Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 94 —Kegelapan Samael


__ADS_3

Di tempat yang berada jauh dan tak terjangkau umat manusia sebelum menemukan akhirat, tempat para Seraphim dan malaikat berada.


“Sandalphone dan Kalkydras telah benar-benar gugur, ya? Segel yang dibuat Pahlawan itu sangat hebat sehingga mampu mengoyak hingga ke jiwa.” Seraphim dengan rambut putih panjang dan memejamkan mata berkata dengan penuh ketertarikan.


Dia hanya menggunakan sebuah kain di dadanya dan celana besar yang mempermudah pergerakannya. Selain itu ada tato halilintar di keningnya. Identitasnya tidak perlu ditanyakan lagi karena hanya ada satu Seraphim yang melambangkan petir, yaitu Barakiel.


“Ya. Gabriel dan Zadkiel masih memiliki keberuntungan, langit berada di pihak mereka. Namun ada sedikit kekhawatiran karena tampaknya manusia Rigel itu memiliki kecurigaan kepada Rafael.” Michael duduk di batu dan menatap wajah Rigel dari kolam air yang menggambarkan situasi.


Mereka berada di lokasi berbeda dari sebelumnya karena ingin mengganti suasana. Tempat yang subur dan hijau, menyejukkan dengan sungai susu besar tidak jauh di belakangnya. Taman yang paling indah di seluruh alam semesta, tempat ini dikenal dengan Taman Firdaus.


Bangunan megah dari istana yang ada di surga mampu terlihat dari tempat ini, tak jarang Seraphim mengunjungi Taman Firdaus karena pemandangannya. Namun alasan banyak dari mereka tak datang sesering mungkin karena keberadaan seseorang yang selalu berada di sini.


“Sejak tadi hanya pihak kita dan manusia rendahan yang melakukan konfrontasi besar, sementara Iblis tidak melakukan gerakan berarti. Hanya kehadiran Leviathan saja yang patut diperhitungkan. Bukankah ini sangat aneh, bagaimana menurutmu, Samael?”


Alasan tak banyak Seraphim sering mengunjungi taman ini dikarenakan keberadaan Samael yang mencintai Taman Firdaus dan menghabiskan waktu panjang di sini. Satu-satunya malaikat yang tidak memancarkan cahaya dan justru kegelapan.


Rambut hitam dengan sorot mata yang tidak bernyawa, hanya menggunakan celana hitam sementara dua pasang sayap berwarna putih dan sepasang yang berwarna hitam. Samael adalah satu-satunya Seraphim yang menguasai kegelapan lebih dalam dari siapapun bahkan sebelum Lucifer jatuh.


“Entahlah. Aku tidak mau memikirkan sesuatu yang merepotkan. Keinginanku adalah semuanya cepat berakhir dan waktu damai yang kumiliki akan kembali.” Tanpa tertarik sedikitpun Samael menatap langit biru, sejak awa peperangan dimulai dia tidak memiliki ketertarikan dengan perang.


Michael merasa sedikit disayangkan karena Samael tidak berkontribusi dengan pikirannya. Meski dia adalah perwujudan dari Seraphim yang pemalas, nyatanya jika dibandingkan dengan lainnya, potensi Samael bahkan berada di atas semuanya termasuk Barakiel.


Meski Seraphim lain mengacuhkannya, namun baik Michael, Barakiel hingga Kemuel menunjukkan rasa hormat mereka kepada Samael. Mau bagaimanapun, dalam proses pengusiran Lucifer dari surga, Samael adalah yang memiliki kontribusi paling besar.


Walau mungkin ada kekhawatiran diantara para Seraphim jika Samael berpindah sisi, Michael tampaknya tidak khawatir persoalan tersebut. Habisnya lebih dari siapapun dia paling mengenal sosok Samael.


“Yah, apa boleh buat. Namun jika kamu memikirkan sesuatu katakan saja. Tidak hanya dalam hal kekuatan namun kecerdasanmu juga berada beberapa tingkat di atasku.”


Michael tidak pernah memberikan pujian kepada orang dan mengakui bahwa dirinya lemah karena kebanggaan diri yang besar. Namun dihadapan Samael saja dia berani mengatakan kalau dirinya tidak sebanding. Bahkan mungkin jika Samael memiliki motivasi dan kepedulian, posisi pemimpin para Seraphim dan malaikat tidak akan jatuh ke tangan Michael, tetapi akan berada di bawah telapak tangan Samael.


