
“Hazama! Sejak kapan kamu datang?” Nadia terlalu fokus bertarung sehingga tidak menyadari kedatangan Hazama dan yang lainnya.
Dia menemukan Marcel dan Ray juga bersamanya, kedua orang tersebut sedang berselisih dengan Pilar Iblis sementara Priscilla masih menghadapi Rafael.
“Belum lama, syukurlah kami datang tepat waktu.” Hazama menatap Kemuel dengan menyelidiki, “Sepertinya orang ini memang lawan yang buruk untukmu.”
Petarung jarak dekat yang mengabaikan segalanya selain pada daya serang akan kesulitan menghadapi pelindung terkuat, Kemuel jelas bukan lawan yang pantas bagi Nadia.
“Itu mungkin benar, tetapi jika aku tidak pantas maka tidak ada yang pantas.”
Mengecualikan Yuri dan Rigel, sisanya bertempur pada posisi dekat dan menengah, jika Nadia sendiri kesulitan melawannya maka bukan berarti yang lain tidak akan kesulitan.
“Itu mungkin benar. Yeah, bagiku tak masalah karena kamu bertarung tanpa menggunakan hal itu.” Hazama tersenyum ramah selagi mengangkat kedua perisai di tangannya, “Apa alasanmu tidak menggunakannya segera? Bahkan aku sudah menggunakan kekuatan baru di awal.”
Apa yang didapatkan Hazama dari roh yang bersemayam di Batu Ramalan adalah sesuatu yang amat bagus, tidak hanya skill yang tidak dia ketahui tetapi dia mendapatkan sesuatu yang dia sebut Perisai Perubahan.
Dia sekarang mampu membelah perisainya dan meski tidak berpengaruh banyak pada Kekuatan bertahan namun hal tersebut meningkatkan fleksibilitas.
Nadia tersenyum penuh arti, “Aku ingin tahu seberapa jauh batasanku.”
“Kuharap kamu sudah mengetahuinya karena mulai dari titik ini bagian terpenting.” Hazama menarik napas panjang dan segera lari menuju Kemuel.
Dari rencana yang sudah disepakati bahwa babak awal dari peperangan adalah bagian penting untuk umat manusia, hal tersebut didasari pada pengalaman tempur Alexei, Rudeus dan Altucray sementara Asoka yang menyusun sisanya.
Mengingat Rigel tidak memberikan penolakan akan hal tersebut menunjukkan kesediannya mengikuti rencana.
“Aku tahu itu!” Nadia mengejar di belakang dan segera mendahuluinya, dia melompat dan menyilangkan cakarnya, “Tantrum Tiger!” Cakarnya mengeluarkan aura putih, Nadia berputar dan memberikan runtutan serangan seperti gasing yang dihiasi cakar tajam.
“Ini mulai menyebalkan! Heavenshield — Budha!” Tubuh Kemuel berubah menjadi emas sepenuhnya dan dia mengayunkan tinjunya.
“Takkan kubiarkan!”
Dalam lintasannya sebelum mencapai Nadia terdapat orang lain yang menghadang, Hazama tersenyum mengejek karena berhasil menghentikan pukul Kemuel sepenuhnya.
Namun senyum tersebut dibalaskan dengan tinju Kemuel yang nyatanya tidak berhenti, Hazama tidak memahami apa yang terjadi dan saat dia menatap wajah Kemuel, bibirnya bergerak.
“Kalian terlalu angkuh.” Kemuel menatap rendah Hazama dan mengayunkan tinjunya dengan kuat.
Hazama terdorong dan tubuhnya ikut terbawa oleh tinjunya, Nadia yang terus berputar menyerang Kemuel dari sisi lain tidak bisa menghindar, tinju Kemuel yang membawa Hazama bersamanya menghantam Nadia dengan keras.
Mereka berdua terhempas ke tanah sejauh beberapa meter, darah segera keluar dari mulut keduanya. Hazama mencoba bangkit untuk melindungi Nadia yang menerima kerusakan cukup parah.
‘Aku beruntung karena sebagai Pahlawan perisai diriku memiliki pertahanan kuat.’ Dengan serangan sekuat itu Hazama hanya menerima 50% luka namun hal tersebut tetap sangat menyakitkan.
Dikarenakan itulah dia mencoba mencapai Nadia dan melindunginya, dirinya yang hanya menerima setengah luka sudah lumayan sulit untuk bangun dan bagaimana dengan Nadia.
“Aku belum selesai dengan kalian!” Kemuel bergerak sangat cepat dan menuju Hazama.
Hazama menoleh dan segera kepalanya dihantam oleh tendangan yang sangat kuat, mulutnya mengeluarkan darah, tiga giginya patah dan dia kembali terhempas.
