
Priscilla yang terbang menjauh dari tempat Rigel mencapai tempat para Pahlawan yang dimaksud. Dia tidak pernah mengetahui di mana mereka berada, tetapi dia dapat merasakan kehadiran mereka.
Satu orang sekarat tidak diragukan nyawanya tidak bisa diselamatkan, yang lainnya tidak bisa dibilang baik-baik saja. Ada tiga orang yang nampaknya adalah Pahlawan memiliki luka parah dan dua diantaranya berselimutkan kutukan.
“Siapa kau?!” Wanita yang menggunakan panah menarik tali busurnya, berwaspada akan kedatangan Priscilla.
Dari yang terlihat senjatanya tidak biasa dan Priscilla langsung tahu bahwa dia adalah Pahlawan panas. Uniknya, Priscilla begitu terguncang dengan gadis panah tersebut, ada hal yang membuatnya bingung.
Tentunya ini bukan pertama kali dia melihat Pahlawan. Priscilla pernah bertemu Pahlawan generasi sebelumnya dan karena itu dia langsung mengetahui bentuk senjata mereka. Namun...
“Bellatrix? Apa yang kamu lakukan di sini dan kamu masih hidup? Berapa tahun sudah berlalu?” Tanya Priscilla terheran-heran.
Wajahnya begitu identik dengan orang yang dia kenal di masa lalu, gadis yang seharusnya tidak ada di generasi sekarang ini. Tidak, atau mungkin sebenarnya waktu tidak berlalu banyak selama dia tertidur di perut Tortoise?
Namun Priscilla begitu yakin bahwa itu tidak mungkin karena ada beberapa Pahlawan yang tidak seperti di masa lalu. Terutama Rigel Pahlawan Creator, di masa lalu sesuatu seperti itu tidaklah ada.
Mendengar dirinya di panggil dengan nama orang lain, Yuri tertegun karena suatu hal. Bukan karena wajah gadis itu, dia sama sekali tidak mengenalnya, tetapi nama yang dia sebutkan.
‘Apa mungkin hanya kebetulan saja?’ Yuri memutuskan mengalihkan pikirannya.
“Apa yang kamu maksud? Namaku Yuri, bukan Bellatrix. Sepertinya kamu salah mengenali orang.” Dia sedikit terganggu akan nama itu namun tidak membahasnya lebih jauh begitu menyadari dia bukanlah musuh.
Memangnya orang bodoh mana yang mau menghampiri Pahlawan? Penampilannya juga bukan seorang iblis atau malaikat. Cukup mudah ditebak dari sayap kupu-kupunya yang indah bahwa dia seorang peri.
“Y-begitu ya, aku salah mengenali. Kamu sangat mirip dengannya.” Priscilla menepuk jidatnya, kepala dan hatinya begitu kacau sampai akalnya tidak berjalan dengan baik. “Lagipula mana mungkin dia masih hidup.” Gumam Priscilla.
“Mari lewatkan perkenalan terlebih dahulu. Dari arahmu datang, kamu dari tempat Rigel, apa yang sedang terjadi?” Tanya Marcel ketika berjalan tertatih-tatih dengan bantuan sabitnya.
__ADS_1
“Ya, untuk sekarang Rigel menyuruh kita menjauh. Mari kita segera—” Priscilla tersedak oleh kata-katanya sendiri.
Hawa kehadiran Michael perlahan menghilang dari tempat ini. Dia tidak tahu apa yang terjadi, pemikiran bahwa Rigel membunuhnya adalah apa yang terlintas dalam benak.
Itu lebih cepat dari yang dia harapkan bahwa Rigel mengabulkan janjinya. Namun segera pemikirannya disangkal oleh fakta bahwa Lucifer beserta Pilar Iblisnya menghilang dari lokasi.
Tempat para naga berada yang kini menjadi kuburan mereka benar-benar hancur total. Meskipun ada bantuan peri yang mampu memulihkan alam, namun serangan kiat Sylph sebelumnya berdampak lebih buruk dari yang terpikirkan.
Dunia ini kehilangan separuh kemampuan untuk menumbuhkan tumbuhan, semuanya kini tidak sama seperti dulu kala. Akan butuh upaya lebih bagi para petani menjaga tumbuhan yang mereka rawat untuk tetap hidup.
Dalam beberapa abad ke depan, tidak mengejutkan bahwa dunia ini akan kehilangan tumbuhan dan yang terburuk, para peri akan punah dari muka bumi.
Mengesampingkan hal itu, hawa kehadiran Rigel yang sangat kuat kian menipis dan hampir tidak dapat dirasakan lagi.
