
“Keargh! Sakit!” Petra merintih selagi berusaha melepas pelukan kaki Kalkydras di pinggangnya.
Mulai dari pinggang hingga bagian bawahnya tak lagi bisa dirasakan oleh Petra. Darah tampak mengalir dari balik pakaian yang dua gunakan. Pelukan kaki Kalkydras tidak mengendur sedikitpun meski Petra sudah berusaha menghancurkannya.
“Nona Petra-!”
Bellemere dan Regulus menyadari keadaan Petra dan bergegas ke arahnya. Mereka khawatir terjadi sesuatu, ketimbang menyerukannya lebih baik melihatnya langsung. Pemandangan tubuh Kalkydras yang kakinya memeluk pinggang Petra dengan kuat mereka temukan.
Segera bersama mereka memotong kedua kaki tersebut dan berusaha tidak menyakiti Petra. Ketika berhasil melepaskan bagian tubuh Kalkydras yang mulai berbuah menjadi partikel cahaya, Regulus memanggil Tim Penyihir untuk menyembuhkan Petra.
“Cepat rawat dia, apa pun yang terjadi jangan sampa ada kesalahan!”
Regulus mulai tergesa-gesa melihat Petra yang kian menderita. Bagian tubuh bawahnya tidak lagi bergerak, dia khawatir bahwa Petra akan mengalami kelumpuhan. Para penyihir berbondong-bondong datang dan melakukan sihir penyembuhan bersama-sama.
Setelah beberapa menit rasa sakit yang dialami Petra kian mengurang dan dia tak lagi sadarkan diri. Tidak lama anak panah cahaya merah muda dengan tali panjang mencapai di dekat mereka. Tali tersebut menegang dan seseorang datang dari sisi lain. Dia menggunakan anak panah cahaya lain untuk bergelantungan di talinya dan mendorong tubuh dengan sihir angin agar kecepatannya meningkat.
Wanita itu— Yuri yang membuat flying fox-nya sendiri dengan kemampuannya. Dia segera pergi dan berlutut di depan Petra.
“Dia lengah di detik-detik terakhir pertarungan. Seharusnya dia tetap ingat pesan Rigel untuk mewaspadai lawan sampai akhirnya.” Yuri memegang tangan Petra dan memeriksa denyut nadinya, “Syukurlah dia hanya pingsan.”
Meski Petra hanya pingsan tetapi bukan artinya dia akan baik-baik saja. Bagian bawah tubuhnya cukup memprihatinkan, bahkan salah satu penyihir yang menyembuhkannya mengerutkan alis.
“Bagaimana keadaannya?” Regulus mendesak penyihir itu untuk memaparkan kondisi tubuh Petra.
Penyihir itu tidak segera menjawab, dia tampak bimbang untuk mengatakannya atau tidak. Kekhawatirannya adalah didesak untuk melakukan sesuatu yang mustahil. Lagi pula sampai kini dia telah mengerahkan banyak metode penyembuhan dalam sihirnya, tetapi tidak satupun yang akan membuat Petra keluar dari nasib yang harus diterimanya.
“Ini, saya tidak tahu dari mana harus memulainya.” Wajah penyihir itu terlihat pahit seolah menolak kenyataan yang ada.
“Katakan saja dengan jelas dan perlahan. Selama kamu tidak mengucapkan kalimat bodoh takkan ada masalah.” Petra mendorong Penyihir itu berbicara, tetapi bagian akhir kalimatnya yang justru berdampak buruk bagi si penyihir.
Mau tidak mau dia memang harus menjelaskannya karena tidak ada diantara penyihir lainnya memahami kondisi bagian dalam tubuh Petra.
‘Seandainya ada Raja Alexei yang menjadi pemimpin Regu Penyembuhan semua akan jauh lebih mudah.’ Penyihir itu hanya bisa menghela napas dan mengharapkan orang yang tak ada di sini.
“Pertama mulai dari telinga Nona Petra. Bagian luar dari telinganya rusak namun untungnya tidak ada yang terpotong sehingga masih mungkin untuk dipulihkan. Namun untuk bagian saluran telinga, gendang, dan tulang-tulang pendengarannya rusak sudah. Karena itu, dengan kemampuan saya saat ini, mustahil untuk melakukan pemulihan.”
