Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 120 — Jalan Yang Kamu Tempuh (END)


__ADS_3

Dua tahun sejak perang besar Ragnarok terjadi. Meski waktu terus berputar namun duka tak kunjung meninggalkan. Korban jiwa terlalu banyak. Baik Pahlawan atau prajurit manusia. Mereka menawarkan begitu banyak nyawa untuk membayar harga kemenangan.


Mereka yang berhasil bertahan sampai akhir selama peperangan akan mendapat penghargaan besar merata diantara mereka. Sementara nama-nama pejuang yang gugur akan diukir ke dalam batu penghormatan bersama patung para Pahlawan.


Di dua tahun setelah peperangan banyak hal telah berubah. Untuk memastikan tiada lagi peperangan diantara manusia, banyak kerajaan dijatuhkan dan berada di satu pemimpin absolute dan hanya ada satu pemimpin pasti, Kaisar Asoka Van Yurazania.


Awalnya muncul berbagai macam masalah seperti pemberontakan namun semuanya tidak jadi membesar karena sampai kini umat manusia masih berduka. Terkadang duka teralihkan oleh pesta besar seperti pernikahan diantara Pahlawan dan Kaisar Asoka, tetapi pada akhirnya luka ditinggalkan bukan sesuatu yang dengan mudah sembuh.


Berdiri di depan patung-patung yang terbuat dari emas, Altucray menatap sepi sebuah patung di depannya, “Sudah dua tahun sejak saat itu. Entah apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi, dunia telah melupakanmu.”


Tersirat penyesalan mendalam yang tak terlukiskan oleh kata-kata, hanya Altucray seorang yang merasakannya karena hanya dia yang diizinkan mengingatnya.


Seandainya... . Pikirnya.


Kala dia menatap sunyi langkah kaki datang dari belakangnya dan berdiri tepat di sisinya. Dua wajah yang tidak lagi asing, para pejuang yang menyelamatkan dunia.


“Tak terasa waktu berakhir begitu saja. Banyak hal telah terjadi dan tetap saja aku merasakan perasaan sedih tak karuan yang bahkan tak aku ketahui tentangnya.”


“Itu peristiwa terbesar yang tidak pernah siapapun alami. Seiring berjalannya waktu, Ragnarok akan tampak seperti cerita dongeng di dunia penuh kedamaian yang kalian ciptakan, Tuan Takumi.” Altucray menoleh dan tersenyum lembut kepadanya.


Pria yang tubuhnya telah begitu kurus dan kulitnya memucat, meski penampilannya terlihat buruk sedemikian rupa namun dia masih cukup kuat mengayunkan tombak di tangannya.


Berkat peperangan besar pemuda tersebut merelakan umurnya dan hanya akan bertahan hidup kurang dari dua tahun lagi. Tak peduli seberapa besar sumber daya yang diberikan kepadanya, manusia tidak akan bisa menambah durasi umurnya.


Untuk itulah selama masa hidupnya yang tersisa, Takumi tidak ingin meninggalkan penyesalan di dunia ini.


“Semua patung selesai dibangun, ya? Tanpa terkecuali. Mereka yang gugur lebih awal seperti Argo, Nanami, bahkan Takatsumi dibangunkan sebuah patungnya.”


“Ya, bahkan Pahlawan Ray, Leo dan Merial dibuatkan patungnya. Total lima belas patung Pahlawan untuk menghormati kalian.” Altucray, Takumi dan satu orang di belakang menatap satu patung yang terlihat belum jadi namun sesungguhnya sudah selesai pengerjaannya.


“Ada banyak hal yang hilang berkat peperangan. Tak hanya kehilangan orang-orang, tetapi kami kehilangan sesuatu yang teramat penting. Tak ada orang yang mengingat dengan jelas, bahkan aku. Hanya beberapa dari kita yang mengingatnya, kehadiran seseorang yang begitu berjasa, begitu penting. Dadaku selalu sakit setiap memikirkannya. Entah siapa dirimu, aku harap bisa melihatmu diakhir kehidupan ini.” Takumi meremas dadanya yang seakan dihantam ribuan jarum.


