Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 72 — Pengaruh


__ADS_3

“Argh!”


“Apa-apaan ini, menyakitkan!”


Jeritan keputusasaan menggema di medan perang berkat Kalkydras yang bernyanyi dengan keras. Aland dan Petra bahkan tak mampu menahannya, suara yang mengandung kekuatan adalah hal paling merepotkan untuk dihadapi.


“Apa ini ... ilusi?” Petra terhuyung-huyung selagi menutupi telinganya meski usaha tersebut sia-sia.


Aland sendiri kesusahan mengatasinya, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini. Meski telinganya telah disumbat dengan kuat nyatanya percuma karena suaranya dialiri oleh kekuatan sihir yang hebat.


“Andai ada Hazama ...” Seandainya Hazama ada maka mereka mampu mengatasinya dengan mudah karena kemampuan Perisai lebih hebat dari yang dibayangkan.


Sekalipun seharusnya Hazama spesialis dalam pertahanan namun kekuatan serangannya lebih kuat ketimbang Aland ataupun Petra. Bukan berarti mereka begitu lemah karena setiap Pahlawan memiliki kelebihannya masing-masing.


Aland sadar bahwa tidak pantas mengharapkan bantuan dari orang yang tidak hadir. Tindakan yang harus dia lakukan sebenarnya sangatlah mudah untuk siapapun memikirkannya, dia hanya perlu menghentikan sumber dari suara tersebut.


“Hammer of Orion!” Palunya dilempar ke Kalkydras dengan kuat, bayangan biru dari palu besar segera muncul mengikutinya.


Melihat serangan yang datang tersebut membuat Kalkydras sedikit terganggu tetapi dia tidak menghentikan suaranya untuk tetap bernyanyi. Gelombang suaranya semakin besar dan mengganggu perjalanan palu, akan tetapi gelombang tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikannya.


Kalkydras Terpaksa menghindar dan berhenti bernyanyi, dia menatap Aland yang perlahan berdiri dengan dengki. Berkat tindakannya yang membuat suara tersebut berhenti, pasukan manusia dan iblis yang terpengaruh kembali mendapatkan kesadarannya.


“Kekuatan macam apa itu? Benar-benar merepotkan!” Bellemere yang berurusan dengan bangsawan iblis berdecak kesal saat melihat Kalkydras.


Pandangannya berangsur-angsur ke arah lain yang jauh dari medan perang, tempat yang lebih buruk dari pertempuran di sini. Dari kejauhan dia dapat melihat tongkat raksasa, tombak serta tapak kaki yang terus berjatuhan dari langit.


“Pertempuran di sana mungkin gambaran paling dekat dengan neraka.” Bangsawan iblis di depannya ikut berkata dengan kekaguman, “Tuan Leviathan pastinya keluar sebagai pemenang.”


“Itu hanya mimpi di atas mimpi, mau bagaimanapun manusia akan berdiri di puncak perang!”


“Hahaha! Manusia bodoh memang banyak bermimpi, mereka tak pernah jera bahwa mimpi yang tinggi mampu memberikan luka mendalam saat terjatuh.”


“Mimpi memang menyakitkan, namun dengan adanya mimpi kami bisa terus berjuang di kehidupan yang singkat ini!” Bellemere menarik pedangnya dan membebaskannya, “Light of Aria!”


“Hahaha, manusia rendahan ... Deathly Poison!” Pertarungan diantara keduanya kembali berlanjut dengan intens seiring dengan medan perang yang kembali memanas.


Kembali ke sisi Pahlawan, Aland kini menjadi sasaran kebencian dari Kalkydras yang jelas-jelas murka. Tidak ada yang lebih menyebalkan selain pengganggu yang menghentikannya melantunkan lagu indahnya.


“Manusia benar-benar tanpa etika dan kecintaan akan keagungan musik. Menghentikan musik sama halnya mencari kematian!”


“Aku tidak membenci musik sama sekali. Namun setidaknya bisakah buat suaramu lebih merdu? Kupikir raungan goblin jauh lebih indah dari itu.” Petra yang kembali menguasai diri memberikan provokasi murahan.


Meski provokasi tidak akan berpengaruh kepada iblis namun malaikat adalah makhluk yang paling tidak memiliki kesabaran. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh Rigel sendiri dan Pahlawan lainnya sehingga tidak lagi ada keraguan.


“Jalang bermulut besar dan kotor, kamu mencari kematian rupanya!”


