
“Lindungi Raja Alexei apa pun yang terjadi! Dengan nyawa kita, Pahlawan Ray kemungkinan bisa selamat!”
“Ya!”
Tentara Legion yang berada dekat dengan Gunung Es bertarung dengan sengit melawan Armageddon dan Pasukan Iblis. Alasan mereka menjadi lebih sibuk karena kali ini para malaikat lebih terorganisir, untuk membunuh satu manusia mereka mengeroyoknya dengan tiga lawan satu.
Banyak jeritan kematian terdengar namun diantara jeritan tersebut diiringi tawa mengerikan dari beberapa orang yang memang bersedia untuk mati.
“Hahaha! Akan kubawa kalian menuju kematian, demi umat manusia!”
Seorang tentara Legion melompat dan menggigit leher satu malaikat lalu menusukkan punggung malaikat dengan pedang. Pedang tersebut juga menembus dadanya, sebuah serangan bunuh diri yang elegan, diakhir hidupnya dia menyampaikan:
“Aku tidak mati dibunuh malaikat, aku mati karena diriku ingin mati dan membunuh diri sendiri!” Dengan senyuman gila dia menyatakan.
Mereka yang berperang untuk manusia dan tidak khawatir akan nyawa akan meneladani keinginan Rigel, tidak ada jeritan saat kematian tiba. Hanya akan ada tawa gila dari mereka, tertawakanlah kematian.
“Sedikit lagi, aku akan menarik kembali Pahlawan Ray!” Alexei yang mengumpulkan cahaya di tangannya, wajahnya terlihat menyakitkan dan keringat bercucuran.
Dia terus mengumpulkannya seakan-akan tak pernah cukup. Segera melafalkan mantra panjang yang dia miliki, mengumpulkan semua harapan yang bisa dia ambil dari medan perang ini. Hal tersebutlah yang menjadikan dirinya mendorong para tentara untuk tidak pupus harapan.
Kekuatan yang akan dia gunakan memerlukan energi dari harapan manusia. Mimpi dan harapan hanya memiliki garis tipis yang menjadi perbedaan. Jika mimpi adalah tujuan yang ingin kamu capai, maka harapan adalah tujuan yang kamu ingin bisa mencapainya.
“Baik-baik sajalah demi kami, Pahlawan Ray!” Dengan seluruh kekuatan yang terfokus di tangannya, Alexei memasukkan tangan tersebut ke Gunung Es.
Wajahnya terlihat menyakitkan selagi tangan tersebut membentuk tangan lainnya dengan cahaya yang terkumpulkan dan menuju Ray yang berada di tengahnya.
“Kuargh!” Alexei memuntahkan darah yang cukup banyak, wajahnya sungguh menderita seolah umurnya bertambah dengan cepat.
“Raja Alexei!”
“Anda tidak perlu memaksakan diri begitu jauh!”
Mereka yang melindunginya menunjukkan kekhawatiran yang tidak perlu. Karena lebih dari apa pun Alexei adalah orang yang paling tidak menyukai belas kasih orang lain. Dirinya adalah penganut agama dan imam besar, rasa kasihan dari manusia tidak akan menghiburnya.
Dia hanya mengharapkan tidak pernah dikasihani oleh Dewa sekalipun, dia hanya menginginkan keselamatan di hari akhir nanti. Dia berharap ketaatannya mendapatkan balasan, hanya itu. Menyelamatkan Pahlawan sama artinya menyelamatkan dunia, jika dengan nyawanya Pahlawan akan terselamatkan maka dirinya yang layu mampu memberi kontribusi tambahan di hari tuanya.
“Kuargh! Haha, kepedulian kalian hanya melukaiku. Aku hanya terlalu tua dan mudah sakit-sakitan, jangan khawatirkan tentangku.”
Tekad kuat membara dari perkataannya, orang-orang yang memperhatikan hanya mengangguk dalam-dalam. Takut akan kematian, bila begitu adanya maka seseorang tidak sepatutnya ikut dalam peperangan yang kematiannya lebih besar dari pada keselamatan untuk hidup.
“Sekarang, akan kutarik kembali kesadaranmu. Sisanya aku yakin kamu bisa mengatasinya, Pahlawan Ray!”
