Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 65 — Gelombang Kedua


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya saat Priscilla sibuk berhadapan dengan Rafael, mereka menemukan benturan kekuatan yang besar datang dari berbagai arah.


“Sepertinya kamu benar-benar ingin menahanku di sini ... Setengah peri!” Rafael berdecak kesal lantaran rekannya Kemuel tidak tampak baik.


Benturan yang mengkhawatirkan baginya selalu datang dari lokasi Kemuel, sementara lokasi lainnya tidak terlalu dia pedulikan meskipun ada lebih banyak pasukan Armageddon yang tumbang.


Priscilla menyadari apa yang membuat Rafael gelisah dan karena itu dia bersemangat menahannya di sini, tidak banyak kesempatan baginya untuk membuat malaikat, terlebih lagi Seraphim kesulitan seperti ini.


Ini adalah kesenangan di tengah kesulitan orang lain, Priscilla tidak peduli dengan yang lainnya karena menahan Rafael atau jika bisa dia ingin membunuhnya segera.


“Lawanmu adalah aku, hadapilah aku tanpa khawatir dengan yang lainnya!” Priscilla menembakkan bola api dalam jumlah yang besar sekejap mata.


Rafael berdecak dan mengirim laser cahaya dalam jumlah yang sama banyaknya. Benturan yang mereka lakukan sejak awak hanya seperti ini, memberikan serangan dan menahannya dengan serangan serupa.


“Kamu benar-benar menyebalkan!” Rafael mengutuk Selagi terkadang melirik lokasi Kemuel.


“Jangan memujiku, kamu membuatku malu.” Priscilla berlagak seakan benar-benar malu, “Kamu seharusnya paham bahwa pertempuran diantara kita tidak akan pernah berakhir, kan?”


Adu ketahanan? Itu hal yang bodoh mengingat keduanya tidak perlu makan ataupun minum. Sekalipun energi mereka berkurang banyak, keduanya mampu menyerap energi alam dan cahaya dengan mudah.


Hal tersebut seperti siklus yang dimiliki mahkluk hidup yaitu, hidup-mati. Siklus yang tidak akan pernah berakhir kecuali semua alam musnah dalam sekejap mata.


“Menyebalkan.” Rafael memiliki niat untuk mengeluarkan potensi penuh dirinya namun dia mengurungkan niatnya saat merasakan kumpulan cahaya terserap ke satu tempat.


‘Kemuel, apa yang dia rencanakan?! Jika begitu adanya dia takkan bisa bangkit!’ Rafael merasa khawatir akan pancaran kekuatan tersebut.


Dia benci melakukannya namun tidak ada banyak pilihan yang bisa diambil, “Flash!”


Dia melemparkan cahaya yang sangat terang sampai membutakan mata. Priscilla memejamkan matanya dan butuh beberapa detik untuk mendapatkan kembali pengelihatannya.


Saat dia membuka matanya Rafael telah tidak ada di tempat, dia sedang menuju lokasi Kemuel yang bertarung dengan Nadia dan Hazama. Dari gelagatnya yang tergesa-gesa memunculkan kecurigaan.


“Apa yang dia rencanakan?” Priscilla tidak dapat menemukan tujuan Rafael menghampirinya, “Dengan dia melarikan diri seperti itu tugasku sudah selesai ... Namun sebaiknya aku pergi menyusul untuk melihat apa yang terjadi.”


Priscilla yakin dia akan menemukan sesuatu jika pergi ke lokasi yang sama, karena itu dia memilih melesat ke sana.


...********...


Beberapa menit sebelumnya, pertarungan mereka begitu intens di mana Nadia dan Kemuel melesat hingga wujudnya kabur. Dilain sisi Hazama dengan cermat mengamati pertempuran dan menahan serangan setiap kali Kemuel menggunakan sihir.


“Claw Ripping The Sky!” Nadia berputar dan mengirim tebasan besar ke langit.


Di tengahnya Kemuel menggunakan kedua tangannya untuk bertahan, tubuhnya terdorong tinggi ke langit berkat serangan tersebut.


