Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 81 — Komandan Tertinggi, Jahoel


__ADS_3

Setibanya di Britannia Yuri dan Salazar meletakkan Petra di ruang perawatan. Mereka memberikan arahan untuk menangani Petra dan regu khusus yang menangani para Pahlawan yang terluka dengan cepat menyiapkan banyak air suci untuk menetralkan kutukan kecemburuan.


Yuri masih khawatir dengan keadaan Petra dan dia menunggu selama beberapa waktu sampai seorang tabib keluar membawa kabar baik.


“Nona Yuri, saat ini kondisi Nona Petra telah stabil. Kutukan yang dikeluarkan tubuhnya akibat kekuatan pahlawan telah mengurang dan dampak dari menyentuhnya sudah berkurang secara signifikan. Namun bukan berarti beliau sudah baik-baik saja, untuk sekarang yang bisa saya sampaikan adalah anda tak perlu mengkhawatirkannya. Juga, tampaknya sudah mustahil Nona Petra untuk berperang lagi.” Tabib itu berkata dengan perasaan sedih dan wajahnya tertunduk.


Hal mengerikan tersebut terjadi saat Petra menghadapi seorang Seraphim. Di medan perang saat ini tidak hanya iblis, tetapi malaikat, juga manusia ada di panggung yang sama dengan tujuan yang sama, menghancurkan ras lain untuk kemenangan.


Banyak orang yang berada di Britannia dan orang-orang yang berada di dalam pelindung dari Batu Ramalan merasa penasaran dengan situasi medan perang. Mereka saat ini hanya sekawanan burung yang berlindung dalam sangkar. Apa pun yang terjadi di luar sangkar takkan mereka ketahui selain dari burung-burung yang keluar untuk berperang.


Mendengar tabib itu berkata bahwa Petra takkan mampu bertarung, Yuri tentunya sudah menduga. Jangankan bertarung, bangkit dari kasurnya saja sudah sangat sulit untuk Petra yang akan menjalani sisa hidupnya dengan lumpuh dan tuli.


Hasil yang begitu menyedihkan dari keputusan yang dia buat. Dunia sepi, takkan ada seorangpun yang baru memasuki dunia itu selamanya takkan mudah terbiasa. Pasti ada perasaan menyakitkan yang akan dirasakan Petra, bahkan bukannya mustahil dia akan menyesal.


“Membayangkan Petra lumpuh dan tidak bisa mendengar, sungguh membuat hatiku sakit.” Yuri memegang dadanya dengan wajah menyakitkan.


Tabib itu merasakan hal yang sama. Ketimbang sakit di hatinya, tabib itu merasa sedih atas ketidakberdayaan dirinya. Membiarkan para Pahlawan yang usianya jelas baru menapaki kepala dua bertarung untuk umat manusia, generasi tua tak berguna seperti dirinya hanya bisa tutup mata melihatnya.


Sebagai generasi tua, tabib itu hanya bisa berdoa atas keselamatan para pejuang dan Pahlawan yang bertarung di garis depan. Seberapa kacau tempat yang menjadi medan perang? Tak ada yang memahaminya dengan pasti, bahkan sejarah yang akan mengukir peristiwa ini tidak akan mampu memberikan gambaran medan perang.


“Lalu, bagaimana dengan Salazar? Orang yang membawa Petra dan membiarkan tubuhnya terbakar.” Yuri segera mengalihkan pembicaraan.


Tabib itu mengangguk dan menjelaskan bahwa keadaan Salazar juga baik-baik saja karena dengan air suci dan sihir penyembuhan, luka-luka yang dia miliki sembuh. Meski meninggalkan bekas luka bakar yang jelek namun selebihnya aman.


Yuri bersyukur bahwa hanya dengan menyentuh Petra selama beberapa menit tidak akan menimbulkan kematian. Meskipun Salazar bersedia mengorbankan nyawanya, tidak kehilangan siapa pun tetap opsi terbaik yang mereka miliki.


Meski keberadaannya mungkin kecil di peperangan dengan skala terbesar ini, setidaknya mereka tak boleh kehilangan orang secakap dia secepat ini. Salazar tentunya akan memberikan lebih banyak bantuan berguna di masa depan, terutama saat gelombang akhir dari peperangan ini akan tiba.