Telapak cahaya mencapainya dada Ray, meresap ke dalamnya dan segera memberikan getaran kuat. Mata Ray bersinar akan cahaya setelah cahaya milik Alexei masuk. Getaran kemudian terjadi, Gunung Es terlihat memiliki retakan besar.
Di waktu bersamaan Alexis kehabisan tenaga, tangannya terjebak di dalam es dan dengan tekad tak tergoyahkan, Alexei dengan ringan memotong tangannya sendiri.
“Raja Alexei!” Seorang penyihir segera menghampiri dan menghentikan pendarahannya dengan sihir.
“Tenang saja. Satu atau dua lengan adalah pengorbanan kecil jika bisa menyelamatkan banyak nyawa manusia.”
Rasa sakit dari kehilangan Pahlawan akan menimbulkan lubang kekalahan yang besar bagi manusia. Alexei paham betul bahwa sekarang bukanlah waktunya untuk kehilangan Pahlawan lebih banyak. Dia sudah mendengar situasi di tempat lain dan memahami bahwa Pahlawan Petra tak bisa lagi bertarung, mudah menyebutnya gugur meski nyawanya terselamatkan.
Kehilangan Ray di tempat ini akan menjadi pukulan besar bagi tentara. Moralitas akan menurun drastis dan situasi di mana semua orang kehilangan semangat bertarung adalah hal yang paling harus dihindarkan.
“Sebaiknya menjauh dari tempat ini jika tidak ingin tertimpa.”
Mengikuti kata Alexei mereka menjauh dari Gunung Es yang terus bergetar dan retak. Menatapnya dari kejauhan, Gunung Es yang bergetar memunculkan kilatan seperti sayatan benda tajam. Gunung tersebut mulai terbelah menjadi potongan-potongan, tanpa terkecuali Regulus. Tubuhnya terpotong-potong dan kematiannya sudah dipastikan.
“Haargh!” Seseorang di tengah gunung yang hancur berteriak keras, Ray yang tubuhnya masih memiliki es dingin berteriak atas kemenangannya.
__ADS_1
Hal tersebut menaikkan moral dan membuat semua prajurit berbondong-bondong datang untuk melindungi juga memberikan pertolongan lebih lanjut.
“Tim Investigasi, laporkan berita ini, Bahwa Pahlawan Ray berhasil.” Perintah Alexei.
“Ya!”
“Dengan ini kekuatan dari pihak iblis menurun dengan pesat. Dari 12 Pilar hanya tersisa 7 Pilar Iblis saja, sementara Malaikat masih memiliki 11 Seraphim, satu dari mereka gugur sementara dua lainnya berhasil dilukai oleh Pahlawan Perisai dan Pahlawan Cakar. Dari pihak kita satu Pahlawan gugur, satu tak mampu bertarung, dan dua orang termasuk Pahlawan Ray membutuhkan perawatan.”
Ada 8 Pahlawan Suci yang masih mampu bertarung di medan peperangan. Bahkan masih ada yang sedang bertarung sengit dengan pihak lainnya. Konfrontasi takkan berakhir sekalipun mereka terluka, Alexei mengharapkan tak akan ada lagi kejadian buruk yang terjadi.
Namun harapan itu jelas mustahil karena dengan pergerakan Armageddon lebih teratur akan sulit untuk mempertahankan keuntungan selama ini. Dari kejauhan dia juga merasakan kekuatan kegelapan yang mengerikan. Awalnya berpikir berasal dari iblis, tetapi anehnya kekuatan tersebut berseteru dengan iblis dan malaikat.
“Raja Alexei, saya mendapatkan kabar bahwa di garis terdepan, Korps Hitam yang berada di bawah kendali Pahlawan Rigel sudah bergerak. Tentara Legion diminta mundur ke garis belakang!”
Kabar dari Tim Investigasi menjawab rasa penasarannya. Tetapi, dia tetap terkejut dengan Pahlawan Creator yang menggunakan kekuatan jahat di mana hal tersebut sangat berlawanan dengan gambaran seorang Pahlawan.
“Menarik mundur? Jadi begitu, aku memahami niat Pahlawan Rigel.” Alexei mengangguk-angguk kepalanya dan tidak merasa keputusan ini salah sama sekali.
