Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 103 — Jangan Remehkan Orang Tua!


__ADS_3

“Rigel!” Suara yang akrab di telinga, Takumi datang dari arah lain bersama dengan Ozaru.


Para Pahlawan berkumpul di tempat yang sama, Rigel mendarat turun dan menatap dua pemimpin lain yang datang bersama punggawa mereka. Seraphim dan Pilar Iblis berkumpul di tempat mereka masing-masing. Natalia juga sudah datang bersama Nadia dan Rigel memberikan benda yang dibutuhkan Nadia untuk pulih.


Dilihat dari keadaannya tampak jelas bahwa Petra tidak sadarkan diri. Diantara para Pahlawan yang sudah bertarung mungkin Petra adalah yang menerima kerusakan paling besar.


Kekuatan besar dari ketiga ras telah berkumpul dan saling berhadapan satu sama lainnya. Medan perang yang semestinya ramai menjadi hening karena tentara yang melakukan pertempuran menghentikannya.


“Ini jadi menegangkan.” Odin yang baru bergabung dalam pertempuran menatap tempat Rigel yang berada lumayan jauh darinya.


Tak ada dari mereka berniat menghampirinya karena hanya orang bodoh yang akan melakukannya. Alasan Rigel memilih lokasi yang sangat jauh dari tempat para tentara, bukan karena takut mereka mati namun dia tidak mau serangannya akan membunuh rekan sendiri.


Hal konyol yang kerap terjadi di medan perang adalah di mana sekutu menggunakan serangan skala besar, bukannya memusnahkan lawan tetapi memusnahkannya sesamanya sendiri.


“Ya, akhirnya sudah tiba. Akhir dari peperangan Ragnarok.” Bellemere berdiri tepat di sebelah Odin, dia merasa sudah cukup beristirahat dan siap melalui pertempuran panjang lagi.


“Tampaknya kamu sudah siap mengamuk.”


“Ya, aku tidak akan kalah denganmu, Tuan Odin.”


“Hahaha, santai saja. Ada sangat banyak musuh sampai kamu takkan bisa menghitungnya.” Odin menatap pasukan malaikat dan iblis yang berdatangan dan sungguh-sungguh memenuhi langit.


Jumlahnya mengerikan namun ini juga kali pertama bagi Odin menyaksikan hamparan tentara manusia dan Demi-human bersatu menghadapi peperangan ini. Tidak peduli berapa kali dia melihatnya, pemandangan ini tetap sangat menakjubkan.


Mimpi mustahil yang dimiliki Asoka, masa di mana manusia dan Demi-human hidup berdampingan sudah sangat jelas akan tercapai setelah peperangan ini berakhir. Mereka yang selamat dari perang dan saling membantu, secara tak sadar akan memiliki ikatan yang kuat satu sama lainnya.


“Jika kalian punya waktu untuk mengobrol, sebaiknya manfaatkan untuk mengisi tenaga atau membuat rencana.”


Langkah seseorang mendekat disertai suara lembut dan juga tegas. Odin menemukan seorang pemuda dengan rambut kecoklatan yang menggunakan armor dada hitam garis emas. Sebagai tokoh penting dan orang berjabatan tinggi, dia menggunakan perlengkapan yang terlihat standar dan menyisakan banyak tempat untuk diserang.


Melihat kehadirannya Odin dan Bellemere segera berlutut di hadapannya. Pemuda itu tidak hanya memiliki jabatan tinggi namun dia memiliki kekuatan langka yang bahkan mampu melebihi mereka yang menggunakan Artifak Kuno.


“Yang Mulia Kaisar.” Serempak Odin dan Bellemere berkata.

__ADS_1


Kaisar Surgawi, Asoka telah bergabung ke dalam peperangan. Dia menyuruh keduanya bangun dan berjalan melewati mereka, memandang hamparan pasukan musuh yang tak terhitung jumlahnya.


“Aku sudah membayangkan jumlah mereka tapi melihatnya langsung seperti ini rasanya menakjubkan.”


Segera langkah kaki lain berdatangan dan mereka adalah kandidat lain. Dimulai dari Alexei yang kehilangan satu lengan, Regulus, dan akhirnya Altucray. Mereka serempak berdatangan saat Natalia menggunakan Spatial dengan skala yang besar.


“Yang Mulia Kaisar, apakah kita harus pergi ke sisi para Pahlawan?” tanya Altucray saat menatap tempat yang sama.


“Itu bijak namun seperti yang selalu Rigel katakan, mengirim orang biasa takkan membantu justru akan membebani.”


Singkatnya mengirim tentara ke sana hanya akan menjadi beban tambahan bagi para Pahlawan. Jika ingin mengirim bantuan, antara mereka berenam atau eksekutif lain yang berguna. Bahkan bangsawan bisa jadi memberikan bantuan meski kecil.


“Daripada membantu mereka menghadapi kekuatan besar seperti Seraphim dan Pilar Iblis, lebih bijak bagi kita mencegah pertarungan mereka mengalami gangguan. Dan tentunya, tak lupa kita harus mengawasi pertarungan mereka. Jika saja ada Pahlawan terluka atau terpojokkan, dengan kekuatan penuh, kita akan bergerak membantu!”


