
“Berhati-hatilah saat menembak, berusaha untuk tidak mengenai Pahlawan! Para penyihir secara bergantian memberikan dukungan penyembuhan kepada Pahlawan, juga gangguan terhadap suara!” Regulus berteriak selagi berusaha melubangi sayap Kalkydras.
“Ya!”
Dengan dia yang sudah berwaspada akan peluru Adamantite yang mampu memberikan luka, jelas bukan perkara mudah untuk melukainya dengan serangan yang sama untuk kedua kalinya.
Regulus menatap Petra yang mati-matian mendesak Kalkydras agar tidak meniupkan terompetnya. Tidak akan ada yang cukup bodoh membiarkannya melakukan sesuatu yang mungkin membahayakan seluruh medan perang ini.
Ketimbang membiarkan risiko besar tersebut terjadi maka mereka perlu berusaha mati-matian demi menghindarinya. Dengan alasan tersebutlah yang mendorong semua tentara Legion agar tidak menyerah atau pun berhenti.
“Jangan mengendur! Segera perang ini berakhir, pesta terbesar abad ini, aku berjanji akan dilaksanakan!” Regulus berteriak dengan gembira untuk mendukung moral para petarung.
“Hahah! Aku harap anda menyiapkan banyak anggur untuk itu, Yang Mulia!” Seorang tentara berseru dengan lantang.
“Heh! Dengan dunia yang bersatu tidak akan ada yang namanya kekurangan anggur!”
Para tentara mulai tersenyum dan menantikan hal tersebut, mereka berjanji pada diri sendiri untuk tidak mati. Sekalipun kematian menghampiri maka seperti yang dikatakan Rigel, hadapi dengan tawa yang keras.
Di pertarungan utama, Petra berlari cepat menuju Kalkydras. Benturan mereka terjadi begitu cepat sehingga tidak memberikan para penembak waktu untuk mengganggu Kalkydras, mereka menunggu sampai waktu di mana Kalkydras berhenti bergerak.
“Wanita menyebalkan, manusia rendahan yang merepotkan!” Kalkydras berdecak kesal selagi menghindari rentetan serangan dari Petra.
Tanpa pernah membiarkannya meniup terompet, manusia memang paling merepotkan saat mulai merangkul satu sama lainnya. Meski dia telah mengerahkan Armageddon untuk mengganggu, tetapi mereka tak berguna sama sekali.
“Curse Series — Envy!” Petra mengibaskan kipasnya dan menciptakan puluhan bilah lalu melemparkannya dengan cepat.
Dia kembali mengejar Kalkydras, menyerang tanpa ampun meski rasa sakit menghantam seluruh tubuhnya. Dengan bantuan dari seri kutukannya, akal sehat tidak lagi ada dan yang terpikirkan hanya menyerang dengan liar tanpa peduli apa pun.
“Semuanya akan berakhir jika memberikannya kesempatan menyerang!”
Hanya dengan nyanyiannya saja mampu membuat semua orang tidak berkutik, bahkan para pasukan iblis tidak berdaya di hadapan kekuatan tersebut. Tak ada cara untuk mengatasinya, menyumbat telinga serapat apa pun tidak akan memiliki dampak yang besar karena nyatanya suara masih mampu menembusnya.
“MEREPOTKAN!” Kalkydras berteriak dan mengirimkan gelombang suara.
Petra yang menghempaskan tubuhnya dengan angin terkena gelombang tersebut, kesadarannya sempat hilang dengan mata memutih, tetapi kesadarannya hanya hilang selama kurang dari lima detik. Petra kembali membuka matanya, menggigit bibirnya dia berputar seperti gasing.
Kalkydras menciptakan penghalang dan berhasil menahannya, segera tangannya jatuh dengan kuat sehingga melukai pinggang ramping Petra. Satu serangannya mampu menghempaskan Petra beberapa meter dan memberi jeda singkat untuk menarik napas.
“Manusia keparat, harus mati—” Kalkydras menarik napasnya dan berniat meniup terompet, tetapi dia mungkin lupa keberadaan lain yang lebih merepotkan.
“Jangan abaikan kami, serang!”
DOR!
Tembakan demi tembakan ditujukan kepadanya, Kalkydras berdecak dan membuat gelembung pelindung yang mengitari dirinya. Peluru Adamantite mungkin hebat karena mampu melukai sosok tinggi setingkat Seraphim, tetapi mereka tak cukup hebat untuk mengatasi pertahanan sihir semacam itu.