Altucray teramat memahami perasaan tersebut lantaran dia yang mengingatnya merasakan hal yang teramat menyakitkan.


Satu-satunya patung yang tak diberikan kepala, keberadaan yang tidak diingat semua orang namun bisa dirasakan rasa kehilangannya.


“Pahlawan yang menghilang dari dunia. Mulai dari sekarang kamu akan dikenal sebagai Pahlawan terakhir, The Last Hero. Entah di mana dirimu, entah ada atau tidak dirimu, entah diingat atau dilupakan jasamu, kami akan tetap menghormatimu. Mulai dari sekarang, besok, dan di masa depan ketika semua pejuang yang pernah berjuang bersamamu akan mati ditelan waktu. Seandainya ...” Altucray hendak menyampaikan kalimat lain tetapi lagi dan lagi tak bisa terucapkan.


Patung pahlawan tanpa kepala, hal itu dikarenakan tak seorangpun bisa mengingat wajah, bentuk ataupun namanya. Entah ada atau tidaknya sosok tersebut, Kaisar Asoka memutuskan untuk membangunnya, dengan nama yang diberikan Takumi, The Last Hero.


Takumi segera pergi meninggalkan kedua orang tersebut dengan tujuan menemui Yuri yang sudah menyusui anaknya.


“Apa kamu benar-benar akan pergi mengembara, Leo?”


Sosok Leo yang hadir di belakangnya sungguh berbeda dengan sosoknya di dua tahun yang lalu. Dia saat ini terlihat begitu berantakan, seperti berandalan yang tak pernah membersihkan dirinya. Dengan jubah compang-camping menutupi tubuhnya, Leo menancapkan pedang Kusanagi di depan makam tersebut dan menanamkan sihir khusus.


“Ya, aku akan pergi. Entah sejak kapan hatiku mulai kosong, kehilangan sesuatu yang sangat menyakitkan terutama ketika aku tidak tahu apa yang hilang. Kuyakin Pahlawan terakhir ini adalah orang yang berarti bagiku. Entah siapa dia, aku yakin kedamaian inilah yang ingin dia gapai.”


Altucray menunjukkan kesedihannya, “Kamu akan mendedikasikan seluruh hidupmu untuk melindungi kedamaian ini dan mengembara ke pelosok dunia?”


Leo memejamkan mata, berlutut di depan patung dan mengangguk, “Aku akan memusnahkan benih yang tersisa dari peperangan. Bukan hanya untuk melindungi kedamaian, tetapi aku ingin mencari kehadiran Pahlawan ini yang barangkali mengasingkan diri. Pedang Kusanagi aku tinggalkan di depannya dengan sihir yang tak terpatahkan. Hanya orang yang cocok saja yang bisa menggunakannya.”


Leo bangkit dan menghadap Altucray dengan senyuman senang, “Entah itu putra Kak Takumi dan Kak Yuri, atau anak Paman Asoka, bahkan mungkin cucukmu.”


Altucray menggigit bibirnya dan memaksakan senyumannya, “... Ya. Dia mungkin akan jadi pejuang yang lebih hebat darimu.”


“Hahaha. Aku menantikan masa di mana namanya menggema hingga ke pelosok. Sampai saat di mana aku menyerah, kita akan bertemu nantinya. Selamat tinggal, Tuan.” Dalam waktu singkat Leo menghilang dari tempatnya dan menuju pengembaraan tanpa akhir.


“Seandainya ...”


Altucray tak pernah memiliki kata-kata bagus untuk dikatakan. Ingin menangis tak bisa, mengungkapkan kebenarannya juga tidak bisa. Kebenaran tentang keberadaan dari Pahlawan terakhir, Amatsumi Rigel.


“Seandainya ...”


