Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 64 — Bentrokan Besar! Akhir Gelombang Pertama


__ADS_3

Menit-menit sebelum kemunculan es abadi ataupun aura mengerikan tersebut, Marcel dan Diablo saling berhadapan dengan penuh ketidaksenangan.


Satunya kecewa karena yang datang bukan pria yang dia harapkan untuk dibunuh. Orang yang dia harapkan adalah Rigel yang mana sudah seperti musuh abadi dari Diablo, namun sayang yang datang adalah yang mengecewakan.


Sementara satu lainnya tidak senang karena dipandang rendah dan sebelah mata, menyaksikan kehadiran iblis sudah membuatnya muak, ditambah dengan iblis di depannya yang sangat memuakkan.


“Kenapa bukan Pahlawan Creator yang datang, kenapa cacing rendah sepertimu datang menghadapiku? Ini kebaikan hati, pergi dan suruh bajingan itu untuk datang.” Diablo tidak ingin merepotkan diri dengan orang yang tidak sebanding dengannya.


“Sepertinya kamu memiliki kebanggaan diri yang besar, meskipun nyaris terbunuh oleh orang yang kamu cari, cicak hitam.” Marcel tidak mengidahkan keinginan Diablo dan memangkul sabitnya.


“Itu hanya kelalaianku, dan tidak untuk kedua kalinya.” Diablo terlihat jengkel ketika hal tersebut diungkit.


“Kedua kalinya, bukan tiga? Kuingat kamu gagal membunuh Rigel sebanyak ini dan dari mana kedua kali yang kamu maksud?” Marcel membuat wajah yang memberikan kesan menyebalkan bahkan untuk Diablo.


Dia melebarkan matanya dan berhasil menangkis kuku tajam yang dilemparkan Diablo dengan cepat, melihat itu memancing ketidaksenangan dari dua pihak.


Hening selama beberapa waktu sampai keduanya menghilang di tempat dan saling beradu serangan di udara.


“Deathly Schyte!” Marcel memutar sabitnya satu putaran penuh, bilah-bilah cahaya segera muncul dan menerjang Diablo.


Melompat turun Diablo menanamkan cakarnya di tanah dan membentuk dinding dengan tanah. Dinding hancur namun mengejutkannya Diablo tidak ada di tempat, Marcel mencari sekitar sampai dirinya menemukan bahaya tepat di atas kepalanya.


“Darkness — Seven Snake!” Tujuh kepala ular yang lancip muncul dan berniat menelan Marcel, tetapi dia tidak cukup bodoh untuk diam dan menerimanya.


“Schyte Slash!” Tebasan sabit dilemparkan memotong kepala ular dan mendorong mundur Diablo.


Diablo mengeluarkan aura hitam yang berbentuk setengah lingkaran dan menutupi dirinya sepenuhnya, serangan Marcel jadi sia-sia karena aura hitam itu menangkisnya semudah membuka kacang.


“Kamu hanya memiliki senjata yang besar, tidak dengan kekuatannya.” Diablo tersenyum tipis dengan kecewa, dia menggelengkan kepalanya seolah tidak ada yang bisa diharapkan dari Marcel.


“Dan kamu hanya bermulut besar berkata bisa mengalahkan Rigel, kenyataannya kamu sendiri tidak bisa membunuhku dengan cepat!”


Mata dibayar dengan mata dan provokasi dibalas provokasi, Marcel tidak ingin ambil pusing awalnya namun iblis di depannya sangat lihai memainkan lidahnya, mau atau pun tidak dia harus bisa membalasnya.


“Sepertinya kamu memang ingin mati!” Diablo melipat wajahnya dengan marah, cakarnya mengeluarkan aura hitam yang mematikan.


Marcel menyiapkan sabitnya dan melesat menyerang Diablo, dalam sekejap benturan besar diantara keduanya terjadi sampai tak satupun mata mampu mengikuti kecepatannya.


Kecepatannya sangat cepat sampai siapapun yang melihat mereka hanya menemukan dua cahaya yang berbenturan dan percikan api dari senjata yang digunakan.