Penyihir berkata dengan nada yang benar-benar menyesal karena kemampuannya masih kurang untuk bisa memilih pendengaran Petra. Baik Yuri, Regulus dan Bellemere tak mendorong Penyihir itu melakukan pemulihan yang tak bisa dilakukan lebih jauh.
“Untuk kami semua, Pahlawan Kipas merelakan pendengarannya!”
“Betapa mulianya, hanya untuk semua orang tidak tewas!”
__ADS_1
Para tentara Legion yang mendengarnya mulai menangis dan berdecak, mereka tak percaya nyawa mereka telah berkali-kali diselamatkan oleh gadis rapuh tersebut. Jika bukan karena gelar dan senjata pahlawan, Petra sungguh hanya gadis biasa nian lemah.
“Artinya tidak ada cara untuk membuat Nona Petra kembali mendengar, ya?” Bellemere berkata dengan sedih dan turut bersuka cita.
“Namun itu keputusannya. Kita tak boleh menunjukkan rasa belas kasih karena mungkin akan melukai hatinya.” Regulus mendorong semua orang untuk tetap tegar, segera ada secercah harapan kecil muncul dalam benaknya, “Nona Yuri, sebagai orang yang datang dari bumi yang sama, apa ada benda dari dunia anda yang mampu membantu pendengaran?”
Yuri menatap Regulus, awalnya dia sedikit berharap namun segera menghilangkan harapannya, “Aku tidak yakin. Namun memang ada alat khusus yang membantu seseorang untuk mendengarnya. Tetapi kondisi Petra khususnya, mungkin alat itu takkan membantu.”
Dia mampu menebak niat Regulus, jika ada benda seperti itu maka Rigel hanya perlu membuatnya dan masalah pendengaran Petra akan terselesaikan. Namun sayangnya bahkan dengan kemajuan teknologi bumi, sekalipun dimensi mereka berbeda, Yuri yakin di bumi asal Rigel sekalipun tidak ada alatnya. Meski ada namun tampaknya akan sulit karena kasus Petra berbeda dari biasanya.
“Lalu bagaimana dengan tubuh bagian bawahnya? Apa bisa disembuhkan dengan baik?” Yuri mengalihkan pembicaraannya.
Penyihir itu kembali bermasalah, dia masih mengerahkan usaha terbaiknya untuk menyembuhkannya. Namun untuk beberapa faktor yang tidak diketahui, sebagian tubuhnya menolak sihir dari luar.
“Saya yakin nyawa Nona Petra akan baik-baik saja. Namun tulang pinggang hingga ekor memiliki kerusakan yang sangat parah sehingga akan menyebabkan kelumpuhan. Saat ini saya dan rekan yang lain berusaha sebaik mungkin untuk menghindari Nona Petra menjadi lumpuh, tetapi ada kekuatan aneh yang menolak sihir dari dalam. Kemungkinan besar kekuatan itu adalah kutukan namun tidak dipastikan siapa yang mengutuknya. Dan juga, stamina saya lebih cepat habis dari yang diharapkan.” Wajah penyihir terlihat menyakitkan, keringat juga tampak membanjiri tubuhnya.
Tidak hanya penyihir tersebut tetapi penyihir lain yang membantu penyembuhan merasakan hal yang sama, bahkan dua dari lima penyihir telah berlutut. Baik Regulus ataupun Bellemere tak memahami keadaan tersebut, hanya Yuri yang mungkin tahu penyebabnya.
Dia mencoba menyentuh Petra tetapi sebelum sempat menyentuh kulitnya, tangan Yuri terhempas dan ujung jari telunjuknya melepuh seakan terbakar. Melihat tangannya yang demikian terluka, Yuri menjadi yakin penyebabnya.
“Begitu, kemungkinan besar efek samping dari kutukannya sudah aktif.”
“Kutukan? Apa sesuatu yang jahat seperti itu mungkin dimiliki oleh eksistensi suci seperti Pahlawan?” Bellemere menggaruk kepalanya, baru kali ini dia mendengar Pahlawan terkena kutukan.
“Ya, ini kasus yang sama dengan Takumi. Petra semestinya menggunakan Seri Kutukan dari Tujuh Dosa Besar. Untuk Takumi efeknya sangat buruk, siapa pun di dekatnya akan merasa malas bahkan untuk bernapas sekalipun.” Yuri mengalihkan tatapannya ke Petra, “Kasusnya mungkin tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya seolah kutukan itu tidak ingin siapa pun menyentuh Petra. Sungguh kutukan merepotkan, ini pasti kecemburuan.”