Sedikit namun seandainya ada banyak orang seperti Salazar maka peperangan ini mungkin akan jauh lebih mudah dengan semakin banyaknya keberadaan orang cakap.


“Lalu di mana dia?”


Seolah ada sebuah benang yang baru saja terputus diantara mereka, Yuri dan tabib itu tertegun dan saling menatap satu sama lain. Wajah mereka seperti orang yang baru saja melihat hantu sebagai sesuatu yang aneh.


Lalu di tengah kejadian aneh tersebut si tabib terlihat bingung dan berusaha keras untuk mengingat sesuatu. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi, dia juga tidak tahu apa yang tengah ada di obrolan mereka berdua.


“Maaf menjadi lancang, Nona Yuri. Namun ... apa yang baru saja kita bicarakan?” Tabib memutuskan bertanya atas kebingungan dirinya yang begitu tiba-tiba. Meskipun dia sudah lansia, seharusnya tak menjadi separah ini untuk melupakan hal yang tengah dibicarakan.


Yuri memegang kepalanya seolah sakit, dia berkeringat cukup banyak. Kepalanya terasa berputar-putar, hatinya terasa bermasalah karena seolah ada sesuatu yang baru saja diambil dari kepalanya.


“A-aku tidak tahu. Aku ingat menanyakan kondisi Petra kepadamu, tapi, selanjutnya aku membahas apa? Apa yang sedang terjadi ...” Wajah Yuri bertemu dengan tabib saat dia sedang memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Wajah keduanya tidak tampak baik, seolah mereka tengah melihat satu sama lain sebagai monster. Tak bisa dipercaya bahwa keduanya mengalami fenomena yang lebih aneh dari Ragnarok.


Yuri kembali membenahi dirinya. Dia mengingat-ingat kejadian dari dirinya menemui Petra yang lengah saat melawan Kalkydras. Kondisi Petra saat itu sudah stabil berkat bantuan penyihir yang berusaha keras menyembuhkan Petra.


‘Saat itu ada ... empat orang penyihir? Mereka berusaha sangat keras untuk menyembuhkan Petra. Saat kondisinya mulai membaik, apakah aku yang membawa Petra sendiri?’


Namun tidak ada luka apa pun di tubuhnya kecuali jari telunjuk yang sedikit terbakar, meski sekarang kian pulih. Meski begitu bagaimana caranya membawa Petra kemari tanpa mengalami luka? Hal tersebut menjadi semakin aneh jika dipikir-pikir lagi, Petra merasa ada sesuatu yang menghilang begitu tiba-tiba.


Melihat keadaan Yuri yang jelas-jelas bingung dan tidak memahami keadaan, si tabib tidak bisa membiarkannya lewat begitu saja. Yuri adalah aset berharga dalam perang ini, membuatnya mengambil banyak pikiran tak berguna perlu untuk dibereskan.


“Mungkin Nona Yuri sedang merasa kelelahan. Bagi saya pribadi wajar anda demikian, situasi sekarang ini sungguh membingungkan bahkan untuk saya. Sebaiknya Jona beristirahat sementara sebelum kembali ke garis terdepan, saya yakin bahwa Pahlawan Rigel sekalipun tidak akan segera mengerahkan anda.” Tabib mencoba membuat Yuri pergi ke kamarnya untuk tidur.


Namun dari wajahnya yang masih demikian rumit jelas bahwa Yuri enggan melakukannya. Saat semua orang sedang berjuang, dia justru bersantai-santai di istana, hal tersebut sungguh keterlaluan, begitu Yuri memikirkannya.


“Anda tak perlu cemas, Nona. Dari yang saya dengar melalui tentara yang menyampaikan pesan kepada tentara lainnya, gelombang selanjutnya akan dikirimkan. Pasukan yang hanya diperintah Pahlawan Rigel. Selain itu, Kaisar Surgawi, Kaisar Asoka sudah menurunkan perintah untuk bagian kedua manusia bersiap diturunkan juga persiapan pengiriman senjata-senjata Region.”


Mendengar hal tersebut membuat Yuri tak bisa berlama-lama, tetapi jika Rigel turun tangan sendiri maka beberapa jam ke depan situasi peperangan dapat terkendali. Belum lagi jika senjata-senjata yang dibuat Rigel akan segera dikirimkan dalam beberapa jam lagi, setidaknya Yuri bisa melakukan istirahat selama itu.