“Hanya karena aku seorang pelindung bukan berarti tak memiliki kekuatan tempur!” Kemuel mengayunkan tinjunya dengan cepat namun Hazama juga cepat membuat perisai diantara mereka.
“Star Shield!” Perisai cahaya kebiruan dengan ukiran bintang berhasil melindunginya dari serangan lebih lanjut.
Di sisi lain dia melihat Nadia berhasil bangun dengan darah mengalir dari kepalanya, wajahnya terlihat menderita juga marah.
“Aku muak dengan ini.” Cakar di tangannya berubah menjadi ungu gelap yang bergelombang, terlihat bahwa cakar tersebut mengeluarkan cairan hitam yang aneh.
Hazama menemukan Nadia mengerahkan seluruh kekuatannya hingga ke batas maksimal, “Maka aku juga harus sama.”
__ADS_1
Dia menyatukannya kedua perisainya. Perisai tersebut mukai berubah bentuk menjadi perisai bulat dengan duri-duri tajam, “Combat Shield — Reduction.”
Mereka saling berhadapan, Kemuel menoleh kiri-kanan untuk mengawasi Hazama dan Nadia. Dia merasa cukup kesal dengan situasi ini dan melihat Rafael yang masih dibuat kerepotan oleh Priscilla.
“Ini tidak seperti rencana, menunjukkan keagungan Malaikat dihadapan mahkluk rendah dan menanamkan rasa takut tampaknya sia-sia, maka rencana lain harusnya berjalan. Untungnya di babak awal diriku yang turun dan bukan Kalkydras.”
Perhitungan Michael tentang manusia mungkin akan memberikan kejutan tidak akan salah dan ketimbang kartu truf mereka Kalkydras memilih Kemuel amat tepat.
“Dua lawan satu ... bukan hal yang buruk, MANUSIA!” Kemuel melebarkan kakinya, dia mengulurkan telapak tangannya ke Hazama dan Nadia, “Budha!”
Telapak tangan raksasa terbang menuju mereka, di waktu yang bersamaan dua Pahlawan itu bergerak menghindar dan mendekati Kemuel.
Nadia bergerak zig-zag dengan cepat dan taringnya mencapai dagu Kemuel, dia berhasil mengenainya meski tidak memberikan luka yang cukup berarti, ‘Namun sentuhan saja sudah cukup!’ dalam hatinya dia bersukacita.
Mengikutinya Hazama berlari selagi bersembunyi di balik perisainya, dia terus melaju seperti banteng mengamuk. Kemuel tidak berniat menghindari dan menerimanya dengan tubuhnya langsung.
“Apa yang bisa dilakukan Perisai ketika menghadapi perisai?!” Kemuel mengejek tindakan bodoh Hazama dan tersenyum.
“Kenapa kamu tak menanyakannya kepada dirimu sendiri?” Hazama menunjukkan wajahnya dan tersenyum tipis.
“Jangan lupakan aku!” Nadia membuat gerakan akrobatik dan meluncurkan axe kick tepat di kepala Kemuel, “Bagaimana rasanya diinjak oleh ras yang kamu remehkan?” Nadia memberikan provokasi murahan.
Urat di kepala Kemuel semakin banyak, meski tubuhnya diselimuti cahaya emas siapapun dapat menyadari bahwa dia memerah karena kemarahan.
Tidak hanya merasa terhina oleh tindakan Nadia tetapi dia bertanya-tanya mengapa tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa, tidak dari dagu saja tetapi dari tendangan Nadia sebelumnya.
“Apa yang telah kamu lakukan?” Tatapannya bergetar mencari dan berakhir kepada Hazama, Kemuel segera menendangnya dan menyingkirkan Nadia yang mencari pijakan.
Kala itu juga Hazama mulai tertawa lepas, “Kuhahaha! Apa kamu menyadarinya bahwa perisaiku mampu menyerap tebalnya pertahanan milikmu?! Setiap kali kamu melakukan kontak fisik dengan perisaiku, pertahananmu akan menurun!”
Mengikuti Hazama, Nadia ikut tertawa dengan tatapan yang sangat merendahkan, dia mengacung jari tengahnya dan memanjangkan cakar di bagian tengahnya, “Seandainya kamu tahu bahwa cakarku tidak hanya memiliki energi kehidupan, tetapi mampu memberikan luka pada pertahanan seperti apapun, semakin kuat akan semakin baik dia bekerja!”
Dalam waktu damai dia pernah latihan tempur dengan Hazama untuk mencoba kekuatan barunya. Dari pertarungan tersebutlah dia menemukan cakar tersebut mampu mengoyak pertahanan apapun.
“Aku cukup penasaran apa Rigel bisa melihat masa depan, dia mengirimkan kita lawan yang sangat cocok untuk spesialis pertahanan, meski aku tak pantas membicarakan hal ini.”
