
“Aku pernah mendengar rasi Orion. Yang itukan, yang itu?” Dengan wajah yang tampak sok tahu, Takumi menganggap dirinya tahu pada kenyataannya tidak.
“Yah aku pernah mendengarnya dari sebuah film. Namun tak kuduga bahwa Batu Ramalan akan memposisikan tempat yang sama dengan rasi tersebut.” Yuri menggaruk pelipisnya dengan canggung, “Jadi kamu sudah menemukan lokasi dua lainnya?”
Rigel dan Petra tak langsung menjawab, menatap peta di depan mereka dan mencari lokasi pasti. Kesulitannya barulah dimulai dari sini. Dunia ini luas dan sulit mencari lokasi pasti.
“Coba ukur berapa jarak dari titik satu ke satu lain menggunakan penggaris ini.” Melambaikan tangan dengan dramatis Rigel menciptakan penggaris besi semudah bernapas dan menyerahkannya ke Petra.
Tidak langsung menurutinya melainkan dia diam menatap penggaris dengan bermasalah, “Selain benci tomat aku juga benci menghitung.”
Tampak jelas dari betapa enggannya dia melakukannya dari ekspresi. Rigel tak tahu apanya yang sulit dari menghitungnya, lagipula dia tak benar-benar harus menghitung, hanya perlu mengukur.
Mendengar hal tersebut semua orang hanya menghela napas, bahkan Hazama yang ada di sisinya menepuk jidat lelah. Segera dia berinisiatif dan melakukan pengukuran segera.
Menurut Hazama jarak dari Batu Ramalan tidak berbeda jauh. Dia juga menghitung jarak diantara batu yang ada di kerajaan dan faktanya mereka memiliki jarak tak banding jauh.
Maka dengan itu mudah menentukan lokasi dua lainnya, saat Rigel memberikan titik di mana dua batu tersebut berada, entah mengapa wajah Ray dan Merial memburuk.
“Ada apa dengan kalian? Wajah kalian seperti sedang melihat hantu.” Marcel menyadari perubahan wajah mereka yang memburuk.
Entah apa yang mereka pikirkan jelas bahwa ada hubungannya dengan dua titik yang Rigel gambarkan. Mereka tak segera mengatakan apapun dan karena itu Rigel memilih mencari tahunya sendiri dengan melihat peta.
“Dari yang tertulis di peta, tempat ini menyebutkan padang gurun dan pulau es? Memang lokasi yang cukup ekstrim namun apa masalahnya? Dengan kemampuan dan persediaan yang bisa kusediakan.”
__ADS_1
Seharusnya tak ada masalah berarti persoalan ini. Padang gurun bisa dilalui dengan mudah menggunakan mobil sementara es mustahil menggunakan mobil, masih ada monster yang bisa dikendarai. Suhu dinginnya juga dapat diatasi karena masih ada jubah Salamander.
“Tentunya perbekalan dan jarak yang ditempuh tidak akan ada masalah. Justru dengan kemampuan para Pahlawan yang sekarang, monster di sana bukan apa-apa meski jumlahnya cukup tidak masuk akal.” Ray tidak menyangkal bahwa dengan semua teknologi Rigel perjalanan akan mudah.
“Masalahnya adalah dua tempat itu sangat tertutup. Aku yakin kamu ingat tentang Iceland, benda sihir yang sulit didapatkan di sini namun bila di pulau es, benda itu bukan sesuatu yang spesial.” Merial menambahkan.
Rigel ingat betul Iceland lantaran penaklukan Hydra akan sulit tanpanya. Memang benda itu sulit didapatkan. Bahkan ketika penaklukan Phoenix benda itu tak ada. Takkan aneh menyebutnya sebagai benda yang hanya ada satu dalam kehidupan.
Namun siapa yang menduga bila ada banyak darinya di pulau es, maka kesempatan semacam ini tak bisa dilewati begitu saja.
“Tertutup? Bahkan sekalipun dunia telah bersatu, mereka masih menutup diri??” Tanya Aland yang tak memahami alasan.
“Ya. Aku sendiri tak tahu apa alasannya namun fakta bahwa mereka menolak keras orang luar.” Ray menjawab pertanyaan Aland.
