Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 60 — Perang Besar Ragnarok V


__ADS_3

Teritory yang dia buat hancur dan disertai cahaya buatan Rafael lenyap terhisap, benih pohon itu mulai membesar dan berubah menjadi pohon raksasa. Seakan tak cukup energi pohon tersebut menyerap mayat iblis dan malaikat yang berserakan, tubuh yang terserap berubah menjadi partikel cahaya.


“Kekuatan apa ini?” Bahkan Rafael tak memahami kekuatan tersebut, kali ini adalah pengalaman pertamanya melihat hal itu.


“Pohon yang terlahir dari dendam dan kebencian, pohon yang akan menyerap energi dan menghasilkan energi, pohon yang tidak akan berhenti tumbuh, Shinju!”


Di tengah medan perang yang penuh darah pohon besar tumbuh subur dan ketinggiannya mencapai langit, cabangnya mulai menumbuhkan dedaunan hijau yang indah.


Pada momen berharga tersebut Priscilla menyerap kekuatan yang dihasilkan pohon Shinju, matanya bercahaya dan tubuhnya mulai mengeluarkan aura menakutkan.


“Ini hadiah dariku padamu ...” Priscilla mengangkat tinggi kedua tangannya, bola energi berkekuatan besar terbentuk dan tampak tidak stabil.


Rafaela memanggil kembali tongkatnya dan mulai mengumpulkan energi cahaya dalam jumlah besar, meski tahu bahwa pasukan malaikat tampak sedang dibantai namun dirinya lebih tertarik membunuh Priscilla saat ini.


“Sepertinya rencana kita gagal untuk menunggu mereka kelelahan, bahkan kini pertarungan sangatlah sengit, haruskah kita bergabung?” Regulus memainkan jarinya, aura biru tua dan udara dingin membekukan tempatnya berdiri.


Diablo ikut tersenyum dan mengeluarkan aura kemerahan yang memberikan keptusasaan , dia memanjangkan cakar-cakarannya senantiasa menunggu mencabik lawannya.


“Jangan bicara lagi!” Diablo melesat cepat dan berusaha menyerang Priscilla, akan tetapi dia merasakan bahaya datang dengan kecepatan tinggi, begitu juga Regulus, mereka segera menghentikan langkah.


Sabit raksasa dan ratusan belati api melesat menuju mereka, serangannya sendiri amat mudah dihindari namun diikuti olehnya tiga orang Pahlawan langsung menerjang mereka.


Diablo berbenturan dengan Marcel dan lain sisi Regulus dengan Ray, sementara Hazama mengamati situasinya dan menemukan dua pertarungan lain sudah memanas.


“Gadis peri!” Hazama hendak melakukan sesuatu namun mengurungkan niatnya begitu mereka membenturkan serangan.


“Cahayamu takkan membawa arti!” Priscilla melemparkan serangannya sepertu laser.


“Mari lihat!” Rafael mengulurkan tongkatnya dan menembakkan sinar yang sama.

__ADS_1


Keemasan dan ungu berbenturan dengan kehancuran yang membentuk kawah, selama bentrokan yang berlangsung beberapa menit tersebut menciptakan gempa yang dahsyat, pada akhirnya tidak ada pemenang atau pecundang karena mereka berimbang.


Hazama ingin bersyukur belum ada yang mati dan kekhawatiran Rigel sebelumnya tidak perlu dikhawatirkan lagi. Justru ada hal lain yang perlu mendapatkan perhatian, pertarungan antara Kemuel dan Nadia tampak sangat kritis.


***


“Calamitiy Claw!” Tebasan kemerahan dilepaskan dan terbang bebas menuju Kemuel


“Shield — One Hand!!” Dia menciptakan perisai dengan satu tangannya dan segera melesat menuju Nadia untuk memberikan pukulan.


Dengan wujud transformasi tersebut Nadia tidak mudah untuk dikejar, ditambah dengan skill yang dia dapat dari menyerap bahwa White Tiger membuatnya tak bisa diremehkan soal kecepatan.


“Cursed Slash!” Nadia mengiris tangan Kemuel namun dengan perisai anehnya tersebut dia tak berhasil memberikan luka.


Nadia mendecakkan lidahnya dan bergegas lari dengan gesit mengelilingi Kemuel untuk ancang-ancang menyerang dengan kecepatan tinggi.


“Kamu hewan yang merepotkan, bagaimana jika mati saja!” Kemuel memukul udara dan di arah lintasannya angin kencang berbentuk tinju menghantam tanah.