“Hahaha! Kalian kehabisan akal untuk menggangguku, manusia! Ini akan menjadi akhir bagi kalian semua!” Kalkydras merasa di atas angin, dia meyakini kemenangan dari pertempuran menyebalkan tersebut sudah mencapai akhirnya.
Namun harapan tersebut terlalu tinggi karena mau bagaimanapun manusia adalah makhluk paling keras kepala. Sekalipun mereka memiliki kehidupan yang singkat, untuk beberapa alasan saat ini tidak ada rasa takut akan kematian diantara mereka.
Semangatnya tinggi, semua jiwa sangat loyal untuk melayani Pahlawan dan berkorban nyawa untuk mereka. Bukannya Kalkydras tidak memahami perasaan ingin berkorban, tetapi menilai situasinya, mau bagaimanapun para manusia ini berlebihan.
‘Aku tak pernah menyangka, ketika kematian yang menjadi rasa takut terbesar makhluk dengan kehidupan singkat, takkan pernah terbayangkan olehku bahwa mereka akan tertawa.’
Dalam perdebatannya dengan Petra, Kalkydras telah membunuh manusia yang mengganggunya dan tahu apa? Bukan memohon belas kasih, mereka tertawa dan masih dengan kegilaan menyerang sampai tubuh tak mampu bergerak.
“Takkan pernah terjadi waktu di mana kamu meniupnya!” Regulus berteriak, membuang senjata api dan mulai menciptakan elemen dengan sihir.
Sementara di lain sisi Regu Penyihir yang menahan diri mulai bergerak dan secara bersamaan mengucapkan mantra:
“Ultrasonic!”
Gelombang suara nyaring yang memekakkan telinga diarahkan menuju Kalkydras. Dengan suara bising tersebut bahkan Kalkydras sekalipun merasa terganggu hingga gagal meniup terompetnya.
“Argh! Sialan kalian, matilah saja!” Kalkydras mengibaskan tangannya, cahaya keemasan melesat dan menghantam Regu Penyihir.
Mereka tampak kesulitan untuk berdiri, tetapi tidak ada satu pun tanda bahwa hal tersebut menggoyahkan tekad mereka untuk terus bertarung. Apakah cuci otak atau alami sifat mereka, siapa pun yang mendorong mereka hingga ke titik di mana nyawa tak penting jelas orang yang sangat mengerikan.
“Inferno!” Regulus melepaskan semburan api panas dari kedua tangannya. Api yang bahkan membakar tanah tersebut melesat cepat menuju Kalkydras.
Suhu apinya sangat tinggi yang bahkan mampu membuat benda sekeras berlian hancur hanya dengan berada di dekatnya. Jika Kalkydras terkena serangan tersebut, meski tidak mati, dia takkan keluar dengan kondisi baik-baik saja.
“Meski hanya satu tingkat di bawah Hellfire, setidaknya akan memberikan kerusakan besar!” Regulus mengelap keringatnya, dia mulai menghunuskan pedang di pinggangnya karena serangan sebelumnya hanya umpan, segera dia menggumamkan mantra, “Stealth ...”
Tubuhnya perlahan menghilang dan dalam diam dia bergegas menuju Kalkydras. Kemampuan Stealth umumnya digunakan oleh seorang Assassin yang bergerak senyap dalam kegelapan.
__ADS_1
Selain sedikit penggunanya karena membutuhkan Runestone untuk mempelajarinya, kemampuan tersebut memiliki banyak kegunaan. Kemampuan yang membiasakan cahaya di sekitar penggunanya sehingga membuat tubuhnya menjadi tidak terlihat. Skill yang sangat berguna untuk melakukan serangan kejutan.
Kalkydras tidak bergerak, dia menyambut kedatangan Inferno mematikan tersebut. Tentunya dia tidak hilang akal untuk menerima serangan yang jelas akan melukai tubuhnya. Kondisinya takkan pernah membaik jika seperti ini keadaannya.
Tepat saat sihir Regulus melesat, Petra yang masih berusaha bangun mulai melemparkan kedua kipasnya ke langit atas Kalkydras, tangannya membentuk sigil dan melafalkan, “Lightning Storm!”
Petir jatuh dari langit dan mulai berputar-putar seperti tornado, membuat badai dan bukannya angin tetapi badai tersebut seutuhnya petir. Tornado petir yang besar jatuh tepat menuju Kalkydras saat ini.
