
“Rasi bintang?” Ray asing dengannya dan memiringkan kepala.
Di sisi lain, Pahlawan yang berasal dari bumi menatap ragu titik yang dibuat Merial dan perkataan Petra.
“Maaf namun aku bego soal astronomi. Yang kuketahui tentangnya hanyalah bumi itu bulat bukan datar dan sesuatu tentang zodiak.” Ujar Marcel menyilangkan tangannya.
Kecuali Petra yang lainnya mengangguk setuju namun tampaknya hanya Takumi memiliki pendapat berbeda dari yang lainnya.
“Eh? Di tempat asalku perdebatan hanya antara segitiga dan berbentuk telur.”
“Hah?” Serempak semua orang tersendat napasnya sendiri.
Bagi Yuri dan Rigel keanehan ‘Bumi asal Takumi’ tak lagi mengejutkan. Akan tetapi bagi Pahlawan lainnya mungkin baru kali ini mereka mendengar bahwa ada bumi lain yang isinya manusia konyol.
“Abaikan kegilaan dunia asal Takumi.” Rigel memijat keningnya tampak lelah, “Seperti kata Petra bahwa ini adalah rasi bintang namun juga bukan. Ada dua Batu Ramalan yang lokasinya tidak diketahui dan juga dua yang cukup berdekatan.”
Tak perlu dipertanyakan. Dua yang cukup berdekatan hanya ada di Region. Meski begitu tak cukup berpengaruh banyak karena masalahnya adalah dua batu lainnya.
“Bukankah dua Batu Ramalan lainnya ada di Tanah Kegelapan dan Langit?” Tanya Hazama selagi memperhatikan titik di peta.
“Sepertinya tidak. Aku yakin Lucifer Mengatakan tak mempercayai Batu Ramalan dan bahkan Michael tak peduli soalnya.” Nadia menjawabnya dengan tepat.
Rigel mengangguk setuju, “Selain itu jika dua Batu Ramalan ada di tempat seperti itu, sejak awal sudah mustahil mengungkap misterinya.”
Tak ada gunanya sosok itu meminta mereka memecahkan sesuatu yang sudah jelas mustahil. Datang ke salah satu dari keduanya sama artinya menyerbu sarang singa. Dibutuhkan kegilaan dan akal yang tidak sehat untuk menyerang markas musuh.
“Kita bisa menyelidiki dan mencarinya namun akan membutuhkan waktu. Belum lagi, kita disibukkan dengan situasi yang entah bagaimana berjalan ke permasalahan lebih besar.” Ujar Ray dengan gelisah.
Dengan terpilihnya Asoka sebagai Kaisar Surgawi cukup untuk menjelaskan Ragnarok tepat di depan mata. Tidak dipastikan berapa lama lagi waktunya tiba namun sampai saat itu mereka Pahlawan tak boleh berada dalam kondisi kritis.
__ADS_1
Belum lagi masih ada pelatihan tentara Liberation yang sedang berlangsung serta beberapa masalah politik dan ekonomi.
“Pada akhirnya waktu menjadi dinding penghalang.” Ujar Yuri.
“Meski begitu, aku yakin kita bisa mencari jalan pintasnya.” Petra memecah keheningan dan menarik peta lebih dekat dengannya.
“Seandainya kita memisahkan salah satu batu yang berdekatan ke tempat awalnya yaitu lokasi Tortoise sebelum bangkit, bila benar bahwasanya lokasi Batu Ramalan sesuatu rasi bintang, kita hanya perlu menebak rasi apa ini dan dua lainnya akan diketahui.”
Rigel melebarkan matanya. Dilihat dari manapun itu cukup liar namun tidak buruk untuk dicoba. Terkadang orang bodoh bisa menghasilkan ide bodoh yang brilian.
“Itu cukup bagus untuk dicoba. Namun pertanyaanku, apa ini kebetulan atau bukan? Kuyakin planet ini memiliki garis bintang berbeda dengan dunia kita.” Ujar Aland.
“Masalah, nih. Maka tampaknya kita perlu mencari orang yang mempelajari bintang di dunia ini.” Yuri menghela napas lelah.
Meski spekulasi hannyalah spekulasi namun bukan berarti dia salah. Hanya saja, Rigel sungguh memiliki pemikiran berbeda dari yang lainnya.
“Namun tak ada jaminan bahwa itu rasi bintang dari dunia ini. Jangan lupa. Sejarah menyimpang, misteri yang tak terpecahkan dan potongan penting tentang Ragnarok serta Pahlawan menghilang dari dunia. Bukannya mustahil Batu Ramalan membentuk rasi dari bumi, dan juga—”
“—bukan mustahil orang dari bumi yang sama juga yang membuatnya.”