“Kergh! Light Body!” Tubuhnya segera terpecah menjadi partikel cahaya dan membiarkan bilah cakar melaluinya, terus terbang ke langit sampai mampu membelah langit.


Terdapat empat sobekan besar di langit yang disebabkan oleh Nadia, segera sobekan tersebut kembali tertutup oleh langit merah yang mengandung sihir misterius.


“Tch! Dia berhasil meloloskan diri!” Nadia mengumpat dalam terjun bebasnya dan menemukan Kemuel tepat di atasnya.


“Smash!” Kemuel terjun bebas secepat peluru, berteriak selagi mengulurkan tinjunya yang berapi-api.


Nadia terbelalak dan menyilangkan cakar, dia menggunakan senjata ilahi yang tidak terhancurkan untuk menahan dampak pukulannya.


‘Kergh! Meski sudah kutahan dia sangat kuat!’


Tubuh Nadia terhempas dan jatuh ke tanah degan keras, kejatuhannya menimbulkan retakan besar di sekitarnya. Segera dia memuntahkan darah, tulang rusuknya patah di beberapa tempat, tubuhnya berat untuk bangkit. Bahkan mungkin tidak bisa. Dia sudah berakhir karena sejak mendapatkan luka separah ini mustahil dia memaksakan diri lebih jauh.


“Jangan pikir ini sudah berakhir!” Kemuel mengubah dari yang semula berupa kepalan tinju kini menjadi telapak tangan yang terbuka.


Telapak tangan yang bersinar keemasan dan memancarkan aura misterius yang membuat orang ingin memujanya, cahaya tersebut membesar saat dia mengucapkan, “Telapak Budha!”


Tangan emas raksasa muncul tepat di atas Nadia, ukurannya sangat besar sampai mampu meratakan gunung dalam sekali serang. Nadia berusaha menghindar. Namun tidak hanya sulit untuk bergerak, tubuhnya di tarik ke bumi dengan sihir gravitasi yang diam-diam digunakan Kemuel.


‘Aku tidak bisa ... teleportasi!’ Nadia kesulitan untuk mengakses skillnya sehingga ini mungkin menjadi akhir baginya.


“Keargh!” Nadia menjerit penuh derita atas rasa sakitnya. Terbesit sedikit harapan bahwa jeritannya mampu menyelamatkan nyawanya.


“Delapan gerbang tercipta untuk melindungi ...” Dari kejauhan Hazama berlari cepat selagi melafalkan skill panjang yang dia miliki.

__ADS_1


Semakin panjang mantra yang tersimpan dalam senjata ilahi maka semakin kuat juga kekuatan yang akan di keluarkan, “Gerbang yang tercipta untuk mengadili dunia—”


Gravitasi berat tidak membuat Hazama melambatkan langkah dan tiba tepat di tempat Nadia, tanpa kata kepadanya dia mengangkat perisai tinggi-tinggi.


“—Gate Of Justice!”


Perisai cahaya besar muncul tepat di atas Perisai Hazama yang memancarkan kemilau biru terang. Perisainya melemparkan cahaya besar dan menahan kejatuhan telapak tangan besar tersebut.


Hazama mengaum keras saat darah segar mengalir dari tangan yang menahan perisai, serta matanya menangis darah.


“Tinggalkan saja ... aku.” Nadia merintih, tidak ingin Hazama gugur karena berusaha melindunginya, meski mati untuk melindungi gadis adalah roman tersendiri, tetapi mati di peperangan yang menentukan nasib umat manusia tidak lebih dari kebodohan.


“Jangan berkata sembarang!” Hazama membentak dengan tidak peduli, fokusnya tertuju kepada menahan serangan tersebut.


“Manusia yang keras kepala!” Kemuel menambahkan tenaga dalam serangannya dan menekan Hazama lebih kuat lagi.


Namun hal tersebut tidak membuatnya goyah atau runtuh, dia terus berdiri tegak menahan sekalipun darah keluar dari berbagai tempat di tubuhnya.


“Tidak ada pilihan!” Dia tidak akan bertahan lebih lama lagi jika keadaannya terus saja seperti ini. Ketimbang mati di babak awal, dia memilih melanggar pantangan yang diberikan Rigel dan menggunakan doping, “Cursed Series ...”


