Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 109— Masal Lalu Takumi


__ADS_3

Kring! Kring! Kring!


Alarm berbunyi dengan dering yang keras di sebuah kamar dengan beberapa poster tentang Pahlawan. Seorang bocah berusia delapan tahun tengah tertidur nyenyak, mematikan alarm dengan memukulnya dan berputar badan.


Pintu kamar kemudian terbuka dan menampilkan wanita cantik dengan centong di tangan kanan, menggunakan celemek dan berwajah sedikit garang.


Melihat bocah yang terus tertidur tanpa menyadari sudah waktunya untuk bangun, wanita itu berjalan menuju jendela dan membukanya.


“Hari sudah pagi, sudah waktunya kamu bangun, Takumi!”


Bocah— Takumi segera menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut, “Lima menit lagi, Kak Mira.” Dia berkata dengan malas dan jelas tak ingin bangkit dari kasurnya.


“Huh. Anak ini ...” Wanita yang dipanggil Mira menghela napas dan pergi ke luar kamar sejenak sebelum kembali lagi membawa gitar listrik. Setelah menyambungkannya dengan pengeras suara dan dengan volume penuh, Mira menggenjreng gitarnya dengan keras.


JRENG!


“AIYEAAA!” Mira berteriak dan bermain gitar aliran death metal selagi melakukan headbang.


Takumi yang menenggelamkan kepalanya mau tidak mau harus pergi keluar dari kasurnya, “Baik-baik aku bangun jadi tolong hentikan itu!”


Tidak ada yang lebih menyebalkan selain hobi Mira yang tidak biasa dimiliki oleh wanita. Takumi hanya bisa berserah diri saat Kakaknya membangunkannya dengan cara itu.


Mira tersenyum dengan puas, “Aku bisa bermain lebih lama lagi jika kamu menginginkannya.”


“Mohon jangan lakukan itu di pagi yang damai!” Takumi melompat dari kasur dan bersujud.


Mira mendengus senang dan segera merapihkan gitar juga pengeras suaranya, “Baiklah. Cepat bersihkan dirimu, sarapan telah menunggumu!”


“Ya.”


Selesai mandi dan berganti pakaian, Takumi duduk dan menemukan sup yang sudah disediakan untuknya secara khusus. Dengan senang hati dia memakannya tanpa banyak keluhan karena tak peduli apapun itu, masakan kakaknya adalah yang terbaik.


“Makanlah yang banyak dan jadi laki-laki kuat, Takumi. Kakak ingin kamu menjadi orang yang berjaya di masa depan.” Mira menyandarkan kepalanya dengan tangannya yang bertumpu di atas meja, dia kemudian tersenyum lembut selagi memandang Takumi.


“Kamu terus-menerus mengatakan itu, bahkan tanpa kamu beritahu aku sudah bersumpah untuk menjadi laki-laki hebat di masa depan. Aku akan membuktikan kepada mereka, meski kita anak haram bukan berarti tidak memiliki masa depan.” Takumi berkata dengan sedih juga sedikit merasa marah.


Sejak berusia empat tahun Takumi hanya hidup bersama dengan kakaknya. Mereka terlahir dari hubungan gelap ibunya dengan seorang pria, untungnya mendiang Ayahnya menerima mereka dengan baik, sampai dia meninggal. Setelah kematian Ayah tersebut, Ibunya menelantarkan mereka dan menikah lagi, sementara Takumi dan Mira harus berjuang segenap tenaga untuk hidup. Beruntung bahwa mereka memiliki warisan dari mendiang Ayah kandungnya sehingga tak ada masalah untuk tetap hidup.


Mira segera menepuk lembut dan mengacak-acak rambut Takumi, “Tidak apa-apa jika kamu direndahkan oleh orang lain karena yang terpenting kamu tidak boleh menjadi pembenci. Kamu hanya boleh balas dendam dengan menunjukkan prestasimu dan bukan kekerasan.”


“Buat mereka bungkam dengan pencapaian ketimbang kepalan tangan, kan? Aku tahu itu.” Arcadia berkata dengan sebal dan menghabiskan supnya.


“Bagus, anak pintar. Kakak sangat menyayanginya, Takumi!” Mira menarik wajah Takumi ke dadanya dan memeluknya.


“Ugh ... Aku tak bwisa bernapas, kak!”


