
Waktu demi waktu berlalu, dua minggu semenjak Rigel terbangun perubahan semakin berarti. Penobatan Priscilla sebagai Ratu Peri dan Leo sebagai Pahlawan telah terlaksana tanpa masalah yang berarti.
Dengan kehadiran Ratu baru yang telah diperkenalkan ke seantero dunia, kehidupan yang bergantung pada alam kini mampu menarik napas lega.
Ingatan Priscilla tentang apa yang dia ketahui soal Rigel telah dihapuskan meski tak benar-benar melupakannya. Setidaknya tidak perlu ada kekhawatiran intervensi tak terduga datang darinya.
Masalah selanjutnya adalah penobatan Pahlawan. Leo merasa enggan menerima beban tersebut lantaran dia tetap ingin menjadi bawahan Rigel dan anaknya. Namun Rigel mendorongnya untuk tetap naik menjadi Pahlawan dan membiarkannya bertindak sesuai keinginan.
Yang tersisa untuk diatasi adalah batu ramalan. Apa yang disampaikan Natalia dan di sinilah mereka berada. Hanya para Pahlawan yang ada di altar tempat Batu Ramalan berada.
“Batu Ramalan. Aku selalu ingin menelitinya lebih dalam bila masalah yang tak kunjung habisnya itu selesai.” Rigel menatap batu biru yang melayang di depannya.
“Temukan batu ramalan, pecahkan teka-teki untuk menemukan yang tersimpan di dalamnya. Makam akan bersinar, delapan bintang bergabung menjadi satu, potongan puzzle akan lengkap dan gerbang akhir terbuka.” Rigel mengulang kata-kata yang disampaikan sosok misteri kepada Natalia, lalu kepadanya.
“Aku pikir tak ada makna mendalam mengenai perkataan tersebut.” Hazama mengungkapkan pikirannya.
“Ya, sosok yang bahkan tidak kita ketahui? Sulit dipercaya bahwa dia mencoba menyampaikan sesuatu yang berguna untuk kita.” Aland sependapat.
“Namun mengapa dia mau merepotkan diri dengan memecah jiwa dan mempertahankannya hingga ribuan tahun? Bahkan sekalipun dia ingin menipu, takkan ada penipu serajin itu.” Marcel membantahnya.
“Mungkin saja dia hanya bosan dan ingin mengungkapkan lelucon?” Petra membuat asumsi liar selagi tersenyum polos.
“Bagus bila begitu. Namun sosok itu diakui sangat kuat oleh Nona Natalia. Aku tak percaya bahwa orang kuat bertindak konyol.” Nadia dengan sinis menyangkal pemikiran bodoh itu.
“Ya. Fakta bahwa dia mengungkapkan hal mengejutkan seperti leluhur Britannia dan Ruberios, serta Etherbelt kerajaan yang hancur cukup membuktikan dia asli.” Ray mendukung Nadia.
Hanya orang yang hidup pada masa mereka yang tahu kebenaran dari sejarah yang menyimpang ini. Bagi para Pahlawan yang hanya penyintas, masa lalu tempat ini amat asing.
Takumi berjalan ke sisi Rigel yang menatap diam Batu Ramalan, “Bagaimana menurutmu, Rigel? Akankah ada makna dibalik kata-kata tersebut.”
Rigel tidak segera menjawab. Dia mengulurkan tangan kirinya dan menembakkan beberapa misil ke Batu Ramalan. Para Pahlawan yang menyaksikannya tak bisa menutup mulut mereka, tindakannya terlalu serampangan.
“Apa yang kamu lakukan Rigel? Bagaimana jika itu hancur ...” Yuri hendak marah namun menghentikannya saat melihat kondisi Batu Ramalan.
Jangankan hancur, tergores saja tidak. Cukup membuktikan bahwa batu ini bukan sembarang batu.
__ADS_1
“Dalam legenda, batu ini dibuat oleh dewa dan takkan terhancurkan. Batu ini sengaja diciptakan untuk membantu manusia meramal masa depan dan mengetahui kapan waktunya perang tiba.” Merial mengulang legenda yang diceritakan turun-temurun.
“Dengan semua hal yang terjadi, aku tak lagi mempercayai legenda dunia ini.” Marcel mengungkapkan pikirannya.
Rigel diam-diam setuju dengannya. Banyak cerita di masa lalu yang menyimpang di jalannya. Bahkan orang misterius yang membuat kekacauan di masa lalu terlupakan.
“Bila apa yang dikatakan bayangan itu benar, maka batu ini menyimpulkan sesuatu. Sesuatu yang kita bisa memecahkan teka-teki.” Ujar Takumi menggigit kukunya.
“Memangnya apa untungnya bagi kita melakukannya? Bisa saja takkan ada hal berarti didapat hanya dengan memecahkannya.” Ujar Petra memiringkan kepalanya.
