
“Huh ... Akhirnya selesai juga. Tetapi, tidak ada waktu untuk terus beristirahat.” Hazama yang terbaring di tanah menatap langit merah mencekam.
Pertarungan di blok Barat Daya telah berakhir namun bukan arti bahwa peperangan ini menemui akhirnya. Baik Rigel sebagai kekuatan terbesar manusia, pemimpin para Iblis Lucifer, dan Seraphim tertinggi Michael. Tidak ada satu pun dari mereka memunculkan diri dan memulai pertempuran akhir.
Awalnya Rigel telah menyatakan deklarasi perang kepada mereka dalam upaya mempersingkat peperangan. Tetapi, kedua pemimpin lainnya bukanlah orang dungu yang akan datang karena tantangan. Mereka pastinya cukup gentar oleh serangan Rigel di babak awal pertempuran.
Kewaspadaan penuh tidak bisa dihindari dan karena itulah peperangan ini akan berjalan dalam waktu yang lama.
“Huh ... Tak ada waktu ... Istirahat ...” Aland juga sependapat tetapi tak mampu berbicara dengan benar karena napasnya megap-megap.
Ada banyak hal yang harus mereka lakukan sebagai Pahlawan, membiarkan diri beristirahat terus tidaklah bijak saat para tentara Legion berjuang. Bahkan Rigel yang harus disimpan sampai waktunya tiba sedang berjuang mengatur tentara kematian yang dia perintah secara pribadi.
“Apa kamu masih sanggup bergerak? Jika tidak, aku akan mengantarmu ke Britannia untuk istirahat.” Hazama beranjak bangun dan menatap lautan malaikat yang menuju mereka.
Dia seharusnya menjadi khawatir karena keadaan buruk akan tiba namun kekuatan besar lainnya juga datang menuju mereka. Tidak ada kekhawatiran karena mereka tidak harus bergerak secara tergesa-gesa.
“Ya. Aku akan kembali untuk berisitirahat sebentar ... Bagaimana denganmu?” Aland masih terbaring dengan lemah dan mengatur napasnya.
Kelelahan selama ini telah bertumpuk di tubuhnya, meski dia tak memiliki kekuatan kutukan namun menggunakan palu lebih menguras kekuatan fisik dan sihir lebih dari semua senjata Pahlawan lainnya. Palu sebenarnya hebat, seandainya orang dengan kekuatan aneh di luar manusia biasa seperti Rigel mampu menggunakannya dengan maksimal.
Tergantung pada penggunanya, senjata palu mampu memberikan kekuatan penghancuran yang luar biasa. Seandainya Aland tidak terlalu lemah dia bisa menggunakan kekuatan sebelumnya seperti halnya bernapas.
“Aku mungkin akan pergi membantu Ozaru, atau pergi ke garis belakang untuk melindungi mereka.”
__ADS_1
Pasukan yang dipimpin Bellemere saat ini sedang mundur ke garis belakang, tempat Ray dibekukan. Mereka perlu beristirahat selama beberapa waktu selagi gelombang lain dari tentara Legion, Berserker menuju medan perang.
Hazama tak tahu tepatnya berapa lama pertarungan sudah berjalan, jika perhitungannya tidak salah maka seharusnya sekarang adalah malam hari. Manusia bukan makhluk hebat yang tak butuh istirahat. Meski fisik kuat namun otak perlu kesempatan untuk beristirahat.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kehilanganmu adalah pukulan yang lebih besar daripada kehilangan Marcel.”
Mungkin kejam untuk mengatakannya tetapi faktanya benar. Seandainya Hazama gugur maka umat manusia tidak memiliki kesempatan menahan serangan besar yang mungkin saja akan dilancarkan lawan. Rigel mungkin bisa mengatasinya namun dia juga memiliki batasan.
Mudah untuk menghapusnya namun sulit memanfaatkannya agar tak sia-sia begitu saja. Jika Hazama yang menahannya langsung maka Full Counter yang dia miliki sangatlah berguna karena kelelahan tak hanya dari menahan serangan tetapi juga untuk serangan balik.
“Aku tahu.” Hazama berdiri dan memberikan uluran tangannya kepada Aland yang masih terbaring di tanah dengan lesu.