Pelarian untuk terbang telah diblokir dan tidak ada jalan selain menghadapi keduanya secara langsung. Kalkydras bersedia menghadapinya dan menggigit ibu jarinya. Darah hangat mengalir, tetesan darah tersebut berubah menjadi perisai yang berputar-putar di sekitarnya.
Segera dia menyatukan telapak tangannya dan menarik semua suara yang dia miliki dari tenggorokannya, “Heaven — Torii!”
Empat gerbang Torii yang cukup besar muncul dan mengelilingi Kalkydras di dalamnya, selimut cahaya berwarna putih menutupi Kalkydras dan melindunginya dari dua serangan yang langsung datang.
Inferno menghantam gerbang Torii dan ditahan sepenuhnya, larva panas terlihat mengalir didekat gerbangnya namun sama sekali tidak menciptakan goresan apa pun yang berarti.
Mengikuti serangan Inferno milik Regulus, badai petir milik Petra menyambar dan membuat bencana di daratan tersebut. Tentara Legion yang berada di dekatnya terhempas, tanah penuh keretakan serta magma yang kian mendingin ikut terbawa oleh angin yang mengamuk berkat badai petir.
Regulus yang berniat mendekati Kalkydras bahkan harus menghentikan langkahnya karena berbahaya mendekat lebih jauh dari ini. Dia tidak ingin menjadi orang bodoh yang tewas karena serangan rekannya sendiri. Terkadang tentunya akan ada kebodohan semacam itu pada setiap peperangan. Tetapi peperangan ini tidak boleh ada tindakan konyol seperti itu.
Bukannya sombong tetapi Regulus yakin jika dirinya gugur akan menyebabkan kerugian yang cukup signifikan bagi pasukan. Tak hanya moral yang mungkin turun tetapi tempat untuk mengambil tindakan mendesak akan kosong.
Mengecualikan Altucray dan Alexei, Kaisar Surgawi sendiri masih mudah dan kurang berpengalaman dalam peperangan. Sementara Raja dari kerajaan kecil lainnya tidak begitu bisa diharapkan, mereka pasti akan melakukan tindakan ceroboh hanya untuk dilirik oleh Pahlawan atau bahkan Kaisar Surgawi.
Bahkan dalam situasi yang mempertaruhkan keberadaan umat manusia, tak sedikit orang-orang brengsek yang mencoba mengambil keuntungan dari perang ini. Salah satunya adalah Raja-raja dari kerajaan yang tak mengajukan diri dalam pemilihan kaisar, juga setingkat di bawahnya yaitu bangsawan.
‘Kapan bentrokannya berakhir?!’ Regulus berdecak saat tanah tempatnya berpijak mulai retak.
Sementara sumber retakan tersebut begitu dalam dan hancur, berpijak di sana akan sulit terutama dengan listrik yang mengaliri tanah tersebut. Sampai beberapa waktu bentrokan reda namun listrik yang berada di tanah tersebut masih tertinggal.
Regulus berniat menunggu terlebih dahulu, tetapi situasinya rumit terutama dengan perasaan tidak enak yang seolah mengatakan, hal buruk akan benar-benar terjadi ketika dia melonggarkan walau hanya sedikit. Mengikuti insting yang dia asah puluhan tahun, dia mengabaikan listrik yang mengalir di tanah dan berlari menuju Kalkydras.
Di waktu yang sama ketika gerbang Torii menghilang, ditemukan bahwa Kalkydras sudah dalam posisi meniup terompetnya. Sontak hal tersebut mengejutkan semua orang dan bersama-sama mereka berusaha menggagalkannya. Regulus meninggalkan kekuatan dan pertahanan, memfokuskan diri pada kecepatan dan keberhasilan mengganggunya. Namun tak peduli seberapa besar usaha yang dia perbuat hanya sia-sia.
‘Tidak akan sempat-!’ Regulus mengulurkan tangannya dengan harapan akan mampu menjangkaunya.
Namun berharap saja tidak akan membuatnya mencapai Kalkydras, harapan hanya ada untuk mengecewakannya. Dalam detik-detik yang berjalan lambat dan dramatis, suara dari terompet yang ditiupkan terdengar.
‘Dengan ini kalian akan kulenyapkan secara perlahan ...’ Kalkydras berseru dalam hati penuh kemenangan.
Tak seorangpun mampu menahannya, semua orang menutup telinga dalam upaya menghentikan suara masuk. Tetapi seperti yang diketahui bahwa upaya tersebut hannyalah tindakan putus asa.