“Heh! Tahukah kamu bahwa ada hal yang paling jelek selain raungan Griffin? Benar, suaramu! Aku tidak pernah mendengar yang seburuk itu!” Petra mulai tertawa dan menutupi mulutnya dengan kipas.


Melihat hal tersebut tidak membuat Kalkydras diam, dia jelas ingin melakukan sesuatu yang berbahaya namun orang yang hanya memperhatikan sejak tadi mulai bergabung.


“Kalian sungguh jahat mengabaikan wanita cantik sepertiku~.” Capella menggigit telunjuknya dengan wajah dan pose yang menggoda.

__ADS_1


Para iblis di belakangnya jelas tergoda, bahkan tentara manusia yang tanpa sengaja menatapnya terdiam dan tak kuasa menahan kecantikan yang liar tersebut.


“Ha? Pelacur yang kotor dan ternodai tidak pantas disebut sebagai kecantikan. Tidak ada nilai bagi barang yang digunakan banyak orang dan tanpa adanya estetika.” Kalkydras berkata dengan nada yang jijik kepada Capella.


Dia sangat menghargai keindahan dan segala kecantikan di dunia ini. Namun barang yang cacat dan ternoda tidak bisa disebut kecantikan, lebih pantas disebut barang imitasi cacat yang patut dibuang.


“Jangan memujiku, itu membuatku malu.” Capella tersipu hingga telinga dan menatap genit, “Tetapi benar saja bahwa kamu memang lawan yang pantas untukku sebagai seseorang yang menggunakan kekuatan untuk mempengaruhi mahkluk hidup lainnya.”


Dengan kekuatan yang saling mempengaruhi berada di lokasi yang sama, ketika mereka menggunakan kekuatannya maka yang ada hanya kegagalan untuk mempengaruhi lawannya.


Alasan Lucifer mengirim Capella karena sudah jelas kekuatan dengan jenis yang sama yaitu mempengaruhi akan menjadi malapetaka. Selain serangannya menjadi tidak berguna, mereka takkan bisa melakukan apa-apa selagi adu ketahanan dan kecepatan.


Petra menatap Capella penuh arti, dia yakin Pilar Iblis satu ini memiliki akal yang miring karena beranggapan hinaan adalah pujian untuknya. Namun mengabaikan kemiringan tersebut kekuatan Capella jelas luar biasa meski dia tidak melakukan apapun.


“Wanita itu berbahaya, Aland. Aku merasakan firasat buruk bahwa dia akan lebih bermasalah ketimbang malaikat itu saat menggunakan kekuatannya.” Petra segera berbisik kepada Aland.


“Ya, dia lawan terburuk bagi pria sepertiku karena Succubus adalah perwujudan nafsu.” Aland berkeringat dingin ketika membayangkan dirinya tewas karena hawa nafsu.


Bahkan lelucon tidak akan menjadi sebodoh itu, Aland tidak akan pernah membiarkan dirinya mati oleh hal seremeh itu. Dan untungnya mereka berdua sepakat untuk menghadapi mereka bersama-sama, tidak berpisah untuk berduel karena kemungkinan kalah lebih besar ketimbang menang.


“Apa yang kalian makhluk rendahan bisikkan? Sungguh berani berbicara santai setelah berani mengganggu pertunjukkan hebatku ... Rekan-rekanku para malaikat sekalian, habisi orang-orang ini!”


Para malaikat yang sebelumnya berburu iblis dan manusia kini sebagian dari mereka beralih dan menuju Pahlawan serta Pilar Iblis tanpa terkecuali. Situasi terburuk yang bisa terjadi adalah tenaga mereka dikuras habis karena melayani Armageddon.


Petra dan Aland mundur untuk menjaga jarak dari lawan berbahaya seperti Capella juga Kalkydras. Malaikat datang satu-persatu seperti halnya segerombolan monster berebut mangsanya.


“Fan Storm — Hundreds Slash!” Seperti halnya angin topan yang berputar di satu titik, ratusan tebasan kipas milik Petra berputar di sekitar dirinya dan Aland.


Dalam artian ketika mereka dihadapkan dengan ratusan dinding duri maka tak ada keraguan untuk menerobosnya sekalipun hal tersebut meregang nyawa. Petra dan Aland paham sejak awal bahwa lebih dari Seraphim dan Pilar Iblis, pasukan yang mereka bawa jauh lebih merepotkan.