“Serangan yang mengurangi pertahanan dan mampu menembus pertahanan apapun adalah musuh alami kalian berdua sebagai spesialis pertahanan. Yeah, untuk sekarang cukup malaikat bodoh itu yang mengalaminya.”
“Khaha ... Jangan bilang kamu telah lelah, Nadia.” Hazama berjalan sedikit sempoyongan juga sedikit tertawa.
“Hahaha, jangan bercanda, masih banyak bagian dari Deathly Claw yang belum aku perlihatkan.” Nadia juga berjalan sama dan tersenyum.
Mereka berdiri berdampingan dan memasang kuda-kuda. Hazama memajukan perisainya, menurunkan sedikit badannya. Nadia mengulurkan cakar kanannya selagi tinju kanan mengepal dalam posisi berjalan.
“Kurang ajar ... Akan kutunjukkan keagungan dari Penjaga Gerbang Surga, Kemuel!”
Nadia dan Hazama mulai menunjukkan senyuman psikopat dan liar mereka, kepribadian mereka di waktu ini sangat serasi terutama dengan penampilan yang kacau tersebut. Saking serasinya mereka bibir bergerak dalam kata yang sama, “Sekarang majulah!”
“Matilah manusia!” Kemuel terbang cepat bagai cahaya namun kedua Pahlawan tersebut juga cepat.
Dengan kekuatan cahaya Kemuel menciptakan zirah untuk menghindari tubuhnya mengalami kontak langsung dengan keduanya. Dengan kecepatan cahaya yang sama mereka berbenturan hingga menyisakan cahaya untuk dilihat mata.
Tang ... Ting ... Dung ... Tang!
Hanya dentuman antara pukulan dan perisai z cakar dengan zirah berbenturan dalam huru-hara pertarungan yang merenggut nyawa di tanah yang hancur.
“Jangan sombong kalian hanya manusia!” Kemuel terbang dan menjaga jarak dari keduanya, dengan tinjunya yang terulur ke arah mereka, batu meteor besar yang membentuk tinju jatuh menuju Nadia dan Hazama.
“Khahaha menarik! Mari lakukan bersama Nadia!”
__ADS_1
“Yea!”
Dihadapkan oleh bencana dengan tangan meteor yang mampu meratakan gunung, kedua orang itu tersenyum liar selagi berlari mendekati tinju raksasa tersebut.
Hazama berlari mendahului, perisainya mengeluarkan kilauan biru, dia segera berputar berlawanan dan dengan sekuat tenaga menggunakan kedua kakinya sebagai tumpuan, “Sekarang Nadia!”
Nadia yang langkah kakinya terlihat berat, tubuhnya mengeluarkan aura hitam ungu dengan mata hewan buasnya segera menatap Hazama, “Terima ini ... Deathly Claw — Shinigami!”
Delapan cakar cahaya berukuran besar muncul dan terbang menuju Hazama, cakar-cakar tersebut berputar dalam lintasannya dan menjadi satu kesatuan utuh dan menghantam perisai Hazama.
Cakar tersebut terserap ke dalam perisainya, Hazama segera berbalik dan tinju meteor tersebut tepat di belakangnya, “Full Counter!”
Tepat pada waktunya cakar yang ukurannya 3x lebih besar menghancurkan tinju tersebut dan terus menghancurkan hingga mencapai tempat Kemuel berada.
Melihat serangan berbahaya tersebut Kemuel sadar jika menerimanya langsung dia pasti tidak akan lolos dengan keadaan baik-baik saja, dia menarik napas, tangannya terentang dan berputar seakan membentuk persegi, “Gate Of Heaven!”
Gerbang besar keemasan muncul dalam bentuk cahaya, corak-corak bunga yang indah menghiasinya. Gerbang tersebut menahan serangan Nadia dan Hazama, benturan besar terjadi, petir menyambar, bumi bergetar disertai angin kuat seolah badai.
Pada akhirnya gerbang milik Kemuel yang menjadi pemenang atas bentrokan tersebut, perlahan dia turun ke tanah dan menatap Hazama serta Nadia berbeda dari sebelumnya.
“Setelah sekian lama untuk pertama kalinya aku mengeluarkan darah, juga ternodai oleh debu dari tempat yang kotor!” Kemuel jelas tidak senang, dia tidak pernah berpikir akan menjadi seburuk ini hanya dengan menghadapi manusia.
Nadia ataupun Hazama tidak membalas perkataannya, mereka memilih mengatur napas dan menghemat tenaga ketimbang menjawab perkataan lawan.
“Tidak hanya aku dan Rafael, tetapi para iblis kotor itu juga dalam kondisi yang sulit.” Kemuel merasakan beberapa bentrokan besar juga terjadi selagi dia sibuk bertarung.
