
Di waktu yang terus berputar pasukan umat manusia mencapai puncak pelatihannya. Rigel telah menyiapkan senjata dan strategi yang bisa digunakan semua orang tanpa perintah.
Yang membuat persiapan mereka lama adalah waktu untuk mempelajari penggunaan teknologi modern milik Rigel. Manusia dunia ini memiliki ketergantungan terhadap sihir dan hal itu akan sulit lepas, sains modern yang dibawa Rigel jelas bertentangan dengan mereka.
Awalnya banyak yang meremehkan senjata tersebut karena selain ringan ada batasan bisa ditembakkan, namun setelah mengetahui kekuatannya tak ada lagi yang angkat bicara.
Berkat bersatunya dunia dan ras lain yang bersembunyi bergabung sebagai tentara manusia, perkembangan peradaban ikut berkembang dan pencapaian terbesar secara tidak langsung adalah semua ras mampu hidup berdampingan.
Tentunya ada beberapa masalah seperti Kekaisaran Suci Ruberios yang menganggap ras selain manusia adalah musuh, akan tetapi Rigel membuat pengaturan untuk Kekaisaran Suci adalah wilayah bebas Demi-human dan dianggap sebagai tanah suci khusus religius.
Tidak ada yang membantah hal tersebut dan berkat dukungan Natalia yang mengusulkan Ruberios sebagai tanah penghormatan para Pahlawan serta menjadikannya obyek wisata.
Penghormatan yang dimaksud adalah membangun patung Pahlawan dari emas tanpa terkecuali mereka yang gugur lebih awal, patung tersebut akan segera dibangun begitu kemenangan perang di dapatkan.
“Sekarang saya, Natalia Ainsworth akan menjadi pembawa diskusi yang dihadiri oleh bangsawan perwakilan setiap negara, Kaisar Surgawi Asoka Van Yurazania beserta para Raja aliansi, dan 12 Pahlawan Suci.”
Sekarang adalah waktu pertemuan besar di mana orang-orang berpengaruh berkumpul, sebagai catatan Walther menjadi bangsawan perwakilan dari Britannia, dia juga menjadi orang paling berpengaruh karena membantu Rigel membuat pengaturan khusus di Padang Gurun.
Natalia menggiring semua orang membuka topik pembicaraan tentang Legion Of Liberation, penempatan tentara dan pembagiannya.
Rigel awalnya telah memutuskan untuk setiap Pahlawan memegang satu korps yang berjumlah sekitar 50.000 tentara namun karena suatu hal dia tak bisa bertindak sesuka hatinya meski dirinya Pahlawan.
Menurut Natalia karena tentara ini hasil dari persatuan bangsa-bangsa maka untuk membuat sebuah keputusan diperlukan persetujuan semua orang, jika tidak kepercayaan mereka kepada Asoka akan menurun dan yang terburuk terdapat perpecahan internal.
“Maaf mengganggu, bisakah saya mengungkapkan pemikiran saya?” Seorang pria tua dengan alis, kumis dan janggut putih panjang berdiri serta memberi hormat kepada semua orang.
Asoka mempersilahkannya tanpa banyak bicara, pria tua itu menundukkan kepala sebagai rasa terima kasih.
__ADS_1
“Tuan Arnaud Holystone, bangsawan Holystone dari Kekaisaran Suci Ruberios.” Dia memperkenalkan dirinya dengan penuh martabat, meski namanya terkenal luas namun dia ragu para Pahlawan memiliki banyak waktu luang sehingga tahu namanya.
Arnaud menyarankan untuk tidak langsung mengerahkan semua pasukan karena kemungkinan besar dua ras lainnya tidak akan segera mengerahkan kekuatan penuhnya. Rigel mengangguk dan memikirkan hal tersebut, jika dipikirkan lagi perkataannya benar.
“Itu tidak salah karena perang ini dalam skala yang belum pernah terjadi, bahkan aku tak bisa membayangkan berapa besar bentrokan skala penuh.”
Lucifer dan Michael mungkin memikirkan hal yang sama untuk mengetahui kekuatan dari masing-masing ras karena hal tersebut penting dalam peperangan.
Rigel menerima pemikiran Arnaud dan dia kembali dengan perasaan riang, dengan pembukaan bagus darinya para bangsawan lain tak memiliki keraguan mengungkapkan pemikirannya. Dimulai dari strategi perang, pasokan makanan dan pengungsian penduduk.