“Tidak ada habisnya!” Aland mengumpat saat berhasil menghancurkan empat kepala malaikat dengan palunya, “Big Hammer!”


Palunya mulai membesar dan dia menyapu bersih malaikat yang datang dari depan mereka, hal tersebut memberikan sedikit waktu untuk bernapas. Berpikir bahwa semuanya tidak jadi lebih buruk adalah tindakan naif.


“Oi-oi, pemandangan mengerikan apa ini? Sekalipun kalian tidak memiliki nafsu, tampaknya masih bisa terangsang. Nyatanya serangan kalian sangat lemah.” Capella berkata dengan riang selagi menatap para malaikat berjatuhan sebelum mencapai dirinya.


Tidak ada apapun yang menusuk atau melukai para malaikat tersebut namun mereka tampak melemah serta mengering hingga akhirnya tewas tanpa pernah melancarkan serangan kepada Capella.


Jika diperhatikan lebih dekat ada gelembung merah muda yang samar di sekitar Capella, tampaknya malaikat yang semakin dekat dengan gelembung tersebut akan mati karena suatu hal.


“Nafsu adalah dorongan terbesar bagi mahkluk hidup. Tak masalah jika mereka tidak punya kelamin karena sebagai gantinya energi hidup mereka akan diserap sebagai ganti rangsangan seksual. Yah, meski semuanya akan mati karena mengering.” Capella menjilat jarinya seakan-akan baru saja menyantap hidangan lezat.


Dari apa yang dia katakan, semua mahkluk hidup di dekatnya akan mati karena nafsu dan energi kehidupan mereka diserap oleh kemampuanya sampai mati. Singkatnya jika Aland ataupun Petra mendekati Capella mereka akan merasakan kenikmatan surgawi sekalipun tidak melakukan hubungan intim, mereka akan merasakannya selagi energi kehidupan diserap dan mati kemudian.


Itu adalah kemampuan yang merepotkan karena mereka hanya bisa menyerang menggunakan serangan jarak jauh selagi menjaga jarak. Dia adalah lawan yang sangat cocok untuk Yuri yang spesialis jarak jauh.


“Pasukan kesayanganku, serang orang-orang di sana.” Capella memerintahkan pasukan Iblisnya untuk menyerang Petra dan Aland. Tidak hanya mereka tetapi Kalkydras juga jadi sasaran serangannya.


Kali ini tampaknya tak hanya malaikat namun iblis juga menjadi lawan. Situasi menjadi lebih merepotkan dari sebelumnya karena iblis memiliki hasrat dan keinginan sendiri sehingga mereka takkan bunuh diri seperti halnya malaikat.


“Kalian makhluk rendah memang lancang, akan kuberi pelajaran.” Kalkydras menarik napas dan merentangkan kedua tangannya, “Lullaby of Death—”

__ADS_1


Kalkydras mulai bernyanyi seperti sebelumnya namun sebelum benar-benar di aktifkan Capella datang dengan mengeluarkan kekuatan yang sejenis yaitu mempengaruhi kehidupan, “Lust of Pleasure.”


Di waktu yang bersamaan kekuatan mereka hancur karena jenis kekuatan serupa tidak akan mampu bersaing entah apapun alasannya. Kekuatan yang mempengaruhi indra tidak akan menang atau kalah melawan kekuatan indra lainnya.


Jika lagu yang dinyanyikan Kalkydras mempengaruhi indra pendengaran makhluk hidup yang mendengarkan nyanyiannya, mereka akan merasakan sakit luar biasa. Dimulai dari campuran keputusasaan dengan jeritan orang mati siapapun akan gila ketika mendengarnya dalam waktu lama.


Untuk kekuatan Capella dia mampu mempengaruhi indra perasa yang dimiliki oleh manusia, lebih spesifiknya menarik keluar nafsu birahi dari makhluk hidup. Semakin lama seseorang terpengaruh maka mereka akan mati, sekalipun lolos umur mereka takkan lama.


Untuk alasan tersebut kekuatan yang saling mempengaruhi indra takkan mampu digunakan pada waktu yang sama, jika mereka berbenturan maka keduanya akan hancur dan tidak berguna. Namun lain halnya jika Kalkydras berhasil mempengaruhi Capella tanpa membiarkannya menggunakan kekuatan nafsu.


“Iblis ****** ini ...” Kalkydras berdecak dengan kesal, dia ingin melenyapkannya namun terlalu cepat menggunakan terompet di pinggangnya.