Yuri yakin hal tersebut karena mau bagaimanapun tempat itu cocok untuk menggambarkan kondisi tubuh Petra saat ini. Meski dampaknya tak meluas seperti Takumi, tetapi bagian merepotkannya di sini.
“Tak hanya tidak mengizinkan orang menyentuhnya namun kutukan itu juga menolak penyembuhan dari luar. Meski masih ada kesempatan bagi sihir penyembuhan menyembuhkan tubuh Nona Petra, tetapi sebagai ganti kekuatan orang yang menyembuhkan dicuri paksa, ya.” Bellemere meringkas situasinya saat ini.
Akan sulit bagi para penyihir untuk menyembuhkan Petra jika tenaga mereka terus diserap oleh kutukan kecemburuan. Bellemere menghampiri penyihir yang tampaknya lebih baik dari yang lain. Dia meletakkan bilah pedangnya di punggung penyihir itu.
“N-nona Bellemere! A-apa aku melakukan kesalahan, mohon ampuni nyawa—”
“Bodoh, aku tidak akan membunuhmu. Akan kuberikan kekuatan agar kamu mampu menyembuhkan Nona Petra sampai kondisinya stabil.”
“B-begitu ya, hahaha ...” Penyihir itu merona karena malu telah salah mengartikan tindakan Bellemere.
Lagi pula dengan kepribadiannya yang serius bukannya mustahil Bellemere akan membunuhnya. Sudah jadi rahasia umum diantara para pria bahwa tidak boleh mengusik atau melakukan hal yang mampu membuat Bellemere marah.
“Pedangmu sangat berguna, ya.” Regulus bergumam dengan takjub saat melihat pedang itu menyalurkan energi kepada si penyihir.
__ADS_1
Pedang Exterion tidak hanya mampu memberikan penggunanya energi, tetapi juga mampu memberikan orang lain energi meski tak sebanyak yang diterima penggunanya. Bellemere takkan mengalami kerugian apa pun jika memberikan energi dari Exterion ke orang lain.
Penyihir itu mulai melanjutkan tugasnya, dia mengeluarkan keringat yang sangat banyak sampai beberapa menit berlalu dan pengobatannya selesai. Meski pengobatannya telah selesai namun untuk beberapa alasan wajahnya tak membaik sama sekali.
Tak perlu menanyakannya lagi, semua orang mampu menebak alasan dari wajahnya yang tak membaik. Faktanya tulang yang remuk memang sulit untuk dipulihkan. Seandainya tidak ada sihir maka Petra perlu menjalani operasi.
“Saya berhasil memulihkan tulangnya dan Nona Petra perlu beristirahat selama beberapa waktu untuk memastikan tulangnya menyatu dengan benar. Namun sayangnya ... saya tak mampu mencegah kelumpuhannya.” Penyihir itu mengepalkan jarinya dengan kuat, “Mohon maafkan atas ketidakmampuan saya.”
“Tidak perlu minta maaf atas apa yang mustahil diubah. Untuk sekarang, aku akan membawa Petra ke Britannia.”
“Namun Nona Yuri, anda tak bisa menyentuhnya dengan sembarang. Faktanya ketika anda menyentuhnya walau hanya sedikit, jari anda melepuh.” Bellemere khawatir dan berusaha menghentikan Yuri.
Menyentuhnya akan menimbulkan luka dan Yuri adalah kartu berharga untuk memenangkan perang ini. Jika dia terluka walau hanya sedikit akan merugikan umat manusia. Bukan pilihan baik membiarkan Yuri terluka bahkan kelelahan sebelum memulai pertarungannya.
Regulus setuju untuk tak membiarkan Yuri melakukan tindakan berisiko. Tidak ada yang tahu bagaimana jadinya jika Yuri menyentuhnya dalam waktu lama, ada kemungkinan terdapat hal lain yang mungkin mampu merenggut nyawanya.
Namun jika membiarkan Petra terbaring di sini, meski ada orang-orang yang menjaganya tetap saja akan menyulitkan karena tidak semua orang bisa bertarung sambil menjaga bayi.
“Lalu apa yang harus kulakukan? Tak mungkin untuk membiarkan Petra di sini!” Yuri membentak dan memaksakan diri untuk menggendong Petra.