“Sekiranya aku tahu sedikit soal tempat itu.” Orang tak terduga, Takumi angkat bicara, “Dalam pengembaraanku dua tahun, aku pergi ke tempat itu. Dan seperti kata Ray, jumlah monster di sana amat tidak masuk akal namun menguntungkan bagi kita untuk leveling.”
Maka masuk akal bahwa Takumi mampu meningkatkan levelnya dengan luar biasa meski mendapat pemotongan level. Sepertinya ada banyak hal yang masih tak Rigel ketahui selama dua tahun dia menghilang.
Diantara para Pahlawan kemungkinan hanya Takumi yang telah menjelajahi banyak tempat yang tak terjamah.
“Berapa besar kesulitan monster di tempat itu? Dan apakah mereka menutup diri ada hubungannya dengan monster?” Tanya Yuri.
“Jika harus diibaratkan mereka sekelas dengan Wyvern, yang terlemah sama kuatnya dengan Black Viper. Namun yang menjadikan pertarungan sulit adalah jumlah dan betapa melelahkannya bergerak di cuaca panas.” Takumi membuat wajah menyakitkan saat mengingat hari seperti neraka tersebut, “Aku pernah bertemu penduduk asli sana, dan alasan mereka menutup diri bisa terbilang cukup rumit.”
__ADS_1
Jika itu tempat gersang di mana tumbuhan takkan bisa hidup dan hujan takkan menciptakan banjir, maka alasannya mampu Rigel tebak. Krisis semacam ini tampak ada di manapun mereka berada, bahkan bumi tak luput dari hal ini.
“Tempat itu sangat krisis akan makanan dan minuman. Pemimpinnya korup, dia mengisolasi tempat itu lantaran takut dilengserkan dari tempatnya serta dimintai kerja sama untuk Ragnarok kelak. Dan juga, citra Pahlawan bagi mereka amat rendah, sekelas dengan pencuri.”
Semua orang hanya diam dan mengernyitkan alis. Kali pertama bagi mereka mengetahui bahwa ada orang-orang yang menganggap Pahlawan sebagai rendah.
Yuri dan Pahlawan lain mungkin merasa terhina. Mereka telah bertarung mempertaruhkan nyawa untuk dunia ini dan orang-orang itu merendahkan mereka?
“Mereka tidak tahu terima kasih! Memangnya berapa banyak nyawa kita hampir hilang untuk melindungi dunia ini?!” Marcel mengumpat keras, di sisi lain semuanya mengangguk setuju terkecuali Takumi dan Rigel.
Sebagai orang yang telah melihat kondisi dunia ini hingga tempat terpencil, Takumi memiliki wawasan dan pandangan cukup luas. Sementara Rigel sejak awal tak peduli mau dianggap Pahlawan atau bukan lantaran dia membuang gelar konyol itu.
“Kupikir itu kewajaran. Apapun yang kita lakukan di tempat ini takkan mencapai mereka. Sejak awal krisis mereka bukan Malapetaka atau Ragnarok. Baik perang dimenangkan atau tidak, masalah mereka takkan selesai.”
Seperti kata Takumi bahwa apapun yang dilakukan para Pahlawan, sisi lain dari dunia takkan berdampak apapun.
“Sejak awal masalah mereka adalah air, makanan dan pemimpinnya, ya. Mereka mungkin telah mengharapkan kehadiran Pahlawan namun telah lama dikecewakan. Tak pantas bagi kalian marah hanya karena citra pahlawan di mata mereka tak ada artinya.”
Orang yang telah lama menderita dan mengharapkan kehadiran Pahlawan hanya untuk dikhianati. Mereka pasti telah jatuh ke titik di mana membunuh sesamanya untuk bertahan hidup diperbolehkan.
“Ya, dan karena itu hanya ada dua cara bagi kita memasuki kedua tempat ini.” Ray menyebutkan hal yang tentunya diketahui semua orang, “Datang baik-baik dan menyelesaikan masalah mereka—”
Dengan perkataan gantung, Rigel menyela dan melanjutkannya.
__ADS_1
“—atau datang dengan paksa dan kekerasan.”