“Apa anda menemukan sesuatu dari hal ini, Raja Alexei?” Tim Investigasi yang masih di dekatnya bertanya karena penasaran.
“Ya. Perhatikanlah, Armageddon lebih terorganisir saat bala bantuannya tiba. Ada sesuatu yang tampaknya mampu mengendalikan neraka sampai batas tertentu, dan karena kita tidak tahu apa itu maka mundur sementara adalah pilihan bijak. Belum lagi dari pihak iblis tidak ada tanda bala bantuan lain dan juga, pertempuran di sisi sana sangat mengkhawatirkan.”
Alexei menatap sebuah tempat yang jauh. Meski jaraknya sangat jauh mereka mampu melihat dengan jelas keberadaan tombak, tongkat dan cahaya saling berbenturan, menyebabkan gempa serta gunung meletus di sekitar sana.
Tidak diragukan lagi bahwa sejauh jalannya pertarungan ini, bentrokan di sanalah yang paling besar. Alexei mencoba membayangkan saat pertempuran akhir di kana pemimpin dari masing-masing pihak berbenturan. bahkan jika mereka menang perang, dunia ini tidak akan bertahan lebih lama.
“Selain itu, Kaisar Surgawi, Asoka. Beliau belum mengirimkan tentara lainnya. Maka artinya hanya ada dua hal yang kemungkinan terjadi. Antara senjata yang dibuat oleh Pahlawan Creator atau perlengkapan khusus akan datang.”
...*****...
Tempat lain dari lokasi Alexei. Sebuah tanah lapang yang memiliki lubang di banyak tempat akibat pukulan dari benda kuat yang juga keras.
“Hah ... Hah ... Hah ...”
“Kamu sungguh pria kuat yang menyedihkan. Aku jadi penasaran, apakah kamu sungguh ingin melawanku, atau hanya ingin merasakan kenikmatan surgawi dari kekuatanku? Aku tahu perasaanmu, tak sedikit orang yang datang untuk tujuan itu.” Capella tertawa dan menjilat jarinya dengan gelagat wanita dewasa.
Aland hanya diam selagi berusaha mengatur napasnya karena dia tahu dengan sangat nyawanya tidak akan lama lagi menghilang. Kekuatan pengaruh milik Capella telah mengambil begitu banyak energi kehidupan darinya.
“Umumnya manusia hanya mampu merasakan kenikmatan tersebut dalam beberapa menit saja. Tentu saja tidak ada kepuasan dan ada keinginan melakukannya lebih lama, merasakannya lebih sering. Karena mau bagaimanapun nafsu adalah yang mendorong kehidupan selama ini.”
Tanpa adanya nafsu kepada lawan jenis maka mudah untuk dibayangkan bahwa kehidupan akan lenyap seiring waktu. Makhluk hidup terutama manusia adalah yang paling sempurna karena memiliki segalanya. Berbeda dengan Malaikat yang tak memiliki dorongan apa pun, juga berbeda dengan iblis yang tidak memikirkan keinginan seperti itu selain menjadi kuat. Bahkan ada beberapa kasus iblis tidak mempunyai kelamin dan menjaga keberadaan rasnya dengan membuat benih sihir untuk melahirkan iblis.
“Setelah Adam diturunkan ke dunia ini, keberadaan Hawa mampu menjaga agar manusia tidak punah. Mereka berdua saling mencintai, berhubungan intim dan terus melahirkan anak. Siklus tersebut terus berlangsung sampai kini. Jika tidak ada siklus tersebut, maka tak mengejutkan bahwa manusia tidak mampu mempertahankan keberadaannya selama ribuan tahun lebih.”
Nafsu birahi adalah hasrat penting yang mendorong kehidupan manusia untuk terus ada, begitu yang berusaha disampaikan oleh Capella.
Aland hanya diam dan mendengarkannya tanpa mempedulikan. Selama Capella terus berbicara dia akan terus mengumpulkan tenaga untuk menghadapinya. Sekalipun kematiannya mendekat, dia akan bertarung dengan gagah sampai detik terakhir.