“Tunggu Hazama, jangan menggunakannya! Tubuhmu tidak akan bertahan!” Nadia berusaha bangkit dan menghentikan Hazama berbuat lebih jauh.


‘Percuma, daya tariknya sangat kuat-!’ Nadia hanya bisa menggerakkan satu tangannya, dia memegang kaki Hazama dalam upaya memohon.


“Hazama ... dengarkan aku kali ini saja, PERGILAH!” Nadia menaikkan suaranya dengan marah.


“Aku tidak akan pernah pergi lagi ... Jika aku pergi, aku akan kehilangan hal paling berharga untukku!” Hazama kembali membantah, rune hitam mulai terbentuk di sekujur tubuhnya, “Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi-!”


“Lagi?” Nadia bergumam selagi tercengang terhadap perkataan Hazama.


Hubungan diantara keduanya memang cukup dekat. Meski cukup dekat tidak satupun dari keduanya telah menceritakan masa lalu yang sudah mereka lalui.


Nadia tidak tahu apa yang sudah dilalui Hazama, dia harap bisa mengetahuinya seandainya selamat dari peperangan ini. Dan karena dia ingin mengetahuinya, tidak satupun diantara mereka harus mati.


“Kebanggaan adalah kekuatan—”


Nadia memaksakan dirinya lagi, perlahan tapi pasti dia mulai merangkak, lalu berjongkok dan hanya beberapa gerakan lagi dia bisa berdiri. Yang dia butuhkan saat ini adalah sebuah dorongan kekuatan untuk berdiri tegak.


Nadia mulai memuntahkan darah. Berkali-kali dia ingin jatuh dan berkali-kali juga dia menahannya lalu muntah darah sebanyak dia berjuang. Segera dia merasakan sesuatu yang mengejutkan dan sedikit tersenyum.


Di sisi lain Kemuel menyadari bahwa tidak satupun dari keduanya ingin mengalah atau melarikan diri dari situasi berbahaya tersebut. Entah sudah berapa lama Kemuel melupakannya bahwa manusia memang mahkluk hebat juga menyedihkan.


“Terkadang aku iri kepada kalian yang seperti ini ... Karena itu, akan kuberikan kematian yang singkat.” Kemuel mulai mengumpulkan energi dalam jumlah yang besar di tangan lainnya.


“Berbahagialah, dengan aku menggunakan ini kekuatan Rafael nantinya tidak berguna kepadaku.”


Kekuatan yang mengikis jiwanya hingga batas tertentu, dia sejak awal menghindari untuk menggunakannya. Namun menahannya di sini akan menodai pertarungan suci ini.


Kemuel menghormati dua manusia, Nadia dan Hazama yang menjadi lawannya. Mereka mungkin manusia pertama yang dia hormati dari banyak lawan yang pernah dia hadapi.


“Sampai akhir kalian bertarung dengan berani. Di kehidupan selanjutnya aku harap kita lahir sebagai ras yang sama, aku ingin berteman dengan kalian.” Kemuel menatap Hazama yang bertahan dan Nadia yang berjalan menghampirinya untuk terakhir kali, dia menutup mata dan menuturkan kata, “Judgement—”


“HENTIKAN!” Teriakan keras tersebut menembus telinganya dan dalam waktu yang sama sesuatu yang keras terbang dan menghantam Kemuel. Dia tidak tahu apa itu namun berkatnya serangan yang disiapkan Kemuel gagal.


Menemukan gangguan tersebut Kemuel membentak sosok itu, “Apa yang kamu lakukan, Rafael?! Kamu berniat mengganggu pertarungan yang suci ini?!”


“Jika kamu menggunakannya aku tidak bisa membangkitkanmu!” Rafael membentak dan memberikan tamparan keras di wajah, “Kehilanganmu di sini akan menimbulkan banyak kerugian, mari kita sudahi. Gelombang kedua telah datang.”


Rafael menatap Gerbang Surgawi yang terlihat bergetar akan pasukan luar biasa besar keluar. Diikuti dengan Armageddon, pasukan iblis mulai bermunculan dari sisi lainnya.


