
Dari luar wilayah Teritory, Diablo dan Regulus diam membeku lantaran berpikir untuk tindakan seperti apa yang akan mereka ambil.
“Apa yang harus kita lakukan, mungkinkah kita juga harus masuk ke dalamnya dan bertempur? Aku yakin yang masuk adalah pengganti Sylph dan Pahlawan dengan cakar.” Regulus mendarat di tanah dan menyentuh lapisan luar Teritory tersebut.
Diablo diam sejenak sebelum tersenyum jahat dan mengambil keputusan, “Tidak, kita tidak harus merepotkan diri bertarung dengan mereka. Kamu seharusnya tahu bahwa Kemuel dan Rafael sulit ditaklukkan.”
Mendengar perkataan Diablo membuatnya berpikir sejenak, dia telah mengenal Diablo dalam waktu lama dan apapun yang dia pikirkan pasti mengarah ke hal licik dan keji, maka Regulus paham apa yang dimaksud Diablo.
“Ah~, lumayan juga pemikiranmu, Diablo. Membiarkan mereka bertarung dan entah siapa yang keluar sebagai pemenang kita akan menghabisinya segera, tentunya mereka takkan keluar dengan sedikit luka.” Regulus tersenyum lebar dan mengangguk.
Tidak peduli siapa yang keluar sebagai pemenang karena baik itu Ratu peri, Pahlawan atau Seraphim memiliki kekuatan yang tidak kecil, dengan membiarkan orang-orang itu bertarung sementara mereka menunggu adalah pilihan yang bagus, Regulus dan Diablo hanya perlu membunuh mereka yang keluar sebagai pemenang di waktu mereka kelelahan.
“Ya, untuk berjaga-jaga kita pasang pelindung yang menghalangi sihir teleportasi dan telepati.” Diablo memberikan perintah ke bangsawan iblis yang menunggu di belakangnya.
Salah satu dari bangsawan iblis datang kepadanya, “Tuan Diablo, maaf atas kelancangan ini namun bisakah anda memberi perintah kepada kami untuk membunuh keparat malaikat itu? Tanpa Seraphim yang memerintah mereka hanya patung hidup.”
“Hahaha, kuizinkan. Bunuh mereka semua!”
Selain Seraphim dan malaikat tertinggi, malaikat yang lainnya tidak memiliki emosi atau kehendak, mereka seperti budak yang hanya menuruti tuannya. Makan bila disuruh makan dan bertertempur saat disuruh, tanpa perintah Kemuel dan Rafael mereka hanya akan diam dan menunggu giliran untuk dibunuh.
Para iblis terbang dengan liar dan membunuh malaikat satu-persatu. Dimulai dari mengoyak, mutilasi, cincang hingga memakannya dilakukan oleh para iblis.
Diablo dan Regulus hanya menunggu di luar Teritory selagi berwaspada, mereka tak berniat membunuh Armageddon karena tak ada kepuasan melawan mereka yang berdiam saja.
...***...
Di dalam Teritory medan tempur dibagi menjadi dua sesuai rencana yang dirancang Priscilla, menghadapi dua secara bersamaan adalah hal merepotkan dan pilihan terbaik adalah dengan memisahkan mereka.
Bagian barat Teritory terdapat Priscilla yang menghadapi Rafael sementara sisi timur Nadia menghadapi Kemuel.
__ADS_1
“Kamu bukan Sylph, juga bukan anaknya. Sepertinya entah bagaimana kamu menerima berkah darinya dan terjalin hubungan batin, tak mengejutkan kekuatannya diturunkan kepadamu.” Rafael menunjukkan ketidaksenangannya.
Priscilla tersenyum, “Ya, meski begitu tak semuanya menurun padaku.”
Priscilla segera mengarahkan hutan untuk menyerang Rafael. Dimulai dari pepohonan, daun, hingga roh hutan menyerang Rafael dari berbagai sisi.
Meski terlihat lemah nyatanya Rafael mampu menghindari semua serangan dengan baik, Priscilla merasa penasaran bagaimana dia mampu bereaksi dengan matanya yang terpejam.
“Kamu memiliki refleks yang bagus namun bagaimana dengan ini, Fairyfire!” Bola api keunguan melesat dalam jangkauan luas, Priscilla segera mengeluarkan sayapnya dan berpindah dari tempatnya berada.
Rafael tak banyak melakukan usaha, dia hanya memutar tongkatnya, cahaya keemasan muncul dan menahan serangan Priscilla.
“Jangan merasa tinggi, campuran.” Rafael mengayunkan tongkatnya dengan liar, cahaya berbentuk bilah melesat dan memotong tumbuhan selagi mengejar Priscilla.