‘Dia sangat merepotkan!’ Diablo mengakui bahwa Marcel sangat tangguh dan sulit untuk ditaklukkan, meski benci mengatakannya namun dia tidak bisa membunuhnya jika tetap seperti ini keadaannya.


“Setidaknya akan kupersembahkan kepalamu sebagai permintaan maaf untuk Tuan Lucifer.” Diablo melambaikan tangannya ke atas-bawah, tanah tempatnya berpijak diselimuti kegelapan pekat, “Teritory — Domain Of Despair.”


Kegelapan terdalam itu segera membungkus mereka berdua ke sub-ruang yang terpisah dengan medan perang. Marcel yang terjebak di dalamnya bingung dan mendengar jeritan masa lalu.


“Marcel, kamu seharusnya satu komplotan denganku, namun kenapa kamu masih hidup dengan bangga?!”


“Matilah, matilah dan tertawa selayaknya dirimu yang mampu hidup tanpa bersalah meski kami mati!”


Suara-suara yang penuh kebencian dan amarah menusuk telinganya, dua tengkorak muncul dari dalam tanah dan merangkak di kakinya seolah ingin menariknya ke dalam kegelapan tanpa.batas itu.


“Argo, Takatsumi ...” Dua orang itu adalah Pahlawan yang telah gugur sebelumnya, mereka berdua orang yang bisa disebut sahabat baik oleh Marcel.


“Nee, masihkah ingat dirimu denganku? Wanita yang kamu setubuhi dan kamu bunuh.” Kali ini mayat yang membusuk muncul.


Seorang gadis yang tidak lagi memiliki kedua mata dan kulitnya copot serta bau busuk mengikutinya datang, gadis itu terus merangkak dan wajahnya sangat dekat seolah ingin mencium.


“Kamu ... Itu tidak ...”


Gadis Demi-human dengan penampilan pelayan yang dulu sering dimanfaatkan oleh Marcel untuk kepuasan nafsu dan dibunuh olehnya untuk meningkatkan level, kala itu pertama kalinya dia membunuh manusia.


Meski Demi-human termasuk ke dalam ras monster namun bagi penduduk bumi mereka manusia modifikasi atau semacamnya.


Untuk pertama kalinya dia menyesali dosa-dosa yang telah dirinya buat. Saat pertama kali tahu dirinya menjadi Pahlawan, Marcel mulai bertindak diktator dan seperti seorang penguasa.


Apapun yang dia inginkan pasti akan didapatkan tanpa terkecuali gadis, dan karena itu dia melakukan berbagai hal keji tanpa sepengetahuan Pahlawan yang lainnya.


Diantara orang-orang yang dipanggil bersamanya Marcel adalah yang terkuat, dia mulai menjadi semakin angkuh dan bersikap seenaknya. Namun sikapnya berubah setelah melihat Kekuatan Rigel dan ditampar fakta bahwa tiga Pahlawan mati.


“Ikutlah bersama kami ... Orang-orang yang kau permainkan dan kamu buang ... Kemarilah, MARCEL!”


“Hentikan!”


Marcel berteriak dan mencakar telinganya seolah berharap tidak lagi ingin mendengar apapun. Dia tahu bahwa ini adalah dosa yang harus dia tanggung, apa yang dia perbuat pasti akan mendapat ganjaran.


“Aku sudah dengar keputusasaan ini dari Rigel, Iblis ini sungguh lawan yang buruk bagi mereka yang melakukan banyak hal buruk ...”


Benar-benar kekuatan yang mengerikan, menarik rasa takut dan mengingatkannya dengan kenangan buruk untuk menarik keputusasaan keluar dari dalam hatinya.


Kekuatan yang dimiliki Diablo adalah yang terburuk baik itu untuk Marcel, Ozaru, bahkan Rigel sekalipun.