“Tak perlu menganggap demikian karena kamu lebih cakap dariku terlepas kekuatanku yang melebihi kalian semua. Semakin terang cahaya yang bersinar, semakin gelap bayangan yang mengikuti.”


Di balik para malaikat dan Seraphim yang bersinar dengan sangat terang, ada kegelapan terdalam menanti di belakang. Bahkan ketika cahaya yang dimiliki malaikat redup, bayangan yang di belakang mereka akan membantu. Kekuatan Samael sama persis dengan hal tersebut. Semakin kuat para malaikat dan Seraphim maka kekuatan Samael akan meningkat jauh lebih kuat lagi.


“Yah, ada satu hal yang membuatku penasaran.” Samael lanjut bicara dan membuat Barakiel sedikit terkejut karena dia tidak tampak enggan seperti biasa.


“Ini tidak seperti dirimu, Samael. Lalu, apa yang membuatmu penasaran?” Tanya Barakiel ketika mengamati pantulan dari air.


“Dunia ini hanya ada dua pilihan yang akan kamu ambil. Jalan menuju cahaya, atau jalan menuju kegelapan. Tergantung pada jalan yang diambil, aku mampu melihat berada di sisi mana makhluk tertentu. Seperti kalian semua, yang berada di cahaya. Dan Pahlawan manusia lainnya juga berada di sisi yang sama.”

__ADS_1


Samael dapat tahu hanya dengan merasakan dan sekali lihat. Baginya seperti membedakan suatu warna, melihat hal tersebut sudah sesuatu yang benar-benar wajar untuknya. Namun ada beberapa hal yang tidak mampu dia mengerti.


“Manusia dengan rambut putih itu, aku tidak tahu ada di sisi yang mana dia.”


Barakiel mengangkat alisnya dan menatap Rigel yang wajahnya muncul di air, “Maksudmu, posisinya tidak ada di gelap atau cahaya?”


Samael hanya mengangguk dan tak sekalipun memandang pantulan air, tatapannya hanya tertuju ke langit, dan tak lama dia menutup matanya.


“Ada beberapa kasus seperti diriku yang berada di tengah-tengah cahaya dan kegelapan. Lalu juga Lucifer yang berada di kegelapan miliknya sendiri. Kalian tahu bahwa apapun itu aku mampu melihat sisi yang mana mereka. Namun manusia satu ini berbeda. Aku tidak mampu melihat cahaya atau kegelapan darinya.”


Samael sudah mencoba memikirkannya dan sudah sangat lama sejak dia berpikir sekeras itu namun usaha sia-sia tersebut tidak memberikan jawaban yang dia inginkan. Pada akhirnya Samael menyerah untuk mempedulikannya.


“Setiap kehidupan akan dilahirkan untuk memilih satu sisi, atau memiliki kasus unik sepertiku yang berada di tengah-tengah, atau Lucifer yang membuat kegelapannya sendiri Namun, aku sangat yakin tak ada makhluk yang tidak dilahirkan untuk berada di keduanya.”


Jika ada zona khusus seperti abu-abu, maka seharusnya Samael juga berada di kondisi yang sama. Namun tidak pernah ada zona semacam itu, dan jika ada makhluk yang tidak berada di sisi manapun maka hal tersebut mampu menjadi ancaman yang amat besar.


“Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan dari kekhawatiran tersebut. Hanya karena dia tidak berada di sisi manapun, bukan berarti dia sangat kuat dari kita, atau setidaknya Iblis, kan?” Michael bertanya dengan senyuman di bibir.


Samael cukup tahu bahwa senyuman itu palsu karena sejatinya Michael merasakan kemarahan. Michael mungkin masih terima jika berada di bawahnya namun harga dirinya menolak jika lebih lemah dari manusia.


“Ya. Namun ada firasat buruk di hatiku. Firasat yang mengatakan bahwa manusia itu akan menelan cahaya dan kegelapan.”


Skeptis juga dengan perasaannya, Samael tidak benar-benar memahami apa yang dia katakan. Lagipula dia tidak ingin mencoba memahaminya, melakukan sesuatu yang melelahkan dan tidak berguna bukanlah hobinya.


