Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 25 — Pemberontakan


__ADS_3

Rigel meledakan bomb di tangannya tepat di depan Michael. Bagi orang yang tahu seberapa kuat dampak dari senjata yang dibuatnya, tindakan Rigel tidak jauh berbeda dengan bunuh diri.


“Apa dia hilang akal? Meledakan benda itu bersama dengan dirinya...” Altucray tidak dapat menahan rasa terkejutnya.


“Kamu bodoh? Orang itu adalah orang yang tidak bisa ditebak dengan akal sehat.” Rudeus segera membantahnya.


“Itu benar, aku masih merasakan kekuatan mengerikan darinya.” Alexei mengkonfirmasi, menatap tempat pertarungan utama.


Di lain sisi, para Pahlawan sibuk berurusan dengan pilar iblis yang jelas lawan yang merepotkan dikondisi seperti ini. Mereka teramat lelah. Pertarungan dengan Acnologia lebih dari cukup membuat mereka di kondisi terlemah.


Dengan lumpuhkan pertahanan terkuat mereka, Hazama, ketidakmampuan Takumi mengerahkan serangan kuat, absennya Rigel dan tiadanya kehadiran Pedang membuat mereka terpojok.


Kondisi Ozaru mungkin terlihat buruk sekarang, tapi dia lebih dari mampu untuk bertarung. Tentunya tergantung pada seberapa lama dia mempertahankan wujudnya itu.


“Manusia, tidak pernah berubah rupanya. Selalu memainkan kartu licik, seperti dulu kala.”


Michael keluar dari kepulan asap, menepuk-nepuk lengannya yang sama sekali tidak kotor. Kondisinya tampak baik-baik saja, berkat delapan sayap yang melindunginya.


Namun bukan berarti dia seperti biasanya. Sejujurnya cukup menyebalkan mendapatkan serangan seperti itu, belum lagi dia tidak pernah melihatnya sama sekali.


“Kuhuhu, sepertinya kamu bisa menghindarinya, Malaikat sialan.”


Perlahan sosok Rigel muncul dengan tangannya yang hancur parah. Meskipun terluka dan terlihat memprihatinkan, tidak ada tanda akan rasa sakit. Rigel justru tersenyum berani tanpa menghiraukan lukanya.


Mereka yang melihatnya berpikir bahwa Rigel benar-benar bodoh. Namun pemikiran itu segera disangkal begitu semua luka yang dia miliki pulih seakan tidak pernah ada.


“Sudah kuduga, seperti ini cara kerja tahap ke empat.”


Tahap Empat — Kehidupan adalah kekuatan yang mampu mengeluarkan semua potensi dari mahkluk hidup yang pernah dibunuh dan menjadikan pengalaman mahkluk yang sudah dia bunuh menjadi hidup di dalam kekuatannya.


Namun mahkluk yang dapat mengeluarkan potensinya adalah mereka yang mati dengan Void atau mahkluk yang berhasil membuat Rigel nyaris terbunuh.


Contoh saja Phoenix yang mati karena tindakan serampangan Takatsumi di momen pengkhianatannya secara nyata kepada para Pahlawan. Mahkluk itu tidak mati di tangan Rigel, namun mahkluk itu nyaris membuat Rigel mati sampai dirinya menggunakan Void.


Untuk alasan itulah hanya Monster Malapetaka yang bisa Rigel keluarkan potensinya.


‘Memang sungguh disayangkan aku hanya bisa menggunakan satu jurus di Monster Malapetaka.’

__ADS_1


Phoenix hanya bisa menggunakan ledakannya saja. Sementara Hydra berkemungkinan besar menggunakan air atau badai, White Tiger tentunya akan menggunakan kecepatan tidak masuk akal miliknya. Untuk dua yang tersisa, Rigel tidak begitu mengetahuinya.


Selain menggunakan satu kemampuan Malapetaka, dia juga dapat menyerap energi kehidupan di alam untuk memperpanjang umurnya dan menyembuhkan tubuhnya, meskipun dirinya kehilangan seluruh anggota tubuhnya. Void tahap empat dapat menyembuhkannya kembali. Singkatnya dengan menggunakan tahap empat Void, Rigel menjadi abadi.


“Ini jelas kekuatan yang tidak masuk akal ketika pemahamanku terhadapnya meningkat. Hanya untuk memenangkan perang, seharusnya tidak perlu memberiku kekuatan sebesar ini.”


Bukannya mengeluh dan tidak menyukai kekuatan sebesar Void. Hanya saja ada perkataan yang selalu tepat dan tidak terabaikan. Dengan adanya kekuatan yang besar, ada pula tanggungjawab besar, serta risiko yang harus ditanggung.


“Manusia, kupikir kamu hanya sedikit pintar dan angkuh. Namun kekuatan itu, bukan milik Pahlawan. Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya Michael sinis.


Michael membangkitkan Rigel dari pikirannya yang kacau. Bahkan jika dia bertanya, tidak mungkin dia menjawabnya. Akan tidak masuk akal bagi mereka karena Rigel butuh waktu seratus tahun untuk terbiasa dengan Void.


”Kamu tahu apa? Jauh lebih mengejutkan Malaikat nyatanya sejelek dirimu.” Rigel melontarkan provokasi murahan tanpa harapan apapun.