“Mo~, saat dewasa nanti, kakak yakin kamu akan merindukan pelukan di dada kakak!” Mira menggembungkan pipinya dengan sebal.


“Orang seperti apa yang bernafsu kepada saudara kandungnya sendiri?”


“Ada banyak yang seperti itu jika kamu tahu, loh.”


Takumi hanya diam dan tidak ingin pembahasan lebih lanjut soal itu. Dia segera bersiap dan pergi untuk bersekolah. Takumi menatap langit dan menemukan jejak dari sesuatu yang terus terbang tinggi.


“Kalau tidak salah itu alat yang membawa manusia ke luar angkasa, namanya ... benar, ***** Terbang.”


Namanya diambil karena bentuknya sangat serupa dan bahkan bagian ujungnya berwarna merah. Takumi sendiri berpikir itu konyol namun tak membantahnya karena tidak ada nama yang lebih baik dari itu.


“Hei lihat, itu si anak haram, jangan dekat-dekat dengannya!”


“Boo! Di mana orang tuamu, ha ha ha!”


Takumi terus berjalan dengan acuh, meski marah sampai tinjunya terkepal erat Takumi hanya diam dan tak menghiraukannya. Takumi sangat menuruti perkataan Mira, kakak perempuannya dan satu-satunya keluarga yang dia miliki.


Baik di sekolah atau di lingkungan semua orang sama saja. Tempatku hanya bersama kakak. Pikirnya.

__ADS_1


Takumi tidak masalah dengan apa yang kurang katakan tentangnya, jika itu tidak mengganggu kebersamaannya dengan Mira maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski sakit dan panas telinga mendengar semua ejekan tersebut namun Takumi percaya diri mampu menahannya.


Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Takumi bertemu seorang wanita dan tanpa sadar berkata, “Ibu.”


Mendengar dan melihat hal itu, Ibunya tak tinggal diam dan membawanya ke tempat sepi. Bukan untuk dipeluk atau dimintai maaf tetapi ditendang dan diludahi.


“Sudah kubilang berkali-kali untuk tidak memanggilku Ibu! Aku tidak punya anak jelek sepertimu, kalian hanya lalat yang terus-menerus mengusik kehidupanku! Aku harap kalian setidaknya mati saja!”


“Ya ... maafkan aku Ibu— Nyonya.” Takumi segera membetulkan kalimatnya, dia kembali memasukkan buku dan alat tulisnya yang berantakan ke dalam tas.


Ibunya meludah untuk terakhir kalinya dan melangkah pergi tanpa pernah melihat ke belakang. Takumi merasa sedih dan mulai menangis karena tidak ada yang lebih menyakitkan selain kata-kata keji yang berasal dari wanita yang melahirkannya.


“Aku tak bisa kembali menemui kakak jika menangis.” Takumi memilih berdiam di sana untuk beberapa waktu karena tidak ingin pulang dengan keadaan seperti itu.


Tanpa terasa sore hari tiba dan Takumi yang dalam perjalanan pulang melihat seorang laki-laki gemuk keluar, arahnya dari tempat rumahnya berada. Dia memiliki firasat buruk dan bergegas ke rumahnya.


“Apa-apaan ini ...” Takumi menemukan rumahnya diobrak-abrik dan sangat berantakan seperti kapal pecah.


Dia meyakini ini semua perbuatan pria sebelumnya karena mustahil kakak perempuannya melakukan sesuatu seperti itu.


“Kakak!” Takumi melempar tas dan melepas sepatunya, dia bergegas mengecek seluruh ruangan sampai akhirnya menemukan Mira tergeletak di dapur.


Pakaiannya sobek dan acak-acakan, memar tampak ada pada pipinya dan dia menangis. Takumi mampu mencium bau tidak sedap yang dia tidak ketahui namun itu tidak penting sekarang ini.


“Apa yang terjadi, kak? Apa pria yang keluar barusan pelakunya?!” Takumi memeluk Mira dan mengatupkan gigi dengan kuat.


Tak masalah jika dia dihina, dipukul dan diludahi, selama itu bukan keluarga satu-satunya yang disakiti, Takumi tidak akan mempedulikannya. Namun kali ini berbeda, sudah mustahil untuknya membuang muka atas kejadian yang menimpa kakaknya.


“Kamu ... Tidak boleh dendam, Takumi.” Mira merintih dan mengelus pipi Takumi dengan senyuman.