“Siap dilaksanakan!” Serempak mereka berkata.


Asoka mengangguk puas, kemudian dia melakukan peregangan kecil dan menggunakan senjata berupa cakar yang diikatkan dengan rantai. Cakar tersebut adalah salah satu dari beberapa senjata yang dibuat dengan tulang Hydra. Asoka sekali lagi bersyukur karena Rigel mampu menemukan para Dwarf dan mempekerjakan mereka.


“Wahai pasukanku, teman-temanku!”


“Di sini, di medan perang ini kita berada. Hanya ada satu tujuan kita di sini, menciptakan neraka hidup!”


“Ya!”


“Semua pasukan—” Asoka mulai mengambil langkah, dari langkah menjadi lari menuju hamparan pasukan yang menuntut untuk dilenyapkan, “Tawarkan segalanya untuk kemenangan, pasukan serang!”


Lautan pasukan manusia dan Demi-human melangkah maju seiring dengan para eksekutif kerajaan mulai menyerbu. Asoka yang berada di garis terdepan melompat dan mencabik-cabik iblis serta malaikat di dekatnya.


Dia mengambil pijakan kuat dan menghajar iblis yang tidak memiliki sayap. Dengan kekuatan penghancur yang besar, satu ayunan besarnya melenyapkan tiga iblis. Diikuti oleh Bellemere yang memberikan tebasan cahaya setiap lintas ayunan pedangnya.


Odin dengan pedang besarnya memilih melawan iblis yang lebih besar, satu yang seperti Minotaur menjulang dan berbenturan sengit dengannya. Odin merasa bersemangat karena lawannya juga menggunakan pedang besar dan tak mudah dikalahkan.


Dia harus mengerahkan sedikit usaha, saat berharap akan mengalami pertarungan panjang, seseorang melompat tepat dari belakangnya.

__ADS_1


“Maaf tapi aku ambil bagian ini—” Seorang pria tua dengan pedang putih dan armor lengkap melompat langsung menuju kepala Minotaur, “Teknik Satu — Sayatan!”


Kepala Minotaur melayang dalam sekejap. Odin melihatnya dengan kagum dan tersenyum masam, marah pun takkan bisa karena tak hanya kalah perihal jabatan tetapi kekuatannya jelas berada di atasnya.


“Silahkan saja, Raja Altucray.”


Altucray terus melangkah maju, dia berputar, menebas vertikal dan menusuk. Dia tidak pernah menyadari bahwa dirinya sudah berada di tengah-tengah kepungan musuh. Sebagai tanggapan atas hal tersebut, Altucray tersenyum.


“Sudah lama aku tidak bersemangat seperti ini. Jika begitu mari kita menari.” Altucray mensejajarkan bilah pedang dengan wajahnya dan berada pada postur tegak, “Arthurian Sword—”


Pedangnya menyala atas cahaya emas, energi berbentuk butiran berkumpul dan menyelimuti pedangnya. Altucray merasa bernostalgia dan merindu menggunakan teknik pedangnya.


Sebagai orang yang memiliki darah Pendragon di nadinya, ada satu kekuatan yang hanya orang-orang berdarah Pendragon mampu menggunakannya. Arthurian Sword, sebuah teknik yang memunculkan permainan pedang pendiri mereka, Raja Arthur.


“— Raja adalah orang berhati baja.”


Dia memasang kuda-kuda dan segera mengambil langkah pertama, “Langkah Satu — Tarian!” Altucray mengayunkan pedangnya dengan satu tangan, gerakannya sangat persis seperti orang yang melakukan tarian.


Hanya butuh waktu singkat baginya bebas dari kepungan pasukan, seakan tak puas dia melompat setinggi mungkin.


“Langkah Dua — Sayap!”


Terus melesat jauh ke udara dan menjatuhkan para malaikat. Setiap kali menebas satu malaikat dia akan terhempasnya ke arah lain. Hal tersebut seolah-olah setiap membunuh satu nyawa, tubuhnya bergerak sendiri untuk mengambil nyawa lain.


“Dia jadi sangat bersemangat.” Regulus tersenyum masam saat memandang Altucray.


“Ini membawa nostalgia karena sudah lama kita tak saling unjuk gigi atas kekuatan kita.” Alexei di belakangnya juga memandang Altucray.


“Ya. Mari kita tunjukkan kepada para tentara dan generasi muda, bahwa mereka takkan bisa dengan mudah melampauinya kita generasi tua!”


“Ya. Meski berbeda zaman namun mereka harus tahu untuk tidak meremehkan orang tua. Karena di masa lalu, ada banyak orang yang mati muda.”


Keduanya mengeluarkan energi sihir luar biasa, bahkan membuat tentara di dekatnya mengeluarkan keringat dingin. Mereka yang berasal dari generasi lampau mencoba menyampaikan bahwa orang tua tidaklah lemah.

__ADS_1


Di masa lalu kebanyakan orang mati muda, dan mereka yang mampu hidup hingga usia tua adalah sekelompok monster mengerikan.


__ADS_2