“Kamu mungkinkah benar. Dengan Rigel mengambil alih jalannya peperangan, maka akan ada waktu bagi tentara manusia untuk tenang selama beberapa waktu.”


“Ya, Pahlawan Creator, Tuan Rigel adalah pembawa keajaiban bagi manusia. Saat gelombang kedua dari pengiriman tentara manusia tiba, saya pastikan datang memberitahu anda.” Tabib itu membungkuk hormat dan intonasinya seolah-olah berjanji akan melakukannya.


Yuri tersenyum masam dan mengangguk, “Baiklah. Aku akan menerima saranmu, kalau begitu jangan lupa merangkum hal-hal yang mungkin terjadi selama aku istirahat.”


“Dimengerti, Nona.”

__ADS_1


Yuri segera pergi untuk beristirahat, tanpa seorangpun tahu terdapat seorang pria dengan jubah Tim Penyihir dari tentara Legion sedang mengamati. Dia mengamati keadaan negara ini dan tindakan Pahlawan dari puncak tertinggi yang ada di Britannia.


“Tak ku sangka ada kejadian yang begitu menarik di dunia ini. Andai bila aku datang sepuluh atau dua puluh tahun lebih cepat, mungkin aku bisa menikmati kejadian menyenangkan dari dunia ini.” Dia tersenyum senang dan segera membuka tudungnya.


Wajah yang terus tersembunyi di balik jubah mulai terlihat dan rambut hitam panjangnya yang seperti wanita berubah menjadi hijau. Kulitnya coklat pasi dan gigi putihnya terekspos saat dia terus tersenyum lebar.


“Sayang sekali, seribu sayang dan teramat disayangkan. Aku tak bisa berlama-lama di dunia ini karena tak ada satupun yang bisa kupanen darinya. Aku sungguh terlambat, karena tampaknya dunia ini akan menjadi tempat kelahiran seseorang yang sama sepertiku. Mungkin saja orang ini lebih lemah atau lebih kuat. Yah, pilihan tepat menarik ingatan dari orang-orang yang telah bertemu denganku. Sebelum proses itu dimulai, sebaiknya aku cabut dari dunia ini.”


Mata kemerahan dengan sebuah kristal hijau di dahinya, pria bernama Salazar D'arc tersenyum saat melihat dunia ini untuk terakhir kalinya. Dia merasa takkan pernah menemukan dunia seperti ini lagi, dan karena itu segera dia menghilang dari tempatnya seolah tidak pernah ada.


Orang-orang yang memiliki ingatan tentang pria bernama Salazar D'arc akan melupakannya segera. Hal ini bukanlah pertama kalinya umat manusia melupakan keberadaan seseorang yang pernah ada di dunia ini.


...*****...


Medan perang utama, Regulus menghampiri Bellemere yang terlihat bingung. Wajahnya tidak begitu baik, tetapi entah bagaimana dia tampaknya tahu. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh sesuatu yang tiba-tiba terasa mengganjal di kepala mereka. Seolah ada sesuatu seperti ingatan ditarik keluar secara paksa dari otaknya.


Regulus tak ambil pusing hal tersebut dan segera menyerukan Bellemere.


“Bellemere, aku ingat kamu memimpin pasukan di utara. Namun, keberadaanmu di sini tidak kupahami, apa yang sedang terjadi?”


Seolah tersadar dari lamunannya, Bellemere menggelengkan kepalanya dan merapihkan dirinya. Begitu dia masuk terlalu dalam saat tengah berpikir, Bellemere sendiri takkan sadar meski tubuhnya ditusuk-tusuk beberapa kali.


“Maafkan saya, Raja Regulus.” Bellemere sedikit menunduk sebelum menatap para tentara Legion mundur secara perlahan dari utara, “Dari yang diberitakan Kaisar Surgawi, Kasiar Asoka kepada kami, fakta bahwa gelombangnya ketiga dari pihak malaikat akan tiba tidak lama lagi.”


Regulus tertegun karena baru mengetahui informasi tersebut. Radio kecil yang seharusnya ada di telinga miliknya entah hilang ke mana, dan sampai kini Regulus belum menghubungi siapa pun dari Tim Investigasi yang juga bertugas menyampaikan titah dari Rigel serta Asoka.