“Jika untuk tempat mengungsi kita bisa menyediakannya namun kalian seharusnya tahu bahwa tak semua orang bisa berada di tempat itu.” Hazama mengungkapkan pikirannya, ada banyak orang yang harus diungsikan dan tempat yang bisa disediakan sangat terbatas.
“Bagaimana dengan membagi pasukan untuk menjaga mereka?” Saran datang dari Marcel.
“Kupikir itu sulit, kita juga membutuhkan pasukan untuk peperangan. Sekecil apapun kekuatan yang ada akan sangat membantu kita.” Aland menolak gagasan tersebut.
Diskusi kembali berlanjut sampai Rigel menyelesaikannya dengan gagasannya,“Aku memiliki suatu cara. Sebagai ganti membunuh Tortoise Ratu peri sebelumnya yaitu Sylph memiliki satu hutang budi kepadaku, kebetulan juga Ratu peri yang sekarang memiliki hubungan denganku. Mudah untuk menagihnya.”
Gempa yang sangat besar hingga membuat semua orang berlutut di lantai, semua orang menjadi gelisah, “Ada apa ini?!” Bentak Aland saat gempanya tak kunjung reda.
Untungnya bangunan istana sangat kokoh sehingga tidak ada kekhawatiran akan runtuh, tetapi di luar istana tidak dapat terjamin keamanannya. Gempa tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan Rigel hanya diam selagi menjaga dirinya tetap aman.
Di tempat yang jauh di mana banyak planet— dunia bertebaran di angkasa luas, seseorang berdiri di hamparan cahaya biru yang luas, dunia tempat Rigel dan kawan-kawan berada.
“Waktunya telah tiba, sepertinya aku harua menaikkan tirainya.” Dengan perkataan yang seperti bercanda, dia mengangkat kedua tangannya.
Cahaya hitam di tangan kiri dan keemasan di tangan kanannya, dia menyatukannya dan menjatuhkannya ke dunia yang berada tepat di bawahnya.
__ADS_1
“Tirai akhir akan dibuka, peperangan menuju abad terakhir akan dimulai. Sekali lagi waktunya telah tiba! Pertarungan besar di abad ini akan menentukan siapa pejuang terakhir yang berdiri di tumpukan mayat.”
Seiring dengan jatuhnya cahaya yang dia buat, dunia di bawahnya gemetar. Sebuah momen diluar nalar manusia terjadi, waktu di mana dua waktu berbeda menjadi satu dan berbenturan diiringi langit yang melambangkan pertumpahan darah.
“Permainan ini akan mencapai akhirnya!” Dengan senyuman lebar dan penuh antusiasme yang tinggi.
Di dunia tempat Rigel berada begitu gempa berhenti seorang prajurit yang memantau keadaan luar menerobos ruangan dengan tergesa-gesa.
“Maaf mengganggu di waktu yang penting!”
“Ada apa? Apa yang terjadi diluar?!” Aland segera bangkit dan menghampiri prajurit tersebut.
“Diluar ... langitnya-!”
Satu kata yang memberikan banyak pemahaman, tak perlu bagi Rigel menunggu prajurit itu bicara, dia berjalan menuju keluar dan menemukan pemandangan menakjubkan.
“Apa-apaan ini ...” Disusul oleh Hazama yang segera berhenti berlari dengan dramatis.
Semua manusia yang menatap langit akan penuh keterkejutan dengan pemandangan yang tidak biasa tersebut, bahkan Rigel yang jarang berekspresi menunjukkan wajahnya benar-benar terguncang oleh pemandangan tersebut.
“Oh, monyet putih, apa yang kamu perbuat sampai siang dan malam menyatu?” Ozaru yang sejak awal tak bergabung dalam diskusi menghampiri Rigel dengan melompat dari suatu tempat.
“Ini sungguh, siapapun akan langsung tahu bahwa peperangan telah dimulai.” Rigel tersenyum masam akan pemandangan di depannya.
Langit berwarna merah darah dengan matahari dan bulan terbit di waktu yang sama, satu-satunya momen di mana siang dan malam muncul di waktu yang sama.
Segera delapan cahaya kebiruan menuju langit, asal cahaya itu berasal dari Batu Ramalan. Cahaya tersebut membentuk sebuah segi delapan seperti shelter yang terbuat dari cahaya.
__ADS_1
“Tampaknya markas besar kita akan berada di delapan segi delapan ini.” Marcel bergumam selagi terkesima oleh pemandangan di langit.
Tingkat konsentrasi mana meningkat tinggi dan sebuah gerbang di langit muncul siap terbuka kapanpun.