Mengambil uluran tangan tersebut Aland kembali berdiri meskipun terhuyung-huyung dan hampir terjatuh. Kepalanya terasa sakit dengan tubuh terasa begitu lemas. Namun Aland masih mampu mengatasi dirinya sendiri dan dia mulai mengaktifkan teleportasi.
Hazama menunggu sampai Aland pergi dan baru menuju medan perang lain. Tetapi setelah beberapa menit berlalu Aland tak kunjung berpindah. Hazama merasa dipermainkan atau Aland mencoba membuat lelucon sampai dia memutuskan untuk bertanya.
“Apa kamu pikir aku akan sebodoh itu untuk membuat lelucon disituasi semacam ini?” Aland menatap Hazama dengan bermasalahnya.
Dia masih tak memahami situasi ini. Aland tidak sedang bercanda, sudah berkali-kali dia mencoba mengakses teleportasi namun seketika itu juga dia terus-menerus gagal menggunakannya dengan alasan gangguan sihir atau semacamnya.
Hazama cukup penasaran dan mencoba mengaksesnya namun hasilnya sama, dia akhirnya menyadari alasan Aland tidak kunjung pergi dengan teleportasi. Karena baik Hazama atau Aland tidak bisa bepergian dengan teleportasi.
“Ini ... Apa maksudnya?” Hazama tertegun karena teleportasi tidak lagi bisa digunakan.
__ADS_1
Kasus yang pernah mereka alami pada suatu waktu bertarung dengan Pilar Iblis. Namun mereka terkejut karena tak sadar bahwa ada penghalang yang sudah tercipta di medan perang.
“Sihir yang mengganggu teleportasi, ya? Ini sangat merepotkan bagi kita.” Aland merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Hal tersebut menyusahkan karena Pahlawan lain tidak bisa datang memberikan pertolongan mereka. Butuh waktu yang cukup lama berlari dari lokasi pengawas hingga ke medan perang. Kerugian lainnya adalah mereka seperti Aland yang kelelahan tidak akan bisa pergi untuk beristirahat.
“Apa yang harus kita lakukan?” Aland beralih menatap Hazama yang juga bingung.
“Ini memang menyusahkan, tetapi masalahnya adalah aku penasaran siapa yang menggunakan kekuatan ini. Apa mungkin pihak malaikat, atau dari iblis?”
Masalah utamanya adalah mereka tidak tahu apakah sihir ini dari musuh, atau kawan. Kemungkinan terburuk ini rencana Lucifer yang ingin memusnahkan segera para Pahlawan.
“Baik itu iblis atau malaikat, mereka sama-sama musuh. Namun, dengan penghalang ini apakah mungkin mengirim tentara ke medan perang?”
“Itu dia masalahnya. Aku tidak paham betul mekanisme alat teleportasi yang dibuat oleh Rigel. Seingatku dia menggunakan semacam titik koordinat.”
Tidak ada jaminan apakah teleportasi buatan Rigel mampu menembus sihir ini atau tidak. Yang paling buruk adalah kemungkinan terakhir, jika tidak mampu menembusnya maka gelombang pertempuran ini akan menjadi sangat buruk.
Mereka tidak lagi bisa mengharapkan bantuan dari tentara Legion lain karena mereka membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai medan perang dengan berjalan kaki. Bahkan jika tidak berjalan kaki, masih butuh satu hari penuh mencapai tempat ini.
“Kita hanya bisa berharap, sihir ini mencegah siapa pun di dalamnya untuk teleportasi namun tidak membatasi orang dari luar penghalang untuk memasukinya.” Aland berkata selagi tubuhnya di papah oleh Hazama.
“Ya. Namun entah mengapa aku merasa Rigel sudah memikirkan situasi seperti ini. Selama waktu-waktu damai itu, dia diam-diam mengerahkan banyak orang untuk membangun sesuatu diam-diam.” Hazama tak yakin apakah pemikirannya benar atau tidak namun dia percaya Rigel memiliki antisipasi, “Kita hanya bisa berharap dia melakukan sesuatu atas keadaan ini.”
__ADS_1
“Ya. Harap saja begitu adanya.”
Aland dan Hazama pergi menuju garis belakang, mereka melewati pertarungan hebat antara Armageddon dan tentara kematian.