Mira mencoba bangun meski tubuhnya gemetar dan kedua kakinya tampak sangat lemah, dia memaksakan dirinya sampai tahap bisa berdiri tegak dan duduk di kursi.


“Dengar ini, Takumi. Kakak hanya melakukan beberapa kesalahan sehingga pantas menerimanya. Kamu tidak boleh membenci siapapun tidak peduli apa yang terjadi pada kita. Kamu boleh membalas mereka namun bukan dengan kekerasan tetapi dengan pencapaian. Suatu saat kamu akan mampu membuat mereka datang dan menjilat kepadamu.”


“Tapi, mau sampai kapan harus seperti ini?! Aku selalu mendengarkan kakak karena kamu adalah kakakku namun jika sesuatu sampai terjadi padamu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membenci!”


Mira memeluk lembut Takumi yang mulai menangis, “Kamu adalah hartaku paling berharga. Kakak tidak akan bisa tahan jika melihat kamu penuh dengan kebencian. Aku akan lebih senang dan bahagia ketika melihatmu mampu tersenyum lebar terlepas dari cobaan yang kamu alami. Jadi karena itu, tertawalah.”


Perkataan tersebut tak pernah bisa lepas dalam benaknya sampai kini, delapan tahun sudah berlalu sejak saat itu dan kini Takumi sudah lulus SMP.


Dia dengan riang berlari menuju rumah untuk menyampaikan kabar bahagia bahwa dia menjadi siswa lulusan dengan nilai terbaik.


“Lihat ini, kak. Aku menjadi siswa dengan nilai terbaik! Mereka yang menghinaku hanya terdiam dan membuang muka saat bertemu denganku.”


“Adikku memang hebat. Sudah kakak bilang, kan? Ketimbang membenci dan membalasnya dengan kekerasan, pembalasanmu akan terasa menyenangkan saat membungkam mereka dengan prestasi yang kamu capai.” Mira dengan senang hati mengacak-acak rambut Takumi.


Mereka memutuskan untuk mengadakan pesta, saat Mira tengah masak dan Takumi menyiapkan piring, sesuatu mendobrak pintu mereka dengan keras. Takumi menemukan seorang pria tua gemuk masuk ke daam rumahnya.


Dia ingat dengan jelas pria itu, orang yang pernah memukuli kakaknya. Mengerutkan alis, Takumi menghadangnya sebelum mencapai dapur, “Apa yang kamu inginkan? Begitukah caramu datang dan bertamu ke rumah orang? Dasar bajingan!”


Pria tua itu melirik Takumi dengan jengkel sebelum memukulnya dengan kuat hingga Takumi terjatuh, “Aku tidak punya urusan dengan bocah nakal sepertimu!”


“Takumi!” Mira meninggalkan masakannya dan berlari menuju Takumi namun pria sebelumnya menangkap dan menindihnya.


“Ah! Lepaskan aku ...”


“Urusanku hanya ada padamu, he he he. Mari bersenang-senang!”


“Hentikan itu, bajingan!” Takumi bangun dan mengambil piring lalu memukul tepat di kepala pria itu.


Darah mulai mengalir, pria tua itu merasa geram dan melepaskan Mira. Targetnya beralih ke Takumi dan dia mencekiknya.


“Dasar bocah kurang ajar, beraninya kau melakukan ini!” Pria itu melempar Takumi ke dinding dengan kuat.


Tepat si atasnya terdapat masakan Mira di mana minyak mendidih ingin jatuh tepat di atas Takumi. Menyadari itu Mira melompat dan menggunakan tubuhnya untuk melindungi Takumi.

__ADS_1


“Ugh! Sakit!”


“Kakak!”


“Jangan sombong kalian bocah tengik!”


Api dari kompor yang menyala mulai membakar rak dari kayu dan menimbulkan kebakaran, Takumi berusaha membawa Mira pergi namun tak berhasil karena pria tua itu mulai menyerang.


“Pergilah Takumi! Kakak akan menyusulmu!”


“Tidak, kak! Aku akan menolongmu!”


“Sudahlah pergi saja! Aku bisa mengatasinya!”


Takumi menyadari bahwa kakaknya memegang pisau. Dia tak pernah melanggar ucapannya sehingga dengan enggan merangkak pergi, saat mencapai pintu depan dan menunggu selama beberapa waktu, Takumi menemukan Mira yang bersimbah darah dan mendekatinya.