Keberadaan yang hanya dia seorang mengingatnya namun tak bisa dia ungkapkan karena sebuah belenggu yang mengikatnya. Sungguh, jika ada satu cara untuk bertemu kembali, pastinya—


“—kamu berdiri cukup lama memandangnya.”


Akhirnya, suara yang dirindukan dunia, keberadaan yang menghilang, dan ingin dijumpai terdengar layaknya delusi. Altucray merasakan kehadiran di belakangnya, suaranya tak diragukan lagi miliknya.


Altucray hendak berbalik tetapi mengurungkan niatnya. Pemikiran bagaimana jika itu hanya delusi belaka dan tak pernah ada? Seandainya dia berbalik dan menyadari sosoknya tak pernah ada, maka dia akan menyesalinya seumur hidup.


Daripada memiliki penyesalan tanpa akhir, maka jalan terbaik berbicara dengannya tanpa berbalik.


Mengerahkan segenap kekuatannya, Altucray akhirnya berhasil membuka percakapannya dengan suara gemetarnya.


“... kamu seperti sehat. Setelah menghilang dari ingatan semua orang, bahkan dunia.”

__ADS_1


Sejarah tentangnya telah benar-benar dihapuskan, bahkan setiap catatan yang menuliskan kisahnya telah benar-benar lenyap secara misterius.


“Ya. Begitu juga denganmu. Aku tak pernah membayangkan bahwa orang yang memiliki dendam kesumat kepadaku menjadi orang terakhir yang mengingatku.”


“Ini memang sangat ironis. Apa yang akan kamu lakukan setelah semua ini?”


“Aku akan melakukan perjalanan.”


“Perjalanan?”


“Ya. Di puncak peperangan, di mana aku menerima segalanya termasuk kutukan. Aku melihatnya ... aku melihat asal-usul alam semesta, keindahannya, juga kengeriannya. Saat itulah aku tiba disebuah tempat bernama Pillar Of Creation. Disitulah aku mendengarnya, sosok yang lebih agung dari para dewa dan memberikanku kemampuan Creator. Aku menyebut sosok itu sebagai, Absolute Creation. Pencipta dari maha karya bernama alam semesta beserta isinya. Jika perlu dipermudah, sosok itulah adalah Dewanya para dewa.”


Altucray tidak memahaminya, mungkin dia takkan pernah memahaminya selama kehidupannya tentang apa yang pria itu lihat dengan mata kepalanya.


“Jadi singkatnya, Creator Hero bukanlah sesuatu yang diciptakan dewa, tetapi sesuatu yang diciptakan oleh makhluk yang jauh lebih tinggi daripada Dewa?”


“Ya. Void hanyalah bonus, kekuatan sesungguhnya adalah Creator. Dia menyampaikan padaku, Creator bukanlah kekuatan untuk membuat senjata hebat atau sihir kuat, tetapi Creator adalah kekuatan yang menciptakan masa depan. Masa depan di mana semua senyuman ditebarkan di dunia yang damai.”


Dan dia berhasil melakukannya. Altucray, tanpa pernah menyadarinya telah menangis sedu. Segera dia berlutut tanpa pernah berbalik untuk menatapnya.


“Ya! Kamu berhasil menciptakan senyum, kamu berhasil membuat dunia yang damai! Namun, apakah ini adil bahwa kamu yang menderita karenanya?!”


“Tidak ada yang benar-benar adil di dunia ini. Sebagai ganti jaminan dunia ini akan aman selamanya, aku mengemban sebuah tugas tanpa akhir darinya, Absolute Creation. Sebagai orang yang mengunjungi Pillar of Creation, aku memiliki sebuah tugas untuk melihat akhir dari dunia.”


Itu takdir dan jalan yang menyedihkan untuk ditempuh. Melakukan perjalanan tanpa akhir berbalut sedih dan kesepian adalah pilihan paling menyakitkan.