“Kukuku ... Pemandangan menyegarkan melihat Pahlawan menangis seperti bayi. Terus, teruslah dan keluarkan keputusasaanmu! Seperti yang kuharapkan, tidak ada yang lebih nikmat selain emosi gelap dari keputusasaan Pahlawan seperti kalian!” Diablo tersenyum lebar dan merasa di atas angin.


Dia ingat betul perasaan senang yang dia rasakan saat bermain pandora di sisi jurang dengan Rigel dan Pahlawan lainnya. Namun dari mengingat kejadian itu membuatnya geram.


‘Tidak hanya manusia itu masih hidup, dia bahkan membuatku sangat bermasalah termasuk membunuh peliharaanku!’


Bagi iblis kontrak adalah hal paling penting tidak terkecuali kontrak dengan monster. Diablo tidak pernah melupakan waktu di mana peliharaan naganya terbunuh dan kontrak diantara mereka hancur.


“Mana mungkin ...”


Suara tersebut segera menyadarkan Diablo dari pemikirannya, suara yang menolak menerima dan memilih terus menentang adalah yang paling tidak dia sukai.


“Mana mungkin ... aku akan diam membiarkannya.” Marcel berusaha berdiri tegak meski terlihat sempoyongan, “Dari pada memuaskanmu ... Aku lebih memilih jalan menuju kematian.”


Tatapan Marcel sedingin es, sorot matanya lebih mirip hewan buas dengan bagian putihnya menghitam.

__ADS_1


Diablo berniat mengakhirinya namun aura kegelapan yang kuat muncul dari lawannya, Marcel mengeluarkan energi jahat yang bahkan menghancurkan Teritory.


“Apa yang kamu lakukan? Mustahil dengan aura saja mampu menghancurkan Teritory ...” Diablo menyipitkan mata, dia terkejut melihatnya, “ ... Kamu menyerapnya? Jangan bercanda denganku!”


Menyerap kekuatan Teritory miliknya sama artinya Marcel menyerap rasa takutnya atas dosa dan keputusasaan yang dia miliki, dalam artian dia menerima semuanya.


“Apapun yang aku lakukan sudah wajar aku yang menerimanya ... Menolak semua dosa yang aku lakukan secara sadar sungguh bodoh, menyesali juga tidak berguna.” tubuh bagian atasnya tumbang namun kedua kaki masih berdiri, mulutnya segera memuntahkan darah saat aura hitamnya membentuk wujud.


“Jadi maksudnya kamu menerima semuanya termasuk keputusasaan? Sekalipun kamu Pahlawan, dirimu akan mati cepat atau lambat, bahkan Divine Protection tidak akan melindungimu.”


“Pft! Hahaha ... Divine? Sejak awal datang ke dunia ini aku tidak pernah bergantung kepada hal bodoh seperti itu. Lagi pula, sabit sudah berbeda sejak awal dari Pahlawan lainnya.”


Aura gelap yang berkumpul di belakangnya membentuk wujud berupa tengkorak dengan pakaian hitam, sabit hitam keunguan raksasa yang bergerak seirama dengan sabit yang ada di tangan Marcel.


Tengkorak itu membuka rahangnya seolah tersenyum, asap biru segera keluar dari mulutnya, beberapa erangan terdengar seolah dia berbicara namun tidak jelas apa yang dia sampaikan.


“Takutlah dengan si pencabut nyawa, Grim Reaper.”


Diablo merasakan dingin di punggungnya, “Apa-apaan denganmu ... Pahlawan mana yang menggunakan kekuatan dari kematian?! Baik kamu dan manusia Rigel itu tidaklah normal!”


Pahlawan adalah perwujudan dari manusia suci dan mereka lebih dekat dengan malaikat ketimbang iblis yang mendiami kegelapan, selama ini Diablo baru melihat dua orang Pahlawan yang menggunakan kekuatan kegelapan.


Pertama jauh di masa lalu, manusia buangan dan terkadang disebut Pahlawan ke-13. Lalu satunya adalah anomali diantara para Pahlawan yaitu Rigel, Pahlawan Creator. Sementara pria di depannya saat ini adalah yang ke-3.