“Tidak, jangan memujiku~.” Capella tersipu hingga telinganya memerah, segera dia menatap Kalkydras dengan penuh makna, “Pertarungan diantara kita takkan pernah berakhir, Seraphim. Kuyakin kamu tahu apa jadinya pengguna Kekuatan pengaruh ketika berhadapan.”


‘Tidak akan ada pemenang atau pecundang.’ Kalkydras menjawab dalam pikirannya.


Hanya ada pertarungan tanpa akhir jika pengguna dua kekuatan serupa saling bertarung. Meski mereka bisa menggunakan kekuatan lainnya namun tetap saja akan sulit karena baik Kalkydras atau Capella hanya memfokuskan diri pada kekuatan mempengaruhi. Dan untuk memecahkan situasi tersebut, Capella menyuguhkan:


“Buat kesepakatan denganku.”


Seharusnya kesepakatan iblis dengan malaikat adalah tabu mengingat kebencian diantara keduanya tidak pernah berakhir. Namun untuk situasi ini saja Kalkydras mampu menebak niatnya.


“Kamu ingin masing-masing dari kita menghadapi satu Pahlawan ketimbang melakukan pertarungan tiada habisnya?”


“Kamu memang cerdas, seperti yang diharapkan dari Seraphim. Maka ini akan cepat. Bagaimana, bukan tawaran yang buruk mengingat wanita Pahlawan itu menyinggungmu?” Capella tersenyum penuh kemenangan dan menjengkelkan bagi Kalkydras.


Namun memang hal tersebut lebih masuk akal ketimbang mereka bertarung tanpa pernah ada hasil yang berarti. Meski begitu peperangan ini bertujuan untuk mengalahkan ras lain, melewati kesempatan membunuh Pilar Iblis akan menyulitkan di masa depan.


“Namun Pahlawan-pahlawan manusia lebih merepotkan dari kami Pilar Iblis. Sekalipun kamu memilih membunuhku, jika mereka tetap ada hasil akhir takkan berbeda.” Capella berkata seolah membaca pikiran Kalkydras.


“Maka baiklah. Akan lebih menyenangkan melenyapkan kalian para iblis di satu waktu. Namun aku takkan menahan kekuatanku sehingga jangan salahkan aku jika bawahan tollol kalian mati.”


“Tentunya, lagi pula ini perang. Sangat tidak masuk akal meminta belas kasih atas nyawa pasukan yang memang ingin mati. Selain itu, aku tidak berencana membiarkan Armageddon mendominasi jumlah.”


Saat ini Armageddon atau pasukan malaikat memenuhi langit, mungkin hampir satu juta dari mereka berada di medan perang. Sementara manusia masih kurang dari 500 ribu, pasukan iblis telah berada di angka 700 ribu. Jika dia tidak mengurangi jumlah malaikat sampai batas tertentu, pertarungan ke depannya akan sulit.


“Sesukamu.”


Tanpa banyak bicara lagi Kalkydras terbang menjauh dan menuju lokasi Petra, wanita yang ingin dia bunuh karena merendahkan lagu yang dia nyanyikan.


Capella menatap dalam diam, dia memanggil iblis bangsawan menggunakan telepati, “Harley, segera pimpin pasukan iblis untuk membunuh malaikat sebanyak mungkin.”


“Baik, Nona. Namun bagaimana dengan manusia? Baris belakang mereka mulai menyiapkan senjata yang aneh.”


“Abaikan saja, mereka mungkin hanya menggertak. Pahlawan bernama Rigel sudah habis-habisan di gelombang awal dan mustahil baginya menggunakan kekuatan sama terus-menerus.”


“Baik, Nona.”


Capella menatap Pahlawan pria yang menggunakan palu, Aland. Dia segera menjilat bibirnya dengan penuh nafsu.


“Seraphim, Penyanyi Surga, Kalkydras akan melawan wanita itu rupanya. Aku tidak masalah, sih. Lagi pula favoritku adalah pria dan aku cukup penasaran bagaimana rasa dari seorang Pahlawan.” Capella memutuskan melawan Aland setelah Kalkydras berhasil membawa Petra menjauh darinya.

__ADS_1


“Sampai waktunya tiba, akan kubawa banyak nyawa malaikat dan manusia untuk menyimpan kekuatan.” Capella menggunakan kekuatan pengaruhnya dan menghindari menjangkau pengaruh milik Kalkydras.


__ADS_2