
Tiga mahkluk besar saling berhadapan, lebih tepat dua mahkluk besar melawan seekor naga yang berdiri dengan dua kaki. Mereka jelas tidak menunjukkan niat baik sama sekali, tujuan dalam kepala mereka hanya untuk menghancurkan musuhnya.
Luka di perut Ozaru perlahan pulih. Meskipun tubuh raksasanya hanyalah cangkang belaka, bila terluka dia tetap akan merasakan sakit meskipun tidak akan membuatnya mati.
“Tikus terus saja berdatangan, dengan tambahan tikus yang sedikit lebih besar tidak akan mengubah banyak hal.” Acnologia menarik cakarnya dari Gahdevi.
Meskipun tidak banyak perubahan besar, nyatanya Acnologia sangat mewaspadai Gahdevi, ras terakhir dari para Raksasa.
Ras tersebut tidak luput dalam ingatannya, tidak jarang dia bertarung dengan mereka di masa lalu. Raksasa termasuk ras terkuat setelah naga dan peri.
Manusia bukanlah tandingan para raksasa, bahkan iblis berdiri seimbang dengan mereka dan tidak berani mengusik raksasa lebih jauh. Meskipun raksasa termasuk yang terkuat, mereka tidak memiliki minat menjadi yang terkuat ataupun memandang rendah ras lain.
Hal itu membuat ras raksasa tidak patut dijadikan ancaman, namun tetap saja semua ras mengawasi mereka. Bahkan Sylph sendiri tidak luput mengawasi para raksasa meskipun mereka memiliki hubungan cukup baik dengan peri.
“Raksasa terakhir, tidak kusangka masih ada yang tersisa dari kalian.” Acnologia mengejek, berniat membuat Gahdevi marah dan tidak berpikir jernih.
Gahdevi bukanlah bayi yang baru dilahirkan, dia jelas melihat niat Acnologia. Meskipun sedikit tersinggung jika pembahasan mengarah ke rasnya, Gahdevi bisa mengabaikannya.
Bukan berarti pembahasan terhadap ras raksasa adalah hal tabu baginya, dia hanya tidak ingin mengingat sesuatu yang berusaha dia lupakan.
“Tidak peduli dengan apa yang kamu katakan tentang bangsaku, mereka akan selalu ada selama aku hidup.” Gahdevi menekan tangannya ke dadanya, “Di sini ... Mereka akan selalu hidup di hatiku.”
“Hahaha! Sepertinya kamu benar-benar ras terakhir raksasa, primordial seperti itu benar-benar seperti mereka.” Acnologia tertawa terbahak-bahak.
Acnologia tidak mengalami pertemuan singkat dengan para raksasa. Dalam waktu jenuhnya setelah menaklukkan seluruh naga, Acnologia seringkali mengusik para raksasa dan mengajak mereka bertarung.
Namun tidak peduli berapa kali dia mencoba, hampir mustahil baginya melenyapkan ras tersebut. Satu dari mereka cukup sulit di bunuh, namun yang paling sulit adalah raksasa yang berdiri sebagai pemimpin.
“Dari ucapanmu sebelumnya, dan rantai yang kamu lepaskan tidak salah lagi Gleipnir. Sepertinya kamu putra Raja para raksasa, Legia.”
__ADS_1
Gahdevi sedikit melebarkan matanya. Dia tidak dapat memastikannya, namun sepertinya Acnologia mengenalnya. Namun yang paling mengejutkan adalah dari mana dia tahu bahwa dirinya putra dari Raja Legia?
“Reaksimu cukup menjelaskan, kamu memiliki hobi yang sama dengannya yaitu merubah tubuhnya menjadi seukuran manusia dengan rantai itu.”
Ras raksasa memang tidak peduli dengan siapa yang kuat. Namun mereka memiliki kebanggaan kuat sebagai mahkluk besar. Mereka diam bukan berarti takut, mereka justru bersimpati kepada ras lain yang berukuran sangat kecil. Karena itulah mereka tidak perlu melakukan perdebatan tidak penting, sebagai bentuk simpati mereka.
Jika harus berseteru, maka hanya naga yang memiliki ukuran hampir sama dengan mereka. Karena hal itu, bagi raksasa tubuh besar adalah kebanggaan diri.
Di masa lalu, hanya ada satu raksasa yang Acnologia kenal tidak mempedulikan ukuran tubuh, justru menyukai tubuh kecil seperti manusia. Tidak sulit menebaknya, sosok seperti itu dapat dihitung jari.
“Jika kamu benar putranya, pastinya kamu memiliki ingatan tentang hancurnya ras raksasa.” Acnologia berusaha mengamati dan menemukan Gahdevi bereaksi dengan perkataannya, “Sepertinya itu kebenaran. Mau tidak mau aku harus mengoreknya sendiri!”
Tanpa peringatan, Acnologia melesat secepat angin dan sudah mencapai tempat Gahdevi. Dia terlambat bereaksi namun beruntungnya Ozaru berada di pihaknya.