Dia memang terkejut namun kejutan itu hanya berlangsung sementara. Tentu saja, hanya dengan kedatangan gelombang lain dari malaikat akan merubah jalannya medan perang secara signifikan. Namun arti dari tindakan Bellemere dan pasukan lainnya mundur, maka hanya satu.


“Apa mungkin mereka akan mengirimkan senjata-senjata itu dengan segera? Bukankah itu akan terlalu cepat, aku tak mengerti sama sekali.”


Regulus tahu sebagian besar rencana yang telah diatur dan seharusnya pengiriman senjata-senjata itu akan tiba bersamaan gelombang ketiga atau keempat dari manusia. Namun kenyataannya gelombang kedua bahkan belum dikirim, mengirim senjata-senjata tersebut secepat ini adalah langkah yang buruk.


“Tidak, Raja Regulus. Senjata itu tidak akan dikirimkan sekarang karena masih dalam persiapan.” Bellemere menolak pemikiran Regulus dengan santun.


“Lalu apa yang mengharuskan kalian mundur?” Regulus kembali bertanya, dia penasaran tindakan apa yang diambil oleh Rigel dan Asoka.


Tak biasanya Bellemere bersikap seperti itu, Regulus cukup penasaran apa yang membuatnya takut sampai seperti itu. Namun tanpa perlu baginya untuk bertanya lebih lanjut karena segera angin dingin secara artifisial menghantam mereka dengan kuat.


Melihat ke utara Regulus menemukan pemandangan mengerikan yang meski jaraknya jauh, dia tak cukup buta melihat makhluk-makhluk hitam muncul dari tanah, mengisi daratan serta udara. Bahkan Bellemere yang sudah tahu hal tersebut terjadi masih saja bergetar karenanya.


Dalam hidup mereka pemandangan ini hampir tidak pernah ditemukan, bahkan sangat jarang diantara para iblis yang memiliki kekuatan kegelapan semacam itu. Rasa keingintahuan yang kuat mendorong mereka untuk mengenal lebih jauh siapa sebenarnya pria bernama Amatsumi Rigel.


Pahlawan adalah perwujudan dari pejuang suci yang dilindungi oleh cahaya, mereka adalah pejuang yang agung bagi para manusia. Namun apa jadinya jika Pahlawan yang diagungkan tersebut justru menggunakan kekuatan yang bahkan lebih gelap dari neraka itu sendiri?


“Kekuatan itu ... Membangkitkan monster dan makhluk hidup yang mati, Necromancer?!” Regulus terkejut bukan main oleh hal tersebut, “Mengapa kekuatan semacam itu dimiliki oleh seorang Pahlawan?”


Regulus jadi teringat kejadian di mana Gerbang Dunia Bawah terbuka. Saat itu banyak iblis dari neraka terlepas dan membuat kekacauan. Berkat kerja keras para Pahlawan semuanya terselesaikan dengan korban seminimal mungkin.


Segera setelah hal tersebut Regulus kerap mendapat laporan ada monster aneh yang terbuat dari bayangan muncul dari tanah dan membunuh para iblis. Dia berpikir hal tersebut hannyalah lelucon iseng, tetapi kini dia mengamatinya secara langsung.


“Tak hanya monster seperti tengkorak. Tetapi, para naga, dan sesuatu yang tidak pernah bisa saya bayangkan ... Hydra, juga ada di sana.” Bellemere mengambil satu langkah mundur ketika melihat ratusan naga mulai berterbangan dan menyebar, lalu memunculkan api biru dari mulut mereka.


Di tengah-tengah kengerian dari pasukan kegelapan tersebut, terdapat bayangan besar dari naga berkepala dua dengan tubuh seperti seekor ular, bayangan dari makhluk yang pernah menanamkan rasa takut mendalam untuk dunia ini, monster kuat yang mendiami lautan, Hydra.


“M-makhluk itu bisa, dibangkitkan dengan Necromancer?” Regulus yakin dirinya telah mandi oleh keringat, jika Hydra bisa dibangkitkan dengan Necromancer, maka bukan mustahil yang lainnya juga sama, “Apa Malapetaka lain juga ada dalam kemampuan Necromancer-nya?!”


Hal tersebut tidak dapat dipastikan, tetapi selain Hydra tidak ada bayangan lain yang besar dari pasukan itu. Tentu saja ada beberapa naga yang terlihat besar namun tak ada yang menyaingi Hydra.