“Seandainya ... seandainya kamu bisa membagi beban itu, aku, dengan senang hati meringankannya! Aku harap tak pernah membencimu. Kita bisa bersama-sama dengan riang membahas masa depan antara kamu dan putriku! Maafkan aku!”


Altucray menangis sejadi-jadinya. Penyesalan selalu datang di akhir dan yang namanya sebuah penyesalan takkan pernah berakhir.


“Aku akan abadi, kamu akan mati. Semuanya akan mati. Bahkan jika kamu mengikutiku, pada akhirnya kamu akan mati dan menjadi beban lainnya.” Berjalan mendekat dan menepuk lembut punggung Altucray, Rigel menyampaikan perpisahannya, “Tujuanku adalah membuat perpisahan tanpa air mata namun karena kamu menangis tampaknya itu sebuah kegagalan.”


“Apa kamu akan pergi?”


“Ya. Ada masa depan tidak pasti yang aku harapkan. Kita akan berjumpa lagi di kehidupan selanjutnya, atau sampai waktu di mana aku berjalan hingga ke surga, kita akan bertemu lagi.”


Altucray segera mendongak untuk melihatnya, mungkin dia akan menghilang namun nyatanya dia sengaja menetap sampai Altucray melihatnya.


Pria dengan pakaian serba putih serasi dengan rambutnya, tatapan kosong tak bercahaya dan wajah tampan penuh kesedihan. Beberapa detik melihatnya, sampai sebelum akhirnya dia menghilang, Altucray berhasil mengucapkan perpisahan.


Berhasil menyampaikannya bertepatan dengan menghilangnya Rigel. Altucray kemudian menangis sedu lagi dan lagi.


“Sesungguhnya bukan dunia ini yang membutuhkan keselamatan, tetapi kamu yang membutuhkannya, Rigel!”


...***...


Menyaksikan dan terus menyaksikan. Dia akan menjadi saksi hidup di mana kedamaian yang dia buat menghasilkan senyuman.


“Apa kamu tak ingin menggendong anakmu yang manis ini, Ray? Dia akan sedih jika tahu Ayahnya tidak pernah menggendongnya.”


“Itu gawat jika dia membenciku. Tetapi, aku memiliki perasaan bersalah yang tidak bisa dijelaskan, Tirith. Lagipula aku takkan pernah bisa melihat wajah putriku. Mungkin saja dia membenciku karena buta.”


“Tidak masalah. Sekalipun dia membencimu, aku akan mencintaimu.”


“Ha ha ha. Yah, mungkin seharusnya seperti ini. Belakangan aku terus bermimpi, tentang seseorang yang berterima kasih karena aku menepati janji untuk menjagamu.”


“Kamu juga? Aku sering melihat mimpi di mana seseorang yang tidak kukenal mengucapkan selamat bahagia atau semacamnya. Setiap kali mendapatkan mimpi itu, aku menangis.”


“Terima kasih telah bahagia, Tirith. Dan terima kasih telah membahagiakannya, Ray.” Dari tempat jauh yang takkan pernah dicapai kehidupan Rigel mengucapkan syukur.


...***...


Menyaksikan dan terus menyaksikan. Dia akan menyaksikan semua kebahagiaan dan kehidupan yang dihasilkan rekan-rekannya.


“Lihat Takumi, dia tampan sepertimu.”


“Ya. Aku yakin dia akan jadi pejuang pemberani dan baik hati sepertimu, Yuri.”


“Dia akan hidup di dunia yang indah ini. Andai saja, waktuku lebih banyak, aku ingin melihatnya tumbuh menjadi dewasa.”


“... Ya. Andai saja begitu.”


“Kamu tak perlu menangis. Manusia akan mati suatu saat, hidup selamanya hanya akan membuat seseorang semakin menderita karena harus menyaksikan pemakaman orang yang dia kenal.


“Ya!”


...***...

__ADS_1


Menyaksikan, menyaksikan dan terus menyaksikan. Dia akan menyaksikan jalan hidup yang dilalui oleh rekan-rekannya.