“Tidak juga. Aku tidak ingin membuang kedamaian dengan memiliki pemikiran apapun.”


“Apa kamu tidak bisa kooperatif dan berusaha sedikit lagi?” Barakiel terlihat putus asa saat menanyakannya dan tersenyum masam.


“Berusaha adalah kebiasaan orang biasa. Bahkan tanpa solusi dariku, kalian tidak akan kalah, kan?”


Baik Michael atau Barakiel menunjukkan senyum yang sama dan menjadi bersemangat. Tak peduli seperti apa cahaya yang dimiliki Rigel, mereka tak memiliki pemikiran akan kalah.


“Hehe, lebih sulit membayangkan situasi di mana diriku kalah.” Michael berkata dengan kebanggaan.


Samael merasa kepanasan karena dua Seraphim yang sangat bersemangat tersebut, dia tidak pernah menyukai hal-hal seperti itu karena menyusahkan. Namun pada kesempatan yang langka, dia tidak mampu memahami perasaannya sendiri. Seakan-akan ada sesuatu yang memberontak keluar dan berkebalikan dengan keinginan biasanya yang ingin bermalas-malasan tanpa melakukan apapun bahkan berpikir.


“Yah. Ini mungkin tidak seburuk yang kupikirkan. Aku harap manusia itu akan mampu mengusir kebosanan yang kekal ini. Karena kamu akan bermain-main dengan Lucifer, sepertinya aku akan sedikit berusaha dengan melawan manusia itu.”


Michael menunjukkan senyuman penuh arti, sudah cukup lama dia tidak tersenyum sesering ini, “Khuhaha, ini benar-benar tidak seperti dirimu. Aku pikir kamu tidak memiliki ketertarikan terhadap apapun setelah mengusir Lucifer. Jadi apa yang mendorongmu untuk ini?”

__ADS_1


Samael duduk dan meregangkan tubuhnya yang pegal karena berbaring sangat lama. Untuk pertama kalinya dia menatap pantulan air dan melihat manusia berambut putih. Entah sudah berapa lama jantungnya tidak berpacu secepat ini, dan untuk waktu yang sangat lama dia tidak pernah merasakan dorongan semacam ini.


Dorongan yang dikenal sebagai semangat dan rasa ketidaksabaran, Samael sungguh merindukan saat-saat seperti ini. Dia sudah terlalu lama bersantai dan tidak melakukan apapun. Dalam waktu yang sangat panjang tersebut, akhirnya. Akhirnya tiba waktu di mana dia memiliki dorongan untuk bertarung.


“Entah baik atau buruk. Aku merasa manusia ini akan mampu menghilangkan rasa bosanku. Berbeda dengan kalian, aku memiliki keinginan kuat untuk dikalahkan. Ketika berhasil mengusir Lucifer dari surga, harapanku untuk kalah sudah pupus.”


Sejak saat itu keinginan Samael hannyalah menghabiskan waktu dengan tanpa melakukan apapun. Bahkan ketika Seraphim lain terlahir setelah pengusiran Lucifer, tak sekalipun Samael memiliki harapan kepada mereka. Namun ketika melihat manusia yang satu ini, perasaan yang dia pikir telah musnah kini kembali muncul.


“Aku pergi karena ingin dikalahkan. Ada masa depan tidak pasti yang aku inginkan itu terjadi. Mungkin bertentangan, aku sudah menemukan jawaban ketika nantinya bertarung melawan manusia ini, namun aku harap itu tidak terjadi.”


Samael memiliki sedikit harapan bahwa keinginan kecilnya untuk kalah akan tiba. Waktu di mana dia akan melakukan pertarungan habis-habisan dan sampai tak mampu berdiri lagi, jika hal itu terjadi maka tak ada keraguan dia siap mati. Dan karena harapan kecil yang muncul tersebut memberikannya dorongan untuk sekali lagi mengajarkan kepada dunia arti dari kegelapan yang sesungguhnya.


“Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel. Aku harap kamu sama persis dengan gelar Pahlawanmu, Creator, atau Pahlawan Pencipta. Cobalah untuk menciptakan keajaiban ketika aku mengajarkan kepadamu, manusia, dan dunia ini. Tentang arti dari kegelapan.” Entah berapa lama dia tidak melakukannya, bibir yang kaku tersebut membentuk senyuman yang sudah sangat lama tak dilihat.


Michael merasa semuanya akan jadi sangat menarik mulai dari sekarang ini. Kegelapan dari kekuatan yang dimiliki Samael lebih dalam dari apapun yang bisa dibayangkan. Dia tidak pernah menyangka bahwa waktu di mana Samael menjadi bersemangat akan tiba.


“Kalau begitu, haruskah kita menyiapkan seluruh tentara dan berangkat? Kekuatan jahat yang berada di sisi lain dunia tampaknya mulai bergerak.” Barakiel mengalihkan pantulan cermin ke tempat yang dipenuhi awan gelap.


Awan gelap hanya kata-kata kiasan. Sesungguhnya awan gelap itu adalah sekumpulan iblis yang bergerak maju dan menutupi langit. Mereka jelas hanya memiliki satu tujuan yaitu medan perang. Tak diragukan lagi bahwa jumlah itu adalah keseluruhan iblis, yang artinya Kekuatan penuh mereka telah dikerahkan.


Manusia di sisi lain juga sudah melakukan pergerakan yang agresif, meski serangan besar seperti di gelombang awal tidak diluncurkan lagi namun tidak ada keraguan bahwa dua pihak lainnya sudah siap berperang habis-habisan. Untuk itulah mereka, ras paling agung, malaikat juga tidak akan kalah.


Manusia memang unggul dalam hal jumlah namun mereka tak seperti malaikat, ketika mati malaikat akan langsung terlahir dan bisa bertarung. Jumlah mereka tidak bertambah atau berkurang, dan akan tetap pada jumlah yang sama. Sebagai ganti dari hal tersebut, malaikat tidak punya emosi, dan Seraphim yang akan terlahir nantinya akan memiliki kekuatan dan menjadi sosok berbeda.


“Maka dari itu, kita juga akan menunjukkan skala peperangan yang tidak pernah mereka bayangkan. Mumpung Samael bersemangat, tidak ada salahnya bertindak lebih cepat.” Michael tidak menolak gagasan Barakiel.


“Ya, kamu harus cepat. Karena mau bagaimanapun, Rafael akan menggunakan kekuatan itu.” Samael menunjuk pantulan di air.


Senyum di bibir Michael menghilang ketika mendengarnya. Dia awalnya ragu namun memilih memastikannya sendiri. Benar saja, pemandangan di mana Rafael sedang menyiapkan kartunya muncul dari pantulan air.


“Apa yang dia pikirkan?” Barakiel tidak mengerti dengan kejadian tersebut. Seharusnya, sekarang ini bukanlah waktu yang tepat untuk menggunakannya.


“Itu pasti karena Gabriel, Zadkiel, dan yang baru saja tumbang Kemuel menuju kematiannya. Bahkan Jahoel tampak bermasalah karena luka yang tidak bisa disembuhkan.” Michael menjawab dengan acuh tak acuh selagi mengamati pertempuran.


“Jadi begitu. Artifak Kuno, atau senjata yang dibuat para Dewa memang merepotkan. Bahkan Rafael tak mampu menyembuhkannya seperti biasa. Pilihan menggunakannya di waktu ini tidak buruk.”


Memang bukan pilihan buruk namun rencana Awal Michael ingin Rafaela menggunakannya hanya ketika benturan antara pemimpin fraksi dimulai. Jika sesuatu terjadi kepada Michael, dia ingin Rafaela menggunakannya.


Kekuatan tersebut sangat terbatas dan hanya bisa digunakan sekali setelah seribu tahun. Michael mungkin kecewa namun tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi.

__ADS_1


“Sepertinya benar, bahwa Amatsumi Rigel ini manusia yang menarik. Tampaknya, kebosanan abadi ini akan segera menghilang.” Jahoel kembali merasakan semangat yang lebih di dadanya.


Dia sudah tak lagi mampu bersabar untuk bentrokan yang akan terjadi. Apakah masa depan di mana keinginan tersebut terwujud, atau masa depan yang membosankan seperti biasanya. Samael tidak sabar ingin mengetahui jawabannya.


__ADS_2