”Arh ... ARGH!”
CURCH!
Seorang tentara Legion berteriak, segera dia berteriak keras dan kepalanya meledak seperti balon. Darah segar segera mengalir dan menciprati tentara lain yang berada di dekatnya. Pemandangan tersebut membuat mual, ngeri dan rasa takut.
Bahkan dampaknya tak hanya dialami manusia, tetapi para iblis juga demikian buruknya. Ratusan dari mereka hancur di kepala dan mulai berjatuhan. Dalam lantunan musik kematian, kepanikan yang pecah di peperangan, huru-hara dar hiruk-pikuk suara ledakan dari kepala makhluk hidup terdengar dari penjuru medan perang.
Satu kepala meledak, dua kepala, lima, sepuluh, seratus, bahkan seribu meledak dan terus berlanjut tanpa akhir. Seiring dengan lamanya musik dimainkan semakin cepat kepala seseorang akan meledak.
Petra yang berlutut di tanah memegangi kedua telinganya, dia berusaha melancarkan serangan tetapi dengan sakit yang menghantam kepalanya hampir mustahil melakukan serangan. Otaknya dipaksakan diperas untuk mencari solusi dari situasi putus asa ini.
“Nona Petra ... tolong, lakukan sesuatu!” Pinta tentara yang memaksakan diri bertahan, segera kepalanya meledak karena tak kuasa menahannya.
Kalkydras hanya diam dan tetap memainkan terompetnya tanpa ada belas kasih atas jeritan dan ratapan di medan perang. Baginya jeritan-jeritan yang terdengar indah tersebut hanya musik yang menggema dengan jelek.
‘Gelombang dari terompet yang terbuat dari cula gajah pertama dan tertua di dunia mampu mengirimkan gelombang suara dari telinga menuju ke otak makhluk hidup. Gelombang tersebut bagaikan racun untuk otak makhluk hidup dan akan memaksanya bekerja dengan cepat sampai meledak dari dalam. Bahkan Lucifer sekalipun tidak akan lolos darinya.’
Alasannya wajib diwaspadai ketimbang Barakiel adalah penggunaan kemampuannya yang berdampak luas dan hampir tanpa cara untuk mengatasinya. Nyanyian atau musik dari terompet bukanlah akhir tetapi ada hal lain yang bisa dia lakukan.
‘Sepertinya Michael mulai mengirimkan gelombang ketiga ... tetapi hanya satu Seraphim?’ Kalkydras menyadari kedatangan pasukan tambahan yang tidak lama lagi.
Dia cukup penasaran dengan mengapa hanya satu malaikat yang dikirim pergi, tetapi setelah merasakan kekuatan yang dia kenali tersebut, mungkin pilihan tepat. Satu Seraphim yang meski kekuatannya terbilang lemah namun ada hal yang membuatnya menjadi lawan paling menakutkan.
Mengalihkan kembali perhatiannya, dia menemui gadis Pahlawan yang menghinanya masih bertahan dari serangan terompetnya. Alhasil Kalkydras mengubah nada bermainnya dan menjadi lebih kuat serta ada lebih banyak kepala yang meledak. Dalam waktu singkat medan perang mulai banjir akan darah.
“Ergh! Ini ... menyakitkan!” Petra merintih dan mencakar telinganya dengan kuat.
Dia tak mampu memikirkan opsi untuk menghentikan malapetaka ini. Suaranya tidak akan mampu dihindari tidak peduli seberapa tebal dan seberapa keras dia menutupnya. Dia tak tahan dengan situasi ini, setidaknya jika bisa dia harus mengganggu konsentrasi Kalkydras dalam memainkannya.
‘Mustahil menghindari pengaruh terompet ini, selama aku bisa mendengarnya walau hanya sedikit, aku takkan lolos-!’
Dalam rasa sakitnya yang luar biasa, Petra seolah menemukan sesuatu di ujung lidahnya. Matanya terbuka lebar karena ada satu opsi yang bisa dia coba. Namun risikonya tidak kecil karena ada bayaran yang harus dia ambil untuk melakukannya.
__ADS_1
Petra berhenti mencakar telinganya dan melebarkan kipasnya, segera dia merubahnya menjadi kipas yang lebih kecil dan mengarahkannya ke telinga.
“Ini berbahaya tetapi, patut dicoba!” Membulatkan tekadnya dia mendorong kipas tersebut lebih dalam ke telinganya.
“Argh!”