Kemuel berdecak kesal dan tidak membantah lebih jauh, dia menatap tempat Hazama dan Nadia berada. Segera dia menemukan pemandangan mencengangkan.


“Hazama!” Nadia yang berjalan ke arahnya melompat, dia memeluk Hazama dan memberikan ciuman di bibir dalam upaya menghentikannya menggunakan series kutukan.


Hazama kehilangan kendali atas perisainya, serangan Kemuel terus meluncur ke arah mereka tanpa ada tanda untuk berhenti atau menghilang. Pada situasi ini tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk selamat, karena itu Hazama menerima ciuman tersebut, ciuman terakhir yang mungkin bisa dia rasakan.


‘Dengan ini ... Berakhir sudah—’ Hazama memejamkan matanya dan siap menerima kematiannya.


Sebelum dia benar-benar menutup matanya, Hazama segera terbelalak melihat pemandangan pria setengah kera muncul dengan berseluncur di udara selayaknya menyelengkat, segera suara keras nan tajam terdengar darinya, “NYOIBO!”

__ADS_1


Dua tangannya memegang tongkat yang tegak lurus, segera tongkat itu membesar dan memanjang hingga menembus Tapak Budha Kemuel bahkan mencapai langit.


Hazama yang berpikir dirinya akan tamat segera tercengang, dia masih tidak dapat mencerna situasi selagi menatap Ozaru dengan tatapan yang kosong. Ozaru menatap balik dengan raut wajah yang berkerut.


“Kalian sungguh monyet yang bodoh. Jika ingin kawin lakukanlah di tempat dan situasi yang lebih baik. Untungnya Tuan Ozaru yang perkasa tiba tepat waktu.” Dia berkata dengan jengkel selagi menggaruk rambutnya.


Nadia memerah sementara Hazama masih tidak memikirkan apa-apa. Bukan karena kemunculan Ozaru yang tiba-tiba, yang membuat penasaran Hazama adalah tindakan Nadia.


Seolah menyadarinya Nadia tersenyum malu, “Aku sudah merasakan energi Ozaru dari kejauhan. Dia datang tepat waktu atau tidak aku tidak tahu, karena itu setidaknya di akhir kehidupan aku ingin melakukannya sekali.”


Hazama sedikit tersipu dan segera menggelengkan kepalanya selagi membenarkan isi pikirannya, “Abaikan hal itu untuk saat ini. Apa yang kamu lakukan di sini, Ozaru?”


Seharusnya bagian Ozaru untuk ikut andil dalam perang masih jauh mengingat dia salah satu kartu truf yang sedang disimpan baik-baik oleh mereka. Rigel bukan orang yang tidak sabaran jadi semestinya dia tidak meminta Ozaru bergabung.


“Monyet putih itu, Rigel menyuruhku menebarkan banyak sekali benda yang tidak aku pahami. Selagi melakukannya aku melihat kalian hampir mati karena monyet burung itu.”


“Jadi karena itu kamu datang.”


Dia tidak tahu apa yang Rigel minta kepadanya namun setidaknya dia harus berterima kasih kepada Ozaru nanti. Tidak lama setelahnya sosok lain datang menghampiri mereka.


“Kalian baik-baik saja?” Priscilla yang tergesa-gesa menemukan penampilan yang kacau Hazama dan Nadia.


“Aku mahkluk perkasa jadi akan tetap baik-baik saja, tetapi tidak dengan dua monyet ini.” Ozaru tersenyum dan menunjuk mereka dengan ibu jarinya.


Kondisi mereka berdua memang memprihatinkan untuk dilihat. Priscilla menyadari bahwa Rafael dan Kemuel telah mundur yang artinya gelombang pertama telah berakhir.


“Sebaiknya kalian kembali, gelombang selanjutnya akan datang. Aku akan menjemput Marcel jadi tidak perlu khawatir.” Tanpa menunggu waktu lama Priscilla terbang menjauh.


“Ya, kamu berhati-hatilah.” Nadia tersenyum selagi menatap Priscilla yang sudah menghilang dari pandangan mereka.