“Kuhaha ... Jika kamu pikir ... Hanya Pahlawan Creator, Rigel satu-satunya yang berbeda ... Maka kamu harus membenahi pikiran tersebut.”


Marcel perlahan mengangkat tubuh bagian atasnya dengan sempoyong, pakaian dan set armor yang dia gunakan segera hancur menyisakan celana, tatapannya berkilau biru dengan raut wajah gila akan pembunuhan.


Disertai keanehan yang terjadi kepadanya, Marcel mulai mengeluarkan cairan hitam yang membentuk sigil disekujur tubuhnya.


“Akulah pria yang menelan segalanya termasuk dosa dan dunia ini ... Datanglah, Cursed Series — Glutonny!”


Marcel amat sadar efek samping dari menggunakan dua kekuatan ini diwaktu yang sama. Dampak dari menggunakan Grim Reaper sudah besar namun dia tidak tahu seberapa berbahaya seri kutukan.


‘Rigel sudah memperingatkan bagi Pahlawan yang memiliki seri kutukan untuk tidak menggunakannya di awal ... namun melawan iblis ini, aku tidak bisa setengah-setengah. Jadi maafkan aku.’


Selesai menyelesaikan permintaan maaf di dalam pikirannya, Marcel menghilang dari tempatnya dan membuat Diablo bingung lalu mencari sekitarnya.


“Aku tidak merasakan apapu—” Dia tidak menyelesaikan kalimat, hawa dingin segera datang dan itu tepat di atas kepalanya.


Diablo membentangkan sayap kelelawarnya dan terbang menjauh, meski berhasil menjauh dia menerima luka kecil di pipinya.


Getaran hebat yang membelah tanah akibat sabit Marcel dan Grim Reaper di belakangnya, angin dingin dari kematian menghantam langsung medan pertempuran penuh darah.


“Dengan tidak adanya pasukan manusia, aku tidak perlu khawatir akan menyerang rekan sendiri!” Marcel tersenyum bengis dan kembali menghilang.


“Sial, jadi itu tujuan awal tidak mengirim pasukan!” Diablo terbang menjauh selagi khawatir dengan lokasi kemunculan Marcel, dia tidak ingin menjadi pihak yang terus diserang, “Kesalahan terbesarmu adalah menjadi lawanku ... Hellfire — Helliest!”


Api hitam menyebar dari Diablo seperti sangkar bundar, Marcel yang berencana melancarkan serangan dari atas mengurungkan niatnya dan menebas api tersebut.


“Kamu takkan bisa menghancurkannya ... Kejar dia!” Diablo mengulurkan jaringan, api tersebut segera mengejar Marcel seperti ular.


Tak peduli seperti apa Marcel mencoba melarikan diri namun api tersebut tetap mengejar sampai Marcel merasa sesuatu tidak mengenakan dari belakangnya.


“Kamu ikut mengejar, ya?!”


“Memangnya siapa yang bilang tidak?” Diablo tersenyum dan mengayunkan cakarnya, darah merah yang hangat mengalir melalui cakar menuju tangannya.


“Ergh! Keparat!” Marcel memutar sabitnya, Grim Reaper bertindak sama dan melemparkan delapan bilah cahaya ke arah Diablo dan berhasil memotong lengan kirinya.


“Tch, dia berhasil menghindar.” Diablo berdecak kesal karena gagal mengenai organ vitalnya.


Tepat di detik-detik terakhir Marcel bergerak sehingga cakar Diablo hanya menusuk pinggangnya, organ tubuhnya baik-baik saja namun rasanya masih cukup sakit.


“Ini bukan apa-apa!” Marcel berteriak dan menerjang Diablo, “Grim Reaper, bawa dia ke alam kematian!”


Mengangguk mematuhinya, tengkorak raksasa'itu melemparkan sabitnya, Diablo berhasil menghindar meski tipis namun tujuan Grim Reaper sudah tercapai.


