Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 101 — Bagian Yang Hilang II


__ADS_3

Mohon sempatkan membaca catatan ini.



Seperti yang kalian lihat, buku saya yang berjudul, WSP: Andromeda School telah diterbitkan. Bagi kalian yang berkenaan membelinya silahkan chat atau komentar di chapter ini. Atau mungkin kalian ingin yang lebih cepat dengan melalui penerbitnya langsung? Yah, itu tidak masalah.


Hal-hal yang ada dalam dalam novel cetak sebagai berikut:


• Sedikit informasi tentang kekuatan Gray.


• Latar belakang keluarga Lina dan Gray.


• Identitas asli Flugel dan kekuatannya.


• Identitas asli Gray.


• Narkotika Jenis Baru.


• Serangan World Revolusi yang dipimpin oleh salah satu petinggi, Irene.


• Hukum rimba di World Revolusi.


• Kehancuran stadion dan kota sekitar.


• Irene Vs Dua Ranker Bintang.


• World Revolusi menargetkan Lina.


Ini mungkin seperti spoiler namun juga bukan spoiler, ya. Ke depannya saya memiliki sedikit niatan melanjutkan ceritanya, tentu saja setelah Creator Hero tamat ataupun chapter dari novel Tujuh Kunci Pleiades yang masih saya simpan sampai kini telah mencapai target yang saya inginkan.

__ADS_1


Ini sangat berarti bagi saya karena merupakan sebuah pengalaman langka yang jarang didapatkan untuk berhasil mendapatkan adaptasi. Dengan kalian mau membelinya adalah kehormatan untuk saya dan rasa senang yang luar biasa. Saya tidak memaksa kalian untuk membelinya, ini hanya harapan kecil saya.


Jika kalian ingin memesannya melalui saya pribadi, silahkan komentar atau mungkin bisa hubungi saya di Instagram pribadi saya.


@ajipang_1


...**_____________________________**...


Di Hutan Peri yang tampak penuh kekacauan, Priscilla mulai membuka matanya dan menemukan pemandangan cabang pohon besar yang ketinggiannya mencapai langit. Dia duduk dan memegang kepalanya yang terasa sakit sembari mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kamu sudah sadarkan diri, Ratu Priscilla?”


Suara lembut memanggilnya, Priscilla menemukan Undine yang membawakan minuman hangat dan duduk di sisinya. Melihat wajahnya yang cantik membuat rasa sakit di kepalanya sedikit mereda.


“Ya. Kepalaku terasa sakit, entah apa yang sebenarnya terjadi.” Priscilla memijat keningnya dan menerima teh hangat yang dibawakan Undine.


Undine terdiam beberapa saat dan mulai berbicara ketika Priscilla selesai meminum dan meletakkannya. Meski tidak harus melakukannya namun dia tidak ingin melakukan pembicaraan kepada siapapun ketika lawan bicaranya sedang makan atau minum.


Undine awalnya berpikir ada serangan yang menimpa hutan peri namun ketika memeriksa salah satu peri kecil, dia menyadari bahwa kondisi para peri sedang tertidur. Undine lekas bergegas ke tempat Priscilla untuk memberi laporan namun dia terkejut melihatnya dalam kondisi sama. Karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka Undine membawanya ke puncak Pohon Roh.


Dia juga sudah menanyakan kepada para peri dan penghuni hutan yang sadarkan diri namun tak satupun dari mereka memiliki informasi berguna. Satu hal yang sama dari kesaksian mereka, bahwa semuanya tiba-tiba menjadi bercahaya dan mereka tak ingat apa yang terjadi setelahnya.


“Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Aku berasumsi bahwa hal ini mungkin dampak dari kekuatan tertentu yang digunakan di medan perang saat ini.”


Ketika Undine mengatakan itu, Priscilla sedikit tertegun dan menatap Undine dengan kejutan. Untuk beberapa alasan Priscilla bereaksi dengan kata "Perang" dan berusaha mencari tahu asalnya. Tetapi meski dia berusaha, Priscilla tidak tahu apa alasannya menjadi sangat berduka.


“Apa Ragnarok masih belum selesai juga? Aku pikir semuanya akan cepat setelah aku menumbuhkan pohon raksasa itu.”


