Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 52 — Kencan Pertama


__ADS_3

“Selamat datang kembali Rigel.” Asoka datang menyambut namun dia berhenti begitu melihat wajah Rigel yang masam dan tidak senang.


“Ya.” Rigel berjalan dengan acuh dan mengabaikan Asoka, suasana hatinya sungguh tidak baik dan lidahnya terasa sangat pahit karena suatu hal.


Dia dengan acuh tak acuh menuju ruang kontrol dengan wajah pahit, Asoka bertanya-tanya kepada Ray tentang apa yang terjadi kepada Rigel sampai suasana hatinya seburuk itu.


Ray menjelaskan tentang pertemuan mereka dengan Aludra yang adalah Ayah Rigel, pria jahat dan bajingan yang mengacaukan dunia di seribu tahun yang lalu. Pria itu juga yang membuat perbudakan, menciptakan ras Hakurou dan membangkitkan Malapetaka.


“Sebaiknya kita diamkan dia, ada waktu di mana kita harus membiarkannya sendiri.” Merial menyarankan dengan tatapan prihatin kepadanya.


“Aku harap dia baik-baik saja, di masa dunia mulai bersatu Rigel harus tetap baik karena dia menjadi pusat semua ini.”


Rigel pernah menghilang selama dua tahun saat menghadapi Diablo dan begitu kembali dia membuat dobrakan besar dengan penaklukan Hydra yang membuat sejarah 400 tahun stagnan kembali bergerak, tak sampai disitu dia menjadi Pahlawan yang memimpin pembunuhan Tortoise, White Tiger, Phoenix dan yang belum lama ini terjadi yaitu Acnologia.


Dengan kekuatan misterius yang dia peroleh dari dua tahun kekosongan tersebut Rigel mendapatkan posisi pemimpin para Pahlawan secara tidak langsung.


“Ya mari biarkan Rigel karena tidak ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuknya. Untuk sekarang mari fokus pada Legion Of Liberation yang masih dalam pembentukan.”


Sebelum perang dimulai ada sangat banyak yang perlu diselesaikan, semua orang terlibat melakukannya tanpa terkecuali para Pahlawan yang membunuh banyak monster untuk persediaan dan menaikkan level.


Dilain tempat orang yang tidak butuh naik level tengah duduk dengan geram, telunjuknya mengetuk-ngetuk kursi tempatnya duduk dengan wajah terlipat marah.


“Sial, sialan!” Rigel mengumpat dan udara di ruangan tersebut bergemuruh selama beberapa waktu.


Alasannya menjadi sangat marah adalah apa yang dikatakan oleh Aludra menjadi pelengkap kalimat Pahlawan lainnya, dia juga mengaku melihat masa depan dan mengatakan hal tersebut tak bisa dirubah.


“Takdir tak bisa dirubah, namun aku selalu percaya nasib seseorang dapat berubah!” Nasib dan takdir adalah dua hal berbeda dengan kertas tipis yang menjadi perbedaan.


Jika takdir yang Rigel miliki tidak berubah maka setidaknya dia ingin nasibnya dan semua orang berbeda dari seharusnya, akan tetapi kalimat yang disampaikan Alnilam dan yang lainnya sangat mengganggu.


Dia yang terakhir adalah yang membenci karena terlahir, dalam artian orang yang berdiri terakhir akan menyesali telah lahir, lebih mudahnya entah itu orang atau monster dia akan menyesal telah hidup.


“Sepinya keabadian adalah teman perjalanan. Jika begitu maka orang yang hidup abadi akan melakukan perjalanan yang hening ... orang yang kukenal abadi hanya Azartooth.” Selain dia tidak ada yang lainnya, Rigel tidak memikirkan ada orang lain yang memiliki keabadian.


Mengenai kalimat lainnya yang disebutkan oleh Pahlawan masa lalu Rigel tak perlu memikirkannya karena perkataan mereka sangat jelas bagi siapapun untuk memahami maknanya.

__ADS_1


Rigel memijat keningnya dengan gundah, “Mari lupakan, lebih baik aku memikirkan persiapan perang nanti.”


Rigel membuat beberapa hal dan menyimpannya di lautan, dia tidak memiliki kekhawatiran itu akan hancur atau sejenisnya. Yang perlu dikhawatirkan adalah bagaimana para iblis dan malaikat akan bertindak dari sekarang.


Terutama Michael yang tampak masih ada di dunia ini, entah apa yang akan dia lakukan selama tahun kedamaian ini. Pada masa depan yang Rigel lihat Ragnarok akan dimulai dan hanya tepat di depan mata. Ada kemungkinan persiapan Legion Of Liberation akan tepat waktu atau juga tidak, karena hal itulah dia mendaftarkan pasukan baru yang berada di bawah pengawasannya.


“Aku harus menghimbau semua orang terutama Takumi dan Yuri, sebisa mungkin mereka tidak boleh memiliki anak.”


Rigel yakin akan merepotkan jika Yuri melahirkan, kemungkinan untuk kematian saat melahirkan memiliki presentasi yang tinggi dan jika itu terjadi Rigel takkan memiliki pengganti untuk posisi Yuri.