“Itu pasti akan terjadi namun tidak hari ini atau sebelum dirimu! Beastclaw — Tiger!” Nadia menyilangkan cakarnya dan melompat langsung menyerang kepala Kemuel.


CTANG!


Bunyi dentingan logam beradu terdengar keras, Kemuel awalnya cukup percaya diri mampu mengatasi semua serangan Nadia namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia memiliki darah.


“Heaven Aura!” Dia mendorong Nadia menjauh dengan berteriak dan mengeluarkan aura keemasan diseluruh tubuhnya.


Nadia berhasil menghindar tanpa terluka, dengan napas yang sedikit terengah-engah dia tersenyum bangga, “Merpati kecil tampaknya merasa takut bahwa perangkap yang dia remehkan mampu melukainya.”


Meski hanya sedikit Nadia mampu menusuk leher Kemuel dan membuatkan keran darah mengalir darinya, lukanya tentu hanya sedikit namun cukup untuk memberikan gertakan kuat.

__ADS_1


“Begitu, ya. Faktanya bahwa aku mampu menahan segala jenis serangan seharusnya cukup membuat buntu pikiranmu, namun siapa yang menduga bahwa Pahlawan yang kotor sekalipun mampu memahami energi alam?” Kemuel menunjukkan ketidaksenangannya, “Hanya ada satu unsur yang mampu memberiku luka yaitu energi alam.” Tambahnya.


Nadia tersenyum karena dia sendiri hampir tak tahu apa itu energi alam. Dia telah mendengarnya sejak penaklukan Tortoise namun tidak benar-benar mengerti, baru saat Rigel mengajarkan mereka pengetahuan tertentu dia memahami apa itu energi alam.


“Seperti yang diharapkan, bahkan merpati takut saat tahu perangkap mampu membunuhnya.” Nadia tersenyum penuh kemenangan.


“Anjing ini terus saja menggonggong!” Kemuel memunculkan urat di dahinya dan melipat wajah marah.


Luka yang diberikan bukanlah gertakan yang akan membuat Kemuel berhati-hati, tetapi berefek sebaliknya. Dia mulai menjadi gila dan liar, menyerang Nadia tanpa memikirkan betapa terbukanya diri.


Nadia mengambil kesempatan di celah yang ada pada punggungnya namun seperti sebelumnya bahwa dia tak mampu menembusnya, ‘Kulitnya sangat keras!’ Jerit nadia dalam hati.


Dia sudah mencoba melukainya dengan energi alam namun kulitnya sangat keras dan tidak akan butuh usaha sedikit untuk melakukannya.


Nadia mulai memutar otaknya selagi menghindari membuang tenaga untuk sesuatu yang tidak berguna, dia juga mulai berhenti menyerang karena langkahnya sia-sia.


“Jangan hanya lari dan bersembunyi seperti tupai!” Kemuel tepat di atas Nadia, tinjunya terulur dan mengikuti tinjunya salib raksasa jatuh menghantam bumi.


Nadia berhasil menghindari dengan setengah tubuh terluka, dia mampu merasakan bahwa tulangnya pindah dan nyaris tidak bisa bergerak.


“Itu serangan yang terlalu mengejutkan, aku tidak sempat menghindar tepat waktu!” Nadia tidak pernah berpikir serangan seperti itu akan berasal dari orang yang seharusnya menjadi perisai malaikat.


Dia terlalu meremehkan malaikat bernama Kemuel ini meskipun Rigel memperingatkan bahwa mereka lebih merepotkan ketimbang Pilar iblis. Bukan lebih kuat namun hal tersebut dikarenakan mereka tak terbiasa menghadapi Seraphim.


Diberbagai kesempatan bentrok dengan Pilar Iblis bukan hal mengejutkan karena setiap peristiwa besar pasti ada campur tangan Lucifer. Para Pahlawan memiliki pengalaman menghadapi mereka dan tidak akan menjadi lengah seperti sekarang ini.


Seraphim adalah lawan yang hanya bisa mereka jumpai di peperangan, artinya ini kali pertama mereka bertarung sehingga sulit memahami bagaimana cara mereka bertarung.


‘Bertarung di udara adalah kelemahan terbesarku!’ Sekalipun dia memiliki potongan Phoenix dan senjata yang berhubungan dengannya, Nadia tetap tidak akan bisa menumbuhkan sayap.

__ADS_1


“Ratapilah kematianmu, mahkluk rendahan!” Kemuel bersiap menghancurkan kepala Nadia namun sesosok pria muncul dengan dua perisai bundar di tangannya.


“Biarlah perisai melawan perisai, selanjutnya giliranku!” Hazama memasuki medan perang.


__ADS_2