“Hey, Leo! Apa kamu akan pergi?!”


“Riri. Ya, aku harus pergi. Untuk melindungi kedamaian yang mungkin singkat ini. Aku akan membersihkan benih yang tersisa.”


“Aku akan ikut denganmu! Sendirian itu menyakitkan!”


“Tapi ...”


“Tak masalah! Ayah dan Ibu mengizinkannya, lagipula aku ingin bersamamu sampai mati jadi kamu tak bisa menolakku!”


“Ini berbahaya ...”


“Lebih berbahaya jika kamu kesepian selama perjalananmu dan menjadi gila!”


“... baiklah. Jangan membebaniku!”


“Yeay!”


...***...


Menyaksikan, menyaksikan, terus menyaksikan dan menyaksikan. Rigel akan menyaksikan kehidupan rekan-rekannya dari tempat yang jauh dan menyaksikan mereka bahagia dan mati.


“Kamu ceroboh, Yuri, putramu sama seperti suamimu, sangat nakal. Selamat jalan Takumi, aku harap bisa bertemu denganmu suatu saat. Hey, Asoka, kamu bahkan tidak bisa memakaikan popok untuk anakmu. Lalu Leo, jangan buat Riri menderita dan menangis. Hazama, kamu tidak perlu terus bersedih dan datang ke makan Nadia setiap hari, carilah hal lain untuk menyenangkan dirimu. Kamu mati dengan bangga, ya, selamat jalan, Aland. Meski buta, tuli dan lumpuh, kamu masih semangat menjalani hidup, aku mengagumimu, Petra. Kamu melakukannya dengan baik Ray dalam merawat putrimu dan membahagiakan istrimu. Tirith, syukurlah kamu bahagia. Begitu, kamu sudah terlalu tua, selamat jalan, Altucray. Kamu sangat mencintai Marcel sampai mengunjungi pemakamannya terus Bellemere. Kamu membesarkan anakmu dengan baik Yuri, beristirahatlah dengan tenang. Kamu akhirnya sadar bahwa perjalananmu tidak berguna dan memilih hidup bahagia dengan Riri, itu bagus Leo, aku mendoakanmu. Hidupmu penuh keceriaan terlepas kekuranganmu, selamat jalan, Petra. Kamu terlalu banyak berduka dan minum, Hazama, semoga kamu bertemu Nadia di kehidupan lain. Sepertinya kamu sangat bahagia mati dikelilingi suami, anak, cucumu dan dihiasi senyuman, Tirith, tidurlah dengan nyenyak dalam keabadian. Ray, kamu sudah tua, tak pantas menangis. Asoka, kamu menjaga wilayah dengan baik dan hidup dengan baik, selamat jalan. Merial, Natalia, Walther, tak aku sangka ikatan kalian begitu kuat sampai meninggal di waktu yang sama, selamat jalan. Selamat jalan, Ray. Mati setelah melahirkan anak dan meninggalkan suamimu, meski begitu kamu telah hidup dengan bahagia dan mati dengan damai, beristirahatlah Riri.”


Menyaksikan dan terus menyaksikan. Melihat teman-teman hidup dan mati berlukis kebahagiaan yang abadi.


Menyaksikan, menyaksikan, dan terus menyaksikan. Amatsumi Rigel akan terus menyaksikan kehidupan lahir dan mati.


“Semuanya telah pergi dan aku sendirian. Mereka mati dengan bahagia, aku senang. Lihat, aku berhasil mencapainya. Perpisahan tanpa air mata, mereka takkan menangisi kepergianku ... lagipula ... aku takkan mati. Mustahil kita akan bertemu lagi!”


“Apa ini, air mata? Mengapa aku menangis, mengapa baru sekarang setelah lamanya waktu berlalu. Ini ... menyedihkan. Namun aku senang mereka senang, tetapi aku sendirian, meskipun aku senang. Ini bagus, kan? Mereka mati penuh kebahagiaan, tetapi ini menyakitkan karena aku tidak berada di sana, meski begitu aku senang!”