“Kalau begitu kalian gunakanlah Kekuatan yang mampu berpindah itu. Meski berhasil bergabung dengan diriku yang lain namun aku masih tidak bisa menggunakannya.” Ozaru mengecilkan tongkatnya dan menggunakannya untuk menggali emas di hidungnya.


Tindakannya yang tanpa sopan santun itu patut diprotes namun baik Nadia atau Hazama tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat dengannya. Nadia segera menggunakan teleportasi untuk mereka bertiga.


Dalam sekejap mereka berpindah dan kembali ke tempat Rigel dan yang lainnya berada.


“Nadia, Hazama! Kalian terluka parah!” Yuri yang menyadari mereka lebih dulu segera datang.


“Cepat rawat luka mereka!” Rigel memerintahkan prajurit di belakangnya dan membawa mereka ke ruang pengobatan.


Segera sebelum mereka di bawa pergi, Priscilla dengan cepat datang dan mencapai mereka. Hazama menyadari bahwa Marcel tidak datang bersamanya. Ray juga tidak ada di manapun. Meski kondisinya berat dan dia hampir sulit untuk tetap sadar, rasa penasarannya tidak tertahankan.


“Di mana Marcel dan Ray?”


Mendengar pertanyaan Priscilla terdiam, wajahnya tertunduk dan dia menggigit bibirnya dengan pahit. Rigel yang tampaknya tidak benar-benar memahami situasi Marcel segera berbalik dan menatap tajam tempat Marcel bertarung.


Seiring dengan dimulainya gelombang kedua peperangan, Rigel tertunduk dan memahami situasinya tanpa perlu bagi Priscilla bercerita. Meski begitu dia tidak mencegah Priscilla untuk bicara.


“Pahlawan Sabit, Marcel ... Mengorbankan nyawanya untuk mengakhiri gelombang pertama. Sementara Ray membeku di dalam Es Abadi bersama Regulus.”


Tak seorangpun mampu berucap dengan apa yang dikatakan Priscilla. Mustahil dia berbohong karena posisinya sebagai Ratu Peri, jelas suasana hening ini mengguncang mereka hingga akarnya.


Takumi mengepalkan tinju dan mengatupkan giginya, “Kurang ajar ... Kita harus membalaskan kematiannya!” Dia berbalik menghadap Rigel yang diam mematung.


“Rigel! Mari lancarkan serangan besar dan kerahkan pasukan kita!”


Takumi mengharapkan sebuah jawaban namun Rigel hanya berdiam diri. Sikapnya yang seperti itu jelas membuatnya jengkel, Takumi hendak menarik kerahnya namun membatalkannya. Untuk pertama kalinya semenjak dia mengenal Rigel, baru kali ini Takumi melihat Rigel sedemikian marahnya.


Matanya melebar dengan penuh marah dan kebencian, dia mengatupkan giginya dengan sangat kuat, serta tinjunya yang mengepal perlahan dialiri darah segar.


Para Pahlawan lain mungkin salah paham terhadap kemarahan Rigel, mereka pasti berpikir bahwa Rigel marah karena gugurnya Marcel dan Ray.


Kenyataannya Rigel memang marah dengan gugurnya Ray dan Marcel, namun yang terbesar bukan terletak kepada gugurnya dua orang itu.


“Bajingan itu ...” Rigel sebelumnya sempat merasakan kekuatan yang membawa nostalgia, jika kehadirannya ada di sini maka semuanya sudah jelas, “Berani-beraninya dia mempermainkanku!”


Jika kehadirannya ada di sini maka sejak awal semuanya palsu, Rigel telah bermain di telapak tangannya semenjak awal, bahkan sebelum peperangan di mulai.


Marahnya tidak lagi berguna dan sedih juga sia-sia, karena semuanya sudah jelas sekarang maka Rigel tidak perlu menahan diri. Alasannya sangat sederhana, “Sejauh apapun aku mencoba lari, takdirku sudah di tentukan.” Pandangan tertunduk akan kesedihan dan senyuman pahit.

__ADS_1


Dia segera berteleportasi dan berdiri di podium. Lautan manusia menatapnya dengan penasaran, Legion Of Liberation sudah sejak lama menunggu perintah.


__ADS_2