Namun yang mengejutkannya, Michael mengernyitkan alis. Raut wajahnya berkerut marah penuh ketidaksenangan. Dilain sisi, Lucifer dan Sylph datang, mereka datang dari arah berlawanan, membuat empat orang dari empat arah mata angin berhadapan.


“Kukuku, untuk kali ini aku setuju denganmu Pahlawan manusia, Amatsumi Rigel. Kehadiran malaikat bahkan lebih jelek dan buruk rupa ketimbang manusia.”


“Ya, bahkan Iblis dan Malaikat sama-sama terlihat bego jika aku perlu menilainya.”


Rigel dan Lucifer berada di jalur yang sama untuk menghina malaikat, tapi tak luput juga mereka melontarkan hinaan satu sama lain dan meninggikan ras mereka sendiri.


Amarahnya meledak dan cahaya berbentuk bilah pedang melesat ke berbagai arah. Tidak sulit menghindarinya karena itu hanya sebagian kecil dari kekuatan Michael. Namun Rigel dengan berani menyimpulkan, Michael yang awalnya ingin bermain-main kini akan dengan serius bertarung.


“Biarkan aku menghadapi malaikat itu. Tanggung jawabku melepaskan Putriku!” Sylph terlihat benar-benar serius dan marah.


Bagaimana tidak? Putrinya yang berhasil dibawa keluar dari perut Tortoise, kembali bernapas dan membuka matanya, namun diculik tanpa pernah benar-benar bertukar kalimat.


Meskipun bukan anak yang terlahir langsung dari rahimnya, tetapi dia benar-benar tulus mencintai dan menyayangi Priscilla.


Rigel tidak mengatakan apa-apa atas kemarahan tersebut, dia hanya mengangguk. “Jangan gegabah, tidak kuizinkan kematian.”


Dalam perkataannya tersimpan kekhawatiran besar, kesedihan. Rigel memiliki kenangan akan sesuatu yang mengerikan saat menggunakan mata peninggalan Behemoth.


‘Entah apa itu, aku harap bukan sesuatu yang benar. Apalagi menjadi kenyataan.’


Sekalipun itu masa depan, selama tidak ada pembuktian maka dia tidak akan mempercayainya, dengan keras akan menyangkalnya.

__ADS_1


Jika itu, apa yang dia lihat adalah sesuatu yang akan terjadi dan masa depan, maka—


‘—tidak, tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu.’


“Peri rendahan, kamu benar-benar menentang kami? Bahkan jika dirimu dan anak buah tolol milikmu bersikap netral, aku akan menghancurkannya kelak.”


Dengan melawannya di sini, Sylph jelas ikut andil perang dan memberontak kepada pihak langit. Meskipun dia tidak berpihak secara langsung kepada manusia.


“Kamu yang memulai semua ini, seandainya kamu melepaskannya baik-baik, aku berjanji akan undur diri.”


Tujuan Sylph hanyalah Priscilla seorang, dia tidak peduli dengan yang lainnya. Bahkan meskipun Rigel yang sudah dinobatkan sebagai Raja Peri terbunuh, dia hanya akan berduka saja.


“Apa gunanya mengabulkan permintaan penghianat, sosok lebih rendah dan tollol sepertimu.”


“Lantas tidak ada pilihan selain PERTEMPURAN!” Kekuatannya merembes keluar, Sylph menggunakan kekuatan penuhnya dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan Priscilla.


Entah itu dengan cara baik-baik ataupun paksaan, dia tidak lagi berharap akan pilihan pertama.


...***...


Tempat yang jauh dari dunia yang sedang kacau, seseorang berjalan tanpa tujuan. Tangannya terulur dan berusaha menggapai cahaya kecil yang nyatanya adalah sebuah bintang, sebuah dunia kecil yang berada jauh namun juga dekat.


“Seakan-akan aku bisa menggenggamnya dengan tangan, tentunya mustahil.”


Mustahil memegang sebuah dunia, tapi tidak mustahil baginya menghilangkan kilauan cahaya tersebut, yang artinya memusnahkannya.


“Ada banyak sekali alam semesta, triliunan dunia, universe dan mahkluk hidup yang tidak terhitung. Sungguh misterius.”


Berjalan di partikel cahaya ambient keunguan, dirinya seakan melayang. Baik atas, bawah, kiri atau kanan, hanya ada banyak sekali alam semesta tak terhingga. Ya. Keberadaannya di luar angkasa, tidak di planet manapun.


Yang dia lihat hanyalah berbagai benda bulat yang dikenal planet atau dunia lain, asteroid dan berbagai benda luar angkasa lainnya. Sungguh berwarna-warni yang indah hasil kosmik.


“Dari banyaknya tempat, sangat sedikit yang bisa aku kunjungi.”


Orang itu segera tertegun seakan ada benang tipis yang terhubung dengannya. Bibirnya membentuk senyum, begitulah yang biasa dia lakukan, tentu tidak secara alami.


“Sepertinya sudah dekat, ya peperangan itu. Maka akhir sudah dekat. Mungkinkah aku buka saja pertanda akhir? Tirai menuju peperangan terakhir, Ragnarok.”

__ADS_1


Sosok yang misterius dan penyebab segalanya, orang yang mengacaukan dunia tempat Rigel berada. Menghela napas lelah meski tidak merasa demikian, dia melanjutkan perjalanan terakhir yang akan dia lakukan.


“Akhirnya keinginanku akan tiba.”


__ADS_2