“Saya tidak yakin, tetapi sepertinya Necromancer tidak begitu kuasa. Dari yang saya baca disebuah buku, kekuatan Necromancer tidak berpengaruh bagi monster roh, monster yang dekat dengan para peri.”


Monster seperti Tortoise, White Tiger, dan Phoenix tidak akan bisa dikuasai oleh Necromancer karena mereka termasuk hewan roh. Untuk Malapetaka terakhir yaitu Acnologia, disaat-saat terakhir hidupnya dia menjelma menjadi makhluk yang setengah-setengah dan sebagian dari dirinya menjadi roh, sehingga kekuatan Necromancer miliknya takkan berfungsi.


Hal tersebut sudah Bellemere pastikan karena monster yang lebih besar dari apa pun, yaitu Tortoise tidak terlihat diantara pasukan kegelapan tersebut. Namun tetap saja, hanya dengan keberadaan Hydra dan para naga sudah menjadi kekuatan tempur terbesar.


“Begitu, ya. Aku tahu pasukan tambahan yang dimaksud. Jadi ini, ya? Tak kusangka ada lebih banyak kejutan yang bisa dia buat. Hahaha, aku merasa sepuluh tahun lebih tua karenanya.”


Regulus penasaran apakah ada hal lain yang mampu memberinya kejutan lebih besar dari ini. Jika hal itu terjadi, dia akan siap kehilangan nyawa karena terkejut.

__ADS_1


...***...


Rigel tengah mengamati perkembangan perang saat ini dari kejauhan. Dia telah menggunakan Necromancer untuk mengurangi jumlah tentara musuh yang memenuhi medan perang saat ini. Dia awalnya ingin mengirimkan gelombang lain dari tentara manusia tetapi jumlah malaikat saat ini berat sebelah.


“Aku penasaran ada berapa banyak dari mereka. Jumlah yang akan datang selanjutnya dua kali lebih besar dari gelombang sebelumnya.”


Ada kebutuhan untuk membersihkan malaikat yang tersisa saat ini sebelum gelombang lain tiba. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka tak mengejutkan langit berisi malaikat sepenuhnya.


“Ada apa Leo? Wajahmu tampak buruk.” Rigel menatap Leo yang mengkhawatirkan sesuatu.


“Tidak ada, kekuatan Ayah mungkin mengejutkan. Tetapi, aku mengkhawatirkan kak Hazama dan lainnya.”


Hazama telah pergi dengan kondisinya yang sedemikian rupa buruk. Tentunya kekhawatiran tersebut tidak pada tempatnya karena mau bagaimanapun, Hazama bukanlah pelindung manusia yang lemah. Meski dia kuat dalam pertahanan namun serangannya juga tidak bisa diremehkan.


Full Counter dan kutukan kebanggaan termasuk salah satu hal yang harus diwaspadai darinya, juga kartu yang dia sebutkan sebelumnya bisa disebut sebagai hal yang merepotkan.


Rigel tak mengkhawatirkannya sama sekali, lagi pula dia telah memberikan dua item berharga yang akan mencegahnya mencapai situasi terburuk.


“Tenang saja. Dia memiliki Phoenix Tear dan darahnya, tidak akan ada kesempatan baginya tewas selama mampu menggunakan benda itu.”


“Namun tetap saja mengkhawatirkan.”


“Tenang saja, bahkan jika terjadi sesuatu kepada mereka. Aku telah mengerahkan tentara kematian untuk membantu mereka, kuyakin akan baik-baik saja.” Rigel mengacak-acak rambut Leo.


Segera dia merasakan perasaan tertentu, getaran terjadi yang asalnya dari Gerbang Surgawi, “Mereka tiba.”


Hamparan lautan dari pasukan malaikat mulai bermunculan, jumlah mereka ada sangat banyak sampai Rigel mampu melihat mereka dari lokasi yang sangat jauh. Saking banyaknya malaikat Rigel seolah melihat awan cahaya tengah menyerbu.


“Itu ... ada terlalu banyak untuk ditangani.” Bahkan Leo berkeringat dingin dengan pemandangan pasukan yang luar biasa tersebut.


Dengan pengelihatan jarak jauhnya Rigel menemukan seorang Seraphim memimpin pasukan tersebut. Tinggi Seraphim tersebut sekitar dua meter, tubuhnya besar ditutupi perisai putih yang nyentrik, dan sebuah pedang cahaya yang disejajarkan dengan wajahnya.