Dia membentuk sigil dengan kedua tangannya yang bebas, segera ada empat sabit besar serta empat Marcel dan Grim Reaper bersamanya. Ke-empat sosok tersebut mengelilingi Diablo dalam bentuk lingkaran. Mereka mengulurkan sabit mereka ke sekitar Diablo dan membatasi pergerakannya.


Sontak hal tersebut membuatnya terkejut dan berniat terbang lebih tinggi namun tubuhnya tidak mampu bergerak. Segel sudah diaktifkan dan sekali diaktifkan tidak satupun bisa meloloskan diri.


“Seal ... Corpse Will Be Silent—” Grim Reaper membuka mulutnya lebar-lebar dan menunggu kata-kata selanjutnya dari Marcel, “—The Dead Will Be Dead.”


Mulut para Grim Reaper terbuka lebar dan menyerap kekuatan Diablo dengan cepat. Sabit yang para Grim Reaper pegang mengeluarkan cahaya keunguan yang membatasi gerakan Diablo.


“Keargh!” Diablo menjerit kesakitan, tubuhnya seakan dihantam oleh ratusan jarum di waktu yang bersamaan.


Di tengah waktu penyiksaan tersebut Marcel mengajak Diablo berbicara selagi menyiapkan kekuatan dengan sabit di tangannya, “Kamu tahu mengapa kutukan kerakusan itu spesial seperti halnya Sabit?”


Diablo tentu tidak bisa menjawabnya karena dia bukan Pahlawan, seorang iblis sepertinya tidak akan memusingkan sesuatu seperti ke-spesialan pada Pahlawan tertentu.


Lagi pula dia sudah disibukkan dengan rasa sakit luar biasa, bukan hanya energi mana namun kekuatan kehidupannya juga diserap, ‘Aku akan mati jika seperti ini terus keadaannya!’


Dia tidak akan menerima kematian menyedihkan seperti ini, Diablo memberontak dan menggunakan Hellfire untuk melenyapkan Grim Reaper namun usahanya sia-sia. Serangan yang dia buat segera dihisap menjadi energi.


“Akan aku beritahukan ... Sabit adalah perwujudan dari Pencabut Nyawa yang haus akan nyawa dari setiap kehidupan. Dia ingin mencabut semua nyawa yang ada di dunia ini untuk memuaskan hasratnya. Dan hubungannya dengan kerakusan karena keduanya memiliki persamaan yang sangat nyata ...”


Sabit Marcel berubah menjadi hitam sepenuhnya, ujungnya yang tajam meski tidak terlihat demikian perlahan mendekat dan mencapai tengkuk Diablo. Melihat itu Marcel tersenyum puas.


“Persamaan antara Pencabut Nyawa dan kutukan ini adalah ... Kami sama-sama hidup dalam kerakusan.”


“Matilah bajingan!” Diablo berteriak keras hingga uratnya mau putus.


“Deathly Schyte — Eleven Judgement.” Marcel menarik sabitnya dan memenggal kepala Diablo dengan segera.


Kepala tersebut melayang jatuh ke tanah dengan Dramatis, Grim Reaper yang menahan tubuh Diablo terus menyerap kekuatannya sampai tubuhnya lenyap dan tersisa kepala saja.

__ADS_1


Marcel melompat turun, dia hanya menarik mundur Grim Reaper tanpa menarik kembali Kekuatan kutukannya karena pertarungannya belum berakhir.


“Dengan ini ceritamu berakhir, Diablo. Kamu tidak akan pernah bisa bereinkarnasi atau merasakan kehidupan sekalipun itu di neraka.” Marcel memejamkan mata sebagai penghormatan terakhir.


“Tuan Diablo ... dikalahkan.”


“Tidak ... mungkin. Ini tidak mungkin!”


“Sialan, bunuh PAHLAWAN ITU!”


Para iblis yang berperang melawan malaikat memperhatikan dari kejauhan, mereka dengan liar meninggalkan lawannya dan menuju Marcel dengan tujuan membunuh.


