Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 70 — Lullaby


__ADS_3

Melihatnya malaikat itu sendiri cukup kerepotan dengan benda aneh membuat Leviathan yakin bahwa Ozaru adalah Pahlawan kuat yang aneh. Dalam sejarahnya Pahlawan tongkat tidak seperti ini karena di generasi pertama Pahlawan tersebut adalah pengguna sihir.


“Sepertinya ada banyak hal yang berubah dari generasi ini.” Leviathan merasa bodoh karena hanya diam selama ini tanpa memperhatikan perbedaan Pahlawan generasi ini.


Pada generasi sebelumnya juga tidak ada Pahlawan Creator yang tidak bersenjata, sebagai ganti keberadaan Pahlawan Creator tersebut tampaknya kampak adalah yang digantikan posisinya.


Hal tersebut mencurigakan jika dipikir-pikir kembali namun tampaknya tidak ada yang mempedulikan hal tersebut termasuk Lucifer sendiri. Mau apapun yang terjadi nantinya pada akhirnya mereka akan bertarung di tempat yang sama dan saling membunuh.


“Meski begitu fakta bahwa kamu satu-satunya yang bukan manusia diantara Pahlawan membingungkan.”


Leviathan awalnya berpikir kalau hanya manusia yang memiliki kualifikasi untuk menjadi Pahlawan, namun kenyataannya setengah kera seperti Ozaru sekalipun bisa menjadi seorang Pahlawan.


“Dari tadi apa yang kamu ocehkan? Aku akan membunuhmu dan kamu masih sangat santai, ya.”


Ozaru menarik tongkatnya dan membantingnya ke tanah, bumi segera bergetar berkat tongkat raksasa tersebut dan membuat retakan besar yang kelak akan menjadi jurang. Ozaru tersenyum lebar karena yakin sudah memukul lawannya seperti nyamuk namun segera suara menyebalkan datang.


“Kamu tampaknya tergesa-gesa, ya. Apa yang membuatmu begitu terburu-buru, apa khawatir karena malaikat itu akan bergabung?” Leviathan tertawa mengejek selagi melemparkan serangan ke arah Sandalphone yang sibuk mengurusi lumpur emas.


Serangan tersebut mengenainya namun tidak memberikan luka apapun yang berarti, itu menunjukkan tentang betapa kuatnya pertahanan yang dia miliki.


“Itu karena dia seorang Raja yang berbahaya! Aku tidak ingin bersusah payah membunuh kalian berdua bersamaan.”


“Jadi maksudmu membunuh kami berdua bukannya tidak mungkin, ya?” Leviathan menghela napasnya dengan berat, wajahnya berkerut kesal, “Di dunia ini tidak ada yang lebih kubenci selain di remehkan.”


Leviathan membentuk trisula dari air dan segera memadat menjadi senjata. Trisula biru dengan ukiran naga air dan tiga bilah. Dalam sekejap mata dia sudah berada tepat di depan Ozaru dan mengincar kepalanya dengan tujuan membunuh segera.


Tanpa berkedip Ozaru menghindar dengan memiringkan kepalanya, segera senyuman menghiasi bibirnya, “Cukup lambat!”

__ADS_1


Ozaru melompat dan memberikan Axe kick dengan kuat, Leviathan berhasil menahannya meski terhempas ke tanah dengan kuat. Membuat ancang-ancang seolah melakukan lempar lembing, Leviathan menggumamkan:


“Water Trident!”


Trisulanya mengeluarkan air hijau dalam jumlah besar dan membentuk seekor naga dengan trisula sebagai pusatnya. Leviathan melemparkannya dengan kuat, sementara Ozaru mengambil tongkatnya yang telah mengecil.


“Kinton!”


Awan emas datang dari langit dan Ozaru menungganginya seperti berselancar di air. Perbedaannya adalah dia melakukannya di langit bukan air, dia terus melesat di langit untuk menghindari kejaran trisula namun tak berhasil karena benda itu terus mengejarnya.


“Percuma. Tidak peduli seberapa keras kamu mencoba, sekalipun pergi ke ujung dunia trisula itu akan mengejarmu.” Leviathan tersenyum senang namun dia tahu serangan tersebut tidak akan membunuh Ozaru.


Lagi pula jika Pahlawan benar-benar selemah itu sampai mati dengan serangan semacam itu maka sejak awal mereka tidak perlu bersusah payah berurusan dengan manusia, karena mau bagaimanapun malaikat adalah lawan yang harus mereka hadapi.