Segera dia mengatakan sesuatu, sayangnya Rigel tak mampu mendengarnya dari jarak yang begitu jauh. Namun setelahnya dia menemukan pergerakan aneh dari pasukan malaikat. Berbeda dari sebelumnya bahwa malaikat bergerak bebas dan serampangan.


“Apa yang terjadi, mereka memecah pasukan menjadi tiga baris?!” Leo tertegun dan mulai keheranan karena pergerakan pasukan malaikat tidak seperti biasanya.


Pergerakan mereka lebih teratur dan mulai melakukan penyerangan kepada manusia juga iblis. Dengan pergerakan yang teratur tersebut pasukan malaikat atau Armageddon akan menjadi ancaman besar. Rigel tersenyum kecut dan meyakini keputusannya tepat untuk mengerahkan Pasukan Kematian.


“Jika pengetahuanku benar, maka hanya satu Seraphim yang memungkinkan melakukan hal seperti itu dari Armageddon.”


Entah untuk alasan apa tapi nama-nama Seraphim sama seperti yang ada di bumi. Masing-masing dari nama tersebut memiliki peran tertentu dan kemampuannya. Rigel merasa beruntung bahwa dirinya tertarik dengan kisah mitologi dan sejenisnya saat masih di bumi.


Siapa yang menyangka bahwa pengetahuan tersebut akan berguna di waktu seperti ini. Ungkapan tentang pengetahuan yang luas akan membantumu di banyak hal sepertinya tepat. Terutama tentang mempelajari konsep dasar suatu benda. Pada kenyataannya hal tersebut sangat berguna untuk skill Creator milik Rigel.


Walaupun kekuatannya Imagination Creator mampu mewujudkan benda yang ada dalam ingatannya meski hanya sedikit pengetahuan yang dia miliki, masih mungkin untuk membuatnya. Seperti mobil, motor, tank dan pesawat tanpa awak yang menggunakan konsep sederhana.


Dengan adanya sihir di dunia ini, sekalipun benda seperti mobil tak mampu berjalan, berkat sihir hal itu takkan menjadi barang rongsokan.


“Apa Ayah tahu Seraphim yang baru datang itu?” Tanya Leo penasaran.


“Ya. Seraphim yang menjadi komandan tertinggi Armageddon.”


“Apa mungkin malaikat bernama Michael?”


Michael memang yang tertinggi diantara para Seraphim namun bila berurusan dengan memerintah pasukan besar tersebut, dia sekalipun akan kesulitan melakukannya. Karena itu ada seorang Seraphim yang mampu melakukannya sekalipun dengan jumlah pasukan yang begitu besar.


Entah memang cakap atau ada kemampuannya yang memungkinkan mengkomandoi pasukan sebesar itu, jelasnya dia lawan terburuk dengan jumlah pasukan terburuk.


“Komandan tertinggi yang dimiliki pihak malaikat, kemungkinan besar Seraphim bernama Jahoel.”


Rigel cukup penasaran dengan gelar tersebut dan seberapa cakap dia memainkan kekuatan besar yang tak kalah oleh manusia dari jumlah, Armageddon. Pasukan yang seakan tak ada habisnya tersebut, patut dinantikan bagaimana dia akan mengerahkannya.


“Berbeda dengan Seraphim lainnya yang sembarangan mengerahkan pasukan, mungkin Jahoel ini akan melakukan sesuatu yang lebih mengejutkan dari yang bisa kamu bayangkan. Sekarang, mari kita bertarung secara strategis.” Rigel tersenyum dan memerintahkan pasukannya untuk menangkal pergerakan Armageddon.


Para naga tidak dipecah dan membersihkan sisi kanan Armageddon, pasukan darat lainnya menunggangi naga, beberapa juga menyerang dari darat. Sementara di satu sisi, Hydra menghadapi pasukan iblis dan menjatuhkan mereka sedikit demi sedikit.


Rigel tidak mengizinkan Hydra menggunakan kekuatan airnya karena ada cukup banyak tentara Legion yang belum menjauh dari pasukan kematian. Tidak lucu jika tentara manusia mati oleh tsunami yang disebabkan pasukan kematian.

__ADS_1


__ADS_2