Mendengarnya semua kembali tertegun. Teorinya liar namun cukul masuk akal. Rigel sendiri merasa dirinya di tarik-ulur oleh misteri yang hilang dari dunia ini.
“Orang yang nampaknya menghilangkan nama dari sejarah, jejaknya tak dikenal dan menyimpangkan sejarah ... Apa mungkin ada orang sekuat itu yang berasal dari dunia kita?” Tanya Aland, tubuhnya sekilas merinding.
“Bukankah itu sungguh tak masuk akal??” Seru Nadia.
“Namun berbicara tentang tidak masuk akal, bukankah salah satu diantara kita demikian?” Marcel menatap Rigel dengan cukup intens, “Menghilang dua tahun dan kembali dengan mengguncang dunia akan kekalahan Hydra. Rune biru misteri dan kemampuan Creator yang sungguh tak terpikirkan.”
Tidak perlu menyebutkan nama. Bila membahas Rune dan skill Creator yang hanya ada satu di dunia, hanya akan merujuk kepada Creator Hero. Kini Rigel dihujani tatapan penasaran dari semua orang yang ada.
__ADS_1
Memang fakta bahwa kemampuan dan Creator Hero sungguh diremehkan karena tak mewarisi senjata ilahi. Namun ditangan orang yang tepat, arang hitam mampu menjadi berlian paling berkilau.
“Abaikan soal diriku. Akan kuberikan penjelasan memuaskan nantinya. Namun prioritas utama adalah Batu Ramalan. Ray, Merial. Apa kalian pernah mendengar sesuatu seperti penyintas atau orang yang menyatakan dirinya reinkarnasi dari dunia lain?”
Pahlawan di masa lalu kecil kemungkinannya untuk melakukan hal tersebut namun bagaimana bila ada orang yang bereinkarnasi ke dunia ini? Sekalipun hanya cerita fiksi pada awalnya, fakta bahwa mereka dipanggil ke dunia lain tak terbantahkan.
“Sayangnya aku tak pernah mendengarnya di manapun. Bahkan bagiku cukup sulit membayangkan keberadaan seperti itu.” Ray menggelengkan kepalanya.
“Aku juga tak pernah mendengar atau menemukannya di arsip manapun. Sekalipun ada orang yang menyebutkan demikian, tak ada hasil seperti kekuatan atau teknologi unik yang dihasilkan. Singkatnya hanya mengada.”
“Maka dipastikan tak ada penyintas, reinkarnasi atau orang yang tanpa sengaja datang ke dunia ini—” Rigel menghentikan perkataannya dan ingat sesuatu, “Benar juga. Dunia ini menyimpang dari sejarahnya, mungkin saja keberadaan itu ada namun dihapuskan.” Gumam Rigel.
Kepalanya semakin sakit, dia menarik rambutnya dan menyingkirkan pemikiran tak penting.
“Ada apa Rigel?” Nadia bertanya dengan cukup khawatir.
“Tak ada, mari lanjutkan. Petra, apa titik ini mengingatkanmu pada rasi tertentu?”
Petra mengernyitkan alis dan menggembungkan bibirnya, “Aku pikir awalnya ini Ursa Minor atau mungkin Capricorn. Namun dengan kurangnya dua bagian dari Batu Ramalan memang cukup sulit menebaknya secara pasti.”
Pahlawan lain hanya diam dan mendengarkan. Mereka hanyalah anak TK bila persoalan bintang dan membiarkan suasana tenang serta membuat Rigel dan Petra berpikir keras adalah yang terbaik.
“Mari ubah perspektif. Seandainya kita beranggapan bahwa Delapan Batu Ramalan adalah simbol dari delapan bintang yang paling terang maka kemungkinannya ini berbentuk ...” Rigel mulai memahami sesuatu, dia tahu. Jawabannya sudah ada di ujung lidah dan hanya butuh pemicu kecil baginya untuk memahami bagian terakhir.
“Pemburu ... Rasi Pemburu!” Petra menjerit senang selagi menatap Rigel dengan mata cerah.
Sudah cukup untuk memahami arti dari ‘Rasi Pemburu’ mengingat hanya ada satu rasi yang merujuk akan hal tersebut. Rasi yang digambarkan sebagai pemburu sombong nian angkuh. Rasi tersebut diberikan nama atas nama dari sang pemburu—
Saling menatap dengan penuh keyakinan akan jawaban, dalam waktu yang sama, kedua orang penggila bintang tersebut menyuguhkan pengantar.
__ADS_1
“—rasi Orion!”