“Asumsi itu tak salah. Namun kita takkan tahu apa yang akan terjadi. Bisa saja bantuan, kehancuran, kekuatan, atau sejarah sebenarnya.” Hazama tak mendukung atau menyalahkan Petra yang tak memahami apapun.
Semua orang terdiam akan kata-kata tersebut. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, tak ada hal yang lebih menakutkan ketimbang sesuatu yang tidak diketahui.
“Masalah utamanya adalah kita tidak tahu teka-teki apa yang harus dipecahkan. Konteks dan permasalahannya tidak diketahui sama sekali.” Ujar Marcel.
Faktanya mereka tidak memiliki informasi apapun soal teka-teki atau semacamnya. Mereka hanya tahu bahwa ada sesuatu yang tersembunyi diantara Batu Ramalan. Tidak lebih justru kurang.
“Maka kita hanya perlu mencarinya.”
“Mencari bagaimana?” Tanya Hazama.
“Segalanya. Ungkapkan apapun yang kalian pikirkan. Kendatipun konyol keluarkan saja, kita perlu berpikir di luar kotak.” Ujar Rigel.
Sesuai keinginan Rigel, semua orang mulai mengungkapkan pikiran mereka. Dimulai dari mencari tombol, sihir, lubang kunci hingga bahkan puzzle. Bahkan ada yang mengungkapkan mengalirkan sihir dan sejenisnya.
Semua dilakukan dan dicoba namun tak satupun yang berhasil. Cukup sulit memikirkannya dan membuat depresi. Semuanya terlihat lesu karena semua percobaan mereka gagal.
“Sepertinya tak semudah yang dikira, ya.” Ujar Yuri.
“Ya, tidak memiliki informasi apa-apa sulit mencarinya. Seandainya ada informasi dasar seperti lokasi, nama atau sejenisnya.”
Mendengar perkataan Takumi membuat Rigel membuka lebar matanya. Dia tak memikirkannya sama sekali.
“Benar juga. Merial. Coba kamu gambarkan lokasi Batu Ramalan yang diketahui.”
__ADS_1
“Eh? Menggambarkannya maksudmu dalam bentuk titik koordinat?” Merial tampak bingung dengan perintah yang diberikan Rigel.
“Ya. Di peta, di kertas, tak masalah. Lakukanlah sesegera mungkin.”
Merial meski bingung segera melakukannya. Tak lama dia kembali dengan peta di tangannya. Rigel membentuk meja besi dengan kemampuannya. Dia melebarkan peta dan terdapat titik lokasi Batu Ramalan yang dibuat Merial.
“Apa yang ingin kamu lakukan Rigel?” Tanya Marcel dengan bingung.
“Perhatikan lokasi Batu Ramalan ini, tidakkah mengingatkan sesuatu?” Tanya Rigel.
Mereka memandang dalam diam selama beberapa menit. Berbagai kemungkinan tentu bisa muncul namun dalam kasus ini tak ada apapun yang terlintas dalam benak mereka.
“Mengingatkan sesuatu, aku hanya melihat garis saja. Tak ada pesan apapun yang bisa ditemukan.” Nadia mengungkapkan pemikiran, Pahlawan lainnya juga tampak sepemikiran.
Lokasi Batu Ramalan hanya berbentuk garis. Orang yang tidak mengetahuinya tentu akan berpikir bahwa tak ada makna apapun dari hal tersebut. Namun bagi Rigel ini pasti mengandung arti penting.
“Ini adalah sesuatu yang hanya manusia dari bumi ketahui. Aku tak tahu bagaimana di tempat kalian namun kuyakin langit yang kita lihat sama.”
Yang artinya hanya mereka yang dipanggil dari bumi bisa menemukan maknanya. Rigel bisa saja menyebutkannya namun dia ingin setidaknya yang lain menggunakan otak.
“Tetap saja aku tak mengetahuinya.” Takumi menggaruk kepalanya dan menyerah.
“Ya, aku menyerah.” Ujar Aland.
Yang lain tampak sependapat. Namun Petra yang tak diharapkan mengatakan sesuatu.
“Ini, bukankah seperti rasi bintang?”
...****...
Happy New Year.
Di tahun ini ada banyak orang datang dan pergi. Sebagian pembaca pergi karena ketidak konsistennya saya, bosan dan sebagainya. Namun sebagian masih bertahan dan ada orang-orang baru yang saya temui membaca karya-karya saya di tahun ini.
Ada banyak sekali PR kepada diri saya agar menjadi lebih baik di tahun selanjutnya. Mari lewatkan basa-basi. Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kalian. Membaca dan menekan like adalah dukungan terbesar kalian, memberi komentar adalah bahan bakar semangat saya untuk menulis terus. Sementara kalian yang memberikan vote dan lainnya, sungguh mengharukan.
__ADS_1
Sekian dari saya, terimakasih.