dia mengalihkan pandangannya.
“Heh, anjing penurut seperti biasanya, Capella.” Suara serak datang dan mengejek Capella, memunculkan ketidaksenangannya.
“Tutup mulutmu, Hector. Bicara lagi akan kubunuh kau.” Jawab Capella melirik sekilas dengan sinis.
Pilar Iblis bernama Hector, memutar jam rantai yang berada di tangannya dan tersenyum geli. Rambut hitamnya yang tertutupi topi besar yang yang biasanya digunakan untuk sulap, jubah hitam dengan setelah bangsawan di baliknya.
“Hahaha, seakan kamu bisa melakukannya, kelelawar betina.”
“Cih!”
Meski berkata akan membunuhnya, nyatanya Capella tidak bisa melakukannya. Bukan karena dilarang Zenos ataupun Lucifer, tetapi iblis itu sangat sulit untuk dibunuh. Bahkan Zenos yang terkuat diantara mereka mengakui kemampuan yang dimiliki Hector.
“Khakaka, kalian berdua memang tidak pernah akur. Mengapa tidak bersama dan membuat anak? Barangkali itu akan menjadi spesies baru, khakaka.”
Sementara yang lanjut berbicara Asmodeus namanya. Penampilannya sangat mudah dijelaskan. Dari ujung rambut sampai kakinya, dilihat dari manapun dia lebih seperti orang tua yang kekurangan gizi. Tidak ada daging, hanya tulang yang diselimuti kulit.
__ADS_1
“Ya, akan bagus jika kalian melahirkan iblis baru. Barangkali Yang Mulia Lucifer akan mengakui anak kalian.” Pilar iblis dengan kulit gelap, Regulus ikut menimbrung dalam percakapan.
“Fuhaha, perlu kusiapkan rumah dari mayat untuk membuat kalian nyaman bersetubuh?” Wanita yang tampak kecil dan acak-acakan mengadu. Dia Sirius.
“Tutuplah mulut kalian.” Iblis dengan wujud banteng berwarna merah kehitaman menyela.
Wujudnya seperti campuran banteng dengan kelelawar dan ekor iblis di bokongnya.
“Apa kita tidak perlu membunuh mereka, Zenos? Aku yakin ini kesempatan bagus membunuh mereka.” Lanjutnya memandang rendah para Pahlawan.
“Aku sepemikiran dengan Ammon. Dengan membunuh mereka semua di sini akan mempermudah kita di peperangan. Mau bagaimanapun, keparat Seraphim bukanlah lawan yang ringan.” Leviathan sudah bersiap menyerang jika diperlukan.
Pertarungan terakhirnya dengan Pahlawan adalah ketika gerbang dunia bawah terbuka. Meski itu pertarungan singkat, sungguh para Pahlawan manusia sangat berbeda dengan pendahulunya.
Di generasi ini mereka lebih kuat dan sangat cepat beradaptasi. Mungkin faktor bahwa tidak ada kekacauan selama dua tahun membantu mereka bertambah kuat dengan cepat.
“Mereka mungkin manusia. Namun cukup merepotkan melawannya. Bila perlu, aku sendiri yang akan mengurusnya.” Melonggarkan kerahnya, Diablo yang berwajah geram bersiap membunuh semua yang ada di sini.
“Hahaha, sungguh lucu mendengar itu dari seseorang yang berkali-kali nyaris mati di tangan mereka.” Leviathan tertawa sampai perutnya sakit.
Diablo hendak menyela, tetapi Zenos dengan segera berbicara agar tidak ada pertikaian lebih lanjut.
“Aku tidak menolak bahwa mereka cukup merepotkan, bahkan mampu membunuh Dante dan Behemoth. Abaikan Marionette yang setengah iblis itu, Dante dan Behemoth sudah cukup membuktikan betapa kuatnya Pahlawan generasi ini.”
Zenos tidak menyangkal bahwa bagian dari dirinya ingin membereskan para Pahlawan sekarang juga. Namun lebih dari siapapun di tempat ini, hanya dirinya yang paling memahami apa yang dipikirkan tuannya.
Meski dia tidak menyebutkan rencananya kepada siapapun, hanya dengan melihat mata tuannya, Zenos langsung mengerti.
“Keuntungan besar bahwa mereka tidak ikut bertarung di Ragnarok. Namun tidak pernah ada jaminan kalian mampu menang melawan Seraphim.”
“Mereka” dia menyebutnya, yang artinya selain dirinya dan Lucifer tidak ada yang memiliki kepastian untuk menang melawan Seraphim. Tidak ada yang berani menyanggah perkataannya, lantaran mereka tahu bahwa faktanya mungkin begitu.
“Jadi maksudmu, kita membiarkan mereka hidup dan membunuhnya di medan perang?” Tanya Ammon menyilangkan tangannya.
“Tidak, biarkan mereka mati di tangan Seraphim. Pertarungannya dengan Pahlawan akan menguras tenaga, disaat itulah kita injak-injak malaikat tollol dengan kaki kita.” Dengan senyuman jahat di bibirnya, tubuh memancarkan kekuatan mengerikan.
Tidak banyak muncul dipermukaan dan memilih menjaga pintu kamar tempat Lucifer beristirahat selama ribuan tahun, sesungguhnya Zenos tidak memiliki ketertarikan apapun pada dunia ini selain menghancurkan malaikat.
Pahlawan mati, atau Pilar iblis lain mati, dia tidak peduli. Zenos hanya menantikan hari di mana gerbang surga terbuka lebar, menginjak-injak kotoran yang menganggap dirinya suci seperti malaikat dan meludahinya.
__ADS_1
Melirik Zenos, Leviathan tersenyum tipis. “Ambisimu tidak pernah berubah, baik dulu, maupun sekarang Zenos.”