Ozaru segera melemparkan tongkat besarnya dan membuat Acnologia mengurungkan niat untuk mengambil kepala Gahdevi. Dia sedikit berdecak kesal karenanya. Tongkatnya justru jauh lebih merepotkan dari penggunanya.
Dia tidak memiliki ingatan apapun bahwa Senjata Pahlawan, tongkat dapat merubah ukurannya sesuka pengguna. Bahkan Pahlawan di masa lalu tidak bisa melakukan sesuatu seperti itu!
Sedetik saja bantuan Ozaru terlambat, maka kepalanya sudah tidak berada di tempat seharusnya. Jika itu terjadi, tanpa pernah dia menyadari bahwa dirinya mungkin sudah mati.
Gahdevi sekali lagi diingatkan bahwa Monster Malapetaka adalah bencana alam hidup tanpa perasaan ataupun keraguan. Maka untuk menghadapinya, dia tidak boleh memiliki keraguan.
BANG!
Gahdevi menghantamkan tinjunya satu sama lain dan segera menghadang Acnologia yang mempersiapkan serangan selanjutnya.
Tinju saling berdebat dengan cakar, tidak ada diantara keduanya tergores ataupun patah. Hal itu menunjukkan betapa kerasnya mereka dan tubuh besar bukan hanya segumpal daging tanpa kekuatan.
Ozaru tidak mungkin ingin diam dan menunggu serangan datang dari Acnologia. Dia memilih melangkah maju dan membantu Gahdevi mendesak Acnologia.
__ADS_1
Menyerang adalah pertahanan terbaik, membuat Acnologia menjauh dari tempat Rigel adalah prioritas. Mereka tidak berbicara ataupun memberikan tanda, namun memiliki tujuan serupa di kepala mereka.
“Hoargh ...” Gahdevi Berhasil memukul mundur Acnologia, dengan bayaran sebuah cakaran besar di lengannya.
Ozaru segera melanjutkan. Dia melemparkan tongkatnya yang terus memanjang sementara dia berlari di atasnya menuju Acnologia. Dia tidak berniat membiarkan Acnologia beristirahat, terus mendesaknya mengeluarkan banyak kekuatan adalah prioritas.
Gahdevi meyakini, kehilangan kepala pastinya menguras tenaga Acnologia yang tidak sedikit. Meskipun sudah lebih dari separuh kekuatannya menghilang, namun kekuatan Acnologia sekarang tidak terbilang kecil.
Gahdevi bahkan tidak memiliki harapan dirinya dapat mengalahkan Acnologia meskipun dengan dukungan Ozaru menyertainya.
“Setidaknya aku percaya diri dapat membuatnya semakin lelah!” Gahdevi segera menyusul Ozaru secepat angin.
Acnologia tetap tenang selagi menjauh dari kejaran tongkat disertai Ozaru dan Gahdevi. Dia membuat lingkaran sihir besar dengan kedua tangannya, sedetik kemudian ratusan bola cahaya hitam dan putih melesat menuju mereka.
Ozaru mampu menghindar sepenuhnya. Meskipun dengan tubuh sebesar itu, kelincahannya tidak berkurang sedikitpun. Dia melompat seperti kera, berputar dan terkadang membalasnya dengan serangan api emas.
Gahdevi di sisi lain mengulurkan tangannya untuk melindungi wajah dan organ vitalnya. Dia membiarkan kedua tangannya menerima segala dampak serangan dan meminimalisir kerusakan yang bisa diterima.
Tangannya terasa terbakar bahkan melepuh meskipun telah memperkuat kulit dan dagingnya. Pada akhirnya, menerima langsung serangannya tidak menjadi pilihan bijak.
Gahdevi bukan Ozaru. Dia tidak dapat bergerak selincah itu meskipun dengan tubuh manusianya. Karena itulah, meskipun bisa menghindari beberapa, dia pastinya tetap akan menerima beberapa luka.
‘Akh harus memikirkan cara yang lebih baik ...’ pikirnya selagi mengejar Acnologia.
Terlintas dalam benaknya, wajah seorang pria yang dipenuhi kesedihan, keputusasaan dan kejahatan muncul. Sosok pria di masa lalu yang menyelamatkannya dari neraka yang menimpa rasnya, meskipun sosok itu jugalah yang menciptakan neraka itu.
Terhadapnya, wajah berisikan tangis dunia dan keputusasaan neraka itu tidak pernah dia lupakan. Pria itu dikenal sebagai orang paling putus asa pada masanya.
Bukan berarti Gahdevi menyukainya ataupun memiliki hubungan spesial. Dia justru memiliki dendam— pria itu memintanya memiliki dendam kepadanya seumur hidup. Bahkan sampai kini, kata-katanya tidak terlupakan.
__ADS_1
‘Cih, aku mengingat sesuatu yang tidak diperlukan.’
Gahdevi menggelengkan kepalanya dan menghilangkan kenangan tersebut dari kepalanya. Sekejap, orang-orang yang melihatnya akan menemukan Gahdevi sedikit menangis.