Para malaikat yang ditugaskan membantai iblis tentu saja akan mengikuti ke mana mereka pergi. Di tempat lain orang yang berada di pihak sama dengannya datang.


“Marcel! Bagian kita sudah selesai, tugasku menahan Rafael juga usai, mari kembali! Aku akan membantumu! Hazama dan Nadia sudah pergi duluan, tersisa kita saja.” Di sana ada Priscilla yang terbang mendekat.


Dengan kedatangannya ke sini artinya tugas yang diberikan Rigel sudah selesai atau Rafael melarikan diri darinya. Marcel cukup babak belur terutama dengan darah segar terus mengalir keluar.


Luka di pinggangnya jelas memiliki kutukan dan racun karena kenyataannya luka tersebut tidak membaik sedikitpun.


“Kamu pergi duluan, aku akan tetap di sini.”


“Apa yang kamu bicarakan? Tubuh itu takkan bisa bertahan dalam waktu lama!” Priscilla tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan bersikeras memaksakan.


Melihat lukanya yang perlahan membusuk akibat kutukan, Marcel merasakan perasaan mengerikan lain datang, segera bibirnya membentuk senyuman, “Aku akan tetap di sini dan melawan mereka, ini tekadku, mohon jangan menggoyahkannya.”


Priscilla berhenti, dia menatap wajah Marcel yang penuh darah sudah memutuskan pilihan sulit. Untuk menjawab tekad yang dimaksud meski menyakitkan baginya dan umat manusia, Priscilla tersenyum lembut, “Terima kasih atas usahamu. Kamu berjuang dengan sangat baik.”


Meninggalkan ucapan tersebut Priscilla terbang dengan kecepatan penuh meninggalkan medan perang.


“Huh~. Jadi seperti ini akhir yang aku miliki ... Pada akhirnya aku hanya mendapatkan satu ucapan terima kasih.” Marcel menghela napas lelah selagi melihat lautan pasukan datang ke arahnya.


Satu tetes air mata mengalir dari sebelah matanya, bukan kesedihan. Tetapi air mata atas rasa syukur dari satu ucapan terima kasih sebelumnya. Segera getaran lain datang, pasukan iblis muncul dari sisi lain dan pasukan malaikat keluar dari Gerbang Surgawi.


“Gelombang kedua peperangan telah dimulai, ya. Maaf semuanya, aku tidak akan bergabung mulai dari gelombang dua dan seterusnya. Setidaknya akan aku akhiri gelombang pertama dengan megah, dan menciptakan pembukaan luar biasa!”


Marcel kembali menatap lautan pasukan yang mendekat, segera dia tersenyum puas dan wajahnya menjadi liar. Di akhir kehidupannya dia ingin tetap tersenyum dan menjadi orang paling bahagia, paling bebas—


“—Maju dan serang aku, para keparat sekalian! Aku akan mengakhiri sekaligus mengawali babak perang yang baru!”


Marcel melompat dan memutar sabitnya seperti tornado, “Izinkan aku meminjam salah satu skill serupa denganmu Ozaru ... Big Schyte!” Sabitnya berubah menjadi ukuran besar dan menyapu bersih malaikat serta iblis di sekitarnya.


“Kurang ajar! Dia yang membunuh Tuan Diablo, mari kita habisi!”


“Fireball!”


“Deathly Poison!”


“Cursed Lighting!”


Berbagai serangan dilepaskan ke arahnya di tengah huru-hara kematian di medan perang penuh darah.


“Jangan meremehkanku ... UOARGH!”


Mengayunkan sabitnya seperti bermain Baseball, setiap serangan yang datang di lemparkan kembali. Marcel menggunakan mayat yang jatuh sebagai pijakan dan terus membunuh apapun yang ada di depannya tanpa ampun.


Jeritan, ratapan, dan kemarahan bergema dalam peperangan mematikan tersebut. Di akhir kehidupannya ini Marcel merasa puas karena tidak perlu menahan terhadap apapun.