Darah segar segera mengalir, tentu saja berasal dari telinga yang dia berinisiatif untuk melukainya hingga cukup parah. Petra menutupi lukanya dan menggunakan sihir pemulihan untuk menghentikan pendarahannya. Hal tersebut adalah opsi untuk mengatasi neraka suara ini.
Opsi yang bisa diambil adalah yang tidak tahu berhasil atau tidaknya. Jika berhasil maka tak ada yang perlu dia takutkan dari terompet atau nyanyian, jika gagal dia tak boleh menyesalinya.
Menutupi telinganya dengan apa pun tidak akan mempan, tetapi apa jadinya jika dia tidak bisa mendengar? Tentu saja tidak akan ada suara apa pun selain suara hati yang akan mencapai dirinya. Pertaruhannya memang sangat berisiko namun hasilnya akan sangat besar jika berhasil.
Ya. Dengan menjadi tunarungu sepenuhnya memungkinkan Petra untuk tidak mendengar suara apa pun yang akan dimainkan Kalkydras. Tentunya sebagai bayaran dia tidak akan mendengar suara dari teman-teman yang berbicara atau jeritan dari medan perang ini. Bahkan mungkin dia tidak akan bisa bertarung dalam kelompok lagi.
Setelah menghentikan pendarahannya, Petra tersenyum menyakitkan karena nyatanya opsi tersebut membuahkan hasil yang bagus. Kalkydras menatapnya dengan tidak percaya, dia berpikir hanya orang gila yang membuat rusak telinganya sendiri.
Petra kembali berdiri dan merentangkan kedua kipasnya, dalam dunia tanpa suara yang kini dia bergabung dengannya, Petra berpikir menjadi tuli bukan hal yang buruk.
‘Aku tidak perlu lagi mendengar suara putus asa dari orang-orang yang menderita.’
Melihat Petra berhasil mengatasinya dengan merusak telinganya, tentara Legion yang melihatnya mulai berniat melakukan hal yang sama, Petra tang menyadari hal itu tentu saja menghentikannya. Dia membiarkan kipasnya terbang dan menabrak tangan tentara Legion.
Dengan satu kipas di tangannya, dia segera menuju Kalkydras dengan cepat, mengincar kepalanya dengan tujuan memotong dan membuat permainan musik mengerikan Kalkydras berhenti. Semua orang kembali memegang kewarasannya. Meski tidak tahu apa yang mereka katakan, meski tidak tahu apakah suaranya akan mencapai semuanya, Petra tetap mengatakan:
“Jangan coba meniruku! Apa pun yang terjadi, opsi yang sama bukan pilihan baik. Cukup satu orang yang bergabung ke dunia tanpa suara, karena satu orang saja cukup untuk menghentikan permainan mengerikannya!”
Kipas Petra yang lain telah kembali, dia merasakan tatapan semua orang tertuju kepadanya. Apakah mereka mengatakan sesuatu? Dia tidak tahu karena tak lagi mampu mendengar.
“Keparat, dasar ****** tidak berguna, gila, sinting, tidak waras! Memangnya orang bodoh macam apa yang mau menjadi tuli?! Ada batas di mana kepintaranmu tidak jatuh serendah monyet!” Kalkydras dari kejauhan mengumpat dengan keras
Dia mungkin sudah bodoh karena mengejek orang tuli namun Petra setidaknya mampu membaca sedikit dari gerakan bibirnya. Singkatnya apa yang dikatakan Kalkydras mungkin sesuatu yang tak pantas dan tidak masalah mengabaikannya.
“Kalian memang sekumpulan orang berotak dungu! Lagi dan lagi begitu mengesalkan, kali ini pasti—” Sebelum berbicara lebih jauh, Kalkydras merasakan sakit di lengan kirinya.
Berbalik dia menemukan seorang pria tua menebas lengannya dari belakang. Meski tidak sampai putus namun potongannya cukup dalam dan hampir mencapai tulangnya. Kalkydras hendak memainkan musiknya, tetapi rasa sakit lain datang dari tangan kanan yang memegang terompet.
Kali ini tidak hanya memotong dengan dalam, tetapi lengannya benar-benar terpotong. Lengan beserta terompetnya melayang tepat di depan matanya, sementara di sisi lain dia melihat gadis manusia dengan rambut hitam yang diikat, dan wajah penuh darah tengah mengulurkan pedangnya.
Pedang yang bersimbah darahnya, pedang yang juga memotong lengannya hingga seperti itu.