“Ya. Tampaknya semua menjadi semakin rumit. Meski ada indikasi bahwa perang sudah memasuki tahap akhir namun masih tidak jelas siapa yang akan keluar sebagai pemenang.”

__ADS_1


Situasi saat ini cukup rumit untuk digambarkan. Undine telah merasakan delapan kehadiran kuat sedang melakukan konfrontasi dengan seorang Pahlawan. Mereka tampak imbang atau juga tidak. Karena meski mereka mengeroyoknya manusia itu tidak terlihat terpojok.


Sampai pada waktu di mana para Pahlawan berkumpul semuanya, hingga kini tiga dari para Seraphim telah tumbang. Namun bagian mengejutkan lainnya adalah kekuatan aneh yang mampu menghidupkan dua lainnya.


Undine sangat yakin bahwa ada yang mampu menggunakan sihir tidak masuk akal seperti Ressurection. Jika begitu adanya maka tak peduli seberapa banyak para Pahlawan membunuh Seraphim, mereka akan mampu bangkit lagi. Meski Undine tidak yakin seberapa banyak kekuatan itu bisa digunakan namun yang jelas itu merepotkan untuk membunuh orang yang sama dua kali.


Lalu di tempat lain tampaknya pasukan iblis sudah benar-benar dekat dengan medan perang dan juga Gerbang Surgawi yang sejak tadi bercahaya terang hingga mencapai Hutan Peri sangatlah mengkhawatirkan.


Para manusia juga mulai bergerak dan banyak nyawa kehidupan berkumpul di satu tempat. Lebih dari cukup bagi Undine membuat kesimpulan bahwa ketiga ras yang berperang telah mengerahkan kekuatan penuhnya.


“Dengan bantuan pohon raksasa yang kamu tumbuhkan seharusnya tak ada keraguan bahwa dia memiliki peluang menang yang besar. Pohon tersebut akan menyerap nutrisi dari mayat kehidupan yang gugur lalu mengubahnya menjadi energi kehidupan.” Undine merasa yakin seharusnya manusia tidak akan dan tidak berniat menjalani perang sepanjang ini.


Priscilla yang mendengar tampak acuh tak acuh terhadap kisah tersebut. Bukannya tidak peduli kepada perang namun yang membuatnya bersikap demikian adalah hal lain. Hal yang tidak dia pahami atau ketahui.


“Dia ... Siapa yang kamu maksud?”


Pertanyaan yang terdengar aneh namun Undine segera tertegun karena dia juga tiba-tiba tidak mengingat orang yang dimaksud.


“Aku, aku sendiri tidak tahu siapa yang kubicarakan ... Ini sangat aneh.” Undine menatap balik Priscilla dan mulai memunculkan keringat dingin.


Baik Priscilla atau Undine tahu bahwa mustahil diantara keduanya memiliki ingatan yang dilupakan. Tak peduli seberapa lama waktu yang berlalu, jika tidak ada pemicu tertentu mereka tidak akan bisa melupakan apapun.


“Peri ditakdirkan memiliki penyimpanan tak terbatas di kepalanya, kita akan mampu mengingat setiap detik yang berlalu namun tidak pernah ada kejadian peri bisa lupa.” Priscilla mengatakannya dan mulai berpikir.


Untuknya yang setengah manusia, masih wajar untuk melupakan sesuatu namun tidak demikian dengan Undine yang murni seorang peri.


“Jika diingat lagi, peri lain yang aku tanyakan tidak tahu atau ingat apa yang menyebabkan mereka pingsan. Itu juga aneh, sangat aneh.” Undine kembali membenahi pikirannya yang kacau.


Priscilla sendiri mulai memutar otaknya. Dia kembali mengingat secara runtut hal-hal yang dia lakukan belakangan ini dan tampaknya ada banyak lubang di ingatannya. Terutama pada satu bagian penting dari ingatannya tentang tempat yang amat berarti baginya.

__ADS_1


“Untuk siapa aku menanam pohon itu? Dan ... tempat itu, Labyrinth, apa maksudnya?” Dia tidak mampu mengingat dengan jelas dari ingatannya.


Priscilla ingat ketika mengorbankan dirinya dia pergi ke suatu tempat yang berada di alam lain namun kini Priscilla tidak mengingat tempat apa itu.


__ADS_2