
Angin berhembus segar, hangat matahari, aroma manis bunga, senandung lebah, dan kepakan sayap kupu-kupu. Saat membuka mata perlahan terdapat pemandangan menakjubkan.
Hamparan padang rumput indah yang luas, hijau, dihiasi bunga berwarna-warni nian indah.
“Tempat apa ini, surga?”
Tatkala dunia ini adalah tempat yang seharusnya menjadi tujuannya, maka hanya surga tempat yang digambarkan indah. Ini jelas bukan dunia tempatnya tinggal, memang bukan dan mustahil.
Dia harusnya sudah meninggalkan dunia itu, bersama dosa dan kebaikan di punggung selama masih hidup dibawanya, tanpa nyawanya lagi dia menuju akhirat. Harusnya seperti itu.
“Ini akhirat, tapi ada kehadiran mahluk jahat. Bahkan aku merasakan kehadiran undead di kejauhan, mungkinkah ini tempat selain surga?”
Berkebalikan dengan surga, neraka harus menjadi tempat keputusasaan, penderitaan, pertaubatan dan penyucian. Mereka dengan dosa akan pergi ke sana untuk menerima ganjaran, mustahil tempat ini adalah neraka.
Neraka kerap digambarkan dengan sebuah dunia yang terbakar api paling panas, rumah para iblis yang membantu neraka memberikan siksaan kepada kehidupan berdosa.
Dengan wujud gadis kisaran 10 tahun berambut merah, Priscilla mengambil bunga terdekat, terasa begitu nyata. Aromanya begitu harum, udara begitu sejuk terlepas dari tempat apa ini sebenarnya.
*Wooshh...
Angin berhembus kencang dan bayangan hitam muncul tepat di dekatnya, gadis itu segera meningkatkan kewaspadaannya.
“Siapa di sana?!” Seru Priscilla selagi memasang kuda-kuda.
“Yang pasti bukan musuh.”
Pria berjubah yang wajahnya tertutupi tudung muncul, tangannya terangkat untuk menandakan dirinya bukanlah musuh. Wajahnya terbilang mudah, kisaran 25 tahun dengan sorot mata penuh kekosongan bersama senyuman hampa miliknya.
Priscilla mengambil jarak. Di tempat yang tidak diketahui apa dan bagaimana dunia ini bekerja, mempercayai orang sembarangan adalah hal bodoh.
“Entahlah, kata-katamu mungkin pisau tersembunyi.”
“Wajar bagimu berpikir demikian namun kuyakin sulit menceritakannya. Dunia ini lain dari tempatmu berasal, aku mentolerir sikap waspadamu. Sangat bagus sebagai anak angkat Ratu peri.” Pria itu menganggukkan kepalanya dengan cukup puas.
__ADS_1
Ucapan tentang Ratu peri tentu tak bisa diabaikan. Pria itu tampak tahu asal-usul dan tentang ibu angkatnya Sylph sang Ratu peri.
Dari apa yang dia katakan tampak dunia ini bukanlah tanah yang dia tinggali, tetapi tempat berbeda dari Sylph berada.
“Kamu penduduk tempat ini, mengapa tahu masa lalu dan diriku yang bukan berasal dari sini?”
“Aku tahu semua yang kuketahui. Jika ada yang tidak kuketahui maka hanya yang tidak kuketahui saja.”
Ambigu, perkataannya cukup membingungkan. Bukan maknanya yang sulit ditemukan namun kebenaran dari perkataannya yang sulit dipastikan. Singkatnya dia mengaku maha tahu. Segala hal yang ada di dunia ini dia ketahui dan hanya yang tidak dia ketahui yang tidak dia tahu.
Maknanya mudah dimengerti, tentu namun sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Priscilla hanya diam mencurigai sosok di depannya, tanpa pengetahuan segalanya menjadi mengerikan. Baik pria itu, atau tempat ini.
“Bagiku kamu mencurigakan, tindakanmu yang muncul tepat pada waktu, tentang dirimu yang tahu asal-usulku meski baru kali ini diriku tiba, dan keberadaanmu yang mengerikan.”
Kehadirannya mengerikan, kekuatannya meluap-luap, kharisma yang dia miliki hampir membuat Priscilla bersujud memujanya, mendewakannya. Perasaan yang mengerikan kendatipun dia memang sosok yang pantas disembah, Priscilla sampai akhir takkan melakukannya.
Dia siap untuk bertarung, tangannya perlahan membentuk cakar yang dialiri mana.
“Yah tenang, tenang dulu. Konflik bangkit sebab tidak memahami satu sama lain. Perpecahan lahir karena tak mengenal satu sama lain. Dan tatkala kita menyerah karena saling berlainan, ikatan yang hancur tak bisa ditempa. Ada dua hal yang bisa kujamin sebagai investasi meraih sedikit kepercayaanmu.”
“Tindakanmu yang tanpa rasa takut cukup menjelaskan kamu meremehkanku—”
Diam selama beberapa waktu, Priscilla menyuguhkan pengantar.
