
Di tempat yang gelap, sebuah ruangan besar di mana tidak ada seorangpun akan bisa memasukinya. Patung tengu raksasa dengan wajah marah berada di tengah ruang besar itu, diantara kedua tangannya terdapat rantai yang mengikat satu sosok.
Rantai tersebut menjerat kedua tangannya hingga terentang, bagian pinggang ke bawahnya terlilit rantai raksasa yang terhubung ke lantai.
Sosok kera dengan perawakan manusia adalah yang terikat di sana, sementara ada satu sosok kera lain muncul dan tengah terbaring di lantai.
Segera dia membuka matanya dan mendapatkan kesadarannya, melompat dan terheran-heran dengan pemandangan di depannya. Tempat yang dia tidak ingat pernah datang ke mari.
“Di mana ini? Seharusnya Ozaru yang perkasa ini sedang melawan kura-kura gunung.”
Tidak lain dan bukan dia adalah Ozaru, lebih tepatnya dua sosok yang ada di sana adalah Ozaru dengan kepribadian yang berbeda-beda. Mengenai tempat ini, adalah tempat rahasia yang ada pada internal Ozaru, lebih tepatnya pikiran.
Pertemuan semacam ini jarang terjadi, ini adalah kali pertamanya. Lagipula Ozaru pintar tidak begitu sering mengendalikan tubuhnya karena selama ini Ozaru bodoh yang selalu memegang kendali.
Dikarenakan kedua kesadaran itu tidak tersadar, pertemuan ini baru bisa terlaksana.
“Bajingan mana yang meniru wajah tampan Tuan Ozaru ini?! Dia peniru yang buruk!”
Ozaru melompat selagi mengamati apa yang dia anggap peniru dirinya, mengamatinya lebih lanjut, sosok yang dia anggap peniru menengadah ke arahnya dan tertawa kecil.
“Apa yang kamu tertawakan, peniru? Tidak ada hal apapun yang bisa ditertawakan dari Tuan Ozaru ini!”
“Sungguh jenaka melihat diri sendiri. Rasanya memalukan melihatmu.”
Tidak pernah terpikirkan bahwa akan ada situasi di mana mereka saling berjumpa seperti ini, bahkan Ozaru cerdas sekalipun tidak pernah membayangkannya.
Mereka seperti saudara kembar dalam satu tubuh, jika ada pertanyaan tentang siapa yang paling lama bersamanya, maka tidak aneh bila Ozaru menjawab ‘Aku yang lain’ dengan bangga.
Meski yang lain mungkin tidak tahu, namun dirinya—
__ADS_1
“Siapa kamu dan mengapa meniruku? Apa wajahmu begitu jelek sampai-sampai menirukan Tuan Ozaru yang tampan ini.”
—mungkin juga tidak tahu. Kepribadian bodohnya sungguh bermasalah, seakan bagian pintar dan bodoh dipisahkan menjadi dua jiwa berbeda.
Jika Ozaru yang dirantai membawa semua etika dan kecerdasannya, maka Ozaru satunya membawa semua pribadi konyol, kebodohan dan cara berbeda dalam memandang sesuatu.
“Dasar, sungguh aneh dihina diri sendiri. Yah biarlah. Aku sudah lelah menggunakan tubuh, sekarang kuserahkan kepadamu. Biarkan aku tertidur dalam waktu lama, persoalan hati bukan keahlianku.”
Dirinya yang mengambil semua kecerdasan tidak mengambil kemampuan menahan rasa sakit di dada. Ini kekurangan fatal dari Ozaru yang memiliki kecerdasan, dia tidak dapat menahan apapun yang berhubungan dengan hati, terutama luka tak terlihat yang begitu menyiksa.
“Apa yang kamu bicarakan, peniru?”
Bahkan ketidakpekaan terhadap situasinya sungguh luar biasa, tidak akan mengejutkan bahwa Ozaru yang mengambil semua kebodohan dan perilaku konyol tidak menyadari luka di dadanya.
Mungkin saja, mereka memiliki satu tubuh namun dua hati yang berbeda. Jika begitu maka patut untuk disyukuri.
“Abaikan apapun yang kukatakan, wahai diriku. Cepat pergi dan ambil kendali tubuh, situasi di luar tidak baik.”
Rantai yang mengikat tubuhnya adalah segel yang mencegah perebutan tubuh secara paksa. Bisa dibilang rantai tersebut membuat kepribadian Ozaru seutuhnya tetap stabil di satu kepribadian.