Namun sebelum dia melakukannya seseorang menghentikan tindakan Yuri. Dia adalah penyihir yang bersusah payah menyembuhkan Petra menghentikan tindakan Yuri yang ingin memapahnya.
“Mohon maaf, Nona Yuri. Membiarkan anda mengambil risiko adalah tindakan bodoh. Baik anda, Noma Bellemere, dan Raja Regulus sangat penting bagi kemajuan peperangan ini. Tak ada satupun dari kalian yang boleh mengundurkan diri dari peperangan ini.”
“Lalu apa, kamu ingin membiarkan Petra di sini?” Yuri tidak menangkap niat penyihir itu dan berkata dengan dingin. Dia bukan lagi gadis naif yang akan ragu untuk membunuh manusia sekalipun.
“Bukan begitu maksud saya, Nona Yuri! Mohon biarkan saya yang mengambil posisi memapah Nona Petra. Mau bagaimanapun keberadaan saya tai begitu penting, sekalipun sesuatu terjadi kepada diri ini, selama Nona dan yang lainnya baik-baik saja, setidaknya nyawa ini memiliki peran penting dalam peperangan.” Penyihir itu memberikan hormat dan perasaan akan pengorbanan terdalam.
Baik Yuri, Bellemere dan Regulus tertegun atas ketersediaan penyihir tersebut yang tampak tak peduli sekalipun nyawanya akan hilang hanya dengan memapah Petra. Semua orang akan mati namun tidak semua orang siap mati untuk orang lain. Diantara para Pahlawan sekalipun, tak semuanya bisa bersedia mati sepertinya Penyihir tersebut.
“Apa kamu yakin? Kamu mungkin benar-benar akan mati hanya karena membawanya.” Yuri bertanya untuk memastikan sekali lagi niat penyihir tersebut, “Kamu mungkin juga tidak akan mendapat imbalan besar dari membawanya.”
Untuk berjaga-jaga si penyihir mengharapkan imbalan besar Yuri menekankan hawa hak tersebut mungkin tidak akan terjadi. Masih belum terlambat bagi si penyihir untuk menarik kembali tawarannya.
“Nona Yuri tidak perlu khawatir. Sejak sebelum menjadi tentara Legion, saya sudah sangat bersedia untuk mengorbankan nyawa selama umat manusia mampu mengalahkannya ras iblis yang membunuh kekasih saya. Mengenai imbalan, jika anda serta Pahlawan lain berhasil membawa kemenangan bagi umat manusia, maka hal tersebut sudah merupakan hadiah terbesar.” Penyihir tersenyum dari balik tudung yang menutupi wajahnya, dia menambahkan kalimat, “Lagi pula saya berniat mati di medan perang ini.”
Tidak ada keraguan bahwa kata-katanya bukanlah sebuah kebohongan belaka. Pria penyihir itu sungguh bersedih untuk mati dan melaksanakan pengorbanan bahkan tanpa imbalan yang mungkin bisa dia dapatkan. Untuk menjawab keinginan tersebut, yang bisa Yuri lakukan hannyalah satu hal saja.
“Kalau begitu katakan namamu, dan jika mungkin nama iblis yang ingin kamu balaskan dendam. Aku, Pahlawan Panah, Sakura Yuri berjanji akan membalaskannya untukmu.” Yuri menunjukkan keteguhan dan kharismatik yang hanya dimiliki oleh seorang Pahlawan.
Penyihir itu tampak tertegun dan tersenyum penuh suka cita, lalu dalam balutan kebahagiaan tersendiri dia menyuguhkan, “Salazar D'Arc, adalah nama saya yang rendah ini. Lalu iblis yang membunuh kekasih saya, dia adalah Pilar Iblis yang bernama Igor.”
__ADS_1
Yuri mengangguk dalam-dalam dan mengingat baik-baik nama Pilar Iblis tersebut. Segera penyihir tersebut mengangguk sebagai balasan, segera dia menggendong Petra selayaknya tuan Putri, dengan hati-hati juga dia menghindari untuk memberikan posisi yang mungkin membuat tulang Petra memburuk.
Kulitnya mengeluarkan asap putih dan berubah menjadi kehitaman, terbakar juga terkena kutukan hanya dari menggendongnya saja. Yuri, Bellemere dan Regulus menatapnya dengan prihatin namun penyihir itu tidak terlihat kesakitan sama sekali. Tanpa menunggu waktu lama Yuri membawa penyihir itu serta Petra ke Britannia.