Jika hanya sekedar melakukannya tanpa tujuan menghasilkan anak maka tidak ada masalah lagipula Rigel juga tertarik melakukannya.


“Huh~ menyebalkan. Sepertinya aku perlu menyisihkan pikiranku dari segala urusan rumit.”


Manusia tidak bisa terus-terusan bekerja dan Rigel telah memutar otaknya dalam waktu yang lama, dia perlu istirahat agar otaknya kembali segar dan Rigel tahu orang yang pantas dia habiskan waktunya.


“Mungkin ini akan menjadi kencan pertamaku dengan Tirith di luar kerajaan.”


Rigel tidak banyak berpikir tentang ke mana dan apa yang akan mereka lakukan, dia tanpa banyak alasan rumit pergi menemui Tirith yang berada di kamarnya dan tengah tidur.


Rigel menyeka rambut di pipinya yang membuat Tirith terusik dan bangun, “Ri-ri-ri-rigel?!!” Dia terkejut dan merona, segera bangkit untuk merapikan diri dan wajahnya.


“Saat dunia sedang sibuk untuk persiapan perang namun kamu sungguh santai dan tidur seperti babi.” Rigel menggelengkan kepalanya, tuan putri yang satu ini sungguh santai hidupnya.


“A-apa yang kamu lakukan di sini dan menyapa tidak memberitahu bahwa akan datang?”


“Kamu tahu bahwa aku bukan orang yang mau melakukan hal merepotkan seperti itu.” Rigel selalu datang ketika ingin dan pergi ketika ingin, dia tidak perlu formalitas atau semacamnya, “Bersihkan dirimu, kita akan pergi kencan.”


Rigel meninggalkan ruangan dan berkata akan menunggu di taman, selagi menunggu dia berbaring dan sedikit tidur di hamparan rumput serta angin yang segar.


Hampir setengah jam berlalu dan Tirith menemui Rigel di taman, dia menatap wajah tidurnya dan membelai rambutnya sampai Rigel terbangun dan membawanya pergi.


Rigel berpikir untuk berteleportasi atau terbang namun hal itu terlalu membosankan, mobil dan kendaraan modern juga tidak begitu bagus, “Yah, kita gunakan kendaraan yang lebih santai. Necromancer — Bangkitlah Naga.”


Rigel memanggil seekor naga besar yang cantik, dia membiarkan Tirith naik dan segera lepas landas.

__ADS_1


“Ke mana tujuan kita?”


“Ke mana saja tidak masalah.” Rigel mencari sekeliling dan menemukan sebuah danau yang cukup indah, dia memilih untuk singgah di sana dan memancing.


Tirith terlihat heran dengan pancingan yang diberikan Rigel, baginya ini pengalaman pertama memancing. Hal tersebut terlihat jelas dari bagaimana dia takut melihat cacing.


“Aku tidak menyangka kamu menyukai hal seperti ini Rigel.”


“Yah, terkadang aku melakukan ini saat kelaparan. Di duniaku dulu memancing adalah cara mudah mendapatkan makanan.”


Rigel ingat dia dan anak di panti asuhan begitu kelaparan sehingga nekat memancing di kolam milik orang lain, pengalaman tersebut tidak bisa dilupakan karena Rigel mendapatkan pukulan keras dari pemilik kolam.


“Begitu ya, namun aku tidak tahu bagaimana waktu ketika kita mendapatkan ikan.”


“Saat sesuatu seakan menarik pancingmu maka tariklah, itu artinya kamu mendapatkan sesuatu.”


Tirith menatap Rigel dengan wajah takut, “Kalau begitu ... kurasa ini sangat besar.” Seketika pancingannya bengkok ke bawah dengan kuat.


Rigel melebarkan matanya karena terkejut, dia meninggalkan pancingannya dan membantu Tirith dari belakang, “Tak perlu panik, tariklah sekuat mungkin.” Bisik Rigel di telinga Tirith.


Hal tersebut membuatnya terkejut begitu Rigel bertindak tersebut, baginya sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka melakukan kontak fisik sedekat ini.


Disebabkan oleh hal yang sama Tirith melepaskan pegangannya sebelum Rigel benar-benar memegangnya.


“Ah, terlepas.” Tirith tersadar dan terkejut karena pancingan di tangannya telah tenggelam ke dasar danau.


“Dasar gadis nakal, kamu melepaskannya begitu saja. Apa yang membuatmu begitu terkejut hingga merona?” Rigel memeluknya dan menggigit lehernya, tangannya menjamah ke tempat tertentu yang membuat Tirith menggeliat aneh, “Malam ini aku ingin bersamamu.”


Mengatakan perkataan yang membuat Tirith salah tingkah mereka menghilang dari tempat begitu matahari mulai turun, Rigel tiba di ruang kontrol di mana hanya dia dan Leo yang bisa masuk sesuka hati.


Untuk antisipasi kalau saja Leo hadir dia telah menutup ruangan tersebut sehingga malam akan jadi milik mereka berdua.


“Rigel, lakukan perlahan.” Tirith yang panas memeluk Rigel saat mereka melakukan hal intim antara lawan jenis.


“Aku tahu.” Rigel mendorong wajahnya dan memberikan ciuman di malam yang damai tersebut.

__ADS_1


__ADS_2