“Kamu sungguh menyedihkan, Pahlawan. Hanya merasakan kenikmatan dari kekuatan tanpa pernah mencicipinya langsung dengan seorang wanita. Sebagai imbalan karena telah menghiburku, aku bersedia melakukannya denganmu sebagai cara terbaik mengantarmu ke akhirat—”
“Hammer of Orion!”
Tanpa perlu menjawab atau menerima kebaikan Capella, Aland akan mencampakkannya dengan memberikan kematian kepadanya. Sekalipun dia menawarkan cara mati yang tidak menyakitkan namun Aland tidak akan mau jatuh serendah itu.
Palu raksasa terbang menuju Capella. Sontak hal itu membuatnya terkejut dan berusaha menghindar tetapi terlambat. Dia menyilangkan lengan, tubuhnya terhempas kuat dan menimbulkan retakan besar di tanah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Capella merasakan kemarahan besar di dadanya. Dia tak pernah mendapatkan penghinaan seperti ini sebelumnya.
“Kamu mencampakkan wanita cantik sepertiku, dan merusak wajah indahku. Tidak bisa dimaafkan, tak termaafkan dan tidak terampuni ... Matilah di sini!”
__ADS_1
Ekor keunguan muncul dan mulai menyerang Aland. Ekor yang bergerak seperti ular dan tidak akan pernah melepaskan mangsanya. Sejauh pertarungan ini Aland sudah sering menghadapinya sehingga dia menjadi terbiasa.
Jika dia mengenai ekor tersebut, Aland akan merasa lemas karena tubuhnya akan merasakan sebuah kenikmatan tertentu, yang berbahaya jika merasakan terlalu banyak. Selain pikirannya menjadi sempit dan tak mampu beroperasi dengan baik, tubuhnya akan secara fisik kelelahan dan menyebabkan kantuk berat.
Dia sudah tahu semua kekuatan Capella. Tidak peduli apa yang dia keluarkan, efek kekuatannya akan menimbulkan hal-hal yang berdampak pada nafsu. Aland memahaminya, dan karena dia memahami semua tak ada lagi kesulitan melawan Capella.
‘Tak ada kesulitan jika mengetahui kekuatan lawan. Tetapi, kekuatanku sudah mencapai titik terlemah.
Dia berada di titik di mana dirinya takkan mampu berlari dalam waktu yang lama. Menggerakkan palunya saja membuat lengannya terasa ingin copot. Namun tidak peduli apa yang terjadi, dia harus bergerak atau nyawanya akan berakhir begitu saja.
Mengacungkan palunya, Aland menciptakan palu raksasa yang terbuat dari cahaya untuk menghalau serangannya. Dia berhasil menahannya dan segera palu raksasa itu melesat menuju Capella.
Melompat jauh ke kiri, Capella berhasil menghindari. Dia membuka lebar mulutnya, cahaya ungu terkumpul dan ditembakkan menuju Aland yang tak bergeming lagi.
“Apa ini, akhirnya?” Aland berkata dalam kesunyian. Dia tak memiliki kekuatan untuk bergerak lagi dan satu serangan ini akan menghabisi nyawanya.
Dia teringat hari-hari di mana dirinya datang ke dunia ini. Meski dia menjadi yang paling tua dari para Pahlawan, nyatanya mereka mau menerima hal tersebut. Berbeda dengan waktu dia masih ada di bumi, pengalaman menyakiti yang menarik dirinya.
“Masih belum ... Belum boleh berakhir!”
Aland berteriak dan membuka matanya lebar-lebar, dia ingin menghadapi secara langsung kekuatan tersebut. Tetapi, bayangan lain datang menghampirinya.
“Star Shield!”
Perisai berbentuk bintang menahan serangan tersebut, pria berambut hitam dengan wajah muda yang familiar membuat Aland terkejut.
“Hahaha ... Syukur kamu datang.” Aland tertawa kering karena kehadiran pria itu akan memberikan kemungkinan menang lebih tinggi dari sebelumnya.
“Maafkan aku karena terlambat, Aland!” Hazama yang bicara, dia berhasil menghentikan kekuatan Capella sepenuhnya dan melihat kondisi Aland.
“Tubuhmu ... bahkan lebih kerempeng dari Ray. Apa saja yang terjadi?”
“Ada banyak hal. Kekuatan pengaruh yang menarik nafsu juga energi kehidupan, wajar kondisiku seperti ini karena tidak ada cara bagiku menghindarinya. Masa hidupku mungkin hanya tersisa kurang dari satu atau dua tahun.”
Hazama memberikan wajah yang terlihat menyesal dan tak terima. Hal tersebut menunjukkan betapa jelasnya bahwa dia menyalakan diri sendiri atas apa yang terjadi kepada Aland.
“Kamu tak perlu merasa seperti itu, Hazama. Kehidupan di dunia ini sudah memuaskanku. Bahkan jika harus mati sekarang, aku akan merelakannya. Namun, hal tersebut akan terjadi jika aku berhasil membawa iblis itu bersamaku.” Tatapannya beralih kepada Capella, lawan yang harus diberikan perhatian lebih.
Hazama menggigit bibirnya dan mengalihkan pikirannya. Dia tahu bahwa sejak awal Aland bermaksud menerima semuanya. Menjauhkan diri dari medan perang di mana bantuan sulit datang akan merugikannya. Tetapi membiarkan Capella berada di dekat tentara Legion akan sangat merugikan dan mengurangi momentum yang mereka pegang saat ini.
Dari hal tersebut cukup mudah bagi siapapun menduga bahwa Aland bersedia untuk mati. Dan agar tidak melukai hatinya tersebut, Hazama harus mengerahkan kekuatannya untuk mengirim Capella menuju kematian.
“Terus saja berdatangan, mengganggu, tidak ada habisnya. Ah, ah, AHHH! Sudah kuduga bahwa sebaiknya manusia mati saja!” Capella menarik rambutnya dengan gila saat sesuatu mulai keluar dari dalam bayangannya.
“Apa kalian tahu, bahwa kami Succubus adalah kesukaan para pria karena memiliki tubuh aduhai yang membuat kalian ingin menyentuhnya? Karena mau bagaimanapun kami adalah perwujudan nafsu birahi.” Capella menatap Aland dan Hazama, wajahnya segera merona bersamaan dengan para Succubus yang keluar.
Wajah mereka seperti wanita yang ingi menyerang mangsanya, bagi beberapa orang mungkin kondisi ini disebut ‘Harem’ namun di satu sisi ada bagian yang menyeramkan jika menyangkut Succubus.
“Dan karena kamu perwujudan dari kenafsuan, secara alami. Para Succubus adalah musuh alami bagi pria. Kamu tahu apa jadinya, kan? Bahwa secara bergantian, aku dan anak-anakku akan menghisap kalian sampai kering!” Wajah tersebut sungguh sulit diungkapkan, wajah penuh nafsu yang seharusnya tak dimiliki oleh wanita.
Melihat kondisi itu, baik Hazama dan Aland tidaklah tergoda. Mereka merasa keringat dingin mengucur dari punggung. Mungkin ini akan menjadi kali pertama mereka menolak melakukan hubungan luar biasa dan juga menolak surga bernama 'Harem'.
“Mau itu Harem, haram atau dikelilingi banyak gadis. Selama itu kalian maaf aku akan menolaknya dengan sangat. Di samping hal itu, kondisi ini termasuk dalam keadaan yang membuatku terdesak, kan?” Hazama tersenyum berani dan mengambilnya langkah melindungi.
Senyumannya semakin besar saat melihat sesuatu aktif di pengelihatannya, juga peningkatan pesat dari semua statistik yang dia miliki, “Increase Stat ... Aktif.”
Selagi melihat angka-angka yang terus naik, Hazama mengambil potion yang dia miliki. Dia berpikir untuk memberikan potion dari Rigel namun sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Minumlah ini, Aland. Aku akan mengulur waktu sampai kekuatanmu sedikit dipulihkan.”
__ADS_1
“Haha, Terima kasih. Jika bisa jangan menggila tanpaku.”
Hazama tersenyum kecil, dia menurunkan titik gravitasi tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di balik Perisai. Dia menyisakan ruang untuk melihat keadaan lawan dari balik Perisainya, “Mari kita mulai, pertarungan hebatnya.”