Priscilla terbang dan berputar-putar di udara untuk menghindari runtunan serangan tersebut, dia merasa cukup geram karena tak memiliki langkah pencegahan apapun untuk saat ini.
Alasannya bertempur di sini karena hutang yang ditinggalkan Sylph kepada Rigel dan belum terbayarkan, sebagai orang yang menggantikan Sylph maka Priscilla berkewajiban memenuhinya.
Rigel tentunya memberikan pilihan yang tidak sulit. Dia meminta Priscilla untuk bertarung beberapa kali untuk mengulur waktu karena Rigel serta Pahlawan lain memiliki persiapan tertentu.
Salah satunya adalah Nadia yang selama dua minggu belakangan ini bertapa mengumpulkan mana alam dan hasilnya adalah transformasi sekarang ini.
“Aku tak tahu apa yang terjadi namun sepertinya kunjungan mereka ke Batu Ramalan menghasilkan sesuatu.” Priscilla yakin mereka menyembunyikan sesuatu diantara mereka.
“Sebaiknya kamu lebih memikirkan keselamatan nyawamu!” Rafael mengejar di belakang, dia mengambil ancang-ancang melempar tongkatnya, “Shine The Sky!”
Tongkat keemasan tersebut melintasi langit dan diam membeku, segera cahaya menyilaukan muncul darinya dan memberikan gelombang kejut berupa cahaya yang berkedip.
Priscilla menatapnya dengan penasaran karena baginya hal tersebut cukup misterius dan karena dia tidak tahu hal tersebut menjadi sangat menakutkan.
__ADS_1
“Apa yang dia coba lakukan ...”
Seolah menjawab pertanyaan Priscilla, langit dan bumi mulai bergetar, tongkat tersebut bersinar terang dan hampir menjadi seperti matahari kecil tanpa panas yang hanya menyilaukan.
“Ratakan Teritory dan segala mahkluk rendahan ... Fall The Light.”
Hujan bilah dengan gagang matahari memenuhi lokasi Teritory, Priscilla yakin bahwa ke manapun dia mencoba terbang tidak akan ada jalan untuk keluar dari situasi tersebut, bahkan Nadia dan Kemuel yang bertarung sengit berhenti dan menatap ribuan bilah tersebut.
“Sepertinya gadis di sana lumayan hebat karena membuat Rafael menggunakan kekuatannya. Namun bagaimana kalian mengatasinya? Sebagai malaikat cahaya takkan membunuhku.” Kemuel tersenyum bangga, dirinya berada di atas angin karena yakin akan kemenangannya.
Nadia terlihat berkeringat dan penasaran apa yang tengah dilalui gadis itu, dia sedikit khawatir bahwa Priscilla akan tetap baik-baik saja meski tugasnya hanya untuk mengulur waktu.
‘Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin,namun tetap saja membunuhnya lebih sulit dari yang kubayangkan.’
Rencana awal para Pahlawan adalah membunuh pertahanan terkuat yang dimiliki malaikat yaitu Kemuel si Penjaga Gerbang Langit. Gelar tersebut juga bukan omong kosong karena nyatanya tak mudah memberikan luka kepadanya.
Kembali ke pertarungan yang sedang berlangsung, Priscilla mulai mengumpulkan mana alam dengan kedua tangannya dan berniat menghancurkan serangan tersebut.
“Kamu pikir aku akan diam? Jangan harap!” Rafael mulai memberikan gangguan dengan melesat maju dan menyerang Priscilla dengan tangan kosong.
Priscilla mendecakkan lidahnya, dia menggunakan angin dan menghempaskan dirinya sendiri untuk menciptakan satu kesempatan melakukan serangannya.
“Jika langit bertahan berkat bimbingan alam, maka alam adalah ibu yang menjaga alam semesta ...” Cahaya kehijauan bersinar dari kedua tangannya dan membentuk benih pohon seukuran genggaman tangan, “Dunia ini berbentuk sebuah pohon!”
Priscilla melemparkan benih tersebut ke pusat dari serangan Rafael, bersamaan dengan lemparannya bilah-bilah cahaya turun bagaikan hujan sementara benih tersebut tetap menerjang ke pusatnya, letak tongkat Rafael berada.
Priscilla tidak bertindak apapun untuk melindungi dirinya dari hujan bilah tersebut, dia hanya diam membeku menatap benih pohon yang dia lemparkan.
Saat benih dan tongkat tersebut bebenturan, cahaya hijau yang melambangkan pohon beringin raksasa muncul dan setelahnya akar-akar raksasa menjalar menyerap segala energi, baik itu Teritory atau cahaya yang digunakan Rafael untuk menyerang.
__ADS_1