Faktanya bahwa tidak ada bantuan dari Rafael atau gangguan dari Pilar Iblis serta Pahlawan adalah bukti semua bertarung imbang. Kesalahan terbesar yang dibuat Kemuel adalah dengan meremehkan manusia.
“Kesampingkan Rafael yang bukan spesialis pertarungan, peri itu juga tampaknya mampu memberikan maslaah yang sulit diatasi.” Kemuel menatap pohon besar di kejauhan, satu-satunya pohon yang tumbuh di medan perang.
Dia merasa bermasalah dengan pohon itu tumbuh di medan perang. Pohon itu menyerap energi apapun di sekitarnya dan merubahnya menjadi energi kehidupan.
Malaikat tidak mampu menggunakan energi kehidupan, begitu juga iblis sementara tidak banyak manusia yang mampu menggunakan energi kehidupan.
‘Apa tujuannya menumbuhkan pohon tersebut? Tidak mungkin jika ras peri bergabung dalam perang. Pengganti Sylph yang datang itu sepertinya datang untuk menumbuhkan dan menahan Rafael agar para Pahlawan ini mampu membunuhku, mungkinkah dia tahu kekuatan asli Rafael?’
Kemuel merasa tidak mungkin pengganti Sylph akan tahu lantaran Rafael belum pernah mengungkapkannya selain julukannya saja. Hal lain yang mengganjal pikirannya adalah untuk tujuan apa pohon raksasa itu ditumbuhkan.
“Ke mana kamu melihat!” Nadia melemparkan serangan kecil yang dengan mudah dihindari Kemuel, tujuannya hanya untuk mendapatkan kembali perhatiannya.
“Kalian terlihat babak belur namun masih sangat sanggup untuk bertarung, ya. Sepertinya ada separuh kemungkinan aku gugur di sini.” Kemuel tidak terlihat menyesal juga tidak kesal, dia justru tertawa.
“Pft! Hahaha! Ini sangat luar biasa, jauh dari perkiraan, di luar harapan, melampaui ekspetasi dan keinginan, melebihi batas yang ditentukan, melewati angan-angan yang dipikirkan, ini ... Hebat!”
Tindakan Kemuel membuat Hazama dan Nadia bingung. Sikap yang dia tunjukkan saat ini bertentangan dengan dirinya yang tenang dan cuek sebelumnya. Perubahan tersebut membunyikan bel bahaya yang dimiliki Nadia dan Hazama, mereka kembali menguatkan posisi dan siap menerima apapun yang terjadi selanjutnya termasuk kematian.
“Hahahaha, kapan ... kapan terakhir kali aku tertawa, kapan terakhir kali aku berbahagia, dan kapan terakhir kali aku memiliki dorongan kuat untuk bertarung?! Apa ini, aku akan gila jika seperti ini caranya!” Kemuel menutup wajahnya dengan tangan, segera dia menyingkirkan tangannya wajahnya yang penuh nafsu membunuh tak pantas dimiliki oleh malaikat.
Dia segera merubah ekspresinya menjadi tenang seperti sedia kala, “Sebelumnya aku minta maaf karena meremehkan kalian, mahkluk yang lebih rendah. Aku salah tidak, kami salah. Kalian memang cocok disebut Pahlawan karena dasarnya Pahlawan adalah orang yang kuat! Aku mengakui kalian sebagai Pahlawan yang kuat dan karena itu aku harus membunuh kalian!”
Kegilaan yang dimiliki Kemuel akhirnya terungkap, tangannya merentang dan segera membentuk kuda-kuda bertarung, “Seraphim yang menjaga gerbang surga, Kemuel.”
Hazama segera mengangkat perisai dan menyembunyikan tubuh bagian atas dibalik perisainya, “Perisai terkuat manusia, Hazama, tanpa marga karena yang dibutuhkan hanya nama.”
“Cakar harimau yang dimiliki manusia, Nadia, juga tanpa marga.”
Menyebutkan marga yang mereka miliki saat ini tidak berguna, meski seharusnya kesatria menyebutkan nama lengkapnya untuk kehormatan, tetapi sayangnya mereka bukan kesatria.
“Pahlawan Perisai, Hazama dan Pahlawan Cakar, Nadia. Aku akan mengingat kalian meski aku kati dan terlahir kembali, nama kalian tidak akan kulupakan.” Kemuel mengeluarkan aura emas dari seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Nadia dan Hazama tanpa banyak tingkah berlari menyerang Kemuel begitu juga sebaliknya.
“Haaarrghhhh...” Ketiga orang itu mulai bertarung dan saling berbenturan dengan kekuatan penuh sekali lagi.