Meski tampak mengerikan namun Takumi tidak peduli selama mereka berdua selamat.


“Larilah ... TAKUMI!”


DUAR!


“Kakak!”


Ledakan keras terdengar dari dalam dan api dengan cepat membakar seluruh rumah. Takumi didorong keluar oleh Mira dan tak terkena dampak ledakan namun lain halnya dengan Mira. Nasibnya tidak beruntung karena terkena ledakan tersebut dan bagian belakang tubuhnya hangus.


Kakaknya mati tepat di depannya, satu-satunya keluarga yang dia miliki telah mati. Menarik rambutnya, Takumi berteriak keras dan menggila atas hal tersebut sampai dirinya pingsan.


Dua tahun berlaku sejak kejadian tersebut dan kini Takumi telah menjalani kehidupannya seperti biasa, dia mungkin tidak memiliki teman atau siapapun untuk berbagi namun hanya karena kakaknya telah pergi, bukan berarti dia kehilangan tujuan.


“Tenang saja, kak. Apapun yang terjadi aku akan hidup dan bahagia, aku akan tertawa dan tersenyum sebisa mungkin.” Takumi memandang langit dan tersenyum puas.


Dia mampu bertahan sampai saat ini karena kata-kata kakaknya terus berputar layaknya musim di kepalanya. Takumi telah bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan hal yang dia anggap benar.


“Sampai saat ini aku hanya melanggar satu permintaanmu, kak. Aku tidak bisa hidup tanpa membenci seseorang, bahkan saat ini, kemarahan serta kebencianku akan pria itu masih sangat membara.”


Manusia mustahil hidup tanpa membenci seseorang, sifat dasar yang dimiliki manusia adalah membenci manusia lain dan membalaskannya dengan kekerasan. Sepanjang sejarah umat manusia, peperangan selalu terlahir dari kebencian yang mengakar dalam dan membuat kisah kelam yang dimiliki oleh umat manusia.


Takumi telah berusaha yang terbaik namun dia tidak bisa terus menjalani hidup seperti itu karena sangat menyakitkan.


Dalam perjalanannya menuju sekolah Takumi mencapai sebuah pertigaan yang mana lampu hijau bagi pejalan kaki menyala. Dia menyebrang jalan dengan santai sampai menyadari sebuah bus sedang mengebut. Sopir yang mengendarainya tampak tertidur lelap dan tidak memperhatikan bahwa Takumi sedang menyebrang jalan.


Orang-orang mulai berteriak panik sementara Takumi terkaku dan tak bisa bergerak. Tubuhnya tertabrak dan Takumi masih hidup namun dia kemudian menyadari bahwa bus tersebut akan menghantam sebuah dinding.


Apakah ini akhir hidupku? Sungguh menyedihkan. Maafkan aku, kak, karena menyusulmu terlalu cepat. Pikirnya.


Saat dia meyakini kematian tersebut, cahaya misterius menyelimuti tubuhnya dan tepat sebelum Takumi hancur karena terjepit dinding dan mobil yang menabraknya, sebuah suara dan teks muncul dalam layar pengelihatannya.


...Selamat!!!...


...Kandidat pahlawan telah berhasi dipilih....


...Selanjutnya untuk menerima Divine Protection dan berkah 'index' untuk kandidat pahlawan dibutuhkan persetujuan dari kandidat....


...Apakah anda menyetujuinya?...


...Yes/No?...


Apa-apaan ini? Apakah setiap orang mati akan mendapat pemberitahuan seperti ini? Sungguh aneh, tetapi, mari jawab 'Yes'. Pikirnya.


Takumi tidak tahu persis apa tepatnya itu namun dia tidak lagi mempedulikannya karena mau bagaimanapun ajalnya sudah tiba.


Pesan lain kemudian muncul dan rasa sakit dari hantaman yang dia terima tidak lagi terasa, benturan antara dinding dengan tubuhnya yang diharapkan tidak lagi pernah terjadi.


...Kandidat Pahlawan telah terpilih....

__ADS_1


...Selamat datang, Spear Hero!...


Takumi diselimuti cahaya hangat yang aneh sampai dirinya merasa tiba disebuah tempat yang benar-benar baru.


__ADS_2