‘Aku bisa berteriak puas, membunuh dengan bebas, mengamuk tanpa beban, tanpa penyesalan ...’ Dia sangat fokus dengan membunuh musuh, Marcel tidak pernah menyadari bahwa dia juga menangis selagi terus bertarung. Keyakinan yang dia yakini dirinya terus tersenyum sampai akhir.


“Sepertinya Pahlawan ini benar-benar bertarung habis-habisan. Aku jadi prihatin namun mau bagaimana lagi karena dia juga telah membunuh Diablo, jadi aku tidak bisa membiarkannya lolos.” Tangannya terulur dan tombak dari air terbentuk, si pendatang berniat menghabisinya segera.


Sebelum tombak itu bisa lepas landas Marcel mengirimkan serangan kuat ke arahnya, Pilar Iblis itu hanya mengangkat alis dengan terkejut.


“Kamu masih bisa memberikan serangan yang sangat kuat di penghujung kehidupanmu. Sangat bagus, hebat juga kuat. Seandainya kita bertemu lebih awal, aku yakin kamu mampu menghiburku. Ini penghargaan dariku untukmu.”


Air perlahan terkumpul dan membentuk tombak teramat besar, Marcel yang matanya memutih seutuhnya menatapnya, tersenyum senang dan dia menggunakan Grim Reaper kembali.


“Akan kubawa satu pilar lagi bersamaku ... Grim Reaper — Soul Sacrifice!”


Grim Reaper kembali muncul, perbedaannya kali ini dia mengacungkan sabit ke bayangan biru berupa manusia, bayangan teramat mirip dengan Marcel. Bayangan tersebut adalah jiwanya dan Grim Reaper bersedia memakannya.


Pilar Iblis di depannya tersenyum, “Hebat, Pahlawan, aku mengakui tekad yang kamu miliki untuk berkorban. Ahh~ betapa mulianya dirimu namun kamu harus mati di sini.” Dengan wajah yang emosional, pendatang ini menyuguhkan pengantar sebagai penghormatan, “Raja dari Lautan dan Pilar Iblis, Leviathan.”


“Algojo umat manusia! Pahlawan Sabit, Marcel!”


“Akan aku ingat baik-baik. Kita akan bertemu di neraka kelak!”


Marcel melompat, sabitnya bersinar terang dan ukurannya membesar, Grim Reaper mengikuti di belakangnya sesaat selesai menyantap jiwa Marcel, segera Grim Reaper menghilang dan merasuki Sabitnya.


Leviathan melepaskan tombak airnya dengan senyuman lebar. Benturan kedua serangan tersebut memiliki dampak destruktif yang besar, Leviathan bahkan tidak lagi peduli dengan iblis lainnya.


Sementara pihak malaikat menjauh dari pertarungan itu dan menyaksikannya. Di waktu yang panjang benturan tersebut berakhir dan Marcel terjun bebas sebagai pihak yang kalah.


Di akhir kehidupannya dia melihat pemandangan mengejutkan. Pemandangan sekali seumur hidup di mana lautan manusia muncul dalam waktu singkat, meneteskan air mata dan marah.


Dia tahu air mata itu ditujukan untuk siapa, dia juga paham kepada siapa marah itu mereka berikan. Dan tatkala dia memahaminya—


“Dengan ini tugasku sudah berakhir ... Sisanya aku serahkan pada kalian ... Semoga ... Beruntung ...”


—Dia menunjukkan senyuman teramat puas. Sampai akhir keyakinannya tak goyah bahwa dia tak menangis sama sekali, pada kenyataannya tetasan air bagai kristal itu tidak berhenti mengalir sampai akhir.


Marcel jatuh tergeletak di tanah bersama mayat iblis dan malaikat, di penghujung kehidupannya dia menemukan orang-orang yang dia kenali sebagai teman datang menghampiri.


“ ... Cel ... Marcel ...”


Tangisan dari seorang gadis yang menyerukan namanya adalah bagian paling menenangkan dirinya, seolah panggilan tersebut sedang mengantarkan dirinya menuju alam selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2