“KEPARAT—” Kalkydras mengamuk tetapi hantaman serangan yang lebih kuat menusuk punggungnya. Anak panah raksasa berwarna merah muda menembus perutnya dan kini dia terbawa menuju Petra yang siap dengan serangannya.
“Curse Series—”
Kalkydras memberontak dan berusaha melepaskan diri tetapi panah tersebut sangat kuat. Tidak hanya mengenai tubuhnya, tetapi panah tersebut mulai menghancurkan jiwanya.
“T-tidak! Jika begini ... Rafael takkan bisa membangunkan—”
Sebelum bisa menyelesaikan kata-katanya anak panah lain menghantamnya dan menembus hingga ke mulutnya. Disusul anak panah cahaya yang lebih kecil memenuhi punggungnya dan mendorongnya menuju Petra dengan lebih cepat.
Tak bisa bergerak atau bersuara, Kalkydras mulai putus asa dan mencari dari mana datangnya serangan. Melihat ke belakang sedikit, dari kejauhan dia melihat kilauan cahaya dari pohon yang cukup tinggi dilihat dari sini.
Di pohon tersebut terdapat seorang gadis dengan anak panah sedang tersenyum. Seolah tahu dirinya sedang ditatap, gadis itu mengedipkan mata kanannya dengan imut dan melepaskan anak panahnya, mengenai tepat mata Kalkydras.
Dia mulai mengerang karena rasa sakit tetapi suaranya takkan mampu keluar dengan tenggorokannya yang hancur. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah menantikan kematian yang ada tepat di depan matanya.
‘Sampai sini saja aku bisa bertarung, ya. Ini menyebalkan karena mati di tangan para manusia brengsek yang rendah juga tollol. Namun yang paling menjengkelkan adalah aku yang pertama gugur. Memalukan diriku ini. Bahkan kekuatan Rafael tidak akan lagi berguna karena jiwaku akan terpotong-potong. Setidaknya untukku ... kamu harus membalaskan dendamku, Jahoel.’
Di kesempatan terakhir kesadarannya, Kalkydras membuat permintaan kepada Seraphim yang sedang dalam perjalanan menuju medan perang. Sekalipun dia tidak akan bisa melihat waktu di mana Jahoel membunuh wanita itu, namun dia memiliki kepercayaan diri bahwa Jahoel akan melakukannya bahkan tanpa diminta.
“Sampai akhir, semua lagu dan nyanyian yang kamu lakukan tetap tidak enak ya.” Sebelum menciptakan serangannya, Petra mengejek meski tidak yakin suaranya akan mencapai Kalkydras.
Menatap kembali Petra, rasa pasrah yang dimiliki Kalkydras berubah menjadi kemarahan besar. Dengan kakinya yang sama sekali bebas, untuk terakhir kalinya dia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk satu serangan terakhir.
Petra tersenyum dan memejamkan matanya, menyilangkan kedua sayapnya dan maju langsung menuju Kalkydras. Dia sudah meyakini kemenangan tak terbantahkannya. Berkat bantuan Yuri, Rudeus dan Bellemere situasi ini dapat terjadi. Tidak ada keraguan bahwa dia akan menjadi Pahlawan pertama yang membunuh Seraphim.
“—Deathly Fan!” Petra mengerahkan serangannya dan berniat memotong kepala Kalkydras. Namun di detik-detik terakhir tersebut, dia tidak pernah menyadari tindakan Kalkydras.
“SETIDAKNYA KAN AKU BAWA KAMU BERSAMAKU!” Kalkydras menggunakan kedua kakinya untuk memeluk pinggang ramping Petra, lalu mengerahkan seluruh kekuatan untuk memeluknya dan kepalanya segera tertebas.
Kalkydras telah tewas tetapi kakinya yang memeluk Petra tidak kunjung lepas. Petra melebarkan matanya, dia menjerit dan menangis sangat keras. Retakan sesuatu yang patah terdengar, tulang pinggang hingga ke tulang ekornya patah dan remuk
Ada satu kekeliruan yang dibuat Petra dalam pertarungan terakhir. Rigel sudah mengatakannya dengan keras kepada para Pahlawan saat diskusi terakhir. Pesan yang disampaikan Rigel—
“SAMPAI AKHIR JANGAN PERNAH MEREMEHKAN LAWANMU, SEKARANG MATILAH PAHLAWAN, HAHAHA!” Kepala Kalkydras yang melayang berkata dengan lantang, tertawa, lalu kehilangan nyawa.
__ADS_1