
Rigel mengulurkan tinju yang mengeluarkan listrik dan membuat tangan Kemuel bergetar ketika saling menghantamkan tinjunya. Kemuel merasa tersiksa, senang juga takut di waktu yang sama. Dia tidak menyesal mengaliri seluruh kekuatannya pada pukulan tersebut karena berbahaya menerima bogem mentah darinya.
Dengan kedua tangannya Rigel mengumpulkan seluruh energi dan menembakkannya seperti laser. Kemuel segera membangun Gerbang Surga untuk menahan serangan tersebut. Gerbangnya bergetar dan retak, Kemuel membayangkan jika dia terkena serangan itu mustahil untuk tidak terluka.
Tanpa membuang waktu lagi, Kemuel memberikan serangan balik dengan menggunakan semua kekuatannya. Dia membuat dinding cahaya yang mengurung Rigel dan segera oksigen yang ada di dalam dinding tersebut hilang.
“Sekuat apapun dirimu, tanpa adanya oksigen manusia tak bisa hidup.”
Kemuel menyaksikan Rigel yang membuat wajah menyakitkan, tubuhnya terkaku dan matanya terbuka lebar seolah melototi sesuatu. Kemuel mempersempit pelindung yang menyelimuti Rigel dan berniat menghancurkannya secara perlahan.
Jari-jari Rigel yang kaku sedikit bergerak dan menimbulkan fenomena di mana pelindung tersebut hancur berkeping-keping. Kemuel berdecak namun kembali memfokuskan diri untuk defensif.
Dia tidak pernah tahu di mana dan kapan tepatnya Rigel akan muncul, dia mampu berpindah tempat dengan sangat cepat. Hampir seperti teleportasi namun seharusnya kekuatan tersebut tidak akan bisa karena penghalang yang dibuat oleh Jahoel.
Kemuel memiliki harapan kecil dan mencoba memancing Rigel untuk memberikan jawabannya, “Kamu memiliki banyak trik, ya. Itu bukan teleportasi ataupun Spatial namun sesuatu yang lain. Hampir seperti kamu mampu bergerak bebas di waktu yang melambat—”
Dunia yang dia lihat tiba-tiba tidak memiliki warna aslinya dan berubah menjadi langit malam berbintang dengan tempat berpijak cahaya biru, gerakan semua orang terhenti dan Kemuel mampu melihat jelas wajah manusia juga Seraphim yang berhenti membuat raut lainnya. Kemuel berpikir dirinya terkena ilusi dan ingin membebaskan diri namun baik tangan ataupun tubuhnya tidak lagi mematuhi perintahnya.
“Kamu sedikit meleset.”
Suara Rigel mampu dia dengar dengan jarak yang sangat dekat. Kemuel menyadari bahwa Rigel berbicara tepat di telinganya, karena saat ini dia berada tepat di belakangnya. Dia ingin berbalik namun apa daya karena setiap bagian tubuhnya tidak mau mematuhi keinginannya.
“Bukan hanya waktu yang melambat, tetapi ini kondisi di mana waktu benar-benar berhenti, tidak. Lebih tepatnya kondisi di mana waktu tak mempengaruhinya.”
Dari struktur yang terlihat dan mana yang menyelimuti tempat ini, Kemuel tidak memahaminya. Dia tidak pernah merasakan energi seperti ini, sesuatu yang ada di dunia seakan menjadi tiada dan lenyap.
Jika waktu tidak mempengaruhi tempat ini, maka Kemuel berpikir apakah tempat ini adalah kematian? Karena lebih dari apapun kematian adalah satu-satunya hal yang tidak terikat oleh waktu. Sekalinya makhluk hidup mati, tak peduli berapa lama waktu berlalu, mereka akan kekal dalam kematian.
“Baik waktu, dunia, intervensi dari segala bentuk apapun takkan mempengaruhinya. Sekali kamu memasuki dunia ini, duniaku, takkan ada kesempatan. Sebagai catatan, di sinilah riwayat Tortoise berakhir.”
Kemuel ingat pertarungan sengit para Pahlawan menghadapi Tortoise, malapetaka paling besar dan bukan kelas di mana Pahlawan akan mampu menghadapinya. Namun nyatanya mereka berhasil berkat kekuatan Rigel dan diakhir pertempuran, fenomena mustahil di mana Tortoise terhempas ke udara.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu secara pasti namun para Seraphim meyakini jika Rigel menggunakan Territory untuk menciptakan kemustahilan tersebut. Dan kini Kemuel tampak yakin oleh teori tersebut.
Cruch!
Darah mengalir keluar dari perutnya, Kemuel memuntahkan darah dan berusaha mengumpat namun apa daya karena tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Dia menemukan tangan kiri Rigel menembus melalui punggungnya.
“Kuizinkan kamu bicara.” Rigel menjentikkan jarinya dan memberikan Kemuel kesempatan berbicara.
“Keparat!”
Rigel menutup telinganya saat Kemuel berteriak mengumpat. Dengan tangan kiri yang penuh darah Rigel memunculkan pistol dan menembakkannya beberapa kali ke perut Kemuel, lalu kaki dan tangannya untuk membuatnya menderita.