“God Requiem, sebuah nyanyian para dewa yang menyerukan kebangkitan orang yang menjadi penyelamat besar, sekaligus kesedihan. Semua harapan dan impian semua orang akan diwujudkan olehku, dengan ganti penderitaan akan ditampung olehku.”


Semua mimpi yang diinginkan rekan-rekannya, keinginan untuk bahagia dan kedamaian akan tercapai, itu sudah pasti sejak Rigel dibangkitkan dengan God Requiem. Kekuatan yang membuat mimpi menjadi nyata dan membuat seseorang menampung duka dan kesedihannya.


“Aku abadi, dan mendapatkan tugas dari Absolute Creation untuk menyaksikan akhir dari dunia. Bukankah ini terlalu berat untukku tangani? Hahaha, mungkinkah ini yang selamanya aku inginkan? Menyedihkan, hahaha!”


Air mata yang terus mengalir dan bibir yang terus tersenyum lalu tertawa. Di waktu panjang yang akan Rigel jalani, dia tak lagi tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Tertawa dan menangis di waktu yang sama, lalu menjerit sekeras-kerasnya tanpa seorangpun memedulikannya.


Di waktu yang panjang dan perjalanan tanpa akhir, menyisakan seorang pria menjerit keras di dalam kehampaan. Ramalan yang terucap oleh Priscilla dan yang lain di Labyrinth Neraka terwujud. Kenyataan God Requiem lebih menyakitkan wujudnya. Delapan batu ramalan mengatakan masa depan yang kini dialami oleh Rigel.


Dia yang terakhir, adalah yang benci karena telah terlahir.


“Aku terlahir untuk ini, jika bisa aku tidak ingin terlahir. Perjalanan penuh duka dan menyakitkan ini, kapan akan berakhir?” Rigel berkata selagi menangis sedu, menatap makam teman-temannya yang ada tepat di depannya.


Sepinya keabadian, adalah teman perjalanan.


“Keabadian bukanlah berkah. Keabadian adalah kutukan! Aku akan melihat banyak orang yang kukenal menemukan kematiannya, menyisakan aku sendiri berduka atas kematian mereka.”


Kesedihan adalah hiburan hati tanpa hati.


“Ya, hatiku hanya akan menyisakan kesedihan. Void merebut segalanya, dengan kejam menyisakan kesedihan!”


Kebahagiaan tercapai begitu kamu tak bisa mencapai apapun lagi.


“Kebahagiaan? Pencapaian? Apa aku membutuhkan pencapaian lain setelah mendapat gelar yang paling menyedihkannya?”


Kamu akan menyesali tujuan yang kamu kejar.


“Penyesalan datang diakhir, jika ada kesempatan mengulang, aku akan melakukannya.”


Perpisahan tanpa air mata adalah luka berbalut kesedihan.


“Aku mengharapkan akhir bahagia, dan membuat perpisahan tanpa air mata. Mereka tak menangisiku, tetapi aku menangisi mereka.”


Dia yang melakukan perjalanan, untuk mencari pengampunan.


“Pengampunan ... jika aku menemukannya, mungkinkah aku bisa mengakhiri keabadian ini?”


Pahlawan terakhir bagi dunia, akan melahirkan Pahlawan bagi alam semesta.


“Akulah yang terakhir dari mereka, dan akulah yang membuat dunia damai sehingga Pahlawan lain dapat terlahir.”


Amatsumi Rigel akan terus berjalan menempuh banyak alam semesta. Mencari akhir dari perjalanannya, waktu di mana seluruh isi dunia ini lenyap sepenuhnya dan meninggalkan kekosongan. Sampai waktunya tiba, dia akan melakukan perjalanannya, kesepian di dalam keabadian.

__ADS_1


__ADS_2