Rantai tersebut hanya akan terlepas ketika kedua pihak menyetujui pertukaran tubuh atau seperti halnya yang terjadi saat melawan Tortoise.
Ketika ekornya kembali di potong atau Ozaru dengan kepribadian bodoh datang menemuinya dan meminta pertukaran, rantai hanya akan terlepas pada dua situasi tersebut.
“Setidaknya aku ingin kamu mengingat hal ini diriku yang lain. Begitu situasi mendesak di mana kamu tidak mendapat pertolongan atau harapan untuk keluar darinya, tariklah ekormu, gigit lidahmu maka kita akan bertemu kembali.”
Setidaknya dirinya yang bodoh mampu mengingat hal tersebut. Anggaplah ini sebagai bala bantuan kecil dari dirinya, untuk dirinya sendiri.
“Siapa kamu, Ibuku? Tidak ada yang dapat memerintah Tuan Ozaru yang perkasa ini sesuka hati. Namun—”
__ADS_1
Berbalik dan berjalan menjauh tanpa pernah menoleh lagi. Ozaru tahu apa yang harus dia lakukan secara alami.
Tentu sosok yang meniru dirinya membuat penasaran, tetapi dia tidak begitu peduli terhadapnya. Lagipula dirinya maha perkasa, satu atau dua peniru tidak akan mengancam nyawanya.
Selain itu dia merasa aneh terhadap perjumpaan pertama ini, sesuatu yang tidak dia mengerti bergejolak di dadanya. Apa ini? dia tidak memahaminya.
Lantas terhadap pesan yang tertuju kepadanya akan berputar-putar di kepalanya, mungkin saja akan berguna di waktu yang akan datang.
Lagipula dia seorang Raja Kera Agung, sosok hebat yang ditakuti banyak orang. Mendengar permintaan adalah tugasnya, belum lagi sesama kera dia akan melakukannya.
“—sebagai Raja Kera Agung yang maha perkasa, Tuan Ozaru yang hebat akan mendengar permintaan peniru sepertimu.” Senyuman lebar yang seperti dirinya terbentuk, membuat Ozaru yang membawa sisi cerdas bernapas lega.
“Sungguh aneh meminta tolong kepada diri sendiri, dan ditolong diri sendiri.” Gumamnya selagi menyaksikan dirinya yang lain ditelan oleh cahaya.
Kesepian datang kepadanya, perasaan yang sungguh membawa nostalgia baginya. Biasanya ini tidak menyakitkan, namun setelah merasakan hidup di tubuh utama ... Rasanya menyesakkan.
Air mata segera jatuh begitu dia mengingat kematian Misa. Waktu di mana dirinya yang pintar menghabiskan waktu dengannya terbilang singkat, namun dia menyaksikannya langsung melalui kepribadian bodohnya, yang membuatnya jatuh hati.
Entah apakah kepribadian lainnya merasakan juga atau tidak, kemungkinan besar yang pertama. Namun dirinya yang lain cukup bodoh untuk tidak menyadari perasaannya sendiri, hal itu tidak lagi mengejutkan.
“Apanya yang maha perkasa, melindungi seorang gadis saja tidak bisa. Saat waktunya tiba akan kutebus dosa ini, dengan membuat dunia damai yang kamu inginkan.”
Matanya perlahan tertutup seiring dengan air matanya yang mengering, Ozaru akan memulai tidur panjangnya. Bukan artinya tidak mampu untuk sadar kembali, setidaknya untuk beberapa waktu dia tidak ingin bangun dan mengingat perasaan menyesakkan ini lagi.
“Aku harap, kita dapat bertemu lagi ... Lain kali, aku ingin memelukmu tanpa atau dengan kepribadian bodoh...”
Dia tidak dapat menyelesaikan perkataannya lantaran kesadarannya ditelan oleh kegelapan pekat, memulai tidurnya.
Dilain sisi, Ozaru yang tubuhnya melayang dan mengeluarkan sinar perlahan kembali ke keadaan semula. Prajurit yang melihatnya tetap berwaspada, sangat khawatir bahwa Ozaru akan menjadi wujud raksasanya.
__ADS_1
Namun segera setelahnya cahaya meredup dan tubuh Ozaru perlahan tergeletak di lantai. Apa yang dikhawatirkan prajurit itu nampak tidak diperlukan.
[**********.com/YatoNime]