“Sialan ... Sejak kapan kamu menggunakannya?” Kemuel bertanya-tanya karena selama pertempuran dia tak pernah merasakan kekuatan seperti Territory terpasang.
Kejadiannya begitu tiba-tiba dan karena itulah Kemuel tak sempat untuk bereaksi. Jika dia tahu dirinya akan terjebak maka Kemuel akan menggunakan Territory juga dan membuat keduanya hancur. Namun nyatanya gerakan Rigel lebih cepat dari yang dia perkirakan.
“Bagaimana, ya?” Rigel tersenyum mengejek dan memiringkan kepalanya, dia menembak Kemuel beberapa kali sebelum melanjutkan perkataannya, “Mungkin ketika kamu merasa kemenangan di depan mata ketika aku sengaja terperangkap oleh kekuatan remehmu.”
Kemuel merasa malu kepada dirinya sendiri karena tidak menyadari hal tersebut, selama ini dia sudah menari di telapak tangan Rigel. Tidak ada apapun yang lebih memalukan dari hal ini.
“Keparat ... Jadi ini akhirnya, ya?” Kemuel berkata datar namun tidak ada penyesalan ataupun rasa takut atas kematian.
Hal tersebut memunculkan kecurigaan bagi Rigel. Meski ada kemungkinan Malaikat adalah makhluk seperti Iblis yang tidak menyayangi nyawanya namun Rigel meragukan fakta tersebut.
Seraphim lebih emosional melebihi manusia, ketika mendengar berita kematian Kalkydras dan Sandalphone, para Seraphim menampilkan raut wajah yang berlebihan.
“Aku tidak mengerti dengan kalian ...”
Rigel tidak memahami para Seraphim di bagian itu, mereka tidak peduli kepada Armageddon yang datang dan berguguran namun ketika sesama Seraphim-nya mati, mereka menjadi marah dan emosinya tampak tidak karuan.
Meski begitu ada ketidakcocokan di beberapa tempat karena Rigel yakin yang disesalkan para Seraphim bukanlah kematian tersebut tetapi sesuatu yang lainnya.
__ADS_1
“Kalian mungkin tampak marah saat berita Sandalphone dan Kalkydras mencapai kematiannya namun aku yakin bukan itu yang mengganggu kalian. Ada sesuatu yang lain, pastinya hal itu datang dari Rafael. Hatiku tak bisa tenang untuk membiarkannya hidup.”
Kemuel sedikit mengerutkan alisnya dan membuat Rigel yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Seraphim. Rigel kembali memikirkannya, Rafael adalah malaikat yang menyembuhkan namun apakah kekuatannya benar-benar hanya sebatas itu?
Tidak mungkin hanya penyembuhan saja karena nyatanya dia mampu bertarung imbang dengan Priscilla. Jika mengasumsikan ada hal yang membuat Seraphim tenang tanpa mengkhawatirkan kematiannya maka ...
“God Requiem— tidak, Ressurection.”
Kekuatan yang mampu membangkitkan kembali mereka yang mati, Ressurection. Rigel memiliki pemikiran bahwa Rafael mampu menggunakannya.
Kemuel melebarkan matanya dan tertegun, dia menatap Rigel dengan sangat terkejut. Rigel berharap bahwa tebakannya benar namun Kemuel terkejut dengan hal lain.
“God ... Requiem?”
“Sepertinya kamu mengenalnya, ya. Nyanyian dari para Dewa.” Rigel berkata dengan acuh tak acuh.
“Bagaimana bisa ... Manusia sepertimu mengetahuinya? Itu, sesuatu yang bahkan tidak diketahui Seraphim lain selain kami berlima.”
“Empat, yang berarti kamu, Michael, Barakiel, Samael dan mungkin Rafael?”
Kemuel tampak enggan menjawab apapun namun hal itu tidak lagi penting sekarang, “Bukan Rafael, tapi Lucifer. Seharusnya itu bukanlah hal yang diketahui manusia sepertimu. Dari mana—”
“—dari mana aku mengetahuinya? Jika kamu tahu God Requiem maka harusnya kamu tahu dari siapa aku mendapatkannya.”
Kemuel tersedak napasnya sendiri dan terguncang seolah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui.
“Jika begitu, peperangan ini tidak ada artinya. Sekalipun Rafael menggunakannya, di tempat ini jiwaku akan lenyap dan tak bisa bangkit.”
Mendengar itu Rigel terkejut karena syarat Ressurection adalah memiliki jiwa yang utuh. Rigel tak ingin berlama-lama lagi dan memegang wajah Kemuel dengan tangan kanan.
“Meski memenangkan peperangan ini, kamu takkan bahagia. Penderitaanmu akan berlanjut karena kamu orang terpilih ... Untuk pergi ke, Pillar Of Creation.” Kemuel tersenyum senang dan di detik-detik terakhir senyuman tersebut hancur bersamaan dengan kepalanya.
__ADS_1