“Kalau begitu bagaimana dengan ini!” Ozaru mengulurkan tongkatnya ke arah trisula yang mengejarnya, “Memanjanglah Nyoibo!”


“Water Snake!” Ular terbuat dari air menyerang Ozaru namun sekejap cahaya besar menyapu bersih langit.


Tidak hanya langit, tetapi tanah tempat Leviathan berdiri terkena dampak dari serangan cahaya yang di tembakkan secara asal. Bahkan serangan tersebut mencapai pasukan iblis dan manusia.


“Menyebalkan, jangan mengabaikanku!” Si malaikat yang selesai berurusan dengan lumpur emas datang dengan kemarahan.


Ozaru dan Leviathan terlihat baik-baik saja meski tubuh mereka sedikit kotor akan debu. Dalam diam Ozaru menggertakan gigi karena harus bertarung dengan sungguh-sungguh.


...*****...


Di medan perang utama situasi tampak kacau dengan kehadiran Pilar Iblis Capella dan seorang malaikat yang baru datang ke medan perang tersebut.

__ADS_1


Pilar Iblis Capella memiliki penampilan terbuka di mana hanya kain kecil menutupi dada dan bagian bawahnya, dari tanduk kambing di kambing di kepalanya dan berkulit gelap, siapapun akan tahu bahwa dia adalah seorang Succubus. Memangnya siapa lagi iblis yang menggambarkan hawa nafsu dan penampilan memancing birahi?


“Ada banyak sekali pria di tempat ini. Nafsu adalah keindahan dari kehidupan.” Capella menjilat bibirnya dengan tatapan penuh nafsu. Segera tatapannya beralih ke malaikat yang datang terlambat.


Dia sudah mendengar para Seraphim dari tuannya Lucifer dan hanya ada satu dari mereka yang membawa terompet yang terbuat dari cula badak.


Seraphim bernama Kalkydras yang berambut putih dan mata putih sepenuhnya, tubuhnya kurus kerempeng seolah hanya ada tulang dan kulit yang menutupinya, hanya ada selendang putih bergaris emas menutupi dadanya dan celana putih kebesaran.


“Jadi kamu lawan merepotkan yang disebut oleh Tuan Lucifer. Aku sendiri penasaran seperti apa kekuatanmu karena Tuan bilang aku adalah lawan yang cocok untukmu.” Capella tetap tersenyum dan pandangannya berangsur-angsur menuju Pahlawan yang tiba.


“Itu Pilar Iblis dan Seraphim.” Aland merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.


Bertemu dua kekuatan besar dari ras lain adalah berita buruk karena mereka tidak bisa mengeroyoknya. Meski terdengar pengecut namun cara pasti dengan kemungkinan kemenangan yang besar adalah menghadapi dengan jumlah.


“Ini buruk Aland, kita harus menghadapi keduanya dan saling melindungi punggung.” Petra juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


Dia tidak memiliki kepercayaan diri melawan Pilar Iblis atau Seraphim seorang diri, dan karena dia tidak percaya diri maka tetap di sisi Aland adalah pilihan bijak. Mereka akan saling mempercayakan keselamatan satu sama lainnya.


“Ya, aku sependapat.” Aland tidak menolak saran tersebut, dia tidak hanya khawatir dengan dirinya namun Petra yang rapuh memiliki kemungkinan selamat yang rendah jika dibiarkan sendirian.


“Pahlawan dari manusia, dan iblis punggawa Lucifer. Karena kalian sudah ada di sini, sebaiknya aku mulai saja.” Kalkydras yang sejak tadi diam dengan acuh dan menarik napas panjang selagi merentangkan kedua tangannya.


Tindakannya membingungkan Petra dan Aland, bahkan Capella yang tahu sedikit tentang Kalkydras cukup penasaran dengan tindakannya.


“Wahai mahkluk yang bertelinga, dengarkanlah nyanyian dari surga ... Lullaby of Death.” Kalkydras mulai bersenandung dengan indah.


Kalkydras mulai membuka mulutnya dan berteriak dalam cengkok bernyanyi. Petra skeptis dengan tindakannya, di medan perang dia bernyanyi? Itu cukup konyol untuk siapapun. Namun kenyataannya begitulah cara Kalkydras bertarung.

__ADS_1


Pemandangan mengerikan terjadi di mana iblis dan manusia mulai berteriak selagi mencakar telinganya. Wajah mereka pucat dengan tampilan yang seakan-akan menggila berkat nyanyian tersebut.


__ADS_2