“—akan kudengar, jika meragukan kubunuh.”
“Tidak masalah.” Pria itu tersenyum masam dan mendengus, “Pertama aku bukanlah musuhmu dan tidak berniat menjadi musuh. Kedua, aku tidak mencoba melukaimu sama sekali.”
Lidah adalah senjata tanpa bilah. Lisan adalah racun tanpa bentuk, mempercayainya tanpa menyelidiki sama halnya dengan menelan racun tanpa mempertanyakan.
“Meski itu menenangkan namun kurang meyakinkan. Biarlah. Berikan penjelasan apa tujuanmu menemuiku.”
“Baiklah. Namun sebelum itu aku akan memperkenalkan diriku. Salam, aku adalah Dewa yang menguasai Labyrinth ini, dunia antara yang hidup dan mati. Sosok yang menjadi perwakilan dan penguasa dari kehampaan, God of Void, Azartooth.”
__ADS_1
Menyuguhkan perkenalan sederhana, dia tersenyum santai yang tidak sesuai dengan betapa luar biasanya identitas tersebut. Eksistensi yang berada di luar pemahaman manusia, digagang paling kuat. Seorang Dewa.
“Sungguh omong kosong. Seorang dewa takkan memperlihatkan dirinya begitu lumrah sepertimu!”
Priscilla melontarkan serangannya. Tatkala serangan tersebut cukup kuat, nyatanya dihadapan Azartooth hanyalah debu kecil yang mendekat. Bahkan sebelum menyentuh ujung jubahnya serangan Priscilla lenyap entah ke mana. Sejak awal serangannya seakan tidak pernah ada.
“Apa yang terjadi?” Dia terperangah, tidak dapat mencerna apa yang dia lihat.
“Dan bila ku ucap aku bukanlah musuh, seharusnya cukup bagimu percaya. Kamu bukan orang bodoh yang tidak menyadari betapa besar jurang diantara kita. Seekor kupu-kupu takkan mampu menjadi naga.”
Tak peduli seberapa keras dia mencoba, jurang takkan bisa dipotong. Priscilla sadar dia bukan tandingannya sejak awal meski Azartooth sangat jelas memendam Kekuatannya hingga maksimal. Dan tatkala dia melakukannya, kekuatannya masih amat besar untuk diatasi.
Tiada jawaban untuk situasi terkini, Priscilla hanya bisa menerima kehadiran konyol seperti seorang dewa.
“Bagus jika kamu mengerti. Sekarang, aku akan menjelaskan tentang dunia ini...”
Tempat ini bernama Labyrinth Neraka, sebuah dunia unik yang memiliki 100 lantai di mana setiap lantai memiliki pemandangan berbeda. Mudahnya ketika kamu naik satu lantai, dunia akan berubah. Apa yang awalnya padang rumput akan menjadi padang pasir. Apa yang awalnya laut akan menjadi pegunungan. Dan apa yang awalnya surga akan menjadi neraka.
Untuk menaiki lantai tersedia dua cara, membayar upeti atau menaklukkan bos lantai. Untuk membayar biaya lantai bukan berupa uang, tak ada nilainya bila ingin menaiki menara menggunakannya. Namun masih memiliki nilai untuk perdagangan atau semacamnya.
“Ada sesuatu yang bernama Inti Jiwa. Batu yang bisa didapatkan dengan berbagai cara namun tetap memiliki satu arti yaitu membunuh. Baik itu manusia, hewan, bahkan monster sekalipun akan menghasilkan Inti Jiwa. Sama seperti halnya dirimu, semenjak melangkahkan kaki di Labyrinth Neraka, Inti Jiwa tertanam pada dirimu.”
Memahami dunia yang benar-benar berbeda dengan tempatnya tinggal, terdapat sebuah pertanyaan muncul dalam benak. Priscilla menunjukkan kecurigaan yang nyata namun Azartooth tampak sengaja untuk tidak menyadarinya.
“Aku mengerti garis besar yang kamu sampaikan. Namun yang tak dipahami adalah dirimu sendiri yang datang kepadaku, pasti mustahil tidak ada maksud atau tujuan tertentu, kan?”
“Pft! Hahahaha.” Azartooth tertawa, meski tertawa dia tampak palsu, “Itu mungkin benar, ada hal yang aku ingin kamu lakukan.”
“Hal macam apa itu?”
“Mudah saja, bertarung dan taklukkan lantai, bentuk regu atau semacamnya. Ada satu iblis kuat yang dipanggil Empat Pangeran Neraka setiap 25 lantai. Kalahkan jika bisa, jika tidak bukan masalah karena tujuan sebenarnya bukan itu.”
Dia memejamkan mata selama beberapa waktu, membuka matanya dan menyampaikan niat sesungguhnya.
__ADS_1
“Kelak akan ada manusia pria yang datang ke tempat ini. Pria yang akan mewujudkan Hari Yang Dijanjikan. Manusia yang akan membawa perubahan yang amat berarti untukku, dan dunia.”