“Pahlawan Rigel, hawa keberadaannya mengecil!” Bukan Priscilla, tetapi Alexei adalah yang pertama kali menyerukannya.
“Kita bergegas ke tempat Rigel!” Marcel berniat memaksakan diri sebelum kehilangan keseimbangan.
Nadia yang masih sanggup berdiri segera menahan dan memapah tubuhnya. Meski wajahnya yang cantik memiliki beberapa luka yang pasti akan membekas, entah bagaimana dia tidak begitu khawatir akan wajahnya.
“Kamu sudah sangat babak belur, tidak perlu menambahkan orang untuk dirawat.” Nadia memperingatkan.
Melihat sekitarnya, hampir semua Pahlawan sangat kewalahan. Terutama tiga orang di sini yang berperan besar dalam pertarungan. Mereka adalah Hazama, Takumi dan Ozaru.
Marcel hanya diam dan mengangguk tanpa melawan dengan keras. Lagipula faktanya tidak enak dipandang jika ada semakin banyak Pahlawan yang terluka. Entah seperti apa reaksi umat manusia ketika mengetahui mereka babak belur bahkan ketika perang belum benar-benar dimulai.
“Biar saya saja yang pergi ke tempat Pahlawan Rigel. Dengan sihir spatial, cukup mudah membawanya pergi ke Region jika diperlukan.” Natalia angkat bicara dan berinisiatif melakukannya.
__ADS_1
Dengan buku di tangannya dia membaca beberapa kata dan gerbang muncul di depannya. Sungguh meski tidak seperti teleportasi, spatial termasuk sihir transportasi paling nyaman untuk digunakan.
“Aku ikut denganmu.” Priscilla mengambil langkah menuju Natalia, tetapi langkahnya dihentikan oleh Yuri.
Tidak hanya Yuri, tetapi Ray, Merial dan Kandidat Kaisar menghalangi jalannya menuju Natalia. Tindakannya tidak dapat dimengerti, tetapi sedikit banyak bisa ditebak.
“Jangan melangkah lebih jauh, tetaplah di sini dalam pengawasanku. Identitasmu masih tidak jelas. Sampai Rigel atau Ratu peri sendiri yang memastikan mereka mengenalimu, kamu tidak akan lepas dari pengawasan kami.” Yuri tidak mengendurkan tali busurnya dan menatap tajam.
Begitu Priscilla mndengar kata ‘Ratu peri’ membuat air mata yang sebelumnya mengering kembali banjir selayaknya ombak kuat menerjang. Tidak hanya itu, tubuhnya yang dewasa perlahan menjadi seukuran gadis kecil seiring dengan sayapnya menghilang.
Hal itu disebabkan karena kekuatannya habis, saat mendekati kekosongan maka tubuhnya akan menjadi gadis kecil. Sebagai satu-satunya manusia setengah peri, hal ini tidak bisa dihindari.
“D-dia mengecil?!” Yuri terkejut bukan main melihatnya, wajahnya tampak bermasalah.
Hal itu membuat Yuri dan yang lainnya heran dengan keanehan tersebut. Mereka saling memandang dengan harapan seseorang mengetahuinya, namun hasilnya adalah gelengan kepala.
“Ibu— Ratu Peri, sudah tiada ... Meninggalkanku, sendirian.” Priscilla menangis sejadi-jadinya hingga berlutut di tanah.
Bohong jika kesedihannya hilang dengan mudah, menipu diri jika dia berusaha tidak menangisinya dalam waktu yang lama. Tidak peduli siapa dan apa, mahkluk hidup akan menangis ketika orang terkasihnya tiada, terutama seorang Ibu.
“Ratu peri telah tiada? Kamu pasti bercanda! Ratu dari kehidupan tidak akan mati semudah itu!” Alexei, sebagai pendeta tertinggi menyangkal keras.
Dia mungkin tidak memiliki hubungan apapun dengan Ratu peri. Namun di agama Ruberios Ratu peri adalah perwujudan dari ciptaan suci yang ditugaskan melindungi alam bersama dengan Pohon Roh.
Jika perwujudan dari alam itu sendiri tiada, lantas apa yang akan terjadi? Alam akan musnah, bencana tak terhindarkan. Yang terburuk adalah kehidupan akan musnah.
“Dia bilang Ibu, apa mungkin gadis itu putrinya yang mengorbankan diri untuk menyegel Tortoise?” Ujar Nadia dengan terkejut.
__ADS_1
Peristiwa menaklukkan Tortoise masih segar di dalam ingatannya. Dia ingat ada sesuatu seperti itu, maka berarti